
Hari sudah sangat gelap, Bitsy tidak bisa tidur sama sekali. Setelah bisa melihat sosok-sosok yang mengerikan, Bitsy sulit untuk tidur bahkan dia takut untuk melihat ke arah jendela karena setiap malam selalu terdengar suara-suara yang menakutkan di luar sana. Suara tawa dan bisikan-bisikan aneh, membuatnya tidak bisa tidur.
Entah siapa yang berbisik-bisik tapi bisikan itu selalu dia dengar bahkan ketukan-ketukan aneh pun terdengar di jendela. Hal itu tentu membuat Bitsy semakin ketakutan karena setelah selesai dengan teror iblis yang ada tubuh ibunya, kini dia harus menghadapi teror yang lainnya yaitu para hantu yang menakutkan.
Meski ayahnya dan Aunty Nadia berkata untuk membiasakan diri dan tidak mempedulikan mereka tapi suara yang dia dengar benar-benar menakuti dirinya sepanjang malam dan dia merasa tidak kuat lagi dengan suara-suara itu. Bitsy menutup kedua telinga dengan rapat, dia tidak mau mendengar, dia benar-benar tidak mau mendengar. Rasanya ingin bersembunyi ke dalam lemari tapi semenjak kejadian itu, dia pun jadi takut akan gelap.
Tok.. Tok... tok! Tiba-Tiba saja kaca jendelanya di ketuk dari luar oleh seseorang.
"Bitsy, ini aku!" terdengar pula suara anak laki-laki memanggil dirinya dan suara itu tidak asing baginya.
"Peter?" Bitsy beringsut dengan perlahan ke sisi ranjang. Peter adalah teman sekolahnya oleh sebab itu Bitsy tidak curiga sama sekali.
"Buka jendelanya, Bitsy. Ada yang ingin aku berikan dan aku kedinginan di luar sini," pinta Peter.
"Wait, kenapa kau berada di luar? Bukankah kau pergi jalan-jalan dengan keluargamu?" tanya Bitsy.
"Aku sudah pulang dan aku datang untuk memberikan oleh-oleh untukmu."
"Tengah malam seperti ini? Apa kau sudah gila?" Bitsy membuka jendela dan benar saja, Peter berada di luar sana sambil memeluk dirinya yang kedinginan.
"Aku datang untuk bertemu denganmu dan memberikan sesuatu padamu," ucap Peter.
"Baiklah, apa kedua orangtuamu sudah tahu? Sebaiknya segera kembali agar mereka tidak khawatir."
"Tidak apa-apa, mereka tidak akan mencari aku!"
"Tapi ini sudah malam, kau harus segera pulang!" ucap Bitsy tanpa menaruh curiga sama sekali.
"Aku ingin sebentar saja bersama denganmu, Bitsy. Boleh ya?" pinta Peter memohon.
Bitsy jadi iba oleh sebab itu dia membiarkan Peter masuk ke dalam kamarnya lalu menutup jendela. Padahal dia pikir Peter sedang pergi dengan keluarganya dan akan lama tapi dia tidak menduga sudah kembali. Lagi pula Peter pun tinggal tidak jauh. Mungkin saja Peter seperti dirinya yang tidak bisa tidur sama sekali.
"Ini untukmu!" Peter mengulurkan tangannya yang sedang menggenggam sesuatu.
Bitsy tampak ragu namun dia mengambil apa yang Peter berikan. Sebuah bungkusan kecil dan kumal berada di tangannya. Bitsy tersenyum namun dia tidak membuka bungkusan itu agar tidak menyinggung perasaan Peter.
"Apa ini?" tanya Bitsy.
__ADS_1
"Hadiah dariku. Kau harus menjaganya dengan baik dan jangan sampai hilang!" jawab Peter.
"Baiklah, terima kasih!" Bitsy menyimpan bungkusan hadiah yang diberikan oleh Peter ke dalam laci meja.
"Apa yang kau lakukan di sini, Peter? Kenapa kau tidak tidur?" tanya Bitsy.
"Aku tidak bisa tidur. Kau sendiri bagaimana? Kenapa kau tidak tidur?" tanya Peter pula.
"Aku memang tidak bisa tidur, setiap malam."
"Kenapa?" Peter semakin terlihat ingin tahu.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak bisa tidur dan sekarang aku mau tidur jadi pergilah!" usir Bitsy. Ayahnya akan marah jika tahu dia membiarkan Peter masuk ke dalam kamarnya.
"Bitsy, tunggu!" pinta Peter.
"Ada apa lagi? segera pergi karena aku tidak mau sampai ayahku tahu."
"Kita tidak akan bertemu setelah ini karena aku akan pergi yang jauh!" ucap Peter.
"Apa kau akan pindah?" tanya Bitsy.
Bitsy pun melambai tanpa mengerti. Peter keluar dari jendela dan setelah itu Bitsy menutupnya rapat namun dia kembali membuka jendela kamarnya.
"Tunggu, Peter!" pinta Bitsy namun Peter sudah tidak terlihat. Aneh, Bitsy mencari sana sini namun sahabatnya sudah tidak ada. Tidak mau menaruh rasa curiga apalagi dia takut, Bitsy menutup jendela kembali dan naik ke atas ranjang. Kali ini dia benar-benar tidur karena sudah sangat larut namun suara mobil polisi yang lewat saat pagi hari membangunkan dirinya.
Bitsy keluar dari kamar sambil mengucek matanya yang masih berat. Aneh, seperti ada yang terjadi apalagi sebuah mobil polisi kembali terdengar.
"Daddy, apa telah terjadi sesuatu?" tanya Bitsy sambil melangkah menuju dapur.
"Hei, Girl. Apa kau tahu teman satu sekolahmu yang tinggal beberapa blok dari sini?" tanya ayahnya yang sedang menyiapkan sarapan.
"Apa yang Daddy maksud adalah Peter?" mendadak dia memiliki firasat buruk.
"Yes, Peter. Semalam dia dan keluarganya mengalami kecelakaan dan mereka semua meninggal di tempat!"
"Tidak mungkin!" teriak Bitsy.
__ADS_1
"Hei, kenapa kau berkata demikian?" tanya ayahnya heran.
"Semalam Peter mendatangi aku, Daddy. Dia terlihat baik-baik saja," ucap Bitsy.
"Apa? Jangan mengada-ada, mungkin Bitsy sedang bermimpi!"
"Tidak mungkin. Aku tidak bisa tidur setiap malam karena suara-suara aneh itu di jendela kamarku oleh sebab itu, aku membukanya karena Peter datang dan membiarkan peter masuk. Percayalah padaku, Dad!" pinta Bitsy.
"Baiklah, baik. Daddy percaya padamu. Sekarang katakan apa yang kalian bicarakan berdua di dalam kamar?"
"Peter berkata tidak akan bertemu lagi denganku dan dia memberikan aku sesuatu."
"Sesuatu" Darko mengernyitkan dahi. Apa arwah Peter mendatangi putrinya karena ada yang hendak dia berikan?
"Tunggu, Bitsy akan mengambilnya!" Bitsy berlari masuk ke dalam kamar dan setelah itu dia kembali dengan sebuah bungkusan yang sudah lusuh.
"Ini yang Peter berikan padaku dan dia meminta aku untuk menjaganya dengan baik serta tidak boleh menghilangkannya!" ucap Bitsy seraya memberikan bungkusan yang diberikan oleh peter.
Darko mengambil bungkusan itu lalu membukanya. Jika Peter benar-benar sudah tiada akibat kecelakaan, berarti yang mengunjungi putrinya memang arwah anak itu. Sepertinya Peter datang memang untuk memberikan bungkusan usang itu yang ternyata berisi sebuah kalung.
"Sepertinya dia menyukaimu, Girl," ucap Darko seraya mengangkat kalung itu.
"Tapi Bitsy hanya menganggapnya teman!"
"Baiklah, jagalah benda ini dengan baik karena itu yang dia inginkan. Tidak perlu khawatir, sepertinya dia tidak akan datang lagi tapi ingat, lain kali tidak boleh membawa anak laki-laki ke dalam kamarmu!" kalung diberikan pada Bitsy, meski itu hanya mainan tapi dia harap Bitsy menjaganya.
"Daddy, apa kemampuan Bitsy bisa dihilangkan?" tanya Bitsy.
"Apa maksud dari perkataanmu?"
"Bitsy tidak mau kemampuan ini, Daddy. Bitsy ingin menghilangkannya!"
"Baiklah, Daddy tahu kau takut tapi kemampuan seperti itu tidak bisa kau hilangkan. Kau hanya bisa menerimanya saja. Suatu saat kau akan tahu untuk apa kemampuan itu."
"Tapi Bitsy tidak mau, Daddy. Bitsy ingin hidup normal seperti dulu tanpa perlu melihat hantu-hantu yang menakutkan itu!"
"Bitsy!" Darko berjongkok dan mengusap kepala putrinya, "Jika bisa digantikan, maka Daddy akan menggantikannya dengan senang hati tapi sayangnya tidak bisa jadi Bitsy harus membiasakan diri menerima kemampuan istimewa yang Bitsy dapatkan."'
__ADS_1
Bitsy hanya mengangguk sambil menunduk, jujur saja dia tidak mau kemampuan istimewa itu tapi sayangnya kemampuan itu tidak bisa dihilangkan dan dia akan terus melihat makhluk menakutkan sampai suatu saat nanti, dia tahu untuk apa kemampuan yang dia dapatkan tanpa sengaja.