
Kemunculan Bitsy yang mengaku sebagai sahabat baik Sarah tentu saja membuat Acton Adam dan kekasihnya merasa terancam. Ditambah dengan perkataan Bitsy yang mengatakan jika Sarah berkata akan ada yang membunuhnya. Hal itu tidak boleh mereka abaikan begitu saja karena Bitsy bisa menjadi pisau yang tajam untuk menusuk mereka.
Setelah dari pesta, Acton dan kekasihnya justru berdebat akan masalah itu. Tentunya yang paling takut adalah kekasih Acton. Dia takut kejahatan mereka diketahui tapi Acton justru begitu santai dan berniat bertemu dengan Edward untuk membahas bisnis padahal sangat berbahaya jika bertemu dengan pria itu karena kemungkinan bertemu dengan sahabat Sarah sangatlah besar.
Itulah yang mereka debatkan. Seharusnya Acton waspada tapi dia justru ingin masuk ke dalam bahaya. Kebetulan bisa bertemu dengan Bitsy pun harus mereka pertimbangkan apalagi Bitsy duluan yang menabrak Acton. Dia yakin semua itu hanya sebuah kesengajaan bahkan dia curiga jika gadis yang belum mereka tahu namanya itu mengetahui banyak hal.
"Sudah aku katakan jangan bertemu dengannya lagi, Acton!" ucap kekasihnya yang lebih takut dengan keberadaan Bitsy dari pada Acton.
"Diam, ini kesempatan untuk mengembangkan bisnis. Jika aku takut untuk bertemu dengan pembisnis maka aku tidak bisa mengembangkan bisnisku!"
"Tapi kau harus berhari-hati. Kau tahu kekasihnya mengetahui sesuatu maka kau harus berhati-hati!"
"Cukup, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku pun bisa memanfaatkan hal ini untuk mencari tahu apa sebenarnya yang wanita itu tahu!"
"Tapi jangan sampai kau terpancing dengan pertanyaan yang dia lontarkan."
"Aku tahu, kau tidak perlu mengajari aku!" meski dia harus berhati-hati tapi dia tetap harus memanfaatkan keadaan. Tapi satu hal yang membuatnya heran sampai sekarang, apakah benar gadis itu sahabat Sarah? Dia mengenal semua sahabat Sarah tapi tidak dengan gadis yang menyebut dirinya sebagai sahabat Sarah yang tinggal jauh. Tapi jika bukan, dari mana dia bisa mengenal Sarah?
Seperti yang kekasihnya katakan, dia harus berhati-hati tapi dia akan tetap memanfaatkan situasi. Selama tidak ada bukti maka mereka aman. Lagi pula hanya dari perkataan saja tidak akan membuktikan apa pun oleh sebab itu dia tidak perlu terlalu khawatir dan dia tetap akan waspada. Besok dia akan mencoba membuat janji dengan Edward karena dia sudah mendapatkan kartu nama pria itu.
Edward memang sengaja memberikan kartu namanya agar Acton mencarinya lagi. Dia bahkan mengatakan hendak menawarkan bisnis agar Acton tertarik sehingga mencarinya. Semua itu dia lakukan untuk Bitsy karena saat bertemu dengan Acton, dia akan mengajak Bitsy. Beruntungnya dia menjadi pengusaha, jika tidak mungkin dia akan membantu Bitsy dengan cara yang berbeda.
Sesuai permintaan Edward, Bitsy menginap di rumahnya. Mereka tidur berdua, Edward tidak lagi tidur di sofa karena dia ingin Bitsy membiasakan diri tidur dengannya. Jika Bitsy setuju tinggal dengannya maka mereka akan tidur bersama setiap malam. Meski Bitsy sempat menolak karena dia takut namun Edward meyakinnya dan memberikan sebuah pembatas. Bitsy yang polos tentu saja percaya namun pembatas itu hilang saat dia sudah tertidur.
Edward masih memeluk Bitsy, dan terbangun terlebih dahulu. Edward memperhatikan wajah manis Bitsy. Di jaman modern, tidak mudah menemukan gadis polos seperti Bitsy. Pasti karena kemampuan yang dia miliki sehingga membuat Bitsy takut untuk dekat dengan lawan jenis tapi itu sangat bagus karena dia bisa mendapatkan gadis yang benar-benar polos.
Edward yang sejak kemarin gemas dengan pipi Bitsy mulai melakukan sesuatu. Salahkan pipinya yang begitu menggemaskan. Ciuman lembut mendarat di pipi Bitsy dan setelah ciuman itu, Edward menggesekkan wajah mereka hingga akhirnya pipi Bitsy berakhir di dalam mulutnya. Dia sudah seperti sedang menggigit bakpao yang lembut dan sialnya dia tidak bisa berhenti.
__ADS_1
"Hm!" Bitsy terbangun ketika merasakan sesuatu menggigiti wajahnya. Edward tidak berhenti, dia bahkan semakin bersemangat menggigit wajah Bitsy dan menghisapnya. Bitsy terkejut dan berteriak seraya mendorong tubuh Edward.
"Vampire!" Bitsy mendorong tubuh Edward dengan kuat tapi yang jatuh justru dirinya. Bitsy berteriak begitu juga Edward yang berusaha meraih tangan Bitsy agar dia tidak jatuh ke atas lantai.
"Aduh!" Bitsy memegangi kepalanya yang membentur lantai.
"Apa kau baik-baik saja?" Edward bergegas melihat keadaan Bitsy yang masih berada di atas lantai.
"Va-Vampire!" Bitsy tampak ketakutan.
"What?"
"Kau Vampire yang menyamar menjadi manusia!" Bitsy berteriak sambil memundurkan tubuhnya dengan cepat. Benar, Edward pasti Vampire yang menyamar. Bitsy memegangi pipinya yang digigit oleh Edward. Pria itu pasti mencari kesempatan itu untuk menghisap darahnya.
"Apa yang kau katakan, Nona? Aku tidak menghisap darah!" Edward mendekatinya namun Bitsy semakin takut.
"Bohong! Lihat ini, kau menggigit pipiku dan ingin menghisap darahku!" teriak Bitsy sambil menunjuk pipinya dengan ekspresi serius. Edward menghentikan langkah dan tertawa dengan keras. Vampire? Mana ada yang seperti itu? Bitsy justru terlihat lucu meski dia sedang takut.
"Baiklah, baik. Tapi kau begitu lucu, aku tidak tahan!"
"A-Aku tidak sedang membuat lelucon yang lucu!" Bitsy kembali memasang ekspresi serius. Sebagai orang yang bisa melihat hantu tentu dia percaya jika Vampire itu ada.
Edward terkekeh dan kembali melangkah mendekati Bitsy. Gadis itu justru mengeluarkan kalung salib yang sedang dia pakai.
"Aku bukan Vampire, kemarilah," ucap Edward sambil mengulurkan tangan.
"Benarkah? Kau tidak sedang membohongi aku, bukan?" Bitsy masih ragu dan takut karena bisa saja Edward memang Vampire yang sedang menyamar.
__ADS_1
"Kau benar-benar membuat aku semakin gemas dan aku ingin menggigitmu lagi!" Edward mengangkat Bitsy dari atas lantai dan menggendongnya.
"Benar kau bukan Vampire?" tanya Bitsy memastikan.
"Ya, aku mendadak berubah menjadi Vampire yang ingin menggigit pipimu!" setelah berkata demikian, Edward kembali menggigit pipi Bitsy. Tidak saja menggigit, tapi Edward juga menghisapnya lagi karena dia benar-benar gemas. Bitsy berteriak, kedua matanya terpejam. Meski dia sudah memukul tapi Edward menyalurkan keinginannya sampai membuat pipi Bitsy menjadi memerah.
"Sakit, lepas!" pinta Bitsy sambil memukul tiada henti.
"Aku gemas denganmu, sungguh!" ucap Edward.
"Tapi aku bukan boneka!"
"Serius, aku mau menggigit wajahmu lagi!"
"Jangan!" Bitsy menutupi kedua pipinya dengan tangan. Edward kembali terkekeh, dia tidak pernah segemas ini sebelumnya tapi kepolosan Bitsy benar-benar membuatnya tidak tahan.
"Morning, Baby," kali ini Edward memberikan ciuman lembut di wajah Bitsy yang memerah akibat ulahnya.
"Pipiku sakit," ucap Bitsy.
"Sorry, sepertinya sedikit membengkak. Dari pada bengkak sebelah bagaimana jika aku gigit lagi sisi lainnya!" goda Edward.
"Tidak mau, enak saja!" tolak Bitsy sambil memukul bahu Edward.
"Aku bercanda tapi aku serius. Sekarang katakan, sarapan apa yang kau inginkan?"
"Terserah kau saja, setelah ini aku mau kembali ke kamar untuk mandi."
__ADS_1
"Jangan lupa pikirkan permintaanku. Aku ingin kita segera tinggal bersama."
Bitsy mengangguk, dia akan memikirkan permintaan Edward tapi sepertinya pipinya akan menjadi korban karena dia yakin Edward akan menggigitnya lagi. Antara menyelamatkan pipinya dan keselamatannya, sepertinya dia harus mengorbankan kedua pipinya.