
Nadia dan suaminya lagi-lagi harus terhalang salju tebal yang menutupi sebagai rel kereta sehingga perjalanan mereka ke kota lain harus tertunda. Untuk mencari penerbangan ke London, mereka terpaksa pergi ke kota lain di mana mereka mendapatkan masih ada penerbangan yang akan membawa mereka ke London.
Mereka bahkan sudah membeli tiketnya yang akan terbang dua hari lagi. Hanya itu satu-satunya penerbangan yang akan pergi ke London tapi semua itu belum pasti karena keadaan bandara belum pasti meski begitu, mereka tetap berusaha untuk kembali apalagi Nadia semakin merasakan firasat kurang baik.
Kereta yang tertunda tentu membuat Nadia cemas, entah kapan kereta itu akan kembali beroperasi tidak ada yang tahu karena banyaknya salju. Itulah kenapa tidak disarankan bepergian pada musim dingin tapi demi mengetahui apa yang terjadi mereka harus bisa kembali.
"Bagaimana ini? Kita akan ketinggalan penerbangan jika kita menunggu kereta yang tidak pasti," ucap Nadia.
"Tidak perlu khawatir, kita cari cara lain!' ucap suaminya.
"Cara apa? Aku takut tidak ada mobil yang pergi ke kota itu."
"Jangan menyerah, Nadia. Ayo kita cari sarana lain!" Erick menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya keluar dari stasiun itu. Semoga saja ada taksi yang mau mengantar mereka ke kota tujuan agar mereka tidak ketinggalan pesawat. Meski jarak tempuh yang sangat jauh tapi dia berharap ada yang mau mengantar.
Erick dan istrinya mulai mencari orang yang bersedia mengantar mereka ke kota tujuan. Mereka bahkan menawarkan uang yang tak main-main banyaknya jika orang itu bersedia tapi tidak ada yang mau akibat cuaca yang begitu ekstrime.
Nadia hampir saja putus asa, mereka benar-benar akan kehilangan kesempatan untuk kembali ke London. Nadia bahkan menangis karena dia merasa sudah tidak ada peluang lagi bagi mereka tapi beruntungnya mereka bertemu dengan dengan orang baik yang secara kebetulan hendak kembali ke kota yang mereka tuju.
Nadia merasa lega, semoga saja mereka bisa tiba tepat waktu. Dia sangat berharap kakaknya bisa bertahan bersama ketiga putra putrinya sampai mereka tiba tapi sesungguhnya yang harus bertahan adalah Bitsy karena hanya dia saja yang mendapatkan teror di tambah ayah yang tidak mempercayai dirinya.
Tidak ada yang bisa Bitsy lakukan saat ibunya kembali menyuapinya makan. Keadaannya semakin lemas saja apalagi iblis yang ada di tubuh Mia sengaja membuka jendela dengan lebar sehingga udara dingin berhembus masuk ke dalam kamar. Dia sengaja melakukannya agar keadaan Bitsy semakin memburuk. Lagi pula tidak akan ada yang tahu apalagi Darko sedang bermain dengan Angela dan Rian bersama dengan dua kelinci yang tersisa.
"Makan yang banyak, Bitsy. Aku ingin kau menjadi gemuk sehingga aku bisa menikmati dagingmu lebih banyak!"
Bitsy menggeleng di bawah selimut yang tebal karena udara dingin yang menusuk tulang. Dia harap ayahnya segera masuk ke dalam untuk menutup jendela karena dia sudah tidak tahan lagi.
"Tunggulah, beberapa hari lagi aku akan membuat sebuah siasat sehingga ayahmu pergi meninggalkan kalian bertiga dan untuk itulah, aku akan membuat keadaanmu semakin memburuk agar kau tidak bisa pergi membawa kedua adikmu dan kau akan menyaksikan mereka di makan satu persatu dalam keadaan tidak berdaya!"
__ADS_1
"Pergi!" pinta Bitsy dengan suara lemahnya.
"Kita akan pergi bersama, ke neraka!" jawab iblis itu sambil memperlihatkan seringai lebarnya.
"Aku tidak mau!" Bitsy keluar dari selimut lalu mundur dengan cepat. Sebuah benda berat yang ada di atas meja diraih, Bitsy melemparkannya ke arah ibunya dan benda berat itu mendarat tepat di dahi ibunya.
"Pergi kau, pergi!" teriak Bitsy.
Iblis itu tersenyum, kepalanya berpaling dengan perlahan. Tidak ada darah yang mengalir akibat pukulan benda berat, hanya ada kulit yang mengelupas saja. Bitsy ketakutan melihat seringai lebar iblis itu yang sudah berdiri di hadapannya. Mendadak dia merasa iblis itu begitu tinggi dan dia seperti seekor kura-kura yang tidak berdaya.
"Kau sudah berani melawan, Bitsy," kulit yang mengelupas dan memperlihatkan tengkorak dibenarkan hingga menempel kembali. Iblis yang menjelma menjadi sosok ibunya tidak menakutinya lagi karena dia berjalan menuju jendela dan menutupnya. Sudah cukup, sampai hari itu tiba dia akan berperan menjadi ibu yang baik.
Wujudnya kembali menjadi Mia yang memiliki senyuman manis. Iblis itu berbalik dan tidak menakutkan lagi. Dia pun tidak mendekati Bitsy yang ketakutan.
"Sudah cukup bermainnya, selama kau menginginkan kedua adikmu masih hidup maka bersikaplah yang manis!" ucapnya.
Bitsy tidak menjawab, dia hanya bisa meringkuk sambil membungkus dirinya dengan selimut tebal. Dia harus bisa bertahan. Demi kedua adik yang dia sayangi, dia harus bertahan. Biarkan saja ayahnya tidak percaya, untuk saat ini sebaiknya dia tidak banyak melawan karena dia tahu hanya sia-sia.
Darah segar, dia membutuhkannya juga daging segar. Dia membutuhkannya segera agar dia memiliki energi. Iblis itu tidak jadi menghampiri Darko, dia justru pergi keluar untuk mencari mangsa. Jangan sampai dia memakan kelinci itu lagi sehingga Angela curiga. Mangsa yang dia makan sudah pasti binatang ternak yang sedang tidur.
Suara jeritan binatang tidak didengar oleh Darko yang sedang bermain dengan kedua anaknya. Iblis yang sudah sangat membutuhkan darah itu menghisap darah anak seekor domba sampai habis. Akhirnya, akhirnya dahaga yang dia rasakan sudah terpenuhi. Daging anak domba itu pun dimakan sampai habis dan setelah selesai barulah dia kembali ke rumah.
"Dari mana kau, Mia?" iblis itu berpaling untuk melihat Darko yang melangkah mendekatinya.
Darko yang mencari istrinya sedari tadi sangat heran mendapat Mia baru kembali dari luar dengan salju menumpuk di atas rambutnya.
"Dari mana kau? Untuk apa kau keluar?" Darko kembali menanyakan hal yang sama.
__ADS_1
"Aku baru saja melihat seekor kelinci berlari di teras. Aku pikir kelinci Angela kabur lagi oleh sebab itu aku mengejarnya karena aku tidak mau Angela menangis akibat kelincinya yang hilang," jawab Mia beralasan.
"Baiklah, tapi lain kali tidak boleh dikejar apalagi cuaca sangat buruk. Kau bisa sakit dan aku tidak mau itu terjadi apalagi di luar sangat berbahaya karena bisa saja ada serigala," Darko melangkah mendekati istrinya namun sebuah luka di dahi Mia membuatnya terkejut.
"Apa yang terjadi dengan dahimu?" tanya Darko. Wajah Mia dipegang agar dia mudah melihat luka yang ada di dahi Mia.
"Tidak perlu khawatir. Aku tidak sengaja terpeleset sehingga kepalaku membentur lantai tapi aku baik-baik saja!"
"Ayo segera obati, jangan sampai lukamu jadi infeksi!" Darko meraih tangan istrinya lalu mengajaknya untuk ke kamar untuk mengobati lukanya tapi sebelum itu salju yang ada di atas rambut istrinya di bersihkan.
"Tidak apa-apa, hanya luka memar!" ucap Mia.
"Jangan meremehkan sebuah luka, aku tidak mau terjadi apa pun padamu!"
Mereka sudah berada di kamar dan Kotak obat sudah berada di atas ranjang. Darko mengobati luka yang ada di dahi Mia namun dia merasa ada yang aneh karena tidak ada darah dari luka itu. Darko bahkan melangkah mundur, Mia menatapnya dengan tatapan heran.
"Ada apa?" tanya Mia.
"Tidak aku merasa kau semakin cantik saja," puji Darko.
"Benarkah?" Mia memperlihatkan senyuman manisnya.
"Tentu saja, tidak ada yang lebih cantik di bandingkan istriku!" Darko mendekati Mia lalu mendorongnya dengan perlahan ke atas ranjang.
"Kau pandai memuji, Darko," Mia sudah memainkan tangannya yang nakal.
"Bolehkah malam ini?" sambil bertanya Darko sudah melepaskan bajunya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan anak-anak?" Mia pura-pura bertanya.
"Sudah tidur!" Darko beranjak pergi, mematikan lampu seperti yang Mia suka. Dia tidak tahu jika Mia tidak ingin dia melihat keadaannya. Darko yang tidak tahu pun mencumbui istrinya yang sudah mati. Dia sempat curiga namun hawa naf*su benar-benar mengalahkan segalanya.