
"Help... Help me!" hantu yang menggunakan gaun pengantin itu kembali meminta tolong pada Bitsy saat gadis itu melewati jalan yang memang selalu dia lewati dua bulan belakangan.
Bitsy berjalan dengan cepat, jangan katakan jika hantu wanita itu sudah tahu bahwa dia bisa melihat mereka. Sebaiknya dia segera pergi agar tidak semakin banyak yang berkumpul karena jika satu sudah sadar dengan kemampuannya maka yang lain pun akan meneror hidupnya sepanjang waktu.
"Help me, aku tahu kau bisa melihat aku. Aku tahu kau hanya pura-pura saja!" hantu wanita itu masih melayang di sisi Bitsy dan mengikutinya.
"Pergilah, pergi!" pinta Bitsy dalam hati. Jujur saja dia sangat takut dengan hantu yang selalu menarik ususnya ke mana-mana itu.
"Dia bisa melihat kita, dia bisa melihat kita!" hantu lain mengikuti dirinya. Inilah yang dia takutkan, dia bukannya tidak mau berkomunikasi dengan hantu tersebut tapi jika semua mengikuti seperti itu, hanya ketakutan saja yang dia rasakan. Apa dia harus meminta mereka mengantri untuk menunggu giliran jika ingin dia bantu? Tapi tidak semua hantu yang ada di jalan itu meminta bantuan, terkadang ada juga yang menyimpan dendam dan ingin membunuh oleh sebab itu dia tidak bisa melibatkan diri dalam permasalahan mereka.
Bitsy mempercepat langkah, dia sangat ingin berlari namun tidak bisa. Bitsy hanya bisa berjalan dan berharap seorang penyelamat datang menyelamatkan dirinya dari situasi itu dan memang pemuda yang baru dia kenal keluar dari mobilnya dan dialah penyelamatnya.
"Edward!" Bitsy berteriak memanggil dan berlari ke arahnya. Edward berpaling, dan terkejut karena tiba-tiba saja Bitsy memeluknya.
"Wow, ada apa ini? Apa ada yang mengejarmu?"
Bitsy melirik ke kanan lalu ke kiri. Dia pun memberanikan diri untuk berpaling. Sudah dia duga, hantu-hantu itu tidak ada saat dia berada di dekat Edward. Itulah kenapa hantu di lift itu tidak dia lihat dan bayangan hitam yang ada di punggung pria itu mendadak lenyap saat pria asing itu masuk ke dalam lift. Ternyata mereka tidak terlihat karena semenjak Edward menyentuh bahunya, dia tidak bisa melihat hantu wanita yang ada di lift dan sekarang, saat dia berada di dekat Edward kemampuannya untuk melihat mereka hilang untuk sementara.
"Bitsy, apa yang telah terjadi denganmu?" Edward jadi curiga dengan sikap misterius gadis itu.
"Ti-Tidak!" Bitsy melangkah mundur dan tersenyum. Entah dia harus senang atau tidak yang pasti hantu-hantu itu tidak bisa dia lihat saat berada didekat Edward.
"Apa kau yakin?" tanya Edward memastikan.
"Yeah, maaf aku memelukmu secara tiba-tiba," Bitsy tersipu malu. Dia melakukan hal itu untuk memastikan apakah dugaannya benar atau tidak dan tanpa dia duga ternyata apa yang dia duga sangat benar adanya.
"Baiklah, aku kira kau dikejar oleh berandalan."
"Tidak, tentu saja tidak. Maaf memeluk dirimu secara tiba-tiba. Permisi!" Bitsy hendak pergi namun Edward menahan tangannya.
"Kenapa begitu terburu-buru? Bagaimana jika pergi minum kopi sebentar," ajak Edward.
"Tidak, aku?"
"Ayolah!" Edward sudah menariknya pergi. Rasa penasarannya pada Bitsy yang menurutnya sangat misterius itu semakin dia rasakan. Dia jadi ingin mengenal Bitsy lebih jauh lagi. Bitsy menoleh ke belakang lalu melihat ke arah Edward. Benar-Benar aneh, dia dan Edward bagaikan dua kubu yang berbeda.
__ADS_1
Kemampuan itu dia dapatkan setelah kejadian buruk yang menimpa keluarganya tapi kemampuan itu mendadak sirna saat dia bersama dengan Edward. Apa pemuda itu memiliki kekuatan istimewa yang tidak dia ketahui?
"Kenapa melihat aku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Edward.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Maaf jika aku tidak sopan."
"Tidak apa-apa, tapi lepaskan kaca mata hitammu itu. Kenapa kau menggunakannya saat malam hari?"
"Mataku alergi debu," jawab Bitsy berdusta.
"Tapi tidak harus hitam, bukan?"
"Aku suka hitam."
"Baiklah!" Edward menariknya menuju cafe yang ada di dekat apartemen yang mereka tempati.
Para hantu itu kembali ke tempat semula, mereka kembali mencari sesuatu namun tidak dengan hantu gaun pengantin yang disebut sebagai La Lionora. Hantu itu masih melihat ke arah Bitsy, dia tahu Bitsy dapat melihat dirinya dan dia tahu jika gadis itu hanya berpura-pura dan dia yakin jika Bitsy yang bisa membantunya agar dia tidak selalu terjebak di dunia itu.
Bitsy yang sedang menikmati kopi tak melepaskan pandangannya dari jalanan. Benar-Benar tidak ada. Kehidupannya seperti kembali seperti dulu. Tenang tanpa adanya makhluk menakutkan yang harus dia lihat sepanjang hari.
"London dan kau?" Bitsy berpaling melihat ke arah Edward. Sebaiknya dia menikmati waktu berharga yang dia miliki karena waktu seperti itu sulit dia dapatkan kecuali dekat dengan Edward karena dia tidak perlu melihat para hantu itu lagi.
"Pantas saja aksen yang kau miliki sangat kental dan aku, pria Amerika!" ucap Edward sambil tersenyum.
"Oh!" jawab Bitsy singkat sambil menikmati kopinya.
"Oh? Hanya itu?" tanya Edward.
"A-Apa ada yang lain?" Bitsy balik bertanya.
"Wow, Nona. Aku benar-benar baru pertama kali mengenal orang seperti dirimu. Apa kau tidak mau bertanya apa yang aku kerjakan selama ini dan di mana rumahku?"
"Lantai atas, bukan?" jawab Bitsy.
Edward terkekeh, memang rumahnya berada di lantai atas tapi apa Bitsy tidak mau tahu lantai berapa dan nomor berapa? Meski dia tidak bertanya berapa nomor kamar Bitsy tapi dia bisa mendapatkannya dengan mudah. Sungguh gadis yang menarik.
__ADS_1
"Baiklah, aku harap kau tidak ingkar janji untuk pergi menonton konser denganku."
"Tentu saja tidak, aku pasti pergi. Jam berapa kita akan pergi? Aku harus tahu agar aku bisa bersiap-siap."
"Kita akan pergi jam enam dan aku akan menjemputmu."
"Tidak perlu, aku tunggu di lobi," ucap Bitsy.
"Baiklah jika itu maumu."
"Terima kasih kopinya, Edward. Aku sudah harus pergi."
"Kita pergi bersama!" Edward beranjak begitu juga dengan Bitsy.
Bitsy menunggu Edward yang sedang membayar. Dia ingin tahu apakah dia bisa melihat hantu lagi atau tidak saat mereka cukup jauh. Dugaannya sangat benar, dia kembali bisa melihat sosok menakutkan itu saat Edward sudah pergi. Bitsy melangkah mendekati Edward, dia ingin tahu seberapa dekat jarak yang dia butuhkan agar dia tidak bisa melihat para hantu itu.
Bitsy sudah berdiri di belakang Edward barulah dia tidak bisa melihat hantu-hantu itu. Sial, ternyata hanya dalam jarak dua atau tiga langkah saja. Itu berarti dia harus selalu menempel pada pria itu jika dia tidak mau melihat para hantu itu.
"Kenapa kau tidak menunggu aku di sana, Bitsy?" Edward sangat heran karena Bitsy sudah berada di belakangnya.
"Aku hanya ingin melihat kau sudah selesai atau belum."
"Senang rasanya ditunggu oleh wanita cantik seperti dirimu. Aku sudah selesai membayar, ayo pergi!" Edward meraih tangan Bitsy lalu mengajaknya keluar dari cafe itu. Meski terasa aneh karena harus bergendengan tangan apalagi ini kali pertama seorang pria memegangi tangannya tapi Bitsy mengikuti langkah Edward dalam diam.
Lagi pula dekat dengan pria itu membuatnya tidak bisa melihat para hantu, jadi dia merasa tidak rugi. Edward bahkan tak melepaskan tangan Bitsy meski mereka sudah berada di dalam lift tapi sayang, mereka harus terpisah karena mereka sudah berada di lantai 25.
"Terima kasih," ucap Bitsy.
"Apa besok pagi kita bisa bertemu lagi?"
"Entahlah, aku tidak tahu."
"Nomor ponsel?" Edward memberikan ponselnya pada Bitsy. Meski ragu, tapi pada akhirnya Bitsy memberikan nomor ponselnya pada Edward.
"Terima kasih," Edward menyimpan nomor ponselnya dengan cepat, jangan sampai hilang.
__ADS_1
"Selamat malam!" ucap Bitsy seraya keluar dari lift. Edward keluar sebentar untuk melihat namun Bitsy sudah lari menuju kamarnya. Baiklah, mungkin dengan ini mereka akan semakin dekat. Edward pergi setelah Bitsy masuk ke dalam kamarnya dengan terburu-buru seperti takut akan sesuatu tapi entah kenapa dia merasa jika Bitsy benar-benar gadis yang sangat menarik.