
Nadia dan Erick menjaga Bitsy dan kedua adiknya tanpa pergi meninggalkan mereka. Akibat cek cok yang terjadi, Darko pergi entah ke mana. Mereka pun tidak mencari karena mereka tahu Darko sedang berada di dalam keadaan kacau karena harus kehilangan istri yang sangat dia cintai meski kematian Mia sudah terjadi satu minggu yang lalu tapi karena ada iblis di dalam tubuhnya membuat Darko mengira jika istrinya masih hidup tapi sekarang, dia benar-benar harus merelakan kepergiannya.
Angela dan Rian sudah tertidur karena mereka diberi obat penenang dalam makanan mereka. Bitsy belum tidur, gadis itu sedang berbicara dengan Nadia yang sangat ingin tahu dengan apa yang mereka alami selama ditinggalkan oleh ayah mereka untuk mencari bantuan.
"Sekarang katakan pada Aunty, semua yang telah Bitsy alami setelah Mommy meninggal?" tanya Nadia.
"Mommy sangat menakutkan, Aunty. Bitsy sudah mengatakannya tapi Daddy tidak percaya!" jawab Bitsy dengan ekspresi sedih.
"Menakutkan seperti apa?" sungguh dia sangat ingin tahu akan hal ini.
"Mommy menakutkan karena Mommy suka makan binatang mentah!"
"Apa?" Nadia terkejut begitu juga dengan suaminya. Anak sekecil itu, harus menyaksikan hal yang menakutkan dan hebatnya, Bitsy melindungi kedua adiknya yang masih kecil sampa selamat.
"Apa Angela tahu akan hal ini?" tanya Nadia lagi.
"Tidak, Mommy hanya memperlihatkan sosok menakutkannya pada Bitsy saja bahkan Mommy mengganggu Bitsy setiap malam dan membuka jendela kamar Bitsy agar Bitsy sakit."
"Oh my God!" Nadia terlihat prihatin dengan apa yang dikatakan oleh Bitsy, 'Apa kau sudah mengatakannya pada Daddy?"
"Mommy menakuti Bitsy setiap malam Aunty, tapi Daddy tidak percaya!" Bitsy menunduk dan menangis, "Angela pun tidak percaya padahal Mommy yang memakan kelinci miliknya. Tidak ada yang percaya dengan Bitsy bahkan Daddy selalu memarahi Bitsy setiap kali Bitsy berkata jika Mommy adalah hantu!" Bitsy menangis tersedu-sedu, dia benar-benar sedih mengingat di mana ayahnya tidak percaya sama sekali dengannya bahkan dia tidak melupakan amarah ayahnya saat dia mengatakan jika ibunya adalah hantu.
"Sudah, Bitsy jangan menangis lagi. Sekarang sudah ada Aunty dan Uncle yang akan menjaga kalian bertiga!" Nadia menenangkan keponakannya yang menangis.
"Bitsy bertemu dengan Mommy, Aunty," Bitsy menghapus air matanya yang masih mengalir.
"Oh, yeah? Apa yang Mommy Bitsy katakan?"
"Mommy tidak bisa lagi membantu Bitsy dan Mommy meminta Bitsy untuk menjaga Rian dan Angela."
"Memang itu yang harus terjadi, sekarang Mommy Bitsy sudah beristirahat dengan tenang di surga."
"Tapi, Aunty?" Bitsy terlihat ragu mengatakannya karena dia takut Nadia akan seperti ayahnya yang tidak percaya.
"Ada apa? Katakan saja pada Aunty. Mungkin Aunty bisa membantu Bitsy nantinya."
__ADS_1
"Mommy berkata Bitsy harus berhati-hati dengan iblisnya, Aunty. Apa iblisnya masih ada?" jujur saja dia takut masih ada dan mengganggu mereka lagi.
"Erick," Nadia melirik ke arah suaminya, dia tidak tahu apakah iblis itu sudah musnah atau tidak apalagi saat mereka pergi iblis itu sedang hamil. Jangan katakan janin iblis itu sudah lahir tanpa mereka ketahui.
"Saat kau tiba, dia sudah menguburkan jasad istrinya tapi saat itu, kakakmu memang bau amis dan ada darah di atas salju. Dia berkata itu bau amis tubuh istrinya."
"Jadi kakakku sudah menghabisi iblis itu?" tanya Nadia.
"Aku rasa sudah, bukankah sudah aku katakan ada gundukan tanah? Aku rasa dia sudah melakukannya!"
"Mendadak aku curiga dengannya!" ucap Nadia.
"Aku khawatir dia tidak menghabisinya karena tidak mampu. Bagaimana jika ternyata kakakku tidak menghabisi iblis itu? Bagaimana jika dia menyembunyikan tubuh istrinya agar bayi mereka dapat lahir?" mereka harus mencurigai hal ini karena bisa saja kakaknya melakukan hal itu.
"Sial! Aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya!" Erick beranjak dari tempat duduknya, seharusnya dia memastikan terlebih dahulu tapi dia memang terlalu terburu-buru.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Nadia.
"Aku akan pergi memeriksanya apakah dia benar-benar sudah menghabisi istrinya atau belum!"
"Tapi jangan pergi seorang diri, aku takut terjadi sesuatu padamu," Nadia pun beranjak dan mengikuti suaminya.
"Kenapa? Apa kau curiga dengannya?" tanya Nadia.
"Yeah, aku curiga dengannya jadi aku ingin kau waspada. Jangan tinggalkan anak-anak jika tidak ada keperluan penting!"
"Baiklah, aku harap kau berhati-hati. Jangan ragu untuk menembak kakak iparku karena dia memang sudah tiada!" ucap Nadia.
"Tentu saja, aku akan melakukannya!" Erick mengambil baju hangatnya dan menggunakannya. Salju sudah berhenti namun semua membeku akibat cuaca ekstrem beberapa hari belakangan. Nadia mengantar suaminya sampai di depan pintu dan setelah itu dia kembali mendekati Bitsy. Nadia tersenyum lalu duduk di sisi Bitsy kembali apalagi gadis itu tampak khawatir.
"Apa yang terjadi. Aunty?" tanya Bitsy.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Bitsy beristirahat saja."
"Apa Mommy masih ada, Aunty? Apa iblis itu masih berada di dalam tubuh Mommy?"
__ADS_1
"Tidak, Uncle hanya pergi untuk memastikan saja apakah Daddymu sudah memakamkan jasad ibumu dengan baik atau tidak dan melihat bagaimana keadaan ayahmu saat ini."
"Bitsy tidak mau tinggal di rumah itu lagi, Aunty. Bitsy takut. Bitsy mau pulang ke rumah saja jika Daddy tidak mengijinkan Bitsy ikut dengan Aunty!" pinta Bitsy.
"Tidak perlu mengkhawatirkan hal ini, Aunty tidak akan meninggalkan kalian begitu saja sampai Aunty memastikan semua baik-baik saja jadi tidak perlu khawatir, oke?"
"Bitsy percaya dengan Aunty!"
"Bagus, sekarang yang Bitsy butuhkan adalah istirahat karena Bitsy sangat membutuhkannya."
"Aunty tidak akan pergi meninggalkan kami, bukan?"
"Tentu saja tidak, Aunty tidak akan pergi ke mana pun."
"Terima kasih, Aunty," Bitsy memejamkan kedua mata, dia sangat lega karena sudah ada Nadia namun teror itu belum berakhir sama sekali.
Nadia menjaga mereka sambil berbaring di sofa, dia pun berbicara dengan Erick untuk tahu situasi yang ada di sana. Selain para binatang yang mati beberapa ekor dan sisanya dalam keadaan kelaparan, Erick tidak menemukan keadaan yang aneh namun dia sedang menggali gundukan tanah untuk memastikan apakah Darko benar-benar telah menguburkan jasad istrinya atau tidak.
"Nyonya, dokter memanggilmu dan ingin membicarakan masalah serius mengenai anak-anak," ucap seorang perawat yang baru masuk ke dalam ruangan itu.
"Apakah begitu penting?" tanya Nadia. Dia terpaksa pergi jika memang sangat penting.
"Ini mengenai kondisi Angela dan Rian, dokter berkata kau harus tahu akan keadaan mereka berdua."
"Baiklah, tapi selama aku pergi kau harus menjaga mereka bertiga dan jangan meninggalkan mereka sebelum aku kembali!" pinta Nadia seraya beranjak dari sofa. Semoga saja tidak ada hal yang serius mengenai kedua keponakannya yang masih kecil.
"Aku akan menjaga mereka, tidak perlu khawatir."
"Baiklah, aku pergi sebentar."
Nadia keluar dari ruangan itu untuk menemui dokter yang ingin bertemu dengannya. Nadia sudah sangat khawatir dengan keadaan Angela dan Rian namun keadaan mereka yang baru saja dia dengar semakin membuatnya cemas karena dia harus mencari rumah sakit yang lebih baik agar mereka benar-benar mendapatkan perawatan yang lebih baik untuk kondisi mereka yang kurang baik. Untuk anak sekecil mereka, sudah berada di badai salju selama berjam-jam, tentu saja sangat berbahaya untuk keadaan tubuh dan kesehatan mereka.
Setelah mendengar keadaan Angela dan Rian, Nadia kembali ke ruangan di mana ketiga keponakannya. Sebaiknya dia meminta suaminya untuk cepat kembali agar mereka bisa langsung memindahkan anak-anak namun perawat yang tergelak di depan pintu dengan bersimbah darah, membuat Nadia terkejut.
"Apa yang terjadi?" Nadia berteriak lalu memeriksa perawat yang sedang kritis. Nadia berlari keluar untuk meminta bantuan dan setelah itu kembali masuk ke dalam untuk melihat keadaan ketiga keponakannya yang belum dia pastikan karena dia harus menyelamatkan perawat itu terlebih dahulu.
__ADS_1
"Bitsy, Aunty kembali!" Nadia menghentikan langkah karena dia terkejut melihat ketiga keponakannya tidak ada lagi di atas ranjang.
"Bitsy, Angela!" Nadia mencari mereka tapi mereka tidak ada. Nadia berlari keluar dari ruangan, sial. Jangan katakan kakaknya datang dan membawa mereka pergi.