
Tidak ada yang berani melihat ke arah ibu mereka saat mereka sedang makan malam. Mia hanya diam dengan tatapan kosong. Bitsy dan Angela makan sambil menunduk. Rian tampak tak nyaman dan menangis tiada henti meski pun ayahnya sedang menangkan dirinya.
Bitsy makan dengan cepat. Dia takut, benar-benat takut apalagi ibunya seperti orang linglung dengan tatapan kosongnya. Darko masih berusaha menenangkan tangisan putranya yang semakin menjadi. Rian menunjuk ke arah ibunya lalu menangis dengan keras.
Mia yang merasa suara Rian yang sangat berisik memalingkan kepalanya dengan cepat dan menatap ke arah Rian dengan tatapan tajam. Bitsy dan Angela yang melihat sangat terkejut namun mereka kembali makan dengan cepat.
"Ma...ma, Ma...ma!" terika Rian sambil menangis.
"Ssttt, jangan menangis. Apa Rian ingin bersama dengan Mommy?" tanya Darko.
Rian menggeleng lalu kembali menangis dengan keras. Mia yang seperti terganggu dengan tangisan Rian tampak mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Mia juga seperti menahan napasnya sehingga kedua mata melotot bahkan rahangnya mengeras. Wajahnya terlihat gemetar dan setelah itu, Mia berteriak.
"Diaa...............aam!!!" teriakannya melengking nyaring. Bitsy dan Angela berteriak ketakutan dan berlari menghampiri ayahnya. Teriakan Mia masih terdengar, beberapa barang yang terbuat dari kaca jadi pecah akibat teriakannya. Kedua putrinya menutup telinga sambil berteriak, Rian pun menangis semakin keras. Darko juga menutup kedua telinga apalagi Mia masih berteriak sehingga membuat barang-barang yang terbuat dari kaca semakin banyak yang pecah sampai akhirnya bohlam yang menggantung di atas ruangan pecah sehingga dapur menjadi gelap gulita.
"Daddy!!" Bitsy dan Angela ketakutan. Kedua gadis itu memeluk kaki ayahnya dengan erat.
Suasana benar-benar gelap namun teriakan Mia sudah berhenti. Tangisan Bitsy dan Angela masih terdengar, kedua anak itu berlari keluar di mana ada cahaya lampu karena mereka takut.
"Mia?" Darko memanggil, tidak ada jawaban. Karena Rian tak henti menangis, jadi Darko membawanya keluar di mana kedua putrinya menangis sambil berpelukan.
"Takut Daddy, takut!" teriak Bitsy dan Angela.
"Jangan takut, Daddy sudah berkata pada kalian jika Mommy hanya sakit saja."
"Tapi Mommy aneh," ucap Angela.
__ADS_1
"Itu bukan Mommy, itu bukan Mommy!" teriak Bitsy pula.
"Ssstt, jangan berkata seperti itu. Apa kalian sudah selesai makan?" Darko berusaha mengalihkan perhatian kedua putrinya.
"Tidak mau, aku tidak mau makan lagi!" teriak Angela.
"Kami takut, Daddy. Cepat kembalikan Mommy!" pinta Bitsy.
"Kembalikan ke mana? Mommy tinggal bersama dengan kita selama ini!"
"Tapi Mommy sudah meninggal dan Mommy sudah menjadi hantu!"
"Bitsy!" Darko membentak putrinya karena dia tidak terima apa yang dikatakan oleh putrinya.
"Jangan asal bicara, Mommy bukan hantu!" ucapnya lagi.
"Jangan takut lagi, sekarang bawa Rian masuk ke dalam. Daddy akan melihat keadaan Mommy. Mommy seperti itu pasti karena tidak tahan dengan tangisan Rian jadi masuklah ke dalam kamar. Setelah Daddy menenangkan Mommy, Daddy akan mencari kalian. Kalian mengerti?"
Bitsy dan Angela hanya mengangguk. Rian diberikan pada Bitsy dan setelah itu Darko meminta kedua putrinya untuk masuk ke dalam kamar. Bitsy dan Angela yang takut tentu saja tidak membantah dan buru-buru masuk ke dalam kamar mereka. Pintu bahkan dikunci dengan rapat karena mereka takut ibu mereka masuk ke dalam lalu menangkap mereka bertiga.
Darko menghela napas. Wajah diusap dengan kasar. Entah kenapa Mia berteriak seperti itu sehingga membuat kedua putri mereka semakin takut dengannya. Darko pergi mengambil senter, sebaiknya dia melihat Mia. Akibat bohlam yang sudah pecah, dapur benar-benar gelap sehingga dia tidak bisa melihat apa pun. Darko melangkah perlahan sambil menyinari dapur dengan senter. Mia sudah tidak berada di meja makan lagi, Darko buru-buru melangkah mencari.
"Mia?" Darko mencari istrinya yang mendadak hilang.
Kres.. Kres.. kres, terdengar suara seperti orang sedang mengunyah sesuatu. Darko mencari datangnya suara, kedua kaki pun melangkah dengan perlahan mendekati kulkas di mana suara orang sedang mengunyah sesuatu terdengar dengan pintu kulkas yang terbuka.
__ADS_1
"Mia?" Darko kembali memanggil. Mia tampak berjongkok di depan kulkas dan terlihat sedang memakan sesuatu. Darko menelan ludah, senter yang ada di tangan di arahkan ke arah Mia.
"Mia, apa yang kau lakukan?" tanyanya.
Mia yang sedang makan sesuatu berpaling ke arahnya, Darko terkejut melihat daging mentah yang ada di mulut Mia. Mia bahkan menyeringai dan menatapnya dengan tajam.
"Jangan makan itu, Mia!" Darko berlari ke arah istrinya lalu ingin merebut daging mentah yang sedang dia makan.
"Jangan mengganggu aku!" teriak Mia sambil mendorong Darko. Kekuatan yang dia miliki tidak main-main, tubuh Darko terangkat ke atas lalu jatuh terhempas ke atas meja makan. Darko berteriak, semua makanan yang ada di atas meja berantakan bahkan lengannya tertusuk pecahan piring yang memang sudah ada di sana. Sambil menahan rasa sakit, Darko mengangkat senter miliknya lalu menyinari Mia yang sedang menikmati daging mentahnya.
"Jangan makan itu, Mia. Jangan makan!" Darko berusaha melompat turun dari atas meja. Mia tidak mempedulikan Darko karena dia kembali berjongkok di depan kulkas untuk menikmati daging mentah yang dia sukai.
"Jangan makan itu, Mia!" Darko kembali melangkah mendekati Mia namun dalam satu hentakan tangan Mia, dia kembali terhempas ke belakang dan menghantam kursi. Darko meringis sakit, sia. Dia harus menghentikan istrinya yang semakin aneh.
Darko kembali mendekati Mia namun lagi-lagi dia kembali dihempaskan. Kali ini Darko menghantam dinding, Mia pun sedang melangkah mendekatinya sambil menggigit daging mentah yang masih belum habis.
"Hi.. Hi... Hi... Hi...!" Mia tertawa yang membuat bulu roma meremang.
"Honey, jangan seperti ini. Jangan menakuti anak-anak dengan bertingkah aneh seperti ini!" Darko melangkah mendekat, Dia harus menghentikan istrinya sebelum anak-anak mereka melihat apa yang sedang ibunya lakukan saat ini.
Mia masih melangkah maju, benda-benda di sekitarnya terangkat naik ke atas. Mia masih tertawa mengerikan sambil menggigit daging mentah yang tinggal sedikit. Darko tidak terlihat takut, dia melangkah mendekati Mia. Meski tingkah laku Mia terlihat aneh namun dia tetap mencintai istrinya itu.
"Jangan lakukan hal seperti ini lagi, Honey. Jangan lakukan!" pinta Darko. Mia masih saja tidak peduli. Jari jemari yang terdapat darah dijilati sampai bersih. Darko yang sudah mendekat meraih tubuh istrinya dan memeluknya erat. Mia berteriak nyaring, teriakannya kembali membuat benda-benda bergetar seperti terkena gempa dahsyat. Teriakannya itu semakin membuat kedua putrinya ketakutan.
Darko yang tidak memiliki pilihan memukul tengkuk Mia dengan keras sampai membuat Mia tak sadarkan diri. Benda-Benda yang tadinya terangkat ke atas, jatuh berserakan ke atas lantai. Benda-Benda yang bergetar bagaikan diterjang oleh gempa mendadak berhenti. Darko menghembuskan napas berat, akhirnya semua kembali semula.
__ADS_1
Mia yang jatuh pingsan digendong dan dibawa ke dalam kamar mereka. Baju Mia yang kotor dilepaskan dan darah yang ada di mulut juga di tangan dibersihkan. Mulai sekarang, sebaiknya dia tidak menyimpan daging mentah agar Mia tidak mengulangi hal yang sama.
Setelah membaringkan Mia, Darko pergi ke dapur untuk membereskan semua kekacauan yang terjadi. Jangan sampai anak-anak mereka melihat lalu semakin takut namun satu hal yang lupa dia lakukan, dia lupa menenangkan kedua putri mereka yang semakin ketakutan di dalam kamar.