Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
La Lionora- 12


__ADS_3

Edward membawa Bitsy dalam keadaan pingsan pulang tapi dia tidak membawa Bitsy ke dalam kamar gadis itu meski kunci kamar Bitsy ada di dalam tasnya. Edward membawa Bitsy ke rumahnya yang terletak di lantai paling atas dan seluruh lantai atas disulap menjadi rumahnya karena dialah pemilik apartemen itu.


Bitsy yang masih tidak sadarkan diri dibaringkan dengan perlahan di atas ranjangnya. Edward memandangi Bitsy begitu lama dan setelah itu dia mulai memeriksa keadaan tubuh Bitsy. Tidak ada yang aneh kecuali tanda merah yang ada di lehernya. Beruntungnya dia cepat datang, dia tahu Bitsy tidak mungkin mendatangi rumah itu untuk menyerahkan dirinya pada Martin.


Bitsy terlihat aneh saat dia datang. Dia memang Bitsy tapi bukan Bitsy. Seperti ada yang sesuatu yang merasuki tubuhnya. Sungguh, rasa penasaran yang ada di hati sudah seperti gunung merapi yang akan meletus sebentar lagi. Dia harap setelah sadar, Bitsy mengatakan apa yang telah terjadi padanya.


Edward berlalu pergi untuk mengambil pakaiannya. Dia tidak bisa membiarkan Bitsy tidur dalam keadaan seperti itu. Sebuah handuk basah pun diambil dan handuk itu akan dia gunakan untuk menghapus jejak bibir Martin. Jujur saja dia tidak suka. Seharusnya dia pukul pria itu sampai babak belur sebelum membawa Bitsy pergi.


Gaun yang dikenakan Bitsy dilepaskan, Edward berpaling agar tidak melihat. Bodoh, kenapa dia jadi sok suci seperti itu? Tapi entah kenapa dia tidak mau memanfaatkan keadaan Bitsy yang sedang tidak berdaya. Gadis misterius yang aneh, dia yakin ada rahasia yang disembunyikan olehnya.


Karena Bitsy tidur di ranjangnya jadi Edward memilih untuk tidur di sofa. Jangan sampai Bitsy salah paham dan mengira dia baji*ngan yang memanfaatkan keadaan. Edward bahkan menyelimuti tubuh Bitsy agar tidak kedinginan. Malam yang sangat aneh, padahal dia sudah mengira mereka akan menghabiskan waktu romantis berdua tapi semua jadi kacau.


Bitsy yang sudah kembali ke dalam tubuhnya tersadar dari pingsannya. Bitsy melihat sekitar yang sangat asing lalu dia berteriak dan menyingkirkan selimut yang masih menutupi tubuhnya. Bitsy kembali terkejut mendapati dirinya sedang memakai kemeja pria.


"Di mana aku? Apa yang telah terjadi padaku?" Bitsy panik dan memeriksa tubuhnya. Dia tidak ingat, dia tidak tahu apa yang telah terjadi padanya.


"Tidak perlu khawatir, tidak terjadi apa pun padamu!" Edward yang sedari tadi berada di dapur masuk ke dalam kamar setelah mendengar teriakan Bitsy.


"Edward?" Bitsy menatap pria itu dengan tatapan heran. Kenapa ada Edward dan di mana dia?


"Kau berada di rumahku, Bitsy. Aku terpaksa membawamu pulang karena keadaanmu."


"Apa yang telah terjadi denganku, Edward?"


"Seharusnya itu pertanyaanku, Bitsy. Apa yang telah terjadi padamu?" tanya Edward yang sedang melangkah mendekati Bitsy lalu duduk di sisinya.


"Aku?" Bitsy menunduk. Dia berusaha mengingat apa yang telah terjadi padanya setelah dia dikejar oleh hantu itu.

__ADS_1


"Apa kau mengenal Martin, Bitsy? Ada hubungan apa antara kau dan Martin?" inilah yang sangat ingin dia tahu.


"Martin, siapa?" tanya Bitsy dengan ekspresi tidak mengerti. Edward menatapnya dengan lekat, seperti mencari jawaban apakah Bitsy sedang berbohong atau tidak tapi dia bisa melihat jika Bitsy tidak sedang menipu dirinya.


"Jadi kau tidak tahu siapa Martin?"


"Tidak, aku tidak mengenalnya."


"Jika begitu kenapa kau pergi ke rumahnya semalam?"


"Tunggu sebentar!" Bitsy memegangi dahinya. Dia berusaha mengingat apa saja yang terjadi. Dia ingat saat dia mencari hantu La Lionora itu, dia justru salah lalu dikejar oleh hantu penasaran. Dia mengajak Edward pulang lalu? Dia tidak ingat lagi. Dia hanya ingat sedikit ketika dia berusaha mengambil alih tubuhnya. Apakah ada yang merasuki dirinya lalu pergi mencari pria bernama Martin yang disebutkan oleh Edward?"


"Apa kau sudah mengingatnya sekarang? Apa kau bisa memberitahu aku apa yang telah terjadi padamu semalam?"


"Aku... Entahlah!" jawab Bitsy pura-pura. Dia takut Edward menganggapnya aneh karena bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus. Selama ini tidak ada yang tahu akan kemampuannya itu karena dia takut dianggap sebagai orang aneh. Edward pun pasti akan menganggapnya seperti itu dan menertawakan dirinya apalagi pria itu tidak percaya akan hantu.


"Tidak, aku benar-benar tidak mengenal pria itu."


"Baiklah, sungguh kejadian yang sangat aneh. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau baik-baik saja?"


"Tentu, terima kasih dan maaf aku telah mengacaukannya."


"Tidak apa-apa, Bitsy," Edward meraih tangan Bitsy dan menggenggamnya, "Aku sangat khawatir kau menghilang begitu saja dari tempat konser. Seharusnya aku tidak meninggalkan dirimu seorang diri. Aku benar-benar panik saat kau menghilang. Aku mencarimu dan berusaha mengejar tapi entah kenapa seperti ada yang mengatakan padaku jika kau berada di rumah Martin. Entah kenapa kau bisa berada di sana, aku sungguh ingin tahu."


"Aku tidak ingat, Edward. Maaf," Bitsy menunduk, dia benar-benar tidak bisa mengatakan apa yang terjadi. Dia hanya bisa berhati-hati untuk lain kali agar kejadian buruk itu tidak terulang pada dirinya.


"Baiklah, tidak perlu dipikirkan. Pergilah mandi, kau bisa memakai pakaianku."

__ADS_1


"Tidak, Edward. Aku tidak mau merepotkan dirimu. Aku mau kembali ke kamarku saja!"


"Bitsy!" Bitsy terkejut karena Edward menariknya dan memeluknya. Mendadak tubuhnya menjadi kaku dan tidak bisa bergerak karena pelukan Edward.


"Aku tahu kau memiliki rahasia, aku tahu kau tidak mau mengatakannya padaku. Mungkin karena kita baru mengenal dan kau tidak mempercayai aku tapi tidak apa-apa, aku memakluminya tapi percayalah padaku jika aku bukan orang jahat yang akan memanfaatkan keadaan. Aku sangat berharap kau mau terbuka padaku sehingga aku tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu."


"Maaf, aku?"


"Tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa dirimu untuk mengatakan apa yang telah terjadi tapi aku harap kau mempercayai aku dengan seiring berjalannya waktu. Sekarang pergilah mandi dan setelah itu sarapan."


"Aku mau pulang saja," Bitsy masih tetap dengan keinginan awal.


"Sarapan dulu barulah pulang. Aku akan mengantarmu," Edward sudah beranjak dan berjalan menuju lemari pakaian, dia tidak akan membiarkan Bitsy pergi begitu saja apalagi dia sudah membuat sarapan.


Bitsy memandangi kepergian Edward dalam diam. Apakah pria itu bisa dia percaya? Jujur saja dia takut dan tidak berani mengatakan kemampuannya pada siapa pun apalagi yang tahu hanya keluarganya saja. Edward mengambil sebuah kaos lalu dia kembali mendekati Bitsy.


"Maaf, aku yang membuka baju yang kau kenakan dan tanda merah itu? Bukan aku yang membuatnya!"


Bitsy terkejut lalu meraba lehernya di mana bekas merah yang dibuat Martin berada. Sial, dia tidak menyadari hal itu dan jangan katakan pria asing itu sudah melakukan sesuatu pada tubuhnya.


"Hanya ada tanda itu saja, tidak perlu khawatir. Sekarang pergilah mandi!" Edward memberikan kaos yang dia bawa pada Bitsy.


"Terima kasih, aku berhutang budi padamu."


"Jika begitu, kau harus menebusnya," ucap Edward sambil tersenyum.


Bitsy berusaha tersenyum tipis dan lagi-lagi Edward menganggap senyuman Bitsy sangat misterius. Pelan-Pelan saja, dia pasti akan mengenal gadis itu lebih jauh dan dia pasti tahu rahasia yang disembunyikan oleh Bitsy serta keanehan yang terjadi pada Bitsy malam ini.

__ADS_1


__ADS_2