
Bitsy dan Edward sudah selesai sarapan, mereka berdua sedang mencari tahu siapa sebenarnya Acton Adam tunangan hantu La Lionora dan yang dicurigai sebagai pelaku yang telah membunuh hantu itu serta membunuh adik dan ibunya yang ditemukan oleh Bitsy dan Edward di hutan.
Rupa seorang pria sudah berada di layar komputer milik Edward beserta beberapa informasi mengenai pria itu. Acton Adam ternyata seorang pengusaha yang sedang naik daun. Dia memang seorang pengusaha tapi tidak sesukses saat ini. Perusahaannya mendadak naik daun beberapa waktu belakangan.
Semua orang mengira jika kematian calon istrinya akan membuat pria itu semakin hancur tapi siapa yang menduga jika Acton Adam justru semakin sukses dan sekarang dia sudah menjadi pengusaha yang berpengaruh. Semua orang menganggap jika dia beruntung dan keberuntungannya dia dapatkan pada kekasihnya yang baru.
Wajah Acton Adam kembali muncul, kali ini dengan kekasihnya. Bitsy memandangi kedua wajah itu dengan serius. Mereka adalah dua orang yang dia lihat di gedung konser. Informasi yang mereka dapat mengenai pria itu sudah cukup tapi tidak menjawab apa pun dan tidak memberi mereka petunjuk atas kematian Sarah.
Untuk mencari tahu siapa Sarah sebenarnya, Bitsy memeriksa siapa Sarah. Dia adalah pegawai sebuah bank ternama. Memiliki saudara perempuan dengan seorang ibu. Ayahnya sudah tiada dan mereka tinggal di sebuah apartemen yang tidaklah mewah.
Sungguh aneh, jika Sarah hanya seorang pegawai bank, lalu untuk apa dia dibunuh oleh calon suaminya sendiri? Apa Acton Adam tidak mau menikah oleh sebab itu dia membunuh Sarah tapi kenapa dia membunuh ibu dan adiknya juga?? Mendadak dia jadi seorang detektif. Apakah dia harus melibatkan Uncle Erick yang sudah pensiun dalam masalah ini?
"Apa yang kau pikirkan, Bitsy?" tanya Edward karena Bitsy begitu serius.
"Aku sedang memikirkan hal ini, Edward. Sarah berkata jika dia mengira yang membunuh dirinya adalah calon suaminya tapi untuk apa? Apa motif yang dimiliki oleh Acton untuk membunuh calon istrinya sendiri di hari pernikahan mereka? Aku merasa ada yang aneh."
"Banyak motif yang bisa dilakukan oleh seseorang jika dia memang memiliki tujuan. Jangan tertipu hanya dengan informasi yang kita dapatkan di sini. Kita harus mencari tahu lebih jauh lagi apakah Acton Adam terlibat dengan kematian hantu itu atau tidak."
"Tapi dari mana kita akan memulainya?"
"Aku mengenal seorang detektif, apa mau aku mengenalkannya padamu?"
"Tidak, tidak. Jangan terlalu terburu-buru. Aku akan mencari tahu lebih jauh dari hantu itu dan aku akan mendiskusikannya pada bibiku."
"Kenapa kau ingin mendiskusikannya pada bibimu?"
"Bibiku mantan polisi dan suaminya mantan detektif. Aku rasa dia bisa memberikan solusi dan nanti malam, aku harus mencari hantu La Lionora itu dan berbincang dengannya karena aku ingin tahu lebih banyak apa yang terjadi."
"Baiklah, aku temani."
"Tidak.. Tidak boleh!" tolak Bitsy.
"Kenapa? Meski aku tidak bisa melihat hantu tapi aku bisa menemani dirimu."
"Tidak, Edward. Hantu itu tidak suka dengan laki-laki!" dusta Bitsy.
"Benarkah? Lalu bagaimana denganmu?" Edward menumpu wajahnya menggunakan lengan lalu memainkan rambut Bitsy dengan satu tangannya, "Apa kau juga tidak menyukai aku seperti hantu itu?" tanya Edward.
__ADS_1
"Tidak, tentu saja tidak."
"Jadi, kau menyukai aku?" Edward masih memainkan rambut Bitsy dan mengusapnya sesekali.
"Bu-Bukan begitu. Hm, aku sudah harus pergi. Terima kasih atas sarapannya, Edward," Bitsy beranjak, dia tidak tahan terlalu lama bersama dengan pria itu.
"Kau mau pergi ke mana? Dari pada di kamar saja bagaimana jika kita pergi jalan-jalan?"
"Sebenarnya aku ingin pergi berbelanja karena aku sudah tidak memiliki apa pun lagi di dalam kulkasku."
"Kebetulan, bahan-bahan makananku pun suda habis. Kita pergi bersama lalu makan siang bersama."
"Tapi aku?" Bitsy tampak tidak enak hati.
"Jangan menolak. Aku tidak keberatan ditolak yang lain tapi aku tidak suka ditolak olehmu jadi jangan menolak!" ucap Edward sambil memegangi tangan Bitsy.
"Aku hanya merasa tidak enak hati padamu."
"Sudahlah, aku akan bersiap-siap," Edward pun beranjak, dia tidak akan membiarkan Bitsy pergi seorang diri.
"Jika begitu aku akan kembali ke kamar untuk mengambil uangku."
"Aku tidak bisa menerima uangmu, Edward."
"Percayalah, Nona. Jika kau masih protes maka aku tidak akan melepaskan bibirmu. Aku akan memastikan bibirmu bengkak sebentar lagi!" ancam Edward.
"Mulutku terkunci rapat sekarang!" ucap Bitsy.
"Bagus!" Edward mendekati Bitsy lalu memberikan ciuman lembut di dahi gadis itu. Bitsy terkejut, tubuhnya mendadak tidak bisa bergerak apalagi tangan Edward sedang mengusap wajahnya.
"Aku hanya sebentar saja," ucapnya.
Bitsy mengangguk dengan cepat, mendadak dia jadi patuh. Edward tersenyum namun dia harus melangkah pergi padahal dia masih ingin menggoda Bitsy. Napas dihembuskan setelah Edward melangkah pergi. Bitsy bahkan mengusap dadanya namun tangannya berpindah ke dahi di mana Edward meninggalkan ciumannya di sana.
Apakah seperti ini sudah benar? Pertanyaan itu kembali muncul di dalam hatinya. Edward yang sudah selesai menghampiri Bitsy dan menepuk bahunya. Bitsy berteriak akibat terkejut dengan sentuhannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau termenung?"
__ADS_1
"Tidak, Tidak ada apa-apa!"
"Jika begitu ayo pergi dari sini!" Edward meraih tangan Bitsy lalu mengajaknya pergi.
"Aku mau mengambil uang dulu, Edward. Aku tidak mau disangka sedang memanfaatkan dirimu."
"Tidak akan ada yang menyangka demikian. Lagi pula uangku tidak akan habis hanya karena aku membelikan sesuatu untukmu dan jangan berdebat lagi jika tidak mau bibirmu berada di mulutku!"
"Baiklah, baik. Jangan menyesal nantinya!"
"Tentu saja tidak, Sayang. Ayo pergi!" Kini Edward meraih pinggang Bitsy. Edward bahkan begitu merapat pada Bitsy saat mereka berada di dalam lift. Itu dia lakukan agar tidak ada yang melihat Bitsy dengan mata kurang ajarnya dan agar orang-orang tahu jika Bitsy adalah miliknya.
Edward bahkan menggenggam tangan Bitsy saat mereka sudah berada di lobi apartemen. Kali ini mereka akan pergi berdua lagi namun tanpa mereka duga, si pengganggu datang dan menarik tangan Bitsy secara tiba-tiba. Bitsy terkejut, begitu juga dengan Edward.
Tatapan mata pria itu tampak tidak senang saat melihat pria yang sedang menarik tangan Bitsy. Bitsy yang terkejut buru-buru menarik tangannya hingga terlepas lalu dia berlari ke arah Edward dan bersembunyi di belakang pria itu karena dia takut dengan Martin.
"Apa yang kau inginkan, Martin?" tanya Edward yang dengan jelas menunjukkan sikap tidak sukanya pada Martin.
"Aku datang ke sini dengan susah payah tidak untuk mencarimu tapi aku datang untuk mencari gadis itu!" Martin tak kalah sinisnya.
"Ada masalah apa kau dengan calon istriku?" Bitsy terkejut mendengar perkataan Edward namun dia diam saja dan masih bersembunyi di belakangnya.
"Calon istri? Aku rasa kalian tidak memiliki hubungan apa pun!" cibir Martin.
"Jangan banyak basa basi, katakan saja apa tujuanmu datang?"
"Tentu saja meminta bantuannya. Aku ingin istriku merasuki raganya sekali lagi karena aku ingin berbicara dengannya!" pinta Martin. Dia harap Bitsy mau karena dia belum selesai dengan istrinya yang sudah meninggal dan ada yang hendak dia lakukan.
"Aku tidak mau!" tolak Bitsy.
"Apa? Aku akan membayarmu mahal. Jadilah wadah untuk istriku sekali lagi!" pinta Martin.
"Tidak mau, ayo pergi dari sini!" ajak Bitsy sambil menarik baju Edward.
"Kau dengar, dia tidak mau jadi jangan datang lagi!" Edward menarik tangan Bitsy, dia tidak akan membiarkan Bitsy menjadi wadah hantu apa pun apalagi wadah untuk hantu istri Martin.
"Jangan sampai aku melakukan kekerasan!" teriak Martin.
__ADS_1
Bitsy berpaling, dia jadi semakin takut. Martin tak melepaskan pandangannya dari Bitsy. Apa pun caranya, dia ingin bertemu dengan istrinya lagi dan yang dia tahu, gadis itu bisa menjadi perantara maka dari itu dia tidak akan berhenti sampai tujuannya tercapai.