
Bitsy mulai tersadar dari pingsannya ketika mendengar suara lonceng yang begitu berisik dan suara itu terdengar tidak jauh dari telinganya. Suara lonceng semakin lama semakin nyaring terdengar karena kesadarannya semakin terkumpul. Tidak saja suara lonceng yang begitu berisik tapi suara bisik-bisik seseorang juga terdengar dan suara itu seperti seseorang yang sedang membaca mantra yang tidak Bitsy mengerti.
Kedua mata Bitsy terbuka lebar ketika seseorang mengetukkan sesuatu ke atas lantai. Bitsy belum mengerti dengan situasi namun dia harus dikejutkan lagi dengan cairan yang berbau amis yang dituangkan ke atas kepalanya. Bitsy berteriak, dia berusaha meronta namun kedua kaki dan tangannya justru terikat di rantai yang di paku ke atas lantai. Bitsy juga baru sadar jika dia berbaring di atas lantai yang dingin dengan lambang pentagram berbentuk bintang serta lilin-lilin yang menyala di sekitarnya. Martin membawanya ke sebuah rumah tua yang ada di tengah hutan dan sudah lama tidak digunakan karena rumah itu sudah ditutup.
"Lepaskan, kenapa aku berada di sini?" teriak Bitsy sambil menarik kedua tangannya. Padahal dia berada di bandara dengan Edward untuk menjemput keluarganya tapi kenapa dia berada di tempat menakutkan itu? Bitsy masih berusaha menarik kedua tangannya. Dia ingat, seseorang memeluknya secara tiba-tiba lalu dia tidak sadarkan diri lagi.
"Lepaskan aku!" teriak Bitsy dan lagi-lagi cairan berbau amis kembali membasahi wajahnya dan itu adalah darah.
"Hentikan!" teriak Bitsy namun cairan itu masih saja dituangkan dan setelah selesai, Bitsy bisa melihat seorang nenek tua melangkah mengelilinginya sambil membaca mantra. Siapa nenek tua tidak dikenal itu tapi semua yang dia alami semakin menjadi buruk dan menakutkan karena banyaknya hantu menakutkan di rumah kecil itu.
"Bagaimana?" terdengar suara seorang pria sedang berbicara.
"Sebentar lagi, tunggu bulan sudah berada di atas kepala kita maka arwah istrimu akan masuk ke raganya dan menggantikan dirinya."
"Aku senang mendengarnya!" Martin melangkah mendekati mayat istrinya yang berada tidak jauh dari Bitsy. Meski sudah kering dan hampir menjadi kerangka, tapi semua itu dibutuhkan untuk ritual bahkan jasad istrinya yang sudah kering berada di samping Bitsy.
"Tunggulah, Honey. Sebentar lagi kita akan bersama!" Martin memandangi jasad istrinya yang juga dibaringkan di atas lantai. Bitsy terkejut melihat pria itu. Martin? Celaka, ternyata dia diculik oleh Martin.
"Sepertinya kau tidak begitu terkejut melihat aku!" kini Martin melangkah mendekatinya.
"Apa maksudnya ini, Martin? Kenapa kau melakukan hal ini padaku!"
"Salahmu yang tidak mau membantu aku padahal aku sudah meminta bantuanmu dengan cara baik-baik tapi kau justru menolak karena hasutan Edward!"
__ADS_1
"Kau ingin mengambil keuntungan dariku, aku tidak sudi. Lagi pula istrimu sudah pergi, aku tidak bisa melihatnya lagi!" teriak Bitsy.
"Oleh sebab itulah, aku ingin memanggil arwah istriku kembali lagi!"
"Apa?" tanya Bitsy terkejut, "Jangan gila, istrimu sudah beristirahat dengan tenang!" teriaknya.
"Tidak, dia sedang menunggu aku membangkitkannya kembali!" ucap Martin.
"Jangan memanggil arwah yang sudah pergi, kau akan membuatnya menderita di dunia ini karena dia memang sudah mati!" ternyata ada yang lebih gila dari pada ayahnya dan dia lagi-lagi berada di situasi yang sama.
"Aku tidak peduli!" teriak Martin seraya melangkah mendekati jenazah istrinya, "Aku tidak peduli karena yang aku inginkan adalah kebangkitan istriku dan kau?" kini dia berpaling ke arah Bitsy, "Harus menggantikannya!" ucapnya lagi.
"Kau gila, Martin. Apa yang ingin kau lakukan padaku?" teriak Bitsy.
"Agar kau tidak mati penasaran maka aku akan mengatakan padamu apa yang hendak aku lakukan. Aku akan melakukan ritual untuk memanggil arwah istriku dan setelah itu kami akan melakukan ritual lain yaitu memasukkan jiwa istriku ke dalam ragamu. Kemampuan istimewa yang kau miliki akan sirna dan karena kemampuan yang kau miliki dan tubuh sucimu itulah, tubuhmu adalah wadah yang sempurna untuk istriku. Jiwa istriku akan bersatu dengan ragamu dan jiwamu akan pergi dengan kemampuanmu itu. Kau akan menjadi arwah penasaran dan bergabung denga para hantu yang ada di rumah tua ini sedangkan istriku, dia akan kembali hidup di dalam ragamu dan berbahagia denganku!"
"Ha.... Ha... Ha.... Ha....!!" Martin tertawa dengan keras. Semua sudah terlambat karena dia sudah mendapatkan cara lain agar bisa bersama dengan Lea kembali.
"Lepaskan aku, Martin. Lepaskan aku!" teriak Bitsy.
"Terlambat, dari pada berbicara dengan arwah istriku, aku lebih memilih membangkitkan istriku kembali. Meski raganya adalah milikmu, tapi aku akan berusaha menganggapnya sebagai raga istriku. Sebentar lagi waktu akan dimulai dan kau, akan menjadi wadah sempurna untuk jiwa istriku!"
"Jangan lakukan hal gila ini, Martin. Ayahku tidak akan mengampuni dirimu begitu juga dengan Edward!"
__ADS_1
"Ha... Ha... Ha... Ha....!" Martin justru tertawa dan melangkah pergi.
"Ayo kita mulai ritualnya!" ucap Martin karena sebentar lagi waktu akan menunjukkan pukul dua belas malam.
Nenek tua yang membantunya mengambil segala sesuatu yang diperlukan. Darah Bitsy, rambutnya lalu satu jari milik istri Martin dan rambutnya yang dibutuhkan untuk Ritual. Bitsy berteriak memohon agar Martin tidak melakukan hal gila itu tapi tidak ada yang peduli dengannya.
Asap tebal menyelimuti rumah yang berada di tengah hutan dan di kelilingi pohon mati itu. Para penghuni yang ada di dalam tertawa mengerikan dan yang bisa mendengarnya hanya Bitsy. Mereka seperti begitu senang karena akan ada yang bergabung dengan mereka sebentar lagi. Bitsy akan terjebak di rumah itu untuk selamanya bersama dengan mereka bahkan sosok jahat yang berada di kegelapan menyeringai lebar.
Jiwa yang segar, murni dan polos. Jiwa yang sungguh lezat baginya dan dia sudah tidak sabar menantikan jiwa tersebut. Mantra sudah dibacakan, Bitsy masih berteriak memohon pada Martin. Mantra yang dibacakan diiringi dengan tawa-tawa makhluk menyeramkan yang berada di rumah itu semakin membuat Bitsy ketakutan.
"Edward, tolong aku Edward!" teriak Bitsy tanpa memohon lagi pada Martin karena dia rasa sia-sia berbicara dengan pria yang tidak memiliki akal sehat itu.
"Teruslah berteriak, dia tidak akan datang untukmu!" teriak Martin lalu dia kembali membaca mantra.
"Hentikan kegilaan ini. Tolong aku, aku akan mengabulkan apa yang kalian inginkan!" pinta Bitsy pada sosok putih yang ada di sisi ruangan. Entah itu hantu siapa karena wajahnya tak terlihat di dalam kegelapan tapi dia terlihat berbeda dari pada hantu yang lainnya yang ada di rumah itu.
"Please, aku bisa membebaskan dirimu jika kau mau jadi tolong aku!" pinta Bitsy.
"Diam!" teriakan nenek tua yang membantu Marti membuat Bitsy terkejut apalagi pergelangan tangannya di sayat dan lagi-lagi darahnya diambil.
"Jangan lakukan hal gila ini, Martin!" teriak Bitsy namun ritual terus berjalan bahkan angin kencang berhembus menggoyangkan api lilin yang ada di sekitar lingkaran. Suasana semakin mencekam, Bitsy merasa sudah tidak ada harapan karena tidak ada yang menolongnya namun samar-samar dia mendengar suara bisikan seorang wanita.
"Apa kau benar-benar bisa membantu aku?" mendengar suara bisikan itu membuat Bitsy melihat sekitar di tengah angin kencang serta mantra yang semakin jelas dibacakan.
__ADS_1
"Tentu saja tapi siapa kau?" Bitsy bertanya dalam hatinya.
"Aku Madison dan berjanjilah kau akan membantu aku keluar dari rumah terkutuk ini!" pinta sosok yang tidak dia lihat namun hanya ada suaranya saja.