Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
La Lionora-3


__ADS_3

Bitsy terbangun saat mendengar suara ketukan di luar jendela kamarnya. Bitsy diam untuk mendengarkan suara ketukan itu. Kamarnya berada di lantai dua puluh lima, sangat mustahil ada orang di luar sana. Hal menakutkan itu tentu sudah sering dia dapatkan tapi tetap saja sangat mengganggu apalagi jika dia terbangun saat tengah malam, dia hanya bisa bersembunyi di bawah selimut saja.


Tak.... Tak... Tak...! Suara itu kembali terdengar bahkan suara garukan di atas kaca membuat Bitsy menutup kedua telinganya. Bitsy memejamkan kedua mata, berharap makhluk apa pun yang ada di luar sana cepat pergi. Bitsy menunggu cukup lama namun dia harus beranjak dari tempat tidur karena ayahnya menghubungi.


"Hallo, Dad," Bitsy menjawab panggilan dari ayahnya sambil melangkah menuju jendela karena dia ingin melihat sosok apa yang ada di luar sana.


"Bagaimana dengan keadaanmu, Sayang? Apa kau sudah betah tinggal di sana?" tanya ayahnya.


"Tentu saja sudah, Dad. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."


"Bagus. Tidak ada yang mengganggu dirimu lagi, bukan?"


"Yang Daddy tanyakan manusia atau hantu?" Bitsy mengintip dari balik gorden dan terkejut ketika melihat sosok laki-laki yang menakutkan dan sedang melayang di luar jendelanya. Karena waktu masih menunjukkan pukul lima pagi jadi makhluk itu masih berkeliaran di luar.


"Dua-Duanya. Awas saja ada pria hidung belang yang mengganggu putri Daddy. Daddy akan pergi ke sana sambil membawa kayu!"


"Daddy terlalu berlebihan. Jika begini aku tidak akan bisa menikah."


"Daddy hanya bercanda, tapi jangan bergaul dengan yang tidak benar dan jangan pergi ke tempat yang tidak benar. Kau paham?"


"Daddy tahu aku takut tempat gelap, bagaimana mungkin aku bisa pergi ke tempat tidak benar?"


"Baiklah, Daddy hanya tidak mau kau terjerumus dalam pergaulan bebas."


"Tidak akan, Dad. Aku sibuk bekerja jadi tidak punya waktu untuk melakukan hal itu. Bagaimana dengan Daddy, keadaan Daddy baik-baik saja, bukan?"


"Tentu saja, Daddy mengkhawatirkan dirimu di sana karena kau tidak pernah berjauhan dari Daddy setelah kejadian itu."


"Daddy jangan terlalu mengkhawatirkan aku!" Bitsy menutup gorden dengan cepat karena makhluk itu melihat ke arahnya, "Jangan sampai Daddy jatuh sakit karena hal ini," kini dia melangkah pergi. Suara ketukan kembali terdengar di jendela disertai suara ******* napas panjang yang menakutkan.


"Tentu saja tidak, Daddy hanya ingin tahu kabarmu saja."


"Baiklah, aku akan menghubungi Daddy sesering mungkin setelah ini. Karena aku masih baru di sini jadi aku harus menyesuaikan diri."

__ADS_1


"Tidak perlu, cukup satu minggu satu kali, Asalkan dapat mendengar kabarmu, Daddy sudah sangat senang."


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan kau, Dad. Aku sudah harus mandi, jika ada waktu aku akan menghubungi Daddy."


"Baiklah, Daddy juga harus menyiapkan makanan karena kedua adikmu sebentar lagi akan pulang."


"Have a nice day, Dad," ucap Bitsy sebelum percakapan mereka berakhir.


Bitsy pergi mencuci wajah terlebih dahulu lalu mengeluarkan sampah dari kamarnya. Suasana masih sepi, Bitsy berdiri cukup lama di depan pintu dan setelah itu dia masuk ke dalam karena dia merasa ada yang mengawasi dirinya. Dari pada melihat sosok itu lagi sebaiknya dia pergi saja. Lagi pula tidak menyenangkan harus lari dari makhluk itu saat pagi.


Membuat sarapan adalah kegiatan yang dia lakukan sebelum mandi. Biasanya ada ayah dan adik-adiknya tapi kini suasana jadi terasa sepi karena tidak ada mereka apalagi Rian yang suka mengganggu. Mendadak dia jadi rindu dengan mereka. Rasanya sudah tidak sabar natal cepat datang agar dia bisa pulang dan berkumpul dengan keluarganya lagi.


Bitsy melakukan kegiatannya seperti biasa yang dia lakukan namun dia tidak menduga akan bertemu dengan Edward lagi di dalam lift. Pemuda itu melambai sambil tersenyum, Bitsy membungkuk sedikit sambil membalas senyumannya.


"Kebetulan bisa bertemu lagi denganmu," ucap Edward basa basi.


"Yeah, mungkin karena lift sebelah rusak jadi bisa bertemu," Bitsy merapat ke sisi lain yang ada di sebelah kanan dengan tatapan mata tak lepas dari sisi lift lainnya di mana dia melihat hantu wanita itu berada semalam.


"Benarkah?" Bitsy berpaling dan melihat ke arah Edward.


"Aku dengar seperti itu!" Edward melangkah mundur karena ada yang masuk ke dalam lift. Setiap lift terhenti pasti ada yang masuk sehingga semakin ramai sampai membuat mereka berdua sudah terpojok di sisi lift. Bitsy menunduk karena Edward sudah berdiri di hadapannya. Kedua tangan berada di dinding lift, dia tidak bermaksud demikian karena dia menahan orang yang ada di belakangnya agar Bitsy tidak terhimpit oleh penuhnya orang-orang yang ada di dalam lift.


Tatapan mata Edward tidak lepas dari Bitsy yang hanya menunduk sedari tadi. Gadis itu misterius sehingga membuatnya penasaran. Bitsy tidak bisa bergerak karena dia terkurung lengan kekar Edward. Mendadak mereka berdua jadi canggung, sungguh situasi yang tidak menyenangkan apalagi mereka berada di posisi seperti itu sampai tiba di lobi.


Lift sudah berhenti, satu persatu orang yang ada di lift mulai keluar. Edward masih berada di posisi seperti itu sehingga membuat Bitsy jadi serba salah. Dia bahkan mendongak untuk memandangi pria itu.


"Akhirnya kau melihat aku juga. Aku kira kau akan menunduk sampai malam," ucap Edward.


"Ma-Maaf," Bitsy berpaling sambil menyelipkan rambutnya.


"Kenapa kau selalu meminta maaf?" tanya Edward heran.


"Entahlah, tapi kita mau seperti ini sampai kapan? Apa kita akan berada di lift sampai malam?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak!" Edward bergegas menahan pintu yang sudah akan tertutup. Pria itu keluar terlebih dahulu, Bitsy menaikkan tali tasnya yang terjatuh namun mendadak hantu yang ada di sisi lift terlihat. Bitsy terkejut, buru-buru melangkah dengan cepat karena hantu itu melihatnya. Sial, hantu itu tiba-tiba muncul dan menakuti dirinya.


"Ada apa?" Edward menatapnya dengan tatapan heran.


"Ti-Tidak ada apa-apa. Aku sudah hampir terlambat, maaf aku harus segera pergi!" Bitsy melangkah melewati Edward sambil menggunakan kaca mata hitamnya. Pria itu menatapnya dengan ekspresi heran. Lai-Lagi Bitsy menunduk dan berjalan lurus tanpa berani melihat ke sana kemari. Bitsy benar-benar misterius. Meski baru bertemu tapi membuatnya penasaran.


Bitsy melangkah cepat, saat seperti itu yang dia lihat hanya bayangan hitam atau asap hitam saja tapi saat malam, sosok makhluk itu terlihat dengan jelas. Bitsy tidak mau melihat karena sosok seperti itu terkadang menempel di belakang seseorang dan terkadang melayang-layang tanpa sebab.


"Bitsy!" teriakan Edward menghentikan langkah Bitsy untuk sejenak.


"Ada apa?" Bitsy berbalik, sedangkan Edward berlari ke arahnya.


"Apa besok kau punya waktu?" tanya Edward.


"Sepertinya aku tidak pergi ke mana-mana. Ada apa?"


"Seseorang memberikan aku tiket konser, apa kau mau pergi menonton denganku?"


"Konser? Bitsy mulai membayangkan tempat konser yang gelap dan menakutkan.


"Apa bisa? Kebetulan aku tidak punya teman."


"Hm, baiklah," dia tidak bisa menolak karena tidak enak hati.


"Jika begitu aku akan menjemputmu besok."


"Terima kasih. Aku sudah boleh pergi, bukan?" tanya Bitsy.


"Tentu saja, maaf sudah menahanmu. Aku harap kita bertemu lagi, mungkin bisa satu lift lagi."


Bitsy hanya mengangguk, tanpa senyuman. Dia semakin terlihat misterius yang membuat Edward semakin penasaran. Bitsy melangkah pergi setelah berpamitan, sesungguhnya dia takut pergi ke tempat konser atau semacamnya karena dia tahu akan banyak makhluk menakutkan dan bodohnya dia mau saja menerima tawaran Edward.


Rasanya ingin menolak tapi pria itu sudah pergi saat Bitsy berbalik. Sudahlah, lagi pula dia tidak memiliki teman. Jangan sampai dia berteman dengan hantu dan jauh dari dunia manusia. Dia pun harus hidup normal, mungkin dengan demikian kemampuannya akan hilang meski rasanya mustahil.

__ADS_1


__ADS_2