
Tatapan mata kekasih Acton tak lepas dari Bitsy karena dia curiga dengan gadis itu. Jika dia teman baik Sarah berarti dia tahu sesuatu apalagi perkataan gadis itu cukup mencurigakan. Sepertinya Sarah telah mengatakan sesuatu dan mungkin saja gadis itu mengetahui sebab kematiannya.
Acton justru melupakan apa yang baru saja dia dan Bitsy bahas karena dia sedang berbicara dengan Edward. Lagi pula Sarah meninggal karena kecelakaan dan semua orang tahu itu. Meski Sarah mengatakan sesuatu pada Bitsy, dia yakin gadis itu tidak memiliki bukti apa pun.
"Apa kalian berdua saling mengenal?" tanya Edward basa basi.
"Tidak, tapi Sarah selalu berbicara tentang calon suaminya padaku," jawab Bitsy.
"Aku sungguh tidak menyangka, ini sebuah keberuntungan. Sarah tidak pernah mengatakan apa pun tentang dirimu oleh sebab itu aku tidak mengenalmu, Maaf," ucap Acton.
"Tidak apa-apa, aku memang tinggal di tempat jauh dan baru kembali untuk mencari Sarah tapi sayang, dia justru meninggal akibat kecelakaan!" Bitsy menunduk dan pura-pura terlihat sedih.
"Semua yang terjadi diluar keinginan, aku juga terkejut dia mengalami kecelakaan saat di jalan padahal hari itu adalah hari pernikahan kami!" Acton menunjukkan rasa bersalahnya sedangkan sang kekasih sudah tidak tahan berada di sana.
"Aku akan tetap mencari tahu karena dia berkata padaku jika ada yang ingin membunuhnya!" Bitsy masih memancing tentunya ekspresi wajah Acton tampak tidak senang.
"Ayo kita pergi, Acton," kekasih Acton segera mengajak pergi karena bisa berbahaya jika mereka terlalu lama bersama dengan Bitsy yang kemungkinan tahu sesuatu.
"Baiklah, aku sangat senang bisa bertemu denganmu, Tuan Edward. Aku harap aku bisa bertemu denganmu lagi," ucap Acton.
"Tentu, kapan pun kau bisa mencari aku!" ucap Edward.
Acton pun berpamitan pada Bitsy, tatapan mata curiganya tak lepas dari gadis itu begitu juga dengan kekasihnya. Mereka bergegas melangkah menjauh dengan perasaan was-was, kekasih Acton bahkan berpaling sekali lagi untuk melihat ke arah Bitsy.
"Menurutmu, apa yang telah dikatakan oleh Sarah pada sahabatnya itu?"
"Aku tidak tahu, jangan mengucapkan perkataan dan menunjukkan gelagat yang mencurigakan!" ucap Acton. Kekasihnya terlalu berlebihan. Semoga saja tidak dicurigai oleh sahabat Sarah. Acton pun berpaling, melihat ke arah Bitsy di sama Edward sedang memeluk gadis itu sambil memegangi kedua tangannya. Meski gadis itu mengetahui sesuatu tapi dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan karena dia bisa bertemu dengan Edward.
__ADS_1
"Apa yang kalian bahas?" tanya Edward pada Bitsy.
"Seperti yang kita rencanakan sebelumnya, Edward. Aku berpura-pura mengetahui jika ada yang janggal dalam kematian Sarah dan kau bisa melihat reaksi mereka. Aku curiga ada yang mereka rahasiakan dan aku yakin, mereka berdua terlibat dengan kematian Sarah. Ck, aku bahkan lupa menanyakan keberadaan adik dan ibu Sarah untuk melihat reaksi mereka!"
"Pelan-Pelan saja, Sayang. Jika kau terlalu terburu-buru maka mereka akan curiga dan mewaspadai dirimu!"
"Baiklah, apa kita bisa pulang sekarang?" Bitsy mendongak untuk memandangi Edward.
"Pulang? Tidak secepat itu!" Edward semakin mempererat pelukannya.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Berdansa denganku, kau mau bukan?"
"Aku tidak pandai berdansa!"
Edward sudah memegangi satu tangan Bitsy dan satu tangannya lagi berada di pinggang Bitsy. Gadis itu tampak canggung karena dia belum pernah berdansa sebelumnya. Gerakannya juga terlihat kaku, Bitsy bahkan menginjak kaki Edward beberapa kali.
"Maaf, sepertinya aku tidak cocok melakukan hal ini!" ucap Bitsy.
"Jangan berkata demikian, rileks," Edward berbisik di telinganya dan memeluknya semakin erat.
Bitsy mengangguk, dia berusaha mengimbangi gerakan Edward yang pelan. Mereka berdua berpelukan sambil menggerakkan tubuh mereka mengikuti irama musik. Setidaknya Bitsy mulai menguasai meski dia masih melakukan kesalahan beberapa kali.
"Kenapa kau menyukai aku, Edward?"
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Edward pula.
__ADS_1
"Aku ingin tahu. Kau menyukai aku pasti ada sebabnya, bukan?"
"Yang kau katakan sangat benar tapi apa kau percaya dengan cinta pada pandangan pertama?"
"Jatuh cinta pada pandangan pertama?" Bitsy menatap Edward dengan tatapan lekat. Apa mereka sudah pernah bertemu sebelumnya sebelum mereka bertemu di lift?
"Yes, aku sedang pusing dan lelah dengan pekerjaan tapi seorang gadis berteriak agar aku menahan lift dan berlari mendekat. Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya tapi kau justru membuat aku penasaran dengan sikapmu yang mencurigakan. Kau tahu?" langkah Edward terhenti, mereka berdua saling menatap satu sama lain di lantai dansa.
Tangan Edward sudah berada di wajah Bitsy, mengusapnya dengan perlahan. Dia tidak pernah begitu penasaran pada wanita mana pun sebelumnya tapi Bitsy berhasil membuatnya ingin mengenal gadis itu lebih jauh.
"Kau berhasil membuat aku penasaran. Kau gadis manis yang misterius sehingga aku jadi ingin mengenalmu setiap kali aku bertemu denganmu. Kau pendiam, misterius dan semakin membuat aku penasaran tapi semakin aku penasaran semakin pula aku merasa jika aku menginginkan dirimu oleh sebab itu, aku tidak akan melepaskanmu apalagi kau memiliki kemampuan istimewa yang tidak bisa dimiliki olah semua orang. Jangan tanya kenapa karena rasa itu tumbuh tanpa ada yang mengundang dan jangan bertanya kenapa aku bisa menyukaimu gadis aneh seperti dirimu karena kau sudah membuat aku tertarik dan jatuh cinta padamu saat pertemuan pertama kita!"
Wajah Bitsy memerah, Edward serius dan dia tahu itu lalu bagaimana dengannya? Dia takut jika dia mau bersama dengan Edward akibat rasa aman dan nyaman saja karena dia tidak bisa melihat hantu saat bersama dengan Edward. Dia tidak mau memanfaatkan siapa pun apalagi pria baik seperti Edward. Apakah dia menyukai pria itu ataukah dia hanya merasa nyaman saja?
"Kenapa diam? Apa kau tidak senang mendengar pernyataanku?"
"Tidak, bukan begitu Edward. Aku hanya takut saja, takut jika aku memanfaatkan dirimu."
"Aku tahu kau bukan gadis seperti itu, Bitsy. Aku yakin kau tidak sedang memanfaatkan aku!"
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Tentu saja aku tahu!" Edward mengangkat dagu Bitsy lalu dia kembali berkata, "Aku akan buktikan jika kau tidak sedang memanfaatkan aku!" setelah berkata demikian, Edward memberikan kecupan lembut di bibir bitsy.
Wajah Bitsy kembali memerah, Edward tersenyum melihat ekspresi Bitsy namun dia kembali memeluk Bitsy dengan erat dan kembali mencium bibirnya. Jantung Bitsy berdegup begitu cepat, rasanya jadi canggung namun lambat laun Bitsy mulai menikmati ciuman Edward dan membalasnya meski ini adalah ciuman pertama yang dia lakukan.
Seorang pria yang sedari tadi memperhatikan benar-benar tidak senang. Gadis itu adalah miliknya, dia harus menggantikan istrinya yang sudah meninggal karena dia bisa merasakan jika gadis itu sedikit mirip dengan istrinya. Pria yang memperhatikan mereka sudah pasti Martin. Sebagai pengusaha sudah tentu membawanya ke pesta itu.
__ADS_1
Tatapan mata tidak senangnya tak berpaling. Dia harus cepat karena dia harus menjadikan gadis itu sebagai miliknya sebelum Edward bisa melakukan sesuatu karena jika dia bisa mendapatkan Bitsy maka dia bisa selalu berinteraksi dengan almarhum istrinya kapan pun dia mau.