Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
La Lionora 19


__ADS_3

Edward bangun lebih pagi, untuk membuat sarapan karena pagi ini dia mengundang Bitsy untuk sarapan bersama. Dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk dekat dengan gadis itu apalagi ini akhir pekan. Besok mereka pasti sudah sibuk dengan pekerjaan mereka jadi dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan Bitsy.


Lagi pula ada yang akan mereka bahas, jujur saja dia sangat penasaran dengan kasus hantu yang mendatangi Bitsy dan meminta bantuan gadis itu. Dia pasti akan membantu Bitsy, itu akan menjadi nilai lebih untuknya agar Bitsy tertarik dengannya. Tidak saja menjadi nilai lebih, dia tidak bisa tinggal diam karena sangat berbahaya jika Bitsy membantu hantu itu seorang diri.


Bitsy pun sudah bangun lebih pagi tapi dia tidak tahu apakah dia harus langsung pergi atau dia harus membuat sesuatu karena dia merasa tidak boleh pergi dengan tangan kosong. Bitsy sibuk membongkar kulkas untuk mencari sesuatu tapi tidak ada apa pun karena kulkasnya kosong. Sepertinya dia harus pergi berbelanja nanti siang.


Sudahlah, dia datang saja. Karena tidak ada apa pun selain sebotol susu jadi Bitsy mengambilnya. Tidak saja susu itu, baju kaos milik Edward yang sudah dia cuci juga dia bawa. Pria itu memang baik tapi dia harap tidak ada maksud buruk dari niat baiknya.


Edward yang sedang sibuk berhenti sejenak saat mendengar suara bel. Edward melangkah menuju pintu dengan cepat karena dia tahu itu pasti Bitsy. Sesuai dengan dugaan, Bitsy sudah berdiri di depan pintu dengan sebotol susu.


"A-Aku tidak terlalu pagi, bukan?" tanya Bitsy basa basi.


"Tentu saja tidak, Sayang. Masuklah."


"Aku hanya punya ini saja," Bitsy memberikan sebotol susu yang dia bawa.


"Kau tidak membawa apa pun, aku sudah senang Bitsy."


"Baju kausmu?" Bitsy memberikan baju kaus milik Edward.


"Kenapa tidak kau simpan saja? Aku tidak keberatan kau memilikinya."


"Tidak bisa, Edward. Apa yang aku pinjam harus aku kembalikan."


"Baiklah, duduklah di sana. Aku akan segera menyelesaikan sarapannya."


"Boleh aku membantu?" tanya Bitsy menawarkan diri.


"Tentu, aku tidak akan menolaknya."


Bitsy mengikuti langkah Edward menuju dapur. Rambut panjangnya dinaikkan namun dia tidak memiliki ikat rambut karena dia tidak bawa. Jangan sampai ada yang jatuh ke atas makanan sehingga menghancurkan semuanya.


"Biar aku yang mengikatnya," Edward menyimpan susu serta baju kaus sebelum mengambil karet dari dalam sebuah laci.


"Aku hanya butuh karet rambut saja."


"Berbaliklah!" Edward sudah melangkah mendekat dan berdiri di hadapan Bitsy.


"Aku hanya butuh karet rambut," ucap Bitsy lagi tanpa melepaskan pandangannya dari Edward.


"Boleh aku yang akan melakukan. Aku ingin belajar mengikat rambut jadi berbaliklah," ucap Edward berasalan. Belajar mengikat rambut? Sungguh alasan yang sangat konyol. Semoga Bitsy percaya dengan alasan konyolnya.


Bitsy masih menatapnya lalu dia berbalik. Bitsy menunduk, dia jadi merasa tidak nyaman karena mereka sudah seperti pasangan saja. Tangan Edward sudah berada di rambut Bitsy, dia melakukannya dengan perlahan. Bitsy menunduk dengan wajah memerah. Edward dapat melihatnya oleh sebab itu Edward memeluk Bitsy dari belakang karena dia gemas.

__ADS_1


"A-Apa yang kau lakukan?" tanya Bitsy.


"Memelukmu, apa lagi?"


"Ja-Jangan lakukan hal seperti ini, Edward."


"Kenapa? Apa kau keberatan?"


"Te-Tentu saja. Niatmu ini, apa ada maksud tertentu?"


"Seharusnya kau sudah tahu, Bitsy," Edward melepaskan pelukannya lalu memutar Bitsy dengan perlahan. Bitsy mendongak, menatap pria itu dengan lekat. Edward pun mengangkat dagu Bitsy sehingga membuat Bitsy jadi gugup.


"Apa kau mau menjadi pacarku, Bitsy? Aku serius menyukaimu."


"Tapi aku aneh," ucap Bitsy.


"Aku tidak keberatan!"


"Ayahku tidak mengijinkan aku berpacaran."


"Setelah dia bertemu denganku aku yakin dia tidak akan keberatan. "


"Aku memiliki banyak masalah," Bitsy kembali memberikan alasan agar Edward berpikir ulang akan niatnya itu.


"Masalahmu akan menjadi masalahku. Apa ada alasan lagi?" tanya Bitsy.


"Aku tidak akan memaksa. Pikirkanlah baik-baik permintaanku. Aku tidak keberatan dengan semua yang ada pada dirimu. Tidak ada yang sempurna, bukan? Jadi pikirkanlah baik-baik dan aku harap, kau memberikan aku jawaban yang bagus. Sekarang kita sarapan lalu kita bahas mengenai kejadian semalam," Edward melepaskan pelukannya lalu berjalan pergi, Bitsy diam di tempat, memandangi kepergian Edward.


"Edward," panggilannya menghentikan langkah Edward sejenak dan pria itu pun berpaling.


"Terima kasih," ucap Bitsy sambil tersenyum.


"Kau benar-benar membuat aku tidak tahan, Bitsy. Rasanya aku ingin mencicipi bibirmu saat ini juga!"


"Sembarangan!" Bitsy menghampirinya karena dia akan membantu Edward membuat sarapan.


"Ck... selain bersabar menunggu jawaban darimu, aku juga harus bersabar untuk mencium bibirmu!"


"Sudah pagi Edward, jangan bermimpi. Saatnya membuat sarapan dan membahas apa yang harus kita bahas jika kau memang ingin membantu aku."


"Tentu saja, pakai ini!" Edward memberikan sebuah celemek pada Bitsy agar bajunya tidak kotor.


"Sekarang katakan padaku, apa yang hantu itu bicarakan denganmu?"

__ADS_1


"Dia mati dibunuh," jawab Bitsy sambil membersihkan sayuran yang belum dibersihkan.


"Dibunuh? Oleh siapa?" Edward melihatnya.


"Calon suaminya."


"Wow!" satu kata itu terucap, "Siapa?" tanya Edward yang mulai penasaran.


"Apa kau mengenal Larry Lobster?" Bitsy berpaling dan menatapnya dengan serius.


"Apa? Apa ada nama seperti itu?" Edward mengernyitkan dahi, nama yang sangat aneh.


"Aku hanya bercanda," ucap Bitsy yang kembali mencuci sayur.


"Apa maksudmu bercanda, Bitsy?"


"Aku hanya bercanda saja. Itu nama udang di film kartun kesukaan adikku!"


"Nama udang? Jadi kau menggoda aku sekarang?" Edward sudah melangkah mendekati Bitsy. Dia kira ada nama aneh itu apalagi Bitsy mengatakannya dengan ekspresi serius.


"Aku hanya bercanda saja, jangan serius seperti itu!"


"Aku kira kau serius?" Edward meraih tubuh Bitsy, gadis itu berteriak apalagi Edward mendudukkannya ke atas meja.


"Aku bercanda, Edward.  Pria itu bernama Acton Adam, apa kau mengenalnya?"


"Acton Adam?" Edward mendekat dan merapatkan tubuh mereka berdua.


"Jadi hantu itu mati gara-gara pria itu?"


"Itu baru perkiraan!" Bitsy jadi salah tingkah karena dia sudah tidak memiliki ruang gerak akibat terhimpit oleh tubuh Edward yang kekar.


"Baiklah, kita cari tahu siapa pria itu nanti."


"Apa kau tidak mengenalnya?"


"Aku pernah mendengar nama ini, tapi kita bisa cari tahu nanti."


"Baiklah, ta-tapi?" Bitsy jadi gugup.


"Hm?" Edward mengangkat dagu Bitsy dan mendekatkan bibir mereka berdua. Kedua mata Bitsy melotot. Napasnya pun tertahan. Apa yang mau Edward lakukan? Bitsy semakin salah tingkah dan begitu bibir mereka sudah begitu dekat, Bitsy berpaling dan berteriak.


"Ada hantu!" kedua tangannya secara refleks menutup mulut Edward.

__ADS_1


"Mana?" Edward berpaling ke belakang untuk melihat hantu yang dimaksudkan oleh Bitsy padahal dia tidak bisa melihat.


"Sudah pergi!" Bitsy melompat turun dan buru-buru melarikan diri. Selamat, hampir saja. Edward mengumpat, dia sungguh bodoh. Diakan tidak bisa melihat hantu? Lain kali dia tidak boleh tertipu lagi agar tidak gagal.


__ADS_2