
Nadia berada di dalam pesawat saat Mia kembali hadir di dalam mimpinya dan meminta bantuannya. Setelah melewati medan yang sulit menggunakan mobil yang mereka tumpangi, mereka hampir saja ditinggalkan oleh pesawat terakhir yang akan terbang ke London.
Kurang sepuluh menit lagi mereka benar-benar akan tertinggal tapi beruntungnya nasib baik masih berpihak pada mereka. Meski bandara yang licin akibat salju namun pesawat yang mereka tumpangi lepas landas dan itu adalah penerbangan terakhir yang berhasil mereka kejar. Beruntungnya mereka bertemu dengan orang baik sehingga nasib baik bagi mereka mereka bisa sejauh itu padahal cuaca yang sangat menakutkan.
Mereka benar-benar beruntung namun melakukan perjalanan di musim dingin bukanlah pilihan baik. Pesawat berguncang dengan hebat, para penumpang ketakutan begitu juga dengan Nadia. Selama perjalanan mereka dipenuhi dengan kecemasan.
Nadia memegang tangan suaminya dengan erat, doa tak henti dia panjatkan agar mereka bisa tiba sampai tujuan dengan selamat. Semoga saja pesawat yang mereka tumpangi tidak terjadi apa-apa, beberapa jam dalam kecemasan dapat mereka lewati sehingga membuat Nadia tertidur.
Dalam tidurnya itulah, Mia kembali datang. Nadia terkejut karena suaminya memanggil dirinya sedari tadi. Kota London sudah terlihat yang menandakan mereka sudah tiba di kota itu tapi saat mereka tiba waktu sudah menunjukkan pukul sebeles malam.
"Nadia, kita sudah tiba!" ucap suaminya.
"Benarkah?" Nadia melihat ke bawah di mana kota London semakin terlihat jelas. Nadia bernapas lega, akhirnya mereka tiba setelah melewati perjalanan yang begitu panjang.
"Akhirnya, Erick. Aku sempat khawatir karena pesawat yang berguncang tiada henti!" Nadia bersandar di lengan suaminya dengan perasaan lega.
"Kita benar-benar beruntung. Sepertinya Tuhan mengijinkan kita untuk membantu kakakmu dan ketiga anaknya."
"Kau benar, kita sudah melewati banyak rintangan tapi pada akhirnya kita bisa tiba dengan selamat. Sebaiknya kita langsung ke rumah kakakku. Lagi-Lagi kakak ipar mendatangi aku dan meminta tolong. Jujur saja aku semakin khawatir saja."
"Di tengah cuaca buruk ini semoga saja kita dapat menemukan taksi yang mau mengantar kita!" ucap suaminya.
"Kita hanya bisa meminta pertolongan Tuhan saja, Erick. Semoga anak-anak baik-baik saja."
__ADS_1
"Aku juga berharap demikian," Erick mengusap tangan istrinya. Karena mereka belum dikarunia anak jadi mereka sangat menyayangi Bitsy dan Angela apalagi saat mereka bertemu, Bitsy dan Angela masih kecil dan masih terlihat lucu.
Untuk mendarat saja pesawat mengalami kesulitan akibat bandara yang tertutup salju. Secara kebetulan pesawat yang mereka tumpangi memang pesawat terakhir yang boleh mendarat karena sesungguhnya bandara itu sudah tidak mengijinkan ada pesawat yang terbang karena cuaca yang super ekstrem.
Para penumpang berteriak karena roda pesawat tidak mau berhenti. Kecepatan pesawat pun tidak berkurang sama sekali sehingga membuat semua panik. Nadia menggenggam tangan suaminya dengan erat, mereka berdoa agar tidak terjadi apa pun. Jujur saja mereka takut pesawat itu terperosok lalu patah menjadi dua bagian. Itu buruk, mereka tidak akan selamat jika hal itu terjadi.
Pilot pesawat dan Co pilot tentu berjuang keras untuk menghentikan pesawat, sebagian orang yang ada di bandara mulai panik. Perjalanan yang mereka tempuh untuk kembali benar-benar tidak mudah. Entah apa yang sesungguhnya terjadi pada kakaknya dan keluarganya mereka harus tahu.
Laju pesawat yang tadinya terasa cepat mulai melambat. Pesawat mulai bisa dikendalikan meski sempat terjadi kendala. Beruntungnya landasan cukup panjang dan tidak ada pesawat yang mendarat dan terbang namun pesawat tergelincir di sisi landasan. Semua penumpang berteriak, suana yang cukup mencekam apalagi kantung udara berjatuhan.
Para penumpang pun tampak kacau saat pesawat itu berhasil berhenti. Situasi kacau membuat para penumpang berbondong untuk keluar karena mereka takut ada percikan api. Nadia dan suaminya pun bergegas keluar namun mereka tidak lagi pergi ke bagian medis yang sudah tersedia untuk memeriksa keadaan mereka karena ada yang lebih penting.
Nadia dan suaminya justru keluar dari bandara untuk mencari taksi yang bisa membawanya pergi ke rumah sang kakak. Meski sulit, pada akhirnya mereka sudah tiba di rumah Darko. Rumah itu gelap, dan terkunci. Mereka bahkan masuk melalui pintu belakang di mana mereka harus merusak kunci pintu terlebih dahulu. Ada bagusnya mereka tiba saat tengah malam karena tidak ada yang memergoki mereka sehingga menyangka mereka sebagai pencuri apalagi di cuaca yang dingin, tidak ada yang mau keluar dari selimut yang hangat.
"Apa maksudnya ini, Nadia?" tanya suaminya.
"Aku tidak tahu, sepertinya kakakku memang membawa anak-anaknya pindah karena tidak bisa menerima kepergian istrinya."
"Lalu bagaimana dengan mantra ini? Apa kakakmu sedang mempelajari ilmu sihir?"
"Apa kau mempercayai sihir, Erick?" Nadia menatap suaminya dengan ekspresi serius.
"Tidak tapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini!"
__ADS_1
"Baiklah, sebaiknya kita cari tahu mantra apa ini!" Nadia mengeluarkan ponsel, mereka mulai mencari informasi akan mantra yang mereka temukan. Tidak ada informasi sama sekali, mereka kesulitan sehingga mereka memutuskan untuk mencari tahu arti dari mantra tersebut.
Nadia dan suaminya bekerja sama cukup lama sampai akhirnya mereka dikejutkan oleh arti dari mantra yang telah mereka terjemahkan itu.
"Jangan katakan kakakmu membangkitkan seseorang dengan mantra itu, Nadia," ucap suaminya.
"Apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan, Erick?"
"Aku tidak mau percaya, Nadia. Ini terdengar gila," jawab suaminya.
"Aku pun tidak tapi jika yang kita pikirkan saat ini sama maka semua jadi terasa masuk akal. Kakakku yang telah membongkar makam istrinya karena dia tidak rela istrinya pergi lalu dia membawa keluarganya pergi agar tidak ada yang tahu tapi dia tidak tahu jika apa yang dia lakukan berbahaya untuk ketiga anaknya. Mungkin karena inilah yang membuat kakak iparku tidak bisa pergi dengan tenang dan meminta bantuan kita untuk menyelamatkan ketiga anak-anaknya yang saat ini sedang berada di dalam bahaya. Aku takut, kakakku membangkitkan sesuatu yang jahat tanpa dia ketahui bahkan aku takut dia tidak tahu akan itu sama sekali!"
"Jika begitu kita harus segera mencari keberadaan mereka."
"Ke mana? Kita sudah menempuh perjalanan panjang dan sekarang kita harus mencari ke mana?" Nadia mengusap dahi, apakah kakaknya segila itu?
"Pikirkanlah ke mana kemungkinan dia akan pergi membawa keluarganya!"
Nadia berpikir, ke mana kakaknya akan pergi membawa keluarganya? Apakah kakaknya pindah ke negara lain ataukah?
"Sudah malam, Nadia. Malam ini kita istirahat di sini. Besok kita pergi mencari kakakmu dan keluarganya!" Erick mengusap bahu istrinya. Tidak menyangka mereka akan mendapati hal gila seperti itu.
"Baiklah, kita memang butuh istirahat karena kita sudah melakukan perjalanan jauh," Nadia berusaha tersenyum. kenapa kakaknya bisa melakukan hal gila seperti itu? Apa kakaknya tidak memikirkan keadaan anak-anaknya? Semoga saja mereka tidak terlambat dan bisa menyelamatkan ketiga anak kakaknya agar tidak menjadi korban dari kegilaan kakaknya.
__ADS_1