
Suara telepon berdering di rumah yang kosong. Sudah beberapa hari para tetangga tidak lagi melihat Darko dan ketiga anak-anaknya karena tidak ada yang tahu mereka pergi pada malam itu. Kedua polisi yang mencari Darko waktu itu datang lagi untuk meminta keterangan dari Darko mengenai makam istrinya yang digali dan jasadnya yang hilang.
Kedua polisi itu sudah berdiri di depan pintu, mereka memanggil sambil mengetuk pintu namun tidak ada yang menjawab bahkan suara dering telepon yang sedari tadi berbunyi tidak ada yang menjawab yang menandakan jika di rumah itu tidak ada siapa pun.
Kedua polisi itu terpaksa pergi karena tidak mendapatkan apa yang mereka mau. Dering telepon juga terhenti. Suasana rumah kembali sunyi dan tidak ada yang tahu ke mana Darko membawa ketiga anaknya palagi mereka sudah jarang keluar semenjak kecelakaan tragis yang merenggut nyawa Mia terjadi.
Seorang wanita baru saja meletakkan gagang telepon, aneh. Tidak biasanya tidak ada yang menjawab seperti itu dan wanita itu adalah Nadia, adik Darko. Dia menghubungi kakaknya karena sebuah alasan, dia sangat ingin tahu apa yang sedang kakaknya lakukan saat ini dan bagaimana dengan kabar mereka.
"Bagaimana?" seorang pria menghampiri Nadia dan dia adalah suaminya.
"Tidak ada yang menjawab," jawab Nadia.
"Cobalah kau hubungi lagi nanti. Mungkin mereka sedang pergi"
"Kau benar, aku akan mencoba menghubungi kakakku lagi tapi aku punya firasat tidak baik pada mereka," ucap Nadia.
"Apa karena mimpi burukmu itu?" tanya suaminya.
Nadia mengangguk, semua memang gara-gara mimpi buruk yang dia alami tadi malam. Dia bermimpi kakak iparnya datang padanya sambil menangis tapi bukan air mata melainkan menangis darah. Kakak iparnya tidak mengatakan apa pun tapi dia memiliki firasat buruk untuk hal ini oleh sebab itu Nadia ingin tahu bagaimana kabar kakaknya beserta keluarganya.
"Tidak perlu cemas, mereka pasti baik-baik saja," ucap sang suami.
"Sudah lama tidak bertemu dengan mereka, bagaimana jika kita pulang? Aku juga belum pernah melihat Rian," ajak Nadia. Dia memang belum pernah bertemu dengan Rian karena sudah empat atau lima tahun dia tidak bertemu dengan kakaknya.
"Aku harus meminta cuti terlebih dahulu, Sayang. Kita akan kembali setelah aku mendapatkannya!"
"Baiklah, aku rindu dengan Bitsy dan Angela. Aku akan menghubungi mereka lagi, semoga saja mereka sudah kembali!" Nadia melangkah pergi dan kembali menghubungi kakaknya. Telepon tidak dijawab sedangkan ponsel sudah tidak aktif. Nadia bahkan menghubungi kakak iparnya dan mengirimkan pesan tapi tidak ada jawaban sama sekali. Nadia semakin merasa ada yang aneh, semoga saja suaminya segera mendapatkan cuti agar mereka bisa cepat kembali.
Dia juga berharap keluarga kakaknya baik-baik saja tapi sesungguhnya keluarga kakaknya tidak dalam keadaan baik apalagi keadaan Bitsy yang selalu ketakutan tanpa ada yang mempercayai dirinya.
Mereka sekeluarga sedang piknik di hutan seperti yang direncanakan. Tikar sudah digelar di bawah sebuah pohon besar. Angela sedang memetik bunga yang ada di sekitarnya, sedangkan Bitsy menemani Rian di tikar yang lain namun tatapan mata Bitsy tak lepas dari ayah dan ibunya yang sedang berbaring berdua.
Bitsy harap ibunya memperlihatkan sosok menakutkannya nanti malam agar ayahnya percaya dengan apa yang dia katakan lalu mengusir ibunya pergi. Bitsy yang tadinya melihat ibunya berpaling ke arah Rian yang sedang berjalan pergi untuk menangkap kupu-kupu.
"Daddy, di sana ada kelinci!" teriak Angela seraya berlari menghampiri ayah dan ibunya.
"Benarkah?" ayah dan ibunya beranjak dan duduk bersama.
"Angela melihatnya, ayo kita tangkap Daddy lalu kita bawa pulang. Angela mau memelihara beberapa ekor kelinci!" pinta Angela.
__ADS_1
"Boleh juga, kelinci hutan tidak akan ada yang melarang. Ayo kita pergi tangkap bersama. Apa kau mau ikut?" tanya Darko pada istrinya.
"Tentu saja, aku suka kelinci!" jawab Mia.
"Cepat, nanti kelincinya lari!" teriak Angela.
Darko dan Mia segera bergegas mengikuti Angela untuk menangkap kelinci yang dia lihat. Bitsy tidak diajak, dia ditinggalkan begitu saja bersama dengan Rian. Bitsy pun tidak sadar ditinggalkan karena dia terlalu serius bermain dengan Rian untuk menangkap kupu-kupu.
"Mama," Rian menunjuk ke arah hutan.
"Mana?" Bitsy berpaling, melihat ke arah hutan tapi tidak ada siapa-siapa dan pada saat itu, dia baru sadar jika dia ditinggalkan bersama dengan Rian.
"Daddy?" Bitsy menggendong Rian dan memanggil ayahnya yang tidak terlihat.
"Daddy, Angela?" kini Bitsy berlari kembali dan melihat sekitarnya. Mungkin saja ayahnya dan Angela tidak jauh tapi tidak ada siapa pun. Bitsy memeluk Rian dengan erat, takut. Dia takut apalagi hutan begitu lebat dan hanya terdengar suara burung saja.
"Daddy!" Bitsy kembali berteriak memanggil ayahnya.
Suara tawa Angela terdengar, namun dari kejauhan. Bitsy segera berlari menuju datangnya suara.
"Angela?" Bitsy memanggil adiknya dan berharap Angela mendengar dan menjawab namun suara tawa Angela kembali terdengar tapi dari arah yang berbeda. Bitsy semakin takut, dia pun jadi bingung akibat suara tawa Angela yang datang lagi dari arah berbeda.
"Jangan menakuti aku Daddy, jangan menakuti aku!" Bitsy menangis. Kenapa semuanya pergi meninggalkan dirinya? Apa mereka sengaja meninggalkannya di hutan itu?
"Mama, Bitsy. Mama!" Rian kembali menunjuk ke arah hutan.
Bitsy menggeleng. Tidak mau, dia tidak mau pergi ke tempat ibunya karena dia takut!
"Kita cari di tempat lain saja!"
Bitsy pergi ke arah lain sambil memanggil ayah dan adiknya. Dia harap segera menemukan keberadaan mereka karena dia takut. Semoga dia tidak bertemu dengan ibunya yang menakutkan.
"Ke arah sini, Daddy!" teriakan Angela terdengar.
Bitsy kembali berlari ke arah datangnya suara. Itu pasti Angela, dia sangat yakin. Oleh sebab itu Bitsy berlari menghampiri datangnya suara sambil menggendong Rian.
"Daddy, Angela!" teriak Bitsy memanggil.
Bitsy terus berlari namun dia terkejut melihat ibunya berada di hadapannya. Bitsy menghentikan langkah secara mendadak sehingga membuatnya terjatuh. Mia yang sedang berdiri membelakanginya berbalik dengan perlahan, seringai menghiasi wajah Mia tapi bukan itu yang membuat Bitsy takut karena yang membuat Bitsy takut adalah, kelinci yang ada di mulut ibunya.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaa!!" Bitsy berteriak dengan keras, gadis itu memundurkan tubuhnya dengan cepat namun sulit karena sedang menggendong Rian. Rian bahkan menangis karena takut melihat ibunya.
Mia melangkah mendekat dengan seringai menakutkan. Kelinci yang ada di mulut sudah tidak memiliki kepala lagi bahkan Mia sedang menghisap darah kelinci itu dari lehernya.
"Daddy, Daddy!" Bitsy berteriak memanggil namun ayahnya tidak menjawab. Akibat rasa takut yang luar biasa, Bitsy segera bangkit lalu berlari sambil memanggil ayahnya.
"Daddy, tolong Bitsy Daddy!" dia sangat berharap ayahnya datang dan melihat ibunya yang sedang memakan kelinci.
"Daddy!" Bitsy kembali berteriak, dia terus berlari sambil melihat ke belakang karena dia takut ibunya mengejar. Bitsy yang malang, dia berlari seperti orang gila sampai-sampai dia menabrak ayahnya sendiri. Bitsy berteriak dengan keras, Darko sangat heran mendapati putrinya ketakutan dan menangis.
"Ada apa denganmu?" tanya ayahnya.
"Mommy, Mommy!" jawab Bitsy sambil menunjuk ke belakang.
"Ada apa dengan Mommy, hah?" ayahnya sungguh tidak mengerti karena tidak ada siapa pun.
"Mommy, kelinci!" akibat rasa takut membuat Bitsy sulit mengatakan apa yang hendak dia katakan.
"Apa yang kau maksud, Bitsy?" tanya ayahnya tidak mengerti.
"Ada apa teriak-teriak?" tiba-tiba saja Mia datang dari arah yang berbeda dengan seekor kelinci di tangan tentunya kelinci yang masih hidup.
"Kelinci!" teriak Angela girang. Angela berlari ke arah ibunya untuk mengambil kelinci yang ibunya dapatkan.
"Ada apa, Darko? Ada apa dengan Bitsy?" Mia pura-pura tidak mengerti.
"Sepertinya Bitsy terkejut melihatmu yang sedang menangkap kelinci."
"Benarkah?" tanya Mia dengan ekspresi tidak percaya.
Bitsy diam mematung, bagaimana bisa? Bukankah dia melihat ibunya sedang memakan kelinci tapi kenapa sekarang ibunya datang dari arah yang berbeda dengan kelinci yang masih hidup?
"Horee.. sekarang Angela sudah memiliki tiga kelinci!" teriak Angela. Selain kelinci yang didapatkan oleh ibunya, dia dan ayahnya sudah menangkap dua ekor.
"Jika begitu ayo pulang, sudah sore. Bitsy pasti lelah oleh sebab itu sepertinya dia melihat yang tidak-tidak di dalam hutan!" ucap Darko.
"Berikan Rian pada Mommy!" Mia mengambil putranya lalu menggandeng tangan Bitsy yang sedari tadi tidak bersuara.
Karena piknik mereka sudah cukup jadi mereka pulang sambil membawa tiga ekor kelinci hutan yang mereka tangkap. Mia memegang tangan Bitsy yang gemetar tanpa melepaskannya. Senyuman menghiasi wajah tapi Bitsy ketakutan. Lagi dan Lagi, dia harus mengalaminya tapi ayahnya tidak melihat karena ibunya yang muncul secara tiba-tiba.
__ADS_1