
Hari kembali malam, di luar sana sudah gelap dan tentunya suasana yang sangat dibenci oleh Bitsy. Udara semakin dingin dan akhirnya, salju pertama pun turun di tempat itu yang membuat udara semakin dingin. Bitsy duduk di depan jendela kamarnya seorang diri, sedangkan keluarganya berada di luar menikmati waktu di depan perapian.
Bitsy memilih berada di dalam kamar karena dia takut dan tidak mau bersama dengan ibunya apalagi ibunya semakin sengaja menakuti dirinya. Padahal di hutan dia melihat dengan sangat jelas jika ibunya sedang makan kelinci dan menikmati darahnya tapi kenapa begitu cepat ibunya berubah? Padahal dia sangat yakin jika dikejar oleh sosok menakutkan itu tapi begitu ada ayahnya, sosok ibunya yang menakutkan tidak terlihat. Takut, hanya itu saja yang dia rasakan.
"Kau harus bisa, Bitsy," tiba-tiba ada yang berbisik seperti itu di telinganya.
Bitsy terkejut dan berbalik, tapi tidak ada siapa pun. Dia seperti mendengar suara ibunya yang berbisik di telinganya. Bitsy beranjak, apakah itu hanya halusinasinya saja?
"Mom?" Bitsy memanggil sambil mencari ibunya. Tidak ada, tidak ada ibunya di mana pun padahal dia mendengar suara ibunya dengan sangat jelas.
"Mommy, are you in here?" tanya Bitsy yang ketakutan.
"Jangan takut, Bitsy," dia kembali mendengar suara bisikan itu bahkan Bitsy merasa ada yang sedang memegangi bahunya, "Kau harus kuat, semakin kau takut semakin iblis itu mengganggumu. Kau harus menjadi kakak yang baik untuk melindungi kedua adikmu."
"Tapi Bitsy takut, Mommy."
"Kau harus melawan rasa takutmu dengan begitu, kau bisa membuktikan pada ayahmu jika yang kau katakan sangat benar!"
"Bagaimana caranya, Mommy? Bitsy takut, Mom. Bitsy takut!"
"kau pasti bisa, percayalah!"
"Mommy, apa Mommy bisa membantu Bitsy?" entah yang berbicara dengannya saat ini ibunya atau bukan yang pasti dia merasa ibunya ada di sisinya.
"Apa yang Bitsy inginkan?"
"Bitsy mau?" ucapan Bitsy terhenti karena Mia masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Apa yang Bitsy lakukan di sini? Kenapa tidak bergabung untuk makan jagung bakar?" Mia melangkah mendekat,. ternyata arwah kurang ajar itu menemui putrinya.
"Bitsy tidak suka jagung bakar, Mommy," jawab Bitsy.
"Walau tidak suka, ayo keluar. Daddy sedang mencarimu begitu juga dengan Rian!"
"Tapi Bitsy ingin berada di kamar," tolak Bitsy. Dia ingin berbicara lebih banyak dengan ibunya meski yang bisa dia dengar hanya bisikan saja.
"Ayolah, Daddy sudah menunggu!"
"Tapi?"
"Bitsy!" Mia membentak lalu menatap Bitsy dengan tajam.
"Ba-Baiklah!" Bitsy berlari keluar karena dia takut berduaan dengan sosok yang menjelma sebagai ibunya. Mia tersenyum lalu senyumannya sirna setelah Bitsy keluar. Iblis itu berbalik, melihat arwah Mia yang sesungguhnya. Hanya dia yang bisa melihatnya juga Rian oleh sebab itu Rian selalu memanggil ibunya sambil menunjuk ke arah di mana arwah ibunya berada tapi tidak ada satu pun yang mengerti. Iblis itu merasakan kehadiran arwah Mia oleh sebab itu dia masuk ke kamar Bitsy. Jangan sampai Mia mempengaruhi putrinya karena yang sangat dia inginkan adalah jiwa Bitsy yang lebih lezat dari pada yang lainnya. Dia menginginkannya karena hanya Bitsy saja yang tidak bisa terpengaruh oleh tipu dayanya.
"Jangan ganggu anak-anakku!" teriak Mia.
"Ha.... Ha.... Ha... Ha...!" iblis itu tertawa terbahak, lalu seringai lebar menghiasi wajahnya.
"Apa yang sudah menjadi target mangsaku, tidak akan aku lepaskan apalagi ketiga anakmu," iblis itu justru menjilati bibirnya dan memperlihatkan gigi-gigi tajamnya, "Mereka memiliki jiwa murni dan daging yang sangat lezat, Mia. Aku sudah tidak sabar meneguk darah mereka dan mencabik daging mereka yang segar. Aku pun sudah tidak sabar menelan jiwa mereka yang masih murni. Ketiga anakmu adalah milikku begitu juga dengan suamimu yang bodoh itu, dia akan menjadi hidangan terakhir setelah aku menyantap ketiga anaknya!" ucap iblis yang sudah tidak sabar untuk melakukan apa yang dia ucapkan.
"Jangan menyakiti ketiga anakku, lepaskan mereka!" arwah Mia berteriak lalu terbang ke arah iblis itu namun dengan satu cengkeraman tangan saja, arwah Mia tidak berdaya. Iblis itu seperti mencekik lehernya sehingga membuat Mia seperti kesakitan.
"Arwah rendahan seperti dirimu lebih pantas berada di neraka!" dalam satu kibasan tangan saja, arwah Mia lenyap seketika. Dia adalah iblis yang paling kuat, arwah seperti itu tidak akan bisa mengalahkan dirinya.
Suasana sunyi, tidak ada yang bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Iblis itu keluar dari kamar Bitsy, seringai mengerikan kembali menghiasi wajahnya ketika melihat Darko dan ketiga anaknya yang sedang bermain.
__ADS_1
"Mia, kenapa kau berdiri di sana?" tanya Darko.
"Tidak ada apa-apa, aku sangat bahagia bisa melihat kalian. Aku sungguh tidak menduga masih diberi kesempatan untuk bersama dengan kalian lagi padahal aku kira waktu itu?" air mata menetes, akting sempurna untuk mengelabui Darko yang dibutakan cinta pada istrinya.
"Jangan berkata seperti itu!" Darko mendekati istrinya lalu memeluknya, "Aku pun tidak menduga kau benar-behar akan kembali lagi pada kami. Aku tidak sanggup kehilangan dirimu, Honey. Aku benar-benar putus asa tapi sekarang, melihat kau sudah kembali dan kita bisa bersama lagi membuat aku tidak menyesal dengan apa yang telah aku lakukan!"
"Terima kasih kau sudah menghidupkan aku kembali, Darko. Aku sungguh takut berada di dalam kegelapan tapi kau menarik aku kembali sehingga aku bisa bersama dengan kalian lagi!"
"Ssst, jangan sampai anak-anak mendengar dengan apa yang kau ucapkan. Rahasia itu cukup kita berdua saja yang tahu, yang lainnya tidak. Oleh sebab itu aku membawa kalian ke sini agar tidak ada yang mengganggu serta memisahkan kita dan anak-anak!" Darko memeluk istrinya erat, siapa pun tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka lagi.
"Terima kasih sudah membawa aku kembali!" Mia pun memeluknya namun seringai lebar kembali terukir di wajah tanpa Darko sadari. Dia memang berterima kasih pada Darko yang telah mengeluarkan dirinya dari kegelapan yang paling kelam untuk menggantikan istrinya dan sekarang, mereka semua berada di dalam genggaman tangannya.
"Daddy, Rian bau!" teriak Angela.
"Bitsy, bawa adikmu dan bersihkan. Sudah malam, sebaiknya kau bawa dia tidur!" perintah ayahnya.
"Baik, Dad!" Bitsy menggendong Rian yang bau akibat buang air lalu melangkah menuju kamarnya namun Bitsy berhenti sejenak saat ingin melewati ayahnya.
"Daddy, jangan lupa dengan janjinya," ucap Bitsy. Dia mengingatkan karena dia takut ayahnya lupa lalu tidak bisa melihat sosok ibunya yang menakutkan di luar jendela.
"Daddy tahu, segera bawa Rian untuk dibersihkan!" jawab ayahnya.
"Janji?" Mia menatap Darko dengan tatapan curiga, "Janji apa yang kau buat dengan Bitsy?" tanyanya curiga.
"Bukan hal penting, Bitsy meminta aku mengajarinya pelajaran yang tidak dia tahu malam ini dan aku sudah berjanji akan mengajarinya nanti!"
Mia menatapnya lekat, dia tidak percaya dengan apa yang Darko katakan. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan tapi dia adalah iblis, dia akan tahu apa pun dengan mudah dan dia akan tahu apa yang akan dilakukan oleh Darko dan putrinya nanti. Mereka tidak akan bisa lari ke mana pun karena begitu dia bangkit dari kegelapan, mereka adalah miliknya yang sudah dia tandai.
__ADS_1