
"Berikan Rian padaku, Darko!" iblis itu berteriak dan melangkah semakin mendekat.
Darko memeluk Rian yang terasa begitu dingin dan melangkah mundur. Tatapan matanya tidak lepas dari perut Mia yang sudah seperti hamil sembilan bulan dan sebentar lagi akan melahirkan. Semua itu perbuatannya, semua gara-gara perbuatannya.
"Berikan Rian padaku, Darko!" teriak iblis itu dengan lantang.
"Jika kau memberikan Rian maka aku akan melubangi kepalamu!" Nadia mengangkat senjata apinya dan mengarahkannya pada kepala kakaknya. Sudah sejauh ini, apa Darko tidak bisa melihat apa yang ada di dalam tubuh istrinya? Apa Darko tidak bisa melihat apa yang terjadi dengan ketiga anaknya?
"Cepat, Darko. Arrgghhh...!" iblis itu merintih dan memegangi perutnya di mana ada sesuatu yang bergerak di dalam sana.
"Jangan membuat aku semakin kecewa padamu, Darko!" ucap Nadia.
"Kita kehabisan waktu, anak-anak butuh pertolongan!" ucap Erick.
"Berikan aku senjata kalian!" pinta Darko.
"Apa yang mau kalian lakukan?" tanya Nadia.
"Mengakhiri semua ini. Aku yang telah membangkitkannya jadi aku pula yang harus mengakhirinya!" Darko mengeluarkan Rian dari dalam baju hangatnya dan setelah itu, dia memberikannya pada Erick.
"Tolong jaga ketiga anakku baik-baik. Segera pergi dari sini. Aku akan mengakhiri semuanya dengan kedua tanganku ini!" ucap Darko.
"Kami akan memanggil bantuan!"
"Tidak ada satu orang pun yang boleh pergi dari sini!" teriak iblis itu. Angin bertiup dengan kencangnya, salju berputar yang membuat mereka kesulitan melihat apalagi kabut tebal mendadak menutupi mereka sehingga jarak pandang yang mereka miliki jadi minim.
"Nadia!" Erick meraih tangan istrinya yang berada di samping.
"Sial, dia tidak akan mengijinkan kita pergi!" teriak Nadia.
"Hentikan Mia, hentikan!" teriak Darko.
__ADS_1
"Aku, bukan Mia," angin kencang yang berhembus itu terhenti, Nadia buru-buru mengambil kain untuk membungkus tubuh Rian agar tidak kedinginan. Meski ada Bitsy, tapi Erick tetap memeluk Rian agar hangat.
"Siapa kau?" teriak Nadia. Senjata api kembali dia angkat.
"Aku Lisa, aku adalah iblis yang sudah terkurung selama ratusan tahun di dalam kegelapan tapi mantra itu benar-benar membangkitkan aku. Lihat ini, Darko. Ini adalah anak kita, sekarang dia membutuhkan dirimu. Berikan salah satu dari anak itu untuk anak kita!" iblis yang menyebut dirinya sebagai Lisa memperlihatkan perutnya kembali pada Darko.
"Tidak, yang aku inginkan adalah Mia. Bukan kau!" Darko mendekati adiknya lalu merebut senjata api yang ada di tangan Nadia.
"Aku telah salah membangkitkan dirimu dari alam kematian, aku telah berbuat bodoh dan tidak mempercayai putriku akibat tipu daya yang kau berikan tapi sekarang, aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Aku akan mengembalikan kau ke dalam neraka bersama dengan bayi itu!" Darko sudah melangkah maju, demi ketiga anaknya dia harus melenyapkan iblis itu.
"Pergi, selamatkan ketiga anakku. Jika aku tidak kembali, tolong sampaikan maafku pada mereka karena aku tidak menjadi ayah yang berguna untuk mereka!" pinta Darko pada adik dan adik iparnya.
"Aku harap kau kembali karena anak-anak masih membutuhkan dirimu meski kau sudah membuat kesalahan!" ucap Nadia.
"Pakai ini dan kirim dia kembali ke neraka!" Erick pun memberikan senjata apinya pada Darko. Nadia dan Erick segera pergi meninggalkan Darko karena nyawa tiga anak harus mereka selamatkan.
"Jadi kau ingin menghabisi aku seorang diri?" seringai menghiasi wajah Lisa, tidak dapat ketiga anaknya namun pria itu sudah cukup untuk menu makan malamnya dan cukup menjadi makanan bayinya yang sudah mau lahir.
"Aku akan mengembalikan jiwamu dan mengambil kembali tubuh istriku!" Darko sudah mengokang senjata apinya.
"Aku akan memakanmu terlebih dahulu agar bayi ini segera lahir!" teriak iblis itu yang sudah melompat ke arahnya.
Darko tidak bergeming dengan kedua tangan bergetar hebat. Dia benar-benar tidak sanggup menembak karena itu adalah tubuh istrinya. Iblis itu sudah mendekat dan hendak mencabik wajah Darko namun sesuatu kekuatan yang lain justru menghempaskan Darko ke belakang sehingga Darko jatuh dengan keras.
"Arwah sialan!" iblis itu berteriak karena Mia yang telah menghempaskan Darko dengan kekuatan yang dia miliki.
"Apa yang kau lakukan, Darko. Bunuh dia sekarang!" teriak Mia.
"Mia?" Darko mengambil senjata apinya lalu beranjak dengan cepat.
"Pergi kau arwah sialan!" iblis itu mengibaskan satu tangannya sehingga arwah Mia lenyap begitu saja.
__ADS_1
"Kurang ajar kau, iblis jaha*am!" Darko menembaki iblis itu sambil melangkah maju.
Iblis itu melompat menghindar tapi dia sedang berada di dalam keadaan lemah karena anak yang sudah mau lahir. Darko kembali menembak, meski dia bukan penembak handal tapi dia berusaha untuk mengenai sasaran.
"Berikan darahmu untuk anak kita, Darko! Hi... Hi.... Hi....!" iblis itu merangkak ke sana dan kemari sambil mendekati Darko yang terus menembaki dirinya. Kali ini tidak boleh lepas. Makanan utama sudah lepas jadi makanan penutup tidak boleh.
Darko terus menembaki iblis yang ada di dalam tubuh istrinya dengan air mata mengalir. Dia tidak sanggup, benar-benar tidak sanggup melakukan hal itu pada istrinya. Setiap kali dia menembak, rasa bersalah memenuhi hati dan ucapan maaf pun terucap di dalam hatinya.
Suara letusan senjata api terus terdengar, Nadia dan Erick terus berlari menuju mobil mereka untuk menyelamatkan anak-anak. Darko pun tak henti menembaki istrinya yang terus merangkak dan hendak mencakarnya sesekali.
"Jadilah makanan untuk bayimu, Darko!" teriak iblis itu seraya melompat ke arah Darko dan pada saat itu, Darko menembakinya tepat di bagian perutnya. Iblis itu berteriak dan terpental ke belakang. Darko berlari menghampiri dan kembali menembaki tubuh istrinya dengan perasaan hancur.
"Maafkan aku, Mia. Maafkan aku!" ucapnya.
"Hentikan, Darko. Aku istrimu, Mia. Jangan membunuh bayi kita, jangan bunuh bayi kita!" iblis itu kini menjadi Mia namun Darko terus menembaki tubuh istrinya.
"Tidak seharusnya aku melakukan hal ini, tidak seharusnya aku mempermainkan tubuhmu dan memancing iblis itu sehingga mencelakai anak-anak kita!" Darko terus melangkah sambil dan menembaki perut iblis itu yang membesar. Peluru-Peluru yang menghantam perutnya membuat perutnya mulai hancur dengan perlahan apalagi Darko tak henti menghujani perut Mia menggunakan senjata api yang ada padanya.
"Bayiku, Bayiku! Argghhhh!" iblis itu berteriak karena perutnya hancur ditembaki oleh Darko.
"Teganya kau Darko, teganya kau membunuh bayi kita!" iblis yang bernama Lisa mengangkat tubuhnya tapi kini Darko menembaki kepalanya. Kedua mata Darko sudah buram dengan air mata, dia terus menembak karena dia ingin cepat berakhir agar rasa penyesalan yang dia rasakan pada istrinya cepat berlalu.
"Maafkan aku, Mia. Maafkan aku!"
Iblis itu berteriak dengan keras hingga teriakannya memenuhi hutan. Peluru yang menghujani tubuh Mia tanpa henti membuatnya tak berdaya apalagi tubuh itu mulai hancur, Dia butuh wadah baru, sangat membutuhkan wadah baru.
"Aku akan kembali membunuhmu dan anak-anakmu!" teriaknya namun satu tembakan kembali mendarat di kepalanya dan membuat kepalanya pecah berantakan.
Iblis itu jatuh ke atas salju, tidak bergerak lagi. Darko pun berhenti menembak, langkahnya terhenti di dekat tubuh Mia yang sudah tidak bergerak. Senjata api jatuh dari tangan, Darko jatuh berlutut di sisi mayat istrinya yang sudah hancur akibat tembakan darinya.
"Mia!" Darko berteriak lalu memeluk jasad istrinya yang benar-benar sudah tidak bergerak namun dalam keadaan hancur.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mia. Maafkan aku!" teriaknya lagi. Darko memeluk jasad istrinya dengan erat. Dia tidak rela, benar-benar tidak rela tapi sekarang, dia harus bisa menerima kepergian istri tercintanya untuk selamanya. Darko memeluk tubuh istrinya sambil menangis tersedu, dia yang membangkitkan dan dia pula yang mengakhiri. Sekarang dia harus membawa jasad Mia untuk dimakamkan, dia tidak bisa membiarkan jasad istrinya begitu saja. Apakah dengan hancurnya tubuh Mia teror iblis itu sudah berakhir? Apakah Iblis bisa dibunuh dengan senjata api?
Darko menggendong jasad Mia dengan perasaan hancur dan dengan rasa sedih yang teramat sangat akibat ditinggalkan oleh istrinya. Akhirnya, perpisahan itu memang harus dia terima sejak awal karena sejak awal, Mia memang sudah tiada.