Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
Tipu Muslihat Iblis


__ADS_3

Suara letusan senjata api serta tawa mengerikan itu memenuhi hutan. Erick yang berada di arah berlawanan berlari ke tempat Nadia di mana dia masih berusaha menembaki iblis yang berada di tubuh kakak iparnya namun iblis itu cukup cerdik dan licin.


Iblis itu melompat dari satu pohon ke pohon yang lain bahkan iblis itu pun merangkak ke atas tanah untuk mendekati Nadia. Nadia melangkah mundur sambil menembak, sungguh target yang sulit untuk dibunuh padahal dia sudah membidik dengan tepat.


"Ikutlah bersama anak-anak ke dalam perutku, Nadia!" teriak iblis yang merangkak cepat ke arahnya.


"Jika begitu katakan padaku di mana anak-anak? Aku akan menggantikan mereka!" teriak Nadia.


"Mereka sudah berada di dalam perutku jadi ikutlah dengan mereka!"


"Sial!" Nadia terus menembak sambil melangkah mundur. Iblis itu begitu cepat, merangkak ke kanan dan ke kiri untuk menghindari senjata apinya.


Erick yang berlari sudah semakin mendekat, suara tawa mengerikan dari seorang wanita semakin nyaring terdengar. Dia curiga jika istrinya sedang melawan sesuatu dan benar saja, Erick terkejut begitu dia melihat sosok istri kakak iparnya yang menakutkan sedang merangkak mengejar Nadia.


"What the Hell!" Erick berteriak dan terjatuh. Iblis itu melihat ke arahnya dan dengan cepat berlari ke arah Erick. Iblis itu bahkan melompat dan mengeluarkan cakarnya karena dia ingin mencabik Erick dengan cakar yang dia miliki. Erick terkejut melihat sosok yang semakin mengerikan saja. Iblis itu bahkan semakin menunjukkan rupanya sebagai iblis. Tubuh Erick mendadak kaku, dia jadi tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.


"Kalian semua akan menjadi makanan untuk bayiku!" teriak iblis itu.


"Awas, Erick!" Nadia berlari mendekat lalu menembakkan senjata api laras panjangnya ke arah si iblis. Peluru berukuran besar itu mengenai dada Mia. Akibat peluru itu tubuh Mia yang masih dihuni oleh si iblis terpental ke belakang dan jatuh ke atas semak-semak yang membeku.


"Apa kau baik-baik saja, Erick?" Nadia menghampiri suaminya dan membantunya untuk berdiri.


"Apa itu tadi? Makhluk apa itu tadi?" tanya Erick yang masih tidak mempercayai apa yang baru saja dia lihat.


"Dia bukan kakak ipar, jangan terkecoh dengan penampilannya!" ucap Nadia. Peluru senjata api kembali di isi, dia rasa mereka membutuhkan banyak peluru.


"Apa yang terjadi?" Darko yang sedari tadi mencari mereka akhirnya berada di sana untuk melihat apa yang telah terjadi.


"Sebaiknya kau pergi mencari anak-anak!" perintah Nadia.


"Apa yang sedang kalian hadapi?" tanya Darko lagi.


"Darko!" terdengar suara Mia dan tubuh Mia yang tadinya tidak bergerak berusaha untuk bangkit. keadaannya kembali seperti semula, tidak menakutkan lagi. Mia mengulurkan tangannya ke arah Darko dengan ekspresi menyedihkan.


"Tolong aku, Darko," pintanya dengan nada memelas.

__ADS_1


"Mia?" Darko hendak mendekati iblis yang dia lihat seperti istrinya namun Nadia sudah menodongkan senjata api di bawah dagunya.


"Apa maksudnya ini, Nadia?"


"Jika kau pergi untuk melihat iblis itu, maka aku akan menembakmu tanpa ragu!" ucap Nadia.


"Darko, mereka hendak membunuh aku. Mereka hendak membunuh bayi kita!" iblis itu menunjukkan ekspresi tidak berdayanya pada Darko. Dia harus menipu Darko agar melawan Nadia dan suaminya.


"Apa?" Darko tampak terkejut dengan perkataan Mia. Bayi? Jangan katakan?


"Cepat tolong aku, Darko. Jika tidak bayi kita akan mati!" pinta Mia sambil menangis.


"Singkirkan senjata apimu, Nadia. Aku harus segera membawanya ke rumah sakit agar bayi kami bisa selamat!" Darko mulai terpengaruh oleh suara istrinya dan isak tangisannya.


"Kau gila! Bayi dari mana?" teriak Nadia. Apa kakak iparnya sedang hamil saat meninggal ataukah?


"Tunggu, jangan katakan kau berhubungan intim dengan iblis itu?!" teriak Nadia.


"Kami suami istri, apa salahnya?"


"Cepat, Darko. Bayi kita tidak akan selamat jika kau membuang waktu!" teriakan Mia kembali terdengar.


"Singkirkan senjata itu, Nadia. Aku harus menyelamatkan istri dan bayiku!"


"Sadarlah kau, baj*ngan!" Erick memukul wajah Darko dengan kekuatan yang dia miliki. Darko terkejut, tubuhnya bahkan terpental. Tidak saja Erick, Nadia pun memberikan pukulan di pelipis kakaknya menggunakan gagang senjata apinya. Semoga dengan pukulan itu kakaknya benar-benar sadar.


"Kau harus menolong aku, Darko. Kau harus menolong aku!" teriak iblis itu yang masih menggunakan suara Mia.


"Mereka hendak membunuh aku dengan bayi kita, Darko. Kau harus membela aku dan memberikan keadilan padaku!" iblis itu menangis tersedu-sedu untuk menarik perhatian Darko.


"Diam kau, iblis!" Nadia melangkah maju lalu menembaki iblis yang berada di dalam tubuh kakak iparnya itu.


"Kurang ajar kau, Nadia. Kurang ajar!" iblis itu kembali melompat namun ke arah belakang. Nadia terus menembaki iblis yang mulai mundur dan melompat dari satu pohon ke pohon lain.


"Tutup mulut busukmu itu karena aku akan menghancurkan dirimu bersama dengan tubuh kakak iparku!" teriak Nadia yang sudah dikuasai oleh api emosi.

__ADS_1


"Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti!" Iblis itu terus menghindar dan berpindah dari pohon ke pohon sedangkan Nadia tak henti menembak.


Darko memegangi hidungnya yang berdarah, apa yang baru saja terjadi? Dia berusaha untuk bangkit dari tanah namun lagi-lagi gagang senjata api menghantam wajahnya. Nadia yang sudah kembali begitu emosi. Selain sudah gila membangkitkan orang mati tapi kakaknya juga meniduri iblis itu dan jangan katakan benih iblis sudah ada di dalam jasad kakak iparnya.


"Kenapa kau memukul aku?" teriak Darko sambil memegangi hidungnya yang kembali mengeluarkan darah.


"Kau benar-benar pria gila! Tidak saja membangkitkan iblis tapi kau pun menyetubuhinya?!" teriak Nadia penuh emosi.


"Kau tidak tahu bagaimana perasaanku?" teriak Darko. Selama ini dia tidak tahu jika di dalam tubuh istrinya adalah iblis karena dia mengira, yang bersama dengan mereka benar-benar Mia.


"Di mana iblis itu, Nadia?" tanya suaminya.


"Melarikan diri di kegelapan. Saat ini yang paling penting adalah menemukan anak-anak. Aku yakin mereka masih hidup. Kita bisa membuat perhitungan dengan iblis itu nanti juga membuat perhitungan dengan pria bodoh ini!" Nadia melihat kakaknya dengan tatapan tajam, dia benar-benar kecewa dengan kakaknya yang begitu bodoh dan buta.


"Ayo kita segera cari anak-anak, mereka lebih penting!" ajak Erick. Nadia mengangguk, mereka segera pergi sedangkan Darko mengikuti mereka berdua untuk mencari ketiga anaknya.


Iblis yang disangka Nadia telah melarikan diri ternyata diam-diam mendengar apa yang mereka bicarakan? Mencari anak-anak? Baiklah, sepertinya makan malamnya masih belum lepas dan dia akan memakan mereka semua agar bayinya cepat besar dan lahir. Iblis itu diam-diam mengikuti mereka yang sedang mencari Bitsy dan Angela.


"Bitsy, Angela!" Nadia kembali berteriak memanggil.


"Keluarlah jika kalian sedang bersembunyi, Aunty datang untuk membawa kalian pulang jadi keluarlah!" Nadia masih berusaha memanggil.


"Angela, Daddy sudah kembali. Cepat keluar jika kalian mendengar kami!" Darko pun tak mau kalah.


Mereka terus melangkah maju melewati salju yang menumpuk semakin tebal. Erick pun ikut memanggil ketiga anak malang yang harus menjadi korban dari kegilaan dan kebodohan ayah mereka dan sekarang, mereka entah berada di mana.


"Bitsy, di mana kau?" teriak Nadia sambil melangkah ke samping tapi jejak darah yang ada di atas dedaunan yang sudah membeku membuatnya menghentikan langkah.


"Erick!" Nadia memanggil suaminya. Erick bergegas berlari menghampiri karena dia ingin tahu apa yang istrinya temukan.


"Ada apa?" tanya suaminya.


"Lihat!" Nadia menyinari jejak-jejak darah yang masih bisa mereka lihat di antara salju namun tidak banyak karena sebagian sudah tertutup salju dan yang dapat mereka lihat hanya yang berada di atas dedaunan dan semak yang membeku.


"Sial, ayo kita ikuti!" Erick dan Nadia mulai mengikuti jejak darah yang mereka temukan. Mereka berharap jejak-jejak darah itu membawa mereka pada anak-anak yang sedang bersembunyi. Iblis yang mengikuti mereka secara diam-diam memperlihatkan seringai lebarnya dari balik kegelapan. Makan, makan malamnya harus dia dapatkan.

__ADS_1


__ADS_2