Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
Penyesalan Yang Terlambat


__ADS_3

"Bitsy, Angela!" Darko kembali memanggil kedua putrinya dan mencari di setiap kamar. Di mulai dari kamarnya terlebih dahlu lalu ke kamar yang di tempati oleh Angela.


"Anak-Anak, di mana kalian?" Nadia pun berteriak memanggil.


Nadia membuka sebuah pintu yang menghubung ke lantai basemen. Di dalam ruangan itu sangatlah gelap, Nadia menyalakan lampu dan lagi-lagi bercak darah terdapat di setiap anak tangga yang menuju ke bawah. Nadia menelan ludah, dengan perlahan pula dia mulai melangkah turun.


Bau amis di mana-mana, setiap anak tangga terdapat bercak darah. Suasana semakin terasa mencekam akibat bercak darah serta bau amis dari darah itu. Sebenarnya apa yang terjadi pada ketika anak kakaknya? Apa yang telah mereka alami selama ditinggalkan oleh ayahnya?


"Bitsy?" Nadia memanggil setelah dia tiba di lantai basemen. Tempat itu pun berantakan, barang-barang berserakan di atas lantai yang menandakan jika Bitys dan kedua adiknya pernah berada di basemen dan kemungkinan mereka sedang bersembunyi di sana.


"Angela, ini Aunty. Keluarlah jika kalian ada di sini," Nadia melangkah maju, dia merasa sedang menghadapi kasus pembunuhan berantai di mana dia harus mencari korban juga pelaku dan memang dia sedang melakukannya dan sialnya yang menjadi korbannya adalah ketiga keponakannya yang masih kecil dengan pelaku yang berbeda dari pada biasanya.


"Bitsy?" Nadia kembali memanggil sambil melangkah maju. Dua pintu lemari sudah terbuka, sepertinya lemari itu  digunakan oleh anak-anak untuk bersembunyi. Barang-Barang yang berantakan seperti dilempar,  juga beberapa barang pecah.


"Angela, keluarlah jika kalian ada di sini. Bitsy, Aunty datang untuk menolong kalian!" Nadia kembali memanggil namun tidak ada jawaban. Nadia mencari di segala penjuru di lantai basemen, dia harap ketiga keponakannya ada di sana tapi ketiganya tidak ada. Karena pencarian di lantai basemen sia-sia jadi Nadia kembali ke atas. Dia ingin tahu, apa yang membuat ketiga anak kakaknya bisa ketakutan sampai membuat rumah berantakan seperti itu?


"Kakak, kemari kau!" teriak Nadia.


"Ada apa? Apa kau sudah menemukan keberadaan mereka?" Darko berlari keluar dari kamarnya.


"Tidak, tapi jawab aku dengan baik. Apa yang terjadi setelah kau membangkitkan kakak ipar? Apa anak-anakmu ada mengatakan sesuatu?" tanya Nadia dengan nada kesal.


"Bitsy selalu berkata jika ibunya ingin memakannya beserta kedua adiknya!"


"Dia mengatakan itu dan kau tidak percaya?"


"Aku mengira dia mimpi buruk, Nadia. Lagi pula Mia tidak menunjukkan gelagat yang mencurigakan. Dia pun tidak menunjukkan gelagat menakutkan di hadapan Angela. Hanya Bitsy saja yang selalu berkata jika ibunya adalah hantu yang hendak memakan mereka. Karena hanya dia saja yang menunjukkan gelagat seperti itu jadi aku mengira dia terbawa suasana akibat mimpi buruk!"


"Kau benar-benar bodoh mengabaikan perkataan putrimu, Kakak. Kenapa kau tidak mempercayainya? Kau sudah dibutakan oleh kebangkitan istrimu yang palsu tanpa menyadari jika yang ada di dalam raga istrimu bukanlah kakak ipar!"


"Aku sungguh tidak menyangka, Nadia. Padahal Bitsy sudah mengatakannya padaku beberapa kali tapi aku tidak mempercayai dirinya."


"Kau benar-benar bodoh, aku takut kita sudah terlambat!" ucap Nadia.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Kau lihat semua itu? Aku takut mereka benar-benar sudah dimakan oleh iblis itu!"


"Tidak mungkin, tidak mungkin!" Darko terhuyung ke belakang. Apa anak-anaknya benar-benar sudah di makan seperti yang Bitsy katakan?


"Guys, aku menemukan ini di dalam panci!" Erick keluar dari dalam dapur sambil membawa sebuah baju hangat milik anak-anak yang ada di dalam panci dan baju itu basah dan dipenuhi dengan darah. Tetesan air dari baju itu berwarna marah.


"Apa?" Nadia tampak terkejut melihat baju anak-anak itu, sedangkan Darko terlihat shock karena itu adalah pakaian yang dipakai oleh Bitsy sebelum dia pergi meninggalkan putrinya.


"Pancinya penuh dengan darah, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Erick.


"Berikan padaku!" Darko melangkah cepat dan merebut baju yang ada di tangan adik iparnya.


"Tidak mungkin, Bitsy. Tidak mungkin kau sudah dimakan!" ucapnya.


"Lihat akibat yang telah kau lakukan?" Nadia menghampiri kakaknya lalu memukulinya untuk melampiaskan amarahnya.


"Maafkan Daddy, Bitsy!" teriak Darko sambil memeluk baju milik putrinya yang basah oleh darah.


"Sudah terlambat untuk menyesal dasar kau ayah tidak berguna!" Nadia kembali memukuli kakaknya. Perbuatan bodoh yang kakaknya lakukan sungguh telah membawa mala petaka bagi ketiga buah hatinya dan bodohnya, kakaknya justru mengabaikan apa yang putrinya katakan.


Darko jatuh berlutut dengan penyesalan yang teramat sangat. Seharusnya dia mempercayai Bitsy. Seharusnya dia percaya dengan apa yang putrinya katakan padanya selama ini.


"Kau benar-benar sudah gagal menjadi orangtua!" Nadia menghapus air matanya lalu melemparkan sebuah benda ke arah kakaknya. Kakaknya adalah laki-laki paling bodoh, benar-benar bodoh.


Nadia melangkah pergi, meninggalkan sang kakak yang masih menangisi kebodohannya. Semua memang gara-gara dirinya sehingga ketiga anaknya menjadi korban atas apa yang telah dia lakukan.


"Apa lagi yang kau temukan?" tanya Nadia pada suaminya.


"Hanya ada itu saja, alu belum melihat yang lainnya!"


"Ayo kita periksa, aku masih berharap mereka bertiga baik-baik saja!"

__ADS_1


Nadia pergi ke dapur, bersama dengan suaminya. Mereka mencari petunjuk yang lainnya. Erick bahkan menunjukkan panci yang dipenuhi oleh cairan merah yang seperti darah di mana dia menemukan pakaian hangat milik Bitsy.


"Semoga saja anak-anak tidak dimakan oleh iblis itu, Erick!" Nadia mengusap dahi, dia terlihat frustasi dengan keberadaan ketiga keponakannya.


"Apa maksudmu berkata demikian?" tanya Erick yang tidak mengerti.


"Bitsy sudah mengatakan pada ayahnya jika mereka akan dimakan oleh ibu mereka tapi si bodoh itu, tidak percaya sama sekali!"


"Sial, jika Bitsy sudah dimakan lalu bagaimana dengan Angela dan Rian? Apa mereka juga sudah dimakan?"


"Entahlah, ayo kita cari mereka lagi. Mungkin mereka sedang bersembunyi disuatu tempat dan tidak berani keluar!"


"Baiklah, aku harap ketiganya bisa kita selamatkan!" Mereka keluar dari dapur untuk mencari keberadaan anak-anak. Darko pun beranjak, dia harus menemukan kedua anaknya yang lain. Dia harap kedua anaknya yang lain baik-baik saja. Setelah ini dia akan menebus kesalahan yang dia lakukan. Pasti akan dia tebus.


Mereka kembali sibuk mencari di setiap penjuru rumah, setiap ruangan tak luput tapi keberadaan anak-anak tidak mereka temukan. Kandang binatang pun tak terlewatkan tapi tidak ada sama sekali. Mereka kembali berkumpul dan terlihat putus asa. Nadia kembali menangis, menangisi ketiga keponakannya yang entah bagaimana nasibnya.


Darko terduduk di kursi teras, pikirannya kacau. Dia pun tampak seperti orang linglung. Erick memeluk istrinya untuk menghibur, mereka sudah berusaha tapi mereka justru datang terlambat dan tidak bisa mencegah apa yang telah terjadi.


"Seandainya kita lebih cepat!" ucap Nadia.


"Kita sudah berusaha tapi semua diluar kemampuan kita!"


"Apa yang terjadi dengan mereka, Erick?"


"Aku tidak tahu, sepertinya kita harus meminta bantuan untuk mencari keberadaan mereka."


"Seharusnya kita melakukannya sejak awal!" Nadia memeluk suaminya erat, dia sungguh menyesal. Sepertinya tidak ada jalan lain selain memanggil bantuan tapi cahaya putih yang ada di hutan membuatnya mengernyitkan dahi karena heran.


"Kakak ipar?" Ucap Nadia yang melihat cahaya putih itu.


"Apa?" suaminya tidak mengerti begitu juga dengan Darko yang melihat ke arahnya.


"Kakak ipar!" Nadia berteriak dan berlari ke arah hutan di mana cahaya putih itu melambai ke arahnya lalu menunjuk ke arah hutan yang tertutup salju. Erick mengikuti begitu juga dengan Darko. Mereka mengejar Nadia yang seperti mengejar sesuatu dan Nadia berharap itu adalah petunjuk dari arwah kakak iparnya.

__ADS_1


__ADS_2