
"Nadia," Nadia terkejut saat seseorang memanggil dirinya dan itu adalah kakak iparnya.
"Kakak ipar, apa ini mimpi?" Nadia sangat heran, lagi-lagi kakak iparnya datang dalam keadaan yang sama.
"Tolong anak-anakku, Nadia. Tolong bawa mereka pergi!" pinta Mia memohon. Hanya Nadia yang bisa membantu karena dia tidak bisa melawan iblis yang bersemayam di dalam tubuhnya.
"Apa yang terjadi pada mereka kakak ipar? Kenapa kau mendatangi aku dalam keadaan seperti ini?" Nadia sangat heran karena ini sudah yang kedua kali. Setelah beberapa tahun tidak bertemu, apakah telah terjadi sesuatu tanpa dia ketahui?
"Kakakmu, kakakmu!" Mia memegangi leher, dia seperti tidak bisa mengucapkan apa yang hendak dia katakan pada Nadia. Tentunya semua itu karena kekuatan Iblis yang ada di dalam tubuhnya.
"Apa? Ada apa dengan kakak? Apa yang terjadi dengan anak-anak?"
"Se... Selamatkan mereka, Nadia. Aku mohon!" pintanya namun pelan sehingga Nadia tidak begitu mendengar apa yanga dia ucapkan.
"Apa yang kau katakan, kakak ipar? Aku tidak bisa mendengar dengan jelas!" teriak Nadia karena suara Mia yang kecil dan kakak iparnya itu semakin menjauh.
"Anak-Anak, selamatkan anak-anak. Aaaaaa!!" tubuh Mia mendadak seperti meleleh tentunya hal itu membuat Nadia berteriak sehingga membangunkan suaminya yang sedang tidur.
Nadia pun terbangun dengan napas memburu, mimpi. Lagi-Lagi dia bermimpi buruk. kali ini kakak iparnya datang sambil memohon padanya untuk menyelamatkan ketiga anaknya meski dia tidak begitu mendengar perkataan kakak iparnya dan tidak mengerti kenapa kakak iparnya datang padanya dalam keadaan yang menakutkan. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Apa kau baik-baik saja, Nadia?" tanya suaminya.
"Lagi-Lagi kakak ipar mendatangi aku, Erick," Nadia menyeka keringat yang mengalir di dahi. Dia benar-benar tidak mengerti dengan mimpi yang baru saja dia lihat serta permintaan kakak iparnya namun firasatnya semakin buruk. Dia khawatir telah terjadi sesuatu yang buruk dengan ketiga buah hati kakaknya. Selama ini dia tidak pernah bermimpi buruk seperti itu apalagi kakak iparnya sampai mendatanginya sebanyak dua kali.
"Apa dia mengatakan sesuatu, Nadia? Mungkin dia mendatangi dirimu untuk meminta bantuanmu!"
"Apa kau mempercayai hal ini, Erick?" sesungguhnya dia tidak percaya jika mimpi memiliki sebuah arti.
"Hei, jangan menganggap remeh sebuah mimpi karena terkadang mimpi memiliki arti. Mungkin terjadi sesuatu yang buruk sehingga dia mendatangimu lewat mimpi untuk meminta bantuanmu!"
__ADS_1
"Aku tidak yakin, aku merasa telah terjadi sesuatu yang buruk. Kakak ipar meminta aku menyelamatkan anak-anaknya. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka, Erick!"
"Jika begitu cobalah hubungi mereka lagi, mungkin saja kakakmu menjawab sehingga kita tahu apakah mereka baik-baik saja atau tidak!"
Nadia mengangguk namun dia melihat jam. Saat itu tengah malam tapi di tempat kakaknya pun sama karena perbedaan waktu dua negara hanya berbeda satu jam saja. Nadia yang sudah menikah tentu mengikuti suaminya tinggal di Belanda oleh sebab itu dia tidak bisa pulang ke London apalagi dia dan suaminya sama-sama sibuk.
Gagang telepon sudah diambil, Nadia menghubungi kakaknya tapi lagi-lagi tidak ada yang menjawab. Nadia pun menghubungi ponsel kakaknya, lagi-lagi untuk kesekian kali hasil nihil yang dia dapatkan. Nadia semakin gelisah, dia kembali ke kamar dan terlihat begitu cemas.
"Bagaimana?" tanya suaminya.
"Tidak ada yang menjawab. Apa mereka sudah pindah?"
"Pindah ke mana? Jika mereka pindah tidak mungkin kakakmu tidak mengabari dirimu. Kau sudah menghubungi ponselnya, bukan?"
"Sudah, tapi tidak aktif lagi!"
"Ck, jangan-jangan memang sudah terjadi sesuatu pada mereka!"
"Lakukanlah, tapi sedang musim dingin. Salju sedang turun dengan lebatnya, aku khawatir tidak ada penerbangan ke London dalam waktu dekat ini!"
"Seharusnya aku pulang sebelum salju turun dan sekarang, aku semakin cemas dengan keadaan anak-anak kakakku."
"Jangan panik, sekarang kembali tidur. Besok aku akan mencoba mencari penerbangan ke sana. Semoga saja ada meski salju begitu lebat!"
Nadia hanya bisa mengangguk, dia tidak bisa melakukan apa pun karena musim dingin. Dia harap tidak terjadi apa pun pada kakak dan keluarganya terutama ketiga anaknya. Semoga saja yang dia alami hanya mimpi buruk dan tidak terjadi apa pun seperti yang dikhawatirkan.
Salju yang semakin lebat menutupi apa saja. Jalanan, pepohonan dan apa pun tertutup oleh salju. Tentunya hal itu membuat aktifitas menjadi terhambat. Cuaca yang cukup dingin, membuat kedua putri Darko enggan untuk bangun dan pergi ke sekolah namun Bitys memaksakan dirinya untuk bangun.
Meski udara begitu dingin tidak menyurutkan niat Bitsy untuk melihat bangkai binatang yang terlempar ke jendelanya tadi malam. Bitsy melompat keluar dari jendela, jejak keberadaan binatang itu sudah hilang entah ke mana. Sangat aneh, Bitsy mulai mencari karena dia takut binatang itu ada di sekitar kamarnya sehingga menimbulkan bau yang tidak nyaman.
__ADS_1
Bitsy terus mencari sampai akhirnya dia bertemu dengan ayahnya yang sedang menggali sebuah lubang di bawah sebuah pohon besar. Bitsy berlari menghampiri ayahnya yang sedang melemparkan sesuatu ke dalam lubang.
"Daddy, apa yang Daddy lakukan?"
"Bitys, untuk apa kau kemari?" tanya ayahnya.
"Aku ingin melihat bangkai yang semalam," Bitsy sudah berdiri di sisi ayahnya.
"Tidak perlu, kembali ke dalam rumah. Cuaca begitu dingin jadi jangan di luar apalagi kau tidak sedang memakai pakaian hangat."
"Bangkai yang semalam?" Bitsy melihat ke arah lubang dan terkejut melihat dua bangkai binatang yang ada di dalam lubang.
"Kenapa ada dua, Daddy?"
"Serigala, oleh sebab itu jangan keluar saat malam!"
Bitsy diam saja, memperhatikan dua bangkai binatang yang dikuburkan oleh ayahnya. Darko melakukan hal itu karena dia tidak mau Angela melihat dan membuatnya takut. Jangan sampai Angela berpikir yang tidak-tidak seperti Bitsy. Dia pun tidak mau Mia melihat bangkai kedua binatang itu.
"Ayo kembali, kau sudah harus pergi ke sekolah. Pakai pakaian hangat agar tidak kedinginan!" ucap Darko setelah selesai.
"Bolehkah membawa Rian serta, Dad?" tanya Bitsy. Dia harap ayahnya bersedia sehingga adiknya tidak ditinggalkan di rumah sendirian.
"Kenapa? Ada Mommy di rumah jadi tidak perlu khawatir."
"Tidak mau, Bitsy mau membawa Rian dan Daddy harus berjanji untuk tidak meninggalkan Rian seorang diri atau meninggalkan Rian dengan Mommy saja!" pinta Bitsy.
"Jadi masih mencurigai ibumu?"
"Berjanjilah, Daddy. Jika tidak Bitsy akan membawa Rian ke sekolah dan mengatakannya pada guru yang ada di sekolah!" ancam putrinya.
__ADS_1
"Baiklah, baik. jangan membuat keadaan semakin buruk. Kau boleh membawa Rian serta saat pergi sekolah dan Daddy berjanji tidak akan meninggalkannya apalagi meninggalkannya bersama dengan Mommy tapi ingat, ini hanya untuk satu minggu saja karena jika apa yang Bitsy katakan tidak benar, maka Bitsy harus merubah cara pandang Bitsy dan menerima Mommy seperti biasanya!"
Bitsy hanya mengangguk, semoga saja dia bisa menunjukkan bukti pada ayahnya sehingga ayahnya percaya meski tidak mudah apalagi dia tahu sosok ibunya sepertinya sudah tahu. Mia yang memang sudah tahu berakting menjadi ibu yang penuh cinta dan kasih sayang, karena hal itulah yang membuat Darko tidak menaruh curiga pada sosok istri yang dia bangkitkan dari kematian.