Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
Hukuman Untuk Bitsy


__ADS_3

Rumah yang sudah lama tidak ditempati begitu kotor. Dinding yang terbuat dari papan pun sudah memiliki banyak lubang. Bitsy berada di dalam sebuah kamar yang akan dia tempati, sedangkan Angela berada di kamar lain karena Angela ingin tidur sendiri.


Kamar yang Bitsy pilih memiliki sebuah jendela dan jendela itu langsung menghadap ke arah hutan. Kamar itu cukup luas, bisa dia gunakan bersama dengan Angela dan Rian. Lebih baik mereka tetap bersama saat malam hari karena dia takut, Angela dimakan oleh ibu mereka terlebih dahulu.


Bitsy keluar dari kamar setelah melihat kamar yang sudah dia pilih. Rian tak dia lepaskan karena dia tidak mau Rian digendong oleh ibu mereka. Rian masih kecil dan baru bisa berjalan, seperti yang dia takutkan pada Angela, dia pun takut hal buruk terjadi pada Rian. Sebagai kakak yang paling tua, dia harus bisa menjaga kedua adiknya.


Bitsy melewati ayah dan ibunya yang sedang sibuk membersihkan rumah itu dengan cara mengendap-endap. Dia tidak mau bertatap mata dengan ibunya karena rasa takut akan semakin dia rasakan. Bitsy mencari Angela yang entah berada di mana. Rumah itu memiliki banyak kamar dan ruangan oleh sebab itu mereka bisa memilih kamar sesuka hati.


"Angela," Bitsy memanggil adiknya namun Angela langsung bersembunyi karena dia tidak mau berbicara dengan kakaknya yang selalu mengajaknya pergi.


"Angela!" Bitsy mencari adiknya ke dalam sebuah kamar namun Angela tidak ada di sana. Bitsy kembali mencari, semoga saja adiknya bisa dia ajak untuk tidur bersama. Dia tidak akan menyerah sampai adiknya setuju.


Mia yang sedang membersihkan rumah bersama Darko merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Dia bahkan hampir tumbang. Darko yang melihat itu pun langsung menangkap tubuh Mia. Darko terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.


"Apa kau baik-baik saja, Honey?"


"Aku lelah!" ucap Mia.


"Pergilah beristirahat, aku yang akan membersihkan rumah ini!"


"Tapi aku tidak bisa membiarkan kau bekerja sendiri apalagi kau sudah membawa mobil begitu lama!"


"Tidak perlu khawatir, pergilah beristirahat atau temani anak-anak. Sisanya serahkan padaku!"


"Baiklah," Mia tersenyum, Darko mengusap wajah istrinya yang pucat. Sampai sekarang perban di kepala Mia belum diganti olehnya tapi sepertinya sudah diganti oleh Mia karena Mia sudah begitu peduli dengan keadaannya saat ini.


"Aku sangat senang kau kembali lagi dan mau pindah denganku ke tempat terpencil ini, Honey," ucap Darko.


"Aku tidak keberatan, Darko. Ke mana kau pergi di sanalah aku berada!"


"Sekarang katakan, apa yang kau inginkan sebagai hadiah ulang tahunmu?"


"Aku hanya ingin kita bisa bersama selamanya!" jawab Mia.


"Mulai sekarang, kita memang akan selalu bersama untuk selamanya!" Darko mengangkat dagu istrinya lalu mencium bibirnya. Kedua mata Mia menatap tajam, hari ulang tahun? Sepertinya sangat lezat jika bisa menyiapkan sebuah hidangan istimewa untuk mereka nikmati? Apakah dari yang kecil terlebih dahulu ataukah?


Darko yang sedang mencium bibir istrinya mendadak dikuasai olah hawa naf*su apalagi mereka berdua sudah lama tidak berhubungan intim oleh sebab itu Darko membawa Mia ke dalam kamar yang akan mereka tempati tentunya sudah mereka bersihkan.


"Mendadak aku menginginkan dirimu, Mia!" ucapnya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan anak-anak?"


"Tidak akan lama!" Darko sudah tidak sabar untuk melepaskan pakaian Mia.


"Aku tidak mau jika dalam keadaan terang. Tutup jendela dan matikan lampunya!" pinta Mia.


"Kenapa? Kita biasanya melakukan dalam keadaan terang?"


"Sekarang aku tidak suka, Darko!"


"Baiklah, tunggu di sini!" Darko menutup jendela dan gorden, semua lubang ditutup dengan kain sehingga kamar itu gelap seperti yang Mia inginkan.


"Apa seperti ini?" tanya Darko.


"Yes!" sekarang Mia melepaskan pakaiannya. Darko tidak akan tahu dengan keadaan tubuhnya karena beberapa bagian sudah mengalami proses pembusukan bahkan ada beberapa bagian yang sudah bernanah.


Darko menyentuh tubuh istrinya dengan perlahan, dia sempat curiga dengan bau amis yang tercium namun hawa na*su mengalahkan segalanya. Dia bahkan tidak mendengar pertengkaran kedua putrinya di dalam kamar lain. Itu karena Angela tidak pernah mau mendengarkan kakaknya dan tidak mempercayai perkataannya.


"Aku tidak mau mempercayai perkataanmu, Bitsy!" teriak Angela.


"Percaya denganku, kita harus pergi dari rumah ini!"


"Tapi Mommy adalah hantu yang akan memakan kita. Mommy sendiri yang berkata akan memakan kau terlebih dahulu jadi ayo kita pergi sebelum Mommy benar-benar memakan kita!" ajak Bitsy.


"Jangan mengada-ada. Mommy bukan hantu seperti yang kau katakan dan Mommy tidak akan memakan aku seperti yang kau katakan!"


"Percayalah padaku, Bitsy. Bagaimana jika kita tidur bersama, aku takut Mommy menangkapmu saat malam!" Bitsy masih saja membujuk adiknya yang keras kepala.


"Aku tidak mau, ini kamarku jadi keluar dari kamarku!" teriak Angela.


"Ikut denganku, Angela!" Bitsy menarik tangan Angela namun Angela menepis tangan kakaknya bahkan mendorong kakaknya hingga terjatuh. Rian yang berada di dalam gendongan pun menangis akibat terbentur lantai, tidak saja Rian yang menangis, Bitsy juga menangis.


"Keluar dari kamarku!" teriak Angela sambil melempar barang ke arah Bitsy.


"Kau akan menyesal saat Mommy memakanmu!" teriak Bitsy.


"Kau bohong, Mommy tidak akan memakan aku!" teriak Angela pula.


Mereka berdua menangis dengan keras, disusul dengan tangisan Rian. Darko dan Mia yang sudah selesai keluar dari kamar dengan terburu-buru, mereka berdua bergegas menghampiri kamar Angela di mana suara tangisan kedua putri mereka terdengar.

__ADS_1


"Ada apa ini? kenapa kalian menangis seperti ini?" Darko bertanya dengan nada tinggi.


"Daddy!" Angela berlari ke arah ayahnya dan memeluk kaki ayahnya, "Bitsy berkata Mommy akan memakan aku, aku takut Daddy!" ucap sambil merengek.


"Apa kau bilang?" Darko sangat murka mendengar perkataan putrinya.


"Apa kau berkata demikian pada adikmu, Bitsy?" teriaknya lantang.


"Mommy memang akan memakan kami Daddy, percayalah padaku!" teriak Bitsy.


"Cukup, Bitsy!" teriak ayahnya.


"Bitsy, teganya kau?" Mia memperlihatkan wajah sedih, dia bahkan menangis akibat perkataan putrinya.


"Mommy tidak perlu pura-pura sedih!" teriak Bitsy pula.


"Cukup, Bitsy. Sepertinya kau harus dihukum!" Darko melangkah masuk ke dalam lalu merebut Rian dari gendongan putrinya.


"Darko, apa yang mau kau lakukan?" tanya Mia saat Darko memberikan Rian padanya.


"Bitsy harus dihukum agar dia tidak berbicara sembarangan lagi, Honey!" Darko kembali mendekati putrinya yang ketakutan.


"Tidak mau, Daddy. Aku tidak mau dihukum!" teriak Bitsy.


"Kau harus dihukum!" Darko menggendong tubuh putrinya, Bitsy memberontak sambil berteriak. Dia memohon pada ayahnya untuk tidak memberinya hukuman tapi Darko tidak mengindahkan.


"Jangan lakukan, Darko. Jangan menghukum Bitsy!" Mia berusaha menunjukkan rasa pedulinya pada putri mereka.


"Jangan menghalangi, dia sudah berbicara tidak jelas selama beberapa hari ini jadi biarkan dia mendapatkan hukuman!" Darko membawa putrinya menuju ruangan basemen yang ada di dalam rumah itu.


"Jangan Daddy, jangan mengurung Bitsy di ruangan basement. Bitsy tidak mau!" teriak Bitsy saat ayahnya sudah membawanya ke lantai basemen.


"Renungkan kesalahan yang kau lakukan di sana  dan jika kau sudah menyesali perbuatanmu maka Daddy akan mengeluarkan dirimu dari sini!" Bitsy ditinggalkan di lantai basemen lalu pintu dikunci dengan rapat.


"Buka pintunya Daddy, Bitsy takut!" teriak putrinya sambil memukul daun pintu.


"Tidak ada yang boleh membuka pintu itu selain aku!" ucap Darko pada istri dan putrinya.


"Gelap Daddy, Bitsy tidak mau di sini!" teriak Bitsy lagi namun Darko mengajak istri dan putrinya pergi. Baginya itu adalah hukuman yang pantas Bitsy dapatkan atas perkataan tidak menyenangkannya akhir-akhir ini.

__ADS_1


Bitsy menangis dengan keras serta tak hentinya dia memohon pada sang ayah untuk membuka pintu itu karena dia takut. Gelap, ruangan itu sangat gelap tapi tidak ada yang peduli dengan teriakannya apalagi Darko. Mia bersikap manis, dia berusaha membujuk Darko untuk mengeluarkan putri mereka tapi Darko tetap dengan pendiriannya karena putrinya memang pantas dihukum.


__ADS_2