Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
Tidak Ada Yang Percaya


__ADS_3

Darko menghentikan mobilnya sebentar, untuk mengisi bahan bakar. Kedua putrinya masih tidur, begitu juga dengan putranya tang tertidur di dalam gendongan Angela karena Angela yang menggendongnya. Mia pun terlihat sedang tertidur karena waktu masih menunjukkan pukul empat subuh.


Mereka sudah menempuh perjalanan selama beberapa jam tapi mereka belum juga tiba di tujuan. Itu karena Darko membawa keluarganya pergi sejauh mungkin dari kota London. Mereka akan tinggal di sebuah desa terpencil, itu adalah rumah kedua orangtuanya yang sudah lama tidak ditinggali.


Darko akan beternak di sana, dia sudah memutuskan akan meneruskan bisnis keluarganya. Adiknya sudah tidak pernah kembali ke tempat itu lagi karena jauh. Lagi pula kedua orangtua mereka sudah lama meninggal. Tempat itu sempat dilelang namun tidak ada yang mau karena cukup terpencil dan jauh dari kota. Tetangga pun cukup jauh sehingga rumah mereka sulit dijual apalagi rumah itu dikelilingi dengan hutan dan kebun jagung.


Setelah bahan bakar terisi penuh, Darko masuk ke dalam mobil. Selimut yang menutupi tubuh Mia sedikit terjatuh. Darko menaikkan selimut itu lalu mendaratkan ciuman di dahi Mia. Baginya Mia adalah penyemangat hidup. Tidak saja bagi dirinya tapi bagi ketiga buah hati mereka juga.


Darko kembali membawa mobilnya pergi. Jika dia terus membawa mobil tanpa berhenti maka mereka akan tiba pukul tujuh pagi nanti. Meski dia lelah, dia tidak peduli yang penting dia bisa cepat tiba bersama dengan keluarganya.


Jalanan yang dilewati sangat sepi karena memang jarang ada yang lewat di sana. Meski kedua putrinya akan bersekolah cukup jauh nanti tapi semua itu tidak jadi soal karena dia yang akan mengantar kedua putrinya pergi ke sekolah.


Jalanan yang dilalui mulai berbatu sehingga membuat mobil berguncang dan membangunkan Mia. Mia melihat sekitar, matahari yang menyingsing dan mengenai matanya membuat kedua bola matanya terasa terbakar. Mia berteriak, lalu menutupi kedua matanya secara spontan. Teriakannya membuat kedua putrinya terbangun, Darko bahkan terkejut mendengar teriakannya dan secara refleks menghentikan mobil.


"Ada apa denganmu, Honey?" Darko tampak khawatir.


"Panas... Panas!" teriak Mia sambil menutupi matanya.


"Daddy?" Angela memanggil, sedangkan Bitsy mengucek matanya.


"Kita di mana?" tanya Bitsy. Dia terlihat bingung karena yang dia ingat dia tertidur bersama Rian karena lelah dan mengantuk.


"Panas!" teriakan ibunya kembali terdengar. Bitsy buru-buru beringsut ke sisi tempat duduk dan meringkuk karena takut.


"Cuci pakai air, cepat!" Darko mengira kedua mata istrinya sakit karena debu.


"Ada apa dengan Mommy, Dad?" tanya Angela.


"Hanya sakit mata saja, Angela tidak perlu khawatir."


"Kita mau pergi ke mana, Daddy?" tanya Bitsy.


"Bitsy jangan memperkeruh suasana, duduk diam dan jangan banyak bertanya. Daddy sudah membawa mobil begitu lama jadi jangan membuat daddy emosi karena harus berdebat dengan Bitsy!"


Bitsy tidak bersuara, dia justru melihat ibunya yang sedang kesakitan. Darko membantu Mia untuk mencuci kedua matanya menggunakan air minum, Mia masih mengeluh sakit karena kedua matanya seperti terbakar oleh sianar matahari.


"Kita mau pergi ke mana, Angela?" tanya Bitsy.

__ADS_1


"Aku tidak tahu," jawab Angela.


"Apa Daddy dan Mommy tidak mengatakan kita akan pergi ke mana?"


"Tidak, sekarang gendong Rian. Badanku sudah pegal!" pinta Angela.


Bitsy mendekati adiknya lalu mengambil Rian yang masih tidur dengan nyenyak. Bitsy bahkan melihat ke luar di mana ayah dan dan ibunya masih belum selesai. Mia mencuci wajahnya dengan air, rasanya ingin memaki tapi dia berusaha menahan dirinya.


"Apa sudah lebih baik?" tanya Darko.


"Sudah tidak apa-apa, Darko!" Mia tersenyum, sebaiknya dia cepat sebelum tubuh itu membusuk.


"Jika begitu ayo kita jalan lagi!"


Mia mengangguk, Darko menuntunnya untuk kembali ke mobil. Bitsy melihat ibunya dengan tatapan takut apalagi kedua mata ibunya memerah dan hal itu semakin membuatnya ketakutan.


"Putri Mommy sudah bangun rupanya," Mia berpaling, melihat ke arah putri mereka sambil menunjukkan senyumannya.


"Mata Mommy kenapa?" tanya Angela.


"Hanya kemasukan debu saja, tidak perlu khawatir tapi apa Bitsy tidak mau menanyakan sesuatu pada Mommy?" kini dia melihat ke arah Bitsy, dia seperti menakuti gadis itu.


"Baiklah, Mommy memang baik-baik saja!" Mia kembali berpaling, sedangkan Bitsy hanya bisa menahan rasa takutnya saja tanpa ada yang peduli.


"Kita mau pergi ke mana, Dad?" tanya Bitsy.


"Duduk saja yang manis, sebentar lagi kita akan tiba."


"Tapi kenapa tidak ada rumah siapa pun yang kita lewati?" tanya Bitsy yang memandangi sekitar mereka yang hanya ada kebun jagung saja.


"Kau akan tahu nanti!" Darko kembali membawa mobilnya melaju di jalan yang sedikit berbatu. Mia menutupi wajahnya dengan kain agar sinar matahari tidak membakar wajahnya. Mereka kembali menempuh perjalanan satu jam dan akhirnya mereka tiba di rumah yang ditinggalkan oleh kedua orangtua Darko.


"Akhirnya kita tiba!" ucap Darko. Rumah itu tidak buruk meski sudah tua. Akan dia perbaiki jika ada yang rusak.


"Kita akan tinggal di sini?" tanya Mia.


"Yeah, kita akan tinggal di sini mulai sekarang. Kau tidak keberatan, bukan?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak, tempat ini sangat sempurna!" Mia melihat Angela dan Bitsy yang masih memeluk Rian dari kaca spion dan setelah itu senyuman menghiasi wajahnya.


"Aku tidak mau tinggal di sini, Daddy!" ucap Bitsy.


"Daddy tidak mau mendengar!" Darko membuka pintu mobil dan keluar. Dia tidak mau mendengar apa pun yang putrinya ucapkan.


Seringai kembali menghiasi wajah Mia, tempat terpencil jauh dari tetangga dan yang pasti, tempat yang sempurna untuk menikmati korban yang lezat. Bitsy yang takut dekat ibunya segera keluar dari mobil. Dia pun mengajak Angela karena dia takut Angela dimakan oleh ibunya di dalam mobil jika dia tinggal sendiri.


"Jangan tarik aku!" Angela mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan Bitsy.


"Kita harus meminta Daddy untuk tidak tinggal di sini!" ucap kakaknya.


"Aku tidak mau!" Angela menarik tangannya dengan kuat hingga terlepas lalu berlari pergi menghampiri ibunya. Bitsy berteriak memanggil namun Angela tidak peduli. Sepertinya dia harus berjuang sendirian karena tidak ada yang percaya.


"Daddy!" Bitsy memanggil ayahnya yang sedang mencoba membuka pintu.


"Ada apa lagi, Bitsy? Sudah Daddy katakan jangan membuat Daddy kesal karena Daddy sedang lelah."


"Bitys tidak mau tinggal di sini, Daddy. Bitsy takut!" ucap putrinya.


"Selalu itu yang kau katakan, Daddy lelah mendengarnya!" Darko masih tidak peduli dengan apa yang putrinya katakan.


"Tapi Bitsy benar-benar takut, Dad!" Bitsy melihat sekitar di mana rumah itu dikelilingi dengan hutan dan di depannya terdapat hamparan kebun jagung yang luas.


"Dengarkan Daddy, lawan rasa takutmu itu dan kau akan terbiasa cepat atau lambat!" ucap ayahnya yang sudah berhasil membuka pintu rumah itu.


"Tapi Bitsy takut dengan Mommy," ucap putrinya.


"Stop, Bitsy!" teriak ayahnya.


"Jangan membuat perkara, sebaiknya bantu Daddy menurunkan barang-barang!" Darko melangkah pergi, Bitsy diam di depan pintu sambil menangis. Tidak ada yang peduli, ayahnya tidak peduli dan Angela tidak percaya.


Darko membantu Mia untuk masuk ke dalam, Angela mengikuti. Mereka melewati Bitsy yang masih berdiri di depan pintu dan yang masih menangis.


"Kenapa tidak ada yang percaya dengan Bitsy, kenapa?" Bitsy menghapus air matanya. Dia benar-benar sedih karena tidak ada yang percaya jika yang ada bersama dengan mereka saat ini bukanlah ibu mereka. Bitsy masih menangis cukup lama di depan pintu sampai akhirnya Darko keluar dari rumah dan mendapati putrinya masih berada di depan pintu.


"Bitsy, kenapa kau diam saja di sini? Kenapa tidak masuk ke dalam?" tanyanya.

__ADS_1


"Bitsy benci dengan Daddy!" teriak putrinya sebelum berlari masuk ke dalam.


Darko menghela napas, kenapa sangat sulit meyakinkan Bitsy jika tidak ada yang perlu dia takutkan? Bagaimana caranya membujuk putrinya? Tapi dia yakin, Bitsy bertingkah seperti itu hanya karena tidak mau pindah saja dan dia yakin putrinya akan cepat terbiasa nantinya.


__ADS_2