
Setelah membantu hantu nenek tua itu, Bitsy justru terlihat sedih. Bukan karena dia gagal, dia yakin jika dia sudah berhasil tapi yang membuatnya sedih adalah, dia jadi rindu dengan almarhum ibunya dan dia pun rindu dengan keluarganya yang ada di London. Rasanya sudah sangat ingin pulang dan bersama dengan keluarganya lagi tapi dia harus berada di kota itu selama lima tahun lamanya.
"Apa kau baik-baik saja?" Edward sangat heran karena Bitsy mendadak terlihat sedih. Dia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Bitsy dengan kedua pria itu tadi. Padahal dia sangat ingin tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Bitsy tapi dia tidak boleh mendekat atas permintaan Bitsy. Dia jadi penasaran kenapa Bitsy meminta hal itu padanya padahal dia tidak akan mengganggu Bitsy. Tidak saja satu kali tapi sudah berkali-kali Bitsy memintanya melakukan hal itu bahkan Bitsy berjauhan dengannya saat di mobil dengan alasan ingin mendengar suara hantu itu. Apa ada yang aneh padanya sehingga Bitsy meminta hal itu padanya?
Bitsy menunduk tanpa menjawab. Dia sedang berusaha menahan air mata agar Edward tidak melihat namun rasa penasaran Edward pun sudah tidak terbendung. Dia sungguh ingin tahu apa yang terjadi dan sangat ingin tahu dengan beberapa kejanggalan yang membuat sebuah tanda tanya besar di hati.
Edward menghentikan mobilnya di dekat sebuah pantai. Pria itu keluar terlebih dahulu sedangkan Bitsy panik dan terlihat takut karena di tempat seperti itu biasanya akan banyak hantu. Edward membuka pintu mobil, Bitsy justru memandanginya dengan ekspresi heran.
"Kenapa kita berhenti di sini, Edward?"
"Aku tidak suka melihatmu murung seperti itu.,Bagaimana jika kita jalan-jalan di pantai sebentar? Mungkin dengan demikian suasana hatimu akan lebih baik."
"Tapi aku?" Bitsy melihat sekitarnya, tempat itu sangat gelap oleh sebab itu dia sangat takut.
"Ada aku, jadi tidak perlu khawatir," ucap Edward seraya mengulurkan tangan.
Bitsy sedikit ragu namun pada akhirnya Bitsy meletakkan tangannya ke atas telapak tangan Edward dan keluar dari mobil. Di dekat Edward dia memang merasa aman namun dia jadi merasa bersalah karena dia seperti memanfaatkan Edward yang memiliki roh pelindung.
"Katakan padaku, apa yang kau bicarakan pada kedua pria itu?" tanya Edward seraya menggandeng tangan Bitsy dan mereka sedang menuju sisi pantas.
"Tidak ada hal penting. Aku hanya menyampaikan pesan hantu nenek itu saja!"
"Jadi semua sudah selesai?" tanya Edward lagi.
"Entahlah, aku harap demikian! Semoga saja permasalahan nenek itu sudah selesai sehingga dia bisa beristirahat dengan tenang!"
"See, kau bisa menggunakan kemampuanmu untuk membantu mereka seperti hantu nenek itu!"
"Aku memang bisa membantu, Edward," Bitsy menghentikan langkahnya karena mereka sudah berada di sisi pantai. Bitsy berpaling melihat Edward lalu dia melihat deburan ombak yang tidak jauh darinya.
"Aku memang bisa membantu tapi tidak semua hantu itu baik dan tidak semua permintaan hantu itu mudah. Aku tidak mau melibatkan diri karena aku tidak mau mempersulit hidupku dan membahayakan hidupku dengan permasalahan hantu yang tak kunjung usai. Oleh sebab itu, aku tidak mau terlibat dengan permasalahan orang yang sudah mati!"
"Baiklah, yang kau katakan sangatlah benar!" Edward melangkah mendekat lalu memeluk Bitsy dari belakang, "Jika sudah selesai, kenapa kau terlihat sedih? Apa telah terjadi sesuatu atau permintaan hantu nenek itu yang telah membuatmu sedih?" tanyanya.
__ADS_1
"Tidak, bukan karena itu!" jawab Bitsy yang kembali menunduk.
"Jadi? Katakan padaku, aku sangat ingin mendengar apa yang membuatmu sedih seperti ini?"
"Aku merindukan ibuku, Edward. Aku juga rindu pada keluargaku yang ada di London."
"Rindu dengan ibumu? Bukankah ibumu tinggal denganmu saat ini?"
"Se-Sebenarnya?" Bitsy lupa oleh sebab itu dia jadi salah tingkah.
"Kenapa? Apa kau berbohong padaku selama ini?" benar juga, jika ada ibu Bitsy di dalam kamar, lalu untuk apa Bitsy menginap di kamarnya karena diganggu oleh hantu. Bodoh, kenapa dia tidak memikirkan hal ini sekarang?
"Jawab aku, Bitsy!" Edward memutar tubuh Bitsy dengan perlahan hingga mereka saling berhadapan. Bitsy mengangkat wajahnya, pandangannya tidak lepas dari Edward begitu juga dengan Edward. Mereka berdua saling pandang dalam diam, Edward pun mengangkat tangannya untuk mengusap wajah Bitsy dengan perlahan.
"Katakan padaku, Sayang. Kau tinggal sendirian, bukan? Ibumu tidak bersama denganmu, bukan?"
"Maaf," Bitsy menunduk. Dia jadi tidak enak hati karena sudah membohongi Edward.
"Hei, look at me!" Edward mengangkat dagu Bitsy sehingga mereka kembali saling pandang.
"Aku tidak marah, apa yang kau lakukan sudah sangat tepat. Kau berbohong untuk melindungi dirimu dari orang jahat dan aku tidak akan marah hanya karena hal ini. Lagi pula yang kau katakan sangatlah benar, kita baru saling mengenal jadi wajar jika kau berbohong seperti itu untuk mengelabui aku!"
"Terima kasih," Bitsy tersenyum manis sehingga membuat Edward semakin tidak tahan karena dia sangat ingin Bitsy menjadi miliknya. Kedua tangan Edward melingkar di pinggang Bitsy lalu tubuh Bitsy ditarik mendekat hingga tubuh mereka berdua merapat.
"Dengarkan aku, Bitsy!" pinta Edward sambil mengusap kepala Bitsy dengan peralahan, "Usiaku sudah 35 tahun, sudah tidak muda lagi. Aku pernah berkata jika aku mencari istri dan apa yang aku katakan sangatlah benar. Kau sudah membuat aku jatuh hati padamu, Bitsy. Semakin aku dekat denganmu, semakin aku ingin mendapatkan dirimu. Jadi, maukah menjadi pacarku? Jika kau ragu, kau bisa menjadi istriku," ucapnya tanpa ragu.
"Kau gila!" ucap Bitsy.
"Aku memberimu dua pilihan, Sayang. Kau mau jadi pacarku atau istriku, itu terserah padamu. Jika kau belum mau menikah, maka jadi pacarku tapi jika kau takut aku menipu maka jadilah istriku!"
"Tapi kau tahu aku memiliki banyak masalah. Tidak menyenangkan sama sekali menjalin hubungan dengan orang aneh seperti aku!"
"Orang aneh apa maksudmu? Sudah aku katakan kau tidak aneh sama sekali, Bitsy. Percayalah, kau membutuhkan aku. Aku akan selalu bersama denganmu dan aku akan melindungi dirimu dari Martin dan dari apa pun jadi percayalah padaku. Aku bukannya sudah tidak sabar untuk menikah tapi aku takut kau diambil oleh orang lain jika aku berlama-lama oleh sebab itu jadilah pacarku," dia sudah jujur mengatakan hal ini dan dia harap Bitsy mau menjadi pacarnya.
__ADS_1
"Hm," Bitsy berpaling dan tersipu malu. Jawaban apa yang bisa dia berikan pada Edward? Di lain sisi dia memang aman dan nyaman bersama dengan pria itu. Di sisi lain dia pun tidak mau dikira memanfaatkan kebaikan Edward tapi apa ini tidak begitu cepat? Sungguh, dia merasa mereka belum berkenalan lama.
"Kenapa tidak mau menjawab aku?" Edward mengangkat dagu Bitsy. Bitsy membuang tatapan matanya ke samping, mendadak dia tidak bisa memandangi Edward karena jantungnya mendadak berdebar.
"Jika tidak menjawab maka aku akan mencium bibirmu sampai kau mau menjawab!"
"Apa? Jangan!" teriak Bitsy.
"Jadi?" Edward mengangkat Bitsy dan menggendongnya. Bitsy terkejut dan memegangi bahu Edward agar dia tidak terjatuh.
"Mau jadi pacarku atau istriku, bukan?" tanya Edward lagi.
Bitsy diam sejenak namun dia mulai mengangguk perlahan sebagai tanda jika dia mau menjadi kekasih Edward. Edward sangat senang melihatnya. Tidak perlu jawaban, cukup anggukan yang Bitsy berikan sudah menjawab pertanyaannya. Edward sangat senang, oleh sebab itu dia memutar Bitsy beberapa kali karena itu jawaban yang sangat dia tunggu beberapa hari belakangan.
"Stop, Edward. Kau membuat kepalaku pusing!" pinta Bitsy.
"Ini karena aku sangat senang!" Edward kembali memutar Bitsy.
"Edward!" Bitsy berteriak. Dia semakin pusing akibat diputar oleh Edward. Pria itu baru berhenti setelah dia juga merasa pusing namun sayangnya mereka berdua kehilangan keseimbangan akibat Edward terlalu lama berputar dan karena hal itu mereka berdua terjatuh ke atas pasir.
Bitsy berteriak, sedangkan Edward memeluknya erat. Mereka berdua berguling beberapa kali lalu ombak menerjang mereka hingga mereka berdua menjadi basah kuyup.
"Edward, kau menyebalkan!" teriak Bitsy setelah mereka berdua basah akibat air laut. Bitsy berada di atas tubuh Edward, sehingga dia tidak perlu berbaring di atas pasir.
"Maaf, aku terlalu senang." Edward merasa ini malam terbaik yang dia miliki karena perasaannya terbalaskan. Bitsy sudah menjadi miliknya oleh sebab itu dia tidak akan melepaskan Bitsy dan akan membantu Bitsy. Dia pun tidak akan membiarkan siapa pun memanfaatkan Bitsy terutama pria bernama Martin itu apalagi mereka harus mewaspadai Acton Adam yang bisa saja lebih berbahaya dari pada Martin.
"Edward
#Bitsy
__ADS_1