Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
La Lionora 24


__ADS_3

Hantu wanita tua yang akan dibantu oleh Bitsy sudah menunggu di depan gedung di mana Bitsy bekerja. Hantu itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Bitsy karena dia bisa beristirahat dengan tenang jika tujuannya sudah tercapai.


Hantu yang jadi penasaran setelah kematiannya dan dia jadi tidak tenang akibat kedua putranya yang serakah karena memperebutkan harta yang dia tinggalkan. Sang nenek tidak menduga jika kedua putranya begitu serakah. Jika dia tahu sudah pasti dia serahkan semua yang dia miliki pada sebuah yayasan sehingga kedua putranya tidak perlu saling berebut harta. Tapi sekarang dia bisa meminta bantuan Bitsy untuk mengatakan pada kedua putranya jika  sesungguhnya harta itu tidaklah ada karena harta yang dia maksud bukanlah harta berubah materi atau benda berharga agar kedua anaknya berhenti bertengkar.


Sekarang harapannya hanya Bitsy saja dan dia berharap manusia itu bisa membantunya menyelesaikan permasalahannya sehingga dia bisa beristirahat dengan damai. Bitsy yang baru saja selesai bekerja melihat jam yang baru saja menunjukkan pukul lima sore. Entah Edward sibuk atau tidak sebaiknya dia menghubungi Edward dan mengatakan jika dia harus pergi sendiri jika memang Edward sedang sibuk.


"Apa kau merindukan aku, Bitsy?" tanya Edward ketika menjawab panggilan dari Bitsy.


"Ti-Tidak!" jawab Bitsy.


"Tidak? Aku jadi kecewa mendengar jawabanmu ini."


"Jangan menggoda aku, Edward. Aku hanya ingin tahu apakah kau bisa pergi denganku atau tidak? Jika tidak maka aku akan pergi sendiri."


"Percaya atau tidak, aku sudah berada di depan kantormu, Sayang."


"Apa?" Bitsy melangkah menuju jendela dan melihat ke bawah. Dasar bodoh, mana bisa terlihat?


"Jika begitu aku akan segera turun!" Bitsy merapikan barang-barangnya dan masukkannya ke dalam tas. Semua sudah diambil dan setelah itu, Bitsy bergegas untuk turun.


Edward berada di dalam mobilnya, dia meminta supirnya untuk pergi karena dia ingin berduaan dengan Bitsy. Edward tak melepaskan pandangannya dari kantor Bitsy dan ketika melihat gadis itu, dia sangat senang namun langkah Bitsy yang terhenti membuat Edward sangat penasaran karena Bitsy terlihat sedang berbicara tapi tidak ada siapa pun di sana selain dirinya.


Tentunya Bitsy sedang berbicara dengan hantu nenek yang ingin meminta bantuannya. Dia ingin tahu apa sebenarnya yang diinginkan oleh nenek itu.


"Katakan, apa yang kau inginkan sebelum aku melakukan apa yang kau inginkan?" tanya Bitsy.


"Aku hanya ingin kau menyampaikan pesan pada kedua putraku saja!"


"Aku tidak memiliki banyak waktu untuk mendatangi dua tempat, Nenek!"


"Mereka tinggal bersama, aku hanya ingin kau menyampaikan pesanku dan ini adalah pesan untuk yang terakhir kali," pinta hantu nenek itu.


"Baiklah, mungkin aku tidak bisa melihatmu tapi aku bisa mendengar jadi katakan di mana aku harus pergi untuk menemui anakmu!"


"Aku tahu, pemuda itu!"


Bitsy mengangguk, tatapan matanya tertuju pada Edward yang sedang berlari ke arahnya. Bitsy tersenyum dan menghampiri pemuda itu, dia sudah seperti sedang dijemput oleh kekasih gagah nan tampan tapi anggap saja demikian, dia tidak menolak dengan kebersamaan mereka.

__ADS_1


"Kau berbicara dengan siapa?" tanya Edward dengan rasa ingin tahu yang sedari tadi dia rasakan.


"Dengan hantu tampan," jawab Bitsy asal.


"Apa kau bilang?" Edward tampak tidak senang.


"Aku hanya bercanda Tuan pecemburu. Bahkan kau pun cemburu dengan hantu."


"Tentu saja, kau adalah milikku jadi tidak ada yang boleh mendekati dirimu sekalipun itu hantu!"


"Aku hanya bercanda. Aku berbicara dengan hantu nenek itu. Sekarang waktunya kita pergi!" ajak Bitsy sambil menggandeng tangan Edward.


"Apa yang hantu itu inginkan, Bitsy? Dia tidak meminta hal yang aneh, bukan?"


"Tidak, dia hanya meminta aku menyampaikan pesan saja!"


"Baiklah, jika begitu. Ayo kita pergi. Misi ini lebih muda, aku tidak keberatan tapi jika ada yang ingin merasukimu, aku tidak akan mengijinkan apalagi merasukimu untuk bertemu dengan laki-laki!"


"Kau benar-benar pecemburu!"


"Tentu saja, sekarang ke mana kita akan pergi?" tanya Edward.


"Baiklah, ayo kita pergi!"


Bitsy mengangguk, dia menolak saat Edward memintanya untuk duduk di sisinya. Dia tidak akan bisa mendengar suara hantu nenek itu jika terlalu dekat dengan Edward oleh sebab itu dia berusaha berada cukup jauh seperti yang sebelumnya. Edward tidak senang tapi Bitsy berkata dia harus melakukannya. Tentunya Bitsy tidak mengatakan pada Edward akan kelebihan yang dia miliki.


Lagi-Lagi mereka pergi ke tempat yang sedikit jauh. Bitsy hanya mengikuti perkataan nenek tua itu sampai mereka tiba di sebuah rumah yang cukup sederhana. Bitsy meminta Edward menunggu di mobil agar dia bisa melihat hantu nenek itu.


"Apa benar di sini?" tanya Bitsy pada hantu nenek yang ada di sampingnya.


"Memang di sini, apa kau tidak mendengar suara perkelahian mereka? Aku sungguh sedih mendengar mereka bertengkar setiap hari oleh sebab itu aku tidak bisa beristirahat dengan tenang!"


"Baiklah, aku akan mencoba menyampaikannya pada mereka."


"Aku sangat berharap padamu, Nona."


"Tentu!" Bitsy melangkah maju dan setelah itu dia mengetuk pintu rumah itu di mana keributan masih saja terdengar.

__ADS_1


"Siapa?" terdengar suara teriakan dari dalam sana dan tidak lama kemudian pintu terbuka. Seorang pria yang cukup gemuk keluar, hantu nenek itu berkata jika itu adalah putra pertamanya.


"Apa maumu, Nona? Apa kau tidak lihat kami miskin? Kami tidak menerima sumbangan!" perkataan pedas itu tentu ditujukan untuk Bitsy.


"Bukan, aku ingin menyampaikan sebuah pesan padamu dan adikmu," ucap Bitsy.


"Pesan? Apa yang ingin kau sampaikan?"


"Pesan ini dari ibumu," ucap Bitsy.


"Apa? Jangan bercanda. Ibuku sudah lama meninggal!" pintu hendak ditutup tapi Bitsy berteriak mencegah,


"Ibumu bilang tidak ada harta seperti yang kalian ributkan!"


"Apa kau bilang?" tidak saja anak pertama nenek itu tapi anak keduanya juga sudah ada.


"Apa maksud perkataanmu, Nona?" tanya mareka.


"Ibumu berkata, yang dia maksud bukanlah harta berupa materi yang kalian sebutkan setiap hati. Dia memang berkata dia memiliki harta berharga tapi yang dia maksud adalah kalian berdua," ucap Bitsy.


"Dari mana kau tahu, nona?" tanya putra kedua dari nenek itu.


"Dia ada bersama denganku kalian mau percaya atau tidak. Dia meminta bantuanku untuk mengatakan perkataan ini. Harta yang dia maksud sudah pasti kalian berdua karena dia tidak memiliki harta apa pun selain kalian berdua. Karena kalian berdua selalu meributkan hal ini jadi dia tidak bisa beristirahat dengan tenang. Terserah kalian percaya atau tidak, tapi ibu kalian memang meminta aku mengatakan hal ini."


"Apa buktinya?" tanya kedua anak nenek itu.


"Nenek, dia meminta bukti!" ucap Bitsy. Hantu nenek tidak tinggal diam, hantu itu membuat keributan di dalam rumah sehingga membuat kedua putranya takut.


"Hentikan, hentikan!" teriak kedua anak nenek itu.


"Ibu kalian hanya ingin kalian hidup dengan rukun tapi kalian justru bertengkar karena harta. Dia ingin kalian berdua pergi bekerja, bukan mengharapkan warisan darinya. Kalian sudah dewasa, seharusnya pergi bekerja apalagi kalian memiliki keluarga tapi yang kalian lakukan hanya bertengkar setiap hari untuk memperebutkan harta saja. Kalian sungguh mengecewakan dan membuat ibu kalian sedih. Bagi seorang ibu harta yang paling berharga sudah pasti anaknya, apa kalian tidak mengerti? Hanya karena satu perkataan daru ibu kalian saja kalian bertengkar. Seharusnya kalian tahu, ibu kalian sangat menyayangi kalian tapi yang kalian pedulikan hanya harta saja!" ucap Bitsy tanpa bisa membendung air matanya karena tiba-tiba saja dia rindu dengan almarhum ibunya.


"Ini memang bukan urusanku tapi kalian telah membuat yang meninggal tidak bisa beristirahat dengan tenang sama sekali. Apa kalian tidak malu? Ibu kalian berada di sisi jalan hanya untuk mencari bantuan agar kalian berhenti bertengkar dan memperebutkan harta warisan!" ucap Bitsy lagi.


"Jad ibu kami tidak meninggalkan warisan?"


"Tidak ada karena kalianlah harta berharga yang dia miliki dan dia ingin kalian berubah. Ibu kalian pun ingin kalian pergi bekerja, bukan menunggu harta warisan!"

__ADS_1


Kedua kakak adik itu saling pandang, mereka pun terlihat menyesal dengan apa yang mereka lakukan. Bitys meresa misinya sudah cukup apalagi dia sudah menyampaikan apa yang hendak dia sampaikan. Bitsy berlari pergi sambil menangis, menuju mobil di mana Edward sudah menunggunya.


__ADS_2