Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
Tidak Ada Jalan Lain


__ADS_3

Semua tempat sudah dibongkar hanya untuk mencari sebuah charge ponsel tapi tidak juga ditemukan. Darko tampak putus asa karena ponsel yang dia miliki tidak bisa dia gunakan padahal dia sangat membutuhkan benda itu. Di rumah itu pun tidak ada telepon karena sudah lama ditinggalkan.


Sepertinya tidak ada cara lain selain menerjang badai untuk mendapatkan bantuan karena Bitsy tidak bisa didiamkan begitu saja. Seharusnya dia langsung pergi tanpa membuang waktu tapi sekarang, dia sudah hampir kehabisan waktu hanya untuk mencari charger ponsel karena waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.


"Tidak bisa, aku harus segera pergi mencari bantuan!" ucap Darko.


"Tapi cuaca semakin buruk, aku takut akan terjadi badai salju. Bagaimana jika kau terjebak di dalam badai, Darko?" iblis itu pura-pura mencegah padahal itulah yang dia harapkan sedari tadi.


"Aku tidak punya pilihan, Mia. Jika aku tidak segera mencari dokter, Bitsy tidak akan bertahan sampai besok pagi!"


"Tapi bagaimana jika kau mendapatkan celaka? Mau kau atau pun Bitsy, kalian berdua tidak akan selamat. Aku tidak bisa kehilangan kalian berdua sekaligus, Darko. Aku tidak bisa kehilangan Bitsy tapi aku juga tidak bisa kehilangan dirimu."


"Aku akan baik-baik saja, Mia. Jika terpaksa dan tidak memungkinkan, bawa Bitsy ke perapian agar dia merasa hangat. Kau harus berjanji padaku untuk selalu menjaga anak-anak saat aku pergi mencari bantuan!"


"Tidak, aku tidak bisa membiarkan kau pergi!" Mia menggeleng sambil menitikkan air mata palsu.


"Honey!" Darko memegangi bahu istrinya dan mengusap air matanya yang mengalir, "Kita adalah orangtua dan sebagai orangtua kita harus melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita. Segala ego harus kita singkirkan oleh sebab itulah aku membangkitkan dirimu dari kematian. Tidak saja untukku tapi aku juga melakukannya untuk ketiga anak kita karena mereka masih kecil dan sangat membutuhkan dirimu oleh sebab itu, aku harus menjadi ayah yang baik untuk Bitsy dan menerjang badai untuk menemukan dokter karena Bitsy sedang membutuhkannya."


"Tapi itu berbahaya, Darko. Kau tahu itu!"


"Mau sebesar apa pun bahaya yang aku hadapi, aku harus pergi. Kita tidak akan merubah apa pun hanya dengan berdiam diri, Honey."


"Seharusnya kita memiliki alat komunikasi di rumah ini, Darko. Gara-Gara kau membangkitkan aku, kita berada di dalam situasi yang tidak menyenangkan ini!"


"Ssst, jangan menyalahkan diri. Semua bukan gara-gara dirimu. Sekarang persiapkan apa yang aku butuhkan karena aku akan berangkat setelah ini. Aku harus menemui anak-anak terlebih dahulu sebelum pergi dan memberikan penjelasan pada mereka terutama Bitsy."

__ADS_1


"Aku rasa kau tidak perlu mengatakan kepergianmu padanya, Darko," ucap Mia.


"Kenapa?" Darko menatap istrinya dengan tatapan heran. Dia sungguh tidak mengerti kenapa istrinya meminta hal demikian padahal dia harus memberitahu putrinya jika dia harus pergi agar putrinya tidak mencari.


"Bitsy takut denganku, Darko. Dia pasti tidak akan mengijinkan dirimu pergi. Aku yakin dia akan mencegah jadi aku rasa sebaiknya kau tidak perlu mengatakan padanya jika kau harus pergi. Cukup katakan saja pada Angela sedangkan Bitsy Tidak perlu. Lagi pula dia sedang tidur, bukan? Tidak baik mengganggu tidurnya. Biarkan dia beristirahat, aku akan menjelaskan padanya saat dia sudah sadar nanti," dia harus mencegah agar Darko tidak berbicara dengan Bitsy karena gadis itu bisa mempengaruhi pikiran ayahnya sehingga Darko mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Baiklah, yang kau katakan sangatlah benar. Aku akan menjelaskan pada Angela saja jika aku harus pergi mencari dokter untuk Bitsy."


"Lakukanlah, aku akan menyiapkan semua yang diperlukan!" Mia mengusap bahu suaminya sebelum mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan. Iblis itu tentu saja tersenyum sambil berjalan pergi, cukup dengan kata-kata manis dan juga ekspresi menyedihkan maka sudah bisa meluluhkan Darko dengan mudah.


Mia masuk ke dalam kamar, untuk mempersiapkan apa yang dibutuhkan oleh Darko. Sebentar lagi, sebentar lagi dia akan makan malam. Pesta besar di mana tanpa ada yang mengganggu acara makan malamnya. Rasanya sudah tidak sabar, wangi darah lezat bahkan sudah bisa dia cium juga jiwa murni yang lezat.


Darko masuk ke dalam kamar Bitsy di mana Angela sedang menjaga kakaknya juga Rian. Bitsy memang sedang tidur karena obat yang dia konsumsi mengandung obat tidur. Darko melangkah dengan perlahan menghampiri putrinya yang sedang menepuk Rian untuk tidur.


"Apa Angela bisa duduk dengan Daddy sebentar?" pinta ayahnya.


"Ada apa, Dad?" Angela bangun dengan perlahan agar Rian yang tidur di sisinya tidak terbangun.


"Kemarilah," ayahnya duduk di lantai dan meminta Angela untuk duduk bersama.


"Ada apa?" Angela kembali menanyakan hal yang sama dan duduk di sisi ayahnya.


"Dengarkan perkataan Daddy. Daddy ingin kau menjaga adikmu dan juga menjaga kakakmu yang sedang sakit," pinta ayahnya.


"Daddy dan Mommy mau pergi ke mana?" tanya Angela.

__ADS_1


"Mommy tidak pergi, hanya Daddy saja. Daddy harus pergi mencari dokter untuk Bitsy karena keadaan Bitsy semakin memburuk."


"Tapi saljunya masih tebal, Dad. Bagaimana Daddy bisa pergi?"


"Angela tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, Daddy bisa mengatasinya tapi berjanjilah pada Daddy untuk menjaga kakak dan adikmu dengan baik!" Darko melihat Bitsy yang sedang tidur. Mendadak perkataan Bitsy tentang ibunya teringat. Apakah yang dikatakan oleh putrinya selama ini adalah benar? Entah kenapa hati kecilnya berkata agar dia tidak pergi meninggalkan ketiga anaknya namun apa yang dia rasakan harus dia tepis karena tidak ada jalan lain. Dia pun tidak mau terjadi apa pun pada Bitsy sehingga membuatnya menyesal karena tidak melakukan apa pun.


"Angela berjanji akan menjaga Bitsy dan Rian dengan baik, Daddy."


"Bagus tapi ingat satu pesan Daddy," Darko melihat ke arah pintu lalu dia meminta putrinya untuk mendekat menggunakan isyarat tangan. Angela mendekati ayahnya dengan perlahan lalu Darko berbisik di telinga putrinya agar tidak ada yang mendengar terutama Mia karena dia tidak mau membuat Mia tersinggung.


"Dengarkan Daddy. Bitsy takut dengan Mommy jadi jangan tinggalkan Bitsy berdua saja dengan Mommy. Sebisa mungkin kalian harus tetap bersama dan jangan terpisah. Setelah Daddy pergi, segera kunci pintunya dan kalian harus berhati-hati serta saling melindungi. Kau mengerti?"


"Mengerti, Daddy. Tapi kenapa Daddy meminta hal seperti itu? Apa Mommy benar-benar jahat seperti yang Bitsy katakan selama ini?"


"Tidak, Daddy hanya ingin kalian tetap bersama dan saling melindungi saja. Angela mau berjanji pada Daddy akan melakukannya, bukan?" entah kenapa dia meminta hal demikian.  Dia hanya takut apa yang dikatakan oleh Bitsy benar adanya. Mungkin perkataan Bitsy selama ini sudah meracuni pikirannya oleh sebab itu dia merasa berat meninggalkan ketiga anaknya dan merasa cemas meninggalkan mereka pada ibunya yang sudah dia bangkitkan dari kematian.


"Baiklah, Angela akan mendengarkan perkataan Daddy!" ucap Angela.


"Gadis pintar," Darko mengusap kepala putrinya dan kembali melihat ke arah Bitsy. Dia harus mendapatkan dokter untuk merawat putrinya, harus dia dapatkan.


"Setelah Daddy keluar, kau harus mengunci pintu kamar ini, oke?"


"Oke, Daddy!" Angela tersenyum, Darko kembali mengusap kepalanya. Rasanya jadi enggan untuk pergi, jika keadaan Bitsy tidak memburuk, dia lebih suka tidak pergi ke mana pun apalagi di tengah cuaca yang tidak bersahabat.


Darko beranjak dengan perasaan enggan, namun dia harus. Sesuai dengan perkataan ayahnya, Angela mengunci pintu seperti yang ayahnya perintahkan. Meski dia tidak tahu untuk apa tapi dia tetap melakukannya yaitu mengunci pintu dan kembali berbaring dengan adiknya.

__ADS_1


__ADS_2