
Segala yang dibutuhkan oleh Darko sudah dipersiapkan oleh Mia. Pakaian dingin, dua tongkat dan benda lainnya. Darko yang baru saja keluar dari dalam kamar putrinya bergegas masuk ke kamarnya karena dia harus memakai pakaian berlapis-lapis agar dia tidak terlalu merasa dingin nantinya.
Segala sesuatu harus dipersiapkan dengan matang, Darko bahkan membawa kompas serta ponsel yang tidak bisa menyala. Dia akan meminjam charger saat bertemu dengan rumah seseorang untuk mengaktifkan benda itu karena dia bisa langsung menghubungi 911 tanpa perlu bersusah payah mencari dokter di tempat yang tidak dia tahu. Meski dia lahir dan tumbuh di tempat itu tapi semua sudah berubah selama puluhan tahun sehingga membuatnya asing.
Entah sudah berapa lapis pakaian yang dia kenakan, dia tidak tahu yang pasti sudah sangat tebal. Pakaian hangat yang berbulu dikenakan, sarung tangan dan yang lain-lain. Dia pun akan menggunakan penutup wajah dan sebuah kaca mata yang biasa digunakan untuk bermain ski. Sekarang dia sudah siap menerjang badai salju yang ada di luar sana untuk mencari dokter atau pun bantuan.
Mia sedang berada di dalam dapur, membuat sup untuk Darko. Itu bukan sup biasa, itu adalah sup istimewa yang dia buat spesial untuk Darko. Mia mengaduk sup tersebut menggunakan jarinya yang berkuku panjang dan hitam. Mia bahkan membaca sebuah mantra lalu air ludahnya dilelehkan ke dalam sup beserta beberapa ulat yang keluar dari mulut bersama dengan air liurnya. Darko tidak boleh cepat kembali karena dia akan menikmati hidangan lezatnya tanpa gangguan dan saat Darko kembali, pria itu adalah makanan penutupnya.
"Mia, apa aku sudah mempersiapkan semua yang aku perlukan?" Darko keluar dari kamar untuk mencari istrinya. Mia buru-buru, jangan sampai Darko melihat apa yang dia lakukan. Sup yang sudah jadi segera dimasukkan ke dalam mangkuk karena Darko harus minum sup itu sebelum pergi.
"Mia, di mana kau? Apa kau sudah menyiapkan semua yang aku butuhkan?"
"Tentu saja tapi sebelum pergi aku ingin kau makan sup ini terlebih dahulu!" Mia keluar dari dapur sambil membawa supnya.
"Kenapa merepotkan diri seperti itu? Aku hanya pergi sebentar saja, tidak akan lama!"
"Aku khawatir, Darko. Cuaca begitu buruk jadi aku khawatir. Minumlah sup ini agar tubuhmu hangat," Mia memberikan mangkuk sup pada Darko. Pria itu tidak boleh menolak karena dia harus melakukannya. Sup itu akan membuatnya berhalusinasi sehingga tersesat di badai salju. Bagaimanapun dia ingin Darko kembali esok pagi dan tidak boleh mengganggu malamnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Honey. Kau masih saja menyibukkan diri untuk membuatkan aku sup," Darko sudah mengambilnya, lagi pula dia tidak bisa menolak pemberian dari Mia.
"Bagaimana dengan anak-anak?" tanya Mia.
"Sudah tidur jadi sebelum mereka bangun dan merepotkan dirimu, buatlah makanan terlebih dahulu agar mereka tidak menyulitkan dirimu nantinya."
"Aku akan melakukannya, sekarang minum supnya selagi hangat."
"Kau benar, aku hampir melupakannya!" Darko meminum sup yang ada di dalam mangkuk sampai habis. Rasanya sedikit aneh tapi dia tidak curiga sama sekali dengan rasa yang tidak biasa.
"Terima kasih, Honey. Aku sudah harus pergi."
"Tidak perlu khawatir, aku pasti akan kembali!" Darko memeluknya erat, dia harap Mia dapat menjaga anak-anak mereka dengan baik dan dia pun berharap apa yang Bitsy katakan selama ini tentang ibunya tidak benar karena sedari tadi dia jadi memikirkan hal itu.
"Aku akan menjaga mereka dengan sebaik mungkin!" Mia pun memeluknya namun senyuman liciknya menghiasi wajah.
"Jika begitu aku pergi, jangan mengganggu anak-anak karena mereka sedang tidur," Darko melepaskan Mia dari pelukannya, sudah begitu sore jadi dia harus bergegas agar bantuan segera dia dapatkan.
__ADS_1
Mia mengikuti langkah Darko di mana pria itu melangkah mendekati tas ransel yang sudah disiapkan olehnya. Darko bahkan memeriksa isi tas itu karena dia takut ada yang tertinggal dan setelah memastikannya, Darko membawa ransel itu di punggung dan keluar dari rumah.
Angin dingin berhembus dengan dingin, salju tak kunjung berhenti yang membuat keadaan semakin dingin. Darko mengikat tali pakaian hangatnya sekencang mungkin, semoga semua bisa sesuai dengan harapan tapi yang paling dia khawatirkan adalah ketiga anaknya.
"Aku pergi!" ucap Darko sebelum dia melangkahkan kaki meninggalkan rumah itu.
"Berhati-hatilah, Darko," Mia mengantar sambil memperlihatkan ekspresi khawatirnya untuk menarik perhatian dari Darko.
"Aku baik-baik saja, oke? Jaga mereka baik-baik." pinta Darko.
"Pasti!" Mia melambai, Darko pun mulai melangkah pergi menerjang salju yang turun dengan derasnya. Meski kedua kakinya harus tertanam cukup dalam di dalam salju tapi dia tidak menyerah untuk terus melangkah pergi agar dia bisa mendapatkan bantuan untuk putrinya.
Mia masih tersenyum sambil melambai namun senyumannya sirna dan lambaiannya terhenti. Kedua bola matanya berkilat, seperti ada cahaya. Seringai pun menghiasi wajahnya. Akhirnya, sebentar lagi makan malamnya akan segera tiba. Sekarang, dari mana dia harus memulai? Mia mengibaskan satu tangannya dan setelah itu, Badai salju semakin menjadi.
Darko yang sudah pergi merasa sudah melangkah cukup jauh. Setiap kali kakinya membenam ke dalam salju sulit dia angkat akibat tumpukan salju yang cukup tebal. Angin yang bertiup dengan kencang pun membuatnya kesulitan untuk melangkah satu langkah lebih maju. Dia harus bisa, harus berjuang untuk mencari bantuan. Putrinya menunggu, istrinya juga.
Darko berpaling, dia yakin masih bisa melihat rumahnya namun dia terkejut karena rumahnya sudah tidak ada lagi. Darko berpaling ke kanan, lalu ke kiri. Dia tampak bingung karena sekitarnya adalah hutan. Aneh, kenapa rumahnya mendadak hilang ? Kenapa semua yang terlihat hanya hutan? Dia yakin belum terlalu jauh dan jikalau jauh pun dia bisa melihat rumahnya.
__ADS_1
"Mia!" Darko melihat sekitar yang sama, mendadak dia merasa seperti tersesat di tengah hutan yang sama. Kini dia melangkah dengan susah payah namun semua yang terlihat sama. Darko kebingungan, apa yang terjadi sebenarnya? Perkataan-Perkataan Bitsy akan ibunya yang ingin memakan mereka berputar di ingatannya. Sial, sekarang dia terjebak di badai salju dan jangan katakan semua yang terjadi adalah siasat Mia untuk memisahkan dirinya dari anak-anak tapi bagaimana mungkin? Dia sangat yakin jika yang dia bangkitkan adalah Mia karena Mia tidak pernah menunjukkan keanehan ataukah ada sosok yang lain? Akibat yang sedang dia alami, semua perkataan Bitsy berputar diingatan yang semakin memperburuk keadaan.
"Mia!" Darko kembali berteriak tanpa sadar jika dia sedang berhalusinasi akibat sup yang baru saja dia konsumsi. Mia tertawa mengerikan sambil mengasah pisau agar semakin tajam. Akhirnya, akhirnya tinggal dirinya dan anak-anak. Rencananya memisahkan Darko dengan anak-anaknya berjalan dengan lancar. Mata pisau yang sudah berkilat menandakan jika sudah tajam diangkat, iblis itu tersenyum lalu menjilati mata pisau yang sangat tajam. Dari mana dia memulai, apakah dari yang kecil ataukah dari? Sepertinya sangat menarik memperlihatkan Bitsy yang tidak berdaya dan mempertontonkan bagaimana adiknya di makan. Jiwa gadis itu akan semakin ketakutan dan tentunya jiwa seperti itu adalah jiwa yang sangat lezat.