
Keadaan Bitsy dan Angela memburuk, begitu juga Rian namun keadaan Bitsy yang paling buruk karena dia berjuang keras menyelamatkan kedua adiknya dari incaran iblis yang ada di dalam tubuh ibunya. Keadaannya yang memang sudah buruk semakin memburuk saja. Tidak saja akibat luka di bahu tapi akibat kedinginan saat di luar di mana dia harus memeluk kedua adiknya supaya hangat.
Seorang dokter sedang sibuk di dalam ruangan gawat darurat untuk menangani Bitsy yang sedang kritis karena dia sudah mengalami gejala Hipotermia tahap akhir di mana kondisinya sudah sangat buruk dan bisa menyebabkan kematian.
Angela dan Rian mengalami gejala tahap kedua sehingga mereka tidak mengalami apa yang sedang Bitsy alami. Beruntungnya mereka cepat dibawa karena terlambat sedikit saja mereka tidak akan bisa tertolong lagi apalagi keadaan Bitsy sudah membiru dengan suhu tubuh kurang dari dua puluh delapan selcius.
Nadia menunggu dengan perasaan cemas, dia harap Bitsy dapat bertahan. Keadaan Angela dan Rian tidak perlu dikhawatirkan lagi tapi keadaan Bitsy sangat memprihatinkan apalagi sampai sekarang belum ada kabar bagaimana dengan keadaan Bitys.
Selain mencemaskan keadaan Bitsy, Nadia juga mencemaskan keadaan suami dan kakaknya yang belum kembali karena begitu mereka tiba di rumah sakit, Nadia langsung meminta suaminya untuk pergi membantu kakaknya. Dia harap iblis yang berada di dalam tubuh kakak iparnya dapat teratasi sehingga tidak menjadi meneror anak-anak lagi.
Darko dan Erick yang sudah tiba segera bergegas menuju ruangan gawat darurat setelah mereka tahu dari seorang perawat jika Bitsy masih berusaha di selamatkan. Suara dokter yang sedang sibuk menghitung karena sedang menggunakan kejut jantung membuat langkah Darko terhenti.
Nadia berlari dan memeluk suaminya sambil menangis. Kabar buruk yang baru saja dia dapatkan dan kabar itu mengatakan jika Bitsy mengalami gagal jantung akibat hipotermia membuatnya jadi seperti itu.
"One.. two!" suara teriakan seorang dokter disusul dengan teriakan lain yang terdengar membuat Darko jatuh berlutut di depan ruangan dengan air mata berderai.
Bitsy sudah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, Bitsy sudah mengatakan jika ibu yang bersama dengan mereka saat ini bukanlah ibunya tapi dia tidak mempercayai perkataan putrinya sendiri. Rasa sesal menyesakkan dada dan dia harap putrinya bisa selamat.
"Semua ini gara-gara kau!" Nadia memukul Darko dan menendangnya, "Gara-Gara kau telah mengundang iblis itu!" teriaknya lagi.
"Sttss, jangan berteriak. Semua sudah terjadi!" Erick menarik Nadia dan memeluknya, "Kita hanya bisa berdoa semoga ada keajaiban untuk Bitsy," ucap suaminya lagi.
"Aku benar-benar tidak menyangka ada pria segila dirinya, Erick. Aku sungguh kecewa!" Nadia mengusap air matanya yang mengalir akibat emosi.
"Kita bawa mereka setelah ini, kita bawa mereka tinggal di Belanda!"
"Tidak boleh!" Darko hampir berteriak saat menjawab itu. Darko beranjak dan menghampiri Nadia dan Erick, mereka berdua melangkah mundur karena kedua mata Darko yang memerah dan terlihat menakutkan.
"Aku tidak akan mengijinkan kalian berdua membawa ketiga anakku! Tidak ada yang boleh membawa mereka dariku!" ucapnya.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Nadia. Kakaknya terlihat aneh, tidak seperti ketika mereka tinggalkan saat di hutan.
"Sudahlah, kita bahas ini nanti. Sekarang lebih baik kita mengkhawatirkan keadaan Bitsy," Erick mendorong Darko menjauh agar tidak mencelakai istrinya karena emosi pria itu tampak tidak stabil.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Nadia.
"Entahlah, dia memang sedikit aneh saat aku temukan."
"Bagaimana dengan kakak ipar, apa dia sudah menyingkirkannya?"
"Sepertinya sudah dia makamkan karena ada gundukan tanah dengan sebuah pancang salib."
"Tapi kenapa keadaannya aneh seperti itu? Apa dia tidak rela oleh sebab itu dia jadi seperti itu?" tanya Nadia lagi.
"Aku tidak tahu, kita akan mencari tahu nanti!" Erick melihat kakak iparnya yang sedang duduk di kursi dan terlihat termenung.
Nadia juga melihat kakaknya dengan tatapan heran, jangan katakan iblis itu tidak lenyap. Sebaiknya mereka tetap berhati-hati karena kakaknya terlihat berbeda. Tapi mereka harus mengesampingkan hal itu karena seorang perawat keluar dari ruangan dengan terburu-buru.
"Bagaimana dengan putriku?" tanya Darko dan perawat itu menggeleng lalu berlari pergi untuk mengambil sesuatu.
Bitsy sempat sadar sebentar tapi dia kembali mengalami gagal jantung oleh sebab itu dokter kembali menggunakan alat pemicu jantung. Suara mesin yang mendeteksi kinerja jantung berbunyi, gelombang kecil dan garis lurus terlihat yang menandakan jika jantung Bitsy tidak bekerja dengan baik.
"Ayolah anak manis, berjuang untuk kedua adikmu!" ucap sang dokter sambil berusaha memberikan kejut jantung ke dada Bitsy.
"Mommy?" Bitsy memanggil ibunya dan mendongak untuk memastikan apakah yang bersama dengannya saat ini ibunya atau bukan.
"Mommy senang dapat bertemu dengan Bitsy lagi!" Mia berjongkok lalu memeluk putrinya, "Terima kasih Bitsy sudah berjuang untuk menyelamatkan kedua adik Bitsy. Mommy sangat bangga pada Bitsy yang bisa melindungi Angela dan Rian sampai akhir."
"Bitsy rindu dengan Mommy!" Bitsy pun memeluk ibunya dengan erat.
"Mommy juga merindukan Bitsy. Maaf Mommy tidak bisa membantu Bitsy melawan iblis jahat itu."
"Apakah iblis itu sudah pergi, Mom?"
"Tidak, berhati-hatilah dengan orang yang ada di sekitar Bitsy dan jagalah kedua adik Bitsy dengan baik karena iblis itu masih menginginkan Rian dan Angela."
"Bitsy sudah lelah, Mom. Bitsy mau ikut dengan Mommy saja!"
__ADS_1
"Tidak boleh, Sayang. Jika kau ikut dengan Mommy lalu bagaimana dengan Angela dan Rian? Mereka membutuhkan kakak hebat seperti dirimu."
"Tapi Bitsy ingin pergi dengan Mommy!"
"Jika Bitsy ikut dengan Mommy, lalu siapa yang menjaga Rian dan Angela?" ibunya kembali mengulangi perkataan yang sama.
"Apa Daddy tidak bisa menjaga mereka?"
"Bisa, tapi iblis itu masih mengincar jadi Bitsy masih harus menjaga kedua adik Bitsy."
"Tapi Bitsy tidak mau kembali!" Bitsy tidak mau melepaskan ibunya dari pelukan, "Bitsy mau bersama dengan Mommy!"
"Maaf, Sayang. Kau belum bisa ikut. Lagi-Lagi Mommy tidak bisa membantu karena Mommy sudah harus pergi. Bitsy harus kembali karena ada yang menunggu Bitsy!"
"Tidak mau, Mom. Tidak mau!" Bitsy menangis karena dia tidak mau kembali tapi dia harus kembali mau tidak mau.
"Mommy sangat menyayangi Bitsy juga Angela serta Rian. Tolong gantikan Mommy menjaga mereka baik-baik!" sebuah ciuman diberikan di pipi Bitsy sebelum mereka berpisah.
"Jangan tinggalkan Bitsy, Mommy. Jangan pergi!" pinta Bitsy namun sosok ibunya sudah bercahaya dan terlihat memudar sedikit demi sedikit.
"Maaf, sayang. Waktu Mommy sudah habis!"
"Bitsy sayang dengan Mommy, Bitsy sayang dengan Mommy!" Bitsy berteriak sambil menangis namun pandangannya mendadak buram. Taman bunga yang dia lihat hilang secara mendadak di ganti dengan cahaya putih yang sangat menyilaukan.
"Dia membuka matanya, cepat!" teriak dokter yang menangani dirinya. Setelah beberapa kali melakukan tindakan untuk mengembalikan denyut jantung, mereka berhasil membawa Bitsy kembali bahkan anak itu sudah mulai sadarkan diri.
"Mommy... Mommy!" Bitsy memanggil ibunya yang sudah tidak terlihat lagi.
"Ibumu ada di luar, nanti kau akan bertemu dengannya!" ucap sang perawat karena dia mengira Nadia adalah ibu Bitsy.
"Mana Angela dan Rian?" tanya Bitsy lagi dengan suara lemah.
"Kedua adikmu baik-baik saja, tidak perlu khawatir."
__ADS_1
Bitsy diam saja, tatapan mata melihat lampu yang cukup terang di atasnya. Padahal dia mau ikut ibunya pergi, tapi kenapa tidak boleh? Tapi kenapa ibunya berkata iblis itu masih mengincar? Apa iblis itu masih ada?
Nadia dan Erick sangat lega mendengar jika keadaan Bitsy sudah baik-baik saja dan sudah sadar. Mereka sudah tidak sabar menunggu dan melihat keadaan Bitsy. Darko juga sudah tidak sabar melihat keadaan Bitsy bahkan kedua bola matanya berkilat merah dan senyuman aneh terukir dari bibirnya.