Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
La Lionora 27


__ADS_3

Bitsy sudah tidak tahan dengan kelakuan La Lionora yang membuat kekacauan di kamarnya. Dia harus segera menemukan petunjuk akan keterlibatan Acton Adam dalam kematian La Lionora agar hantu bertemperamen buruk itu tidak membuat kekacauan lagi di dalam kamarnya tapi dia tahu jika dia tidak bisa sendirian.


Bitsy membutuhkan Edward dalam menyelesaikan permasalahan ini karena dia takut Acton Adam lebih berbahaya dari pada Martin. Semoga saja Edward masih bersedia membantu dirinya untuk menyelesaikan misi itu. karena mereka harus pergi bekerja nanti jadi Bitsy bangun lebih pagi. Jam lima pagi dia sudah pergi ke kamar Edward untuk berbicara dengannya. Mungkin saja Edward memiliki solusi, bagaimanapun Edward lebih tahu kota itu dari pada dirinya jadi dia pasti tahu kediaman Acton Adam.


Sebuah laptop Bitsy bawa, benda itu akan dia gunakan karena dia ini menunjukkan rumah Acton pada Edward. Karena La Lionora hanya menunjukkan gambar saja oleh sebab itu dia seperti orang buta. Rasanya tidak enak hati mengganggu Edward sepagi itu tapi dia tidak memiliki pilihan karena mereka berdua sama-sama sibuk bekerja. Mendadak dia jadi penasaran dengan pekerjaan Edward. Apakah dia seorang pengusaha ataukah?


Bitsy sudah mengetuk pintu rumah Edward. Pandangannya melihat sekitar karena sepi, Dia bahkan tidak berani mengangkat wajah saat berada di dalam lift karena hantu wanita yang ada di dalam lift itu. Bitsy kembali mengetuk pintu dan berharap Edward segera membukanya karena dia takut dengan lorong yang gelap dan menakutkan.


"Edward!" kini dia mulai memanggil. Bitsy bahkan mengambil ponsel untuk menghubungi Edward. Mungkin jarak antara pintu dan kamar yang cukup jauh membuat Edward tidak mendengar apa lagi dia masih tidur.


Dering ponsel yang berbunyi mengejutkan Edward. Ponsel yang ada di atas meja pun segera diambil. Edward terkejut melihat nama Bitsy tertera. Tentu dia tidak membuang waktu karena dia mencemaskan kekasih hatinya itu.


"Kenapa kau menghubungi aku sepagi ini? Apa terjadi sesuatu?"


"Maaf mengganggu waktumu, Edward. Aku berada di depan rumahmu saat ini!"


"Apa?" Edward terkejut dan bergegas turun dari atas ranjang, "Tunggu di sana!" perintahnya seraya melangkah keluar dengan cepat.


Bitsy yang menunggu sudah sangat tidak sabar, dia bahkan tidak berani melihat lorong gelap dan sisi ruangan. Semoga saja Edward cepat membuka pintu. Seharusnya dia tidak keluar di saat semua orang sedang terlelap tapi semua gara-gara ulah hantu La Lionora. Rasa takutnya semakin menjadi oleh sebab itu, ketika Edward membuka pintu, Bitsy memeluknya tanpa ragu.


"Wow, Nona. Datang sepagi ini lalu memeluk aku. Apa kau membutuhkan kehangatan tubuhku?" goda Edward.


"Sembarangan, aku takut karena kau begitu lama!"


"Apa yang membuatmu datang sepagi ini?" Bitsy sudah berada di dalam gendongannya dalam sekejap mata. Edward mengunci pintu dan membawa Bitsy ke sofa. Sepertinya ada hal penting yang Bitsy inginkan karena dia membawa laptop.


"Ada hal penting yang hendak aku bicarakan padamu, Edward!"

__ADS_1


"Baiklah, tunggu di sini!" Edward menurunkan Bitsy dari gendongannya, "Aku akan kembali setelah mencuci muka," ucapnya seraya memberikan kecupan lembut di pipi Bitsy.


Bitsy mengangguk, beruntungnya ada pria itu karena jika tidak, dia pasti berada di dalam masalah besar. Edward melangkah pergi, sedangkan Bitsy menyalakan laptop miliknya. Tidak menunggu lama, Edward sudah kembali dengan dua gelas kopi di tangan.


"Apa yang ingin kau bicarakan sehingga kau datang sepagi ini?" kopi diletakkan, Edward duduk di sisi Bitsy dan menarik gadis itu mendekat.


"Aku ingin meminta bantuanmu untuk mencari tahu akan keberadaan Acton Adam, Edward. Kau lebih mengenal kota ini, kau tidak keberatan membantu aku, bukan? Maaf, aku membangunkan dirimu sepagi ini dan melibatkan dirimu dalam masalahku," Bitsy menunduk, dia benar-benar tidak enak hati.


"Bodoh, kau calon istriku sudah pasti aku akan membantumu jadi jangan merasa tidak enak hari seperti itu!"


"Calon istri? Bukankah aku hanya setuju menjadi pacarmu saja?" Bitsy memandangi Edward sambil memperlihatkan ekspresi bingungnya.


"Aku bertanya apakah kau mau menjadi pacar atau istriku dan kau menjawab dengan anggukan jadi anggukan yang kau berikan itu untuk kedua permintaanku. Antara pacar dan istri ada calon istri jadi kau bersedia menjadi calon istriku!"


"Apa? Dasar kau curang?!"


"Tolong bantu aku mencari keberadaan Acton Adam, aku harus bertemu dengannya untuk mencari informasi. Hantu La Lionora berkata dia tinggal di sini," Bitsy menunjukkan gambar yang ada di layar laptopnya, "Kau tahu perumahan ini dan perusahaan ini, bukan?" kini gambar diganti menjadi perusahaan milik Acton Adam.


"Untuk apa kau langsung menemuinya? Itu sangat berbahaya karena kita tidak tahu siapa pria ini!"


"Lalu? Apa kau ada cara lain? Aku datang memang ingin meminta solusi padamu. Mungkin kau bisa memberikan aku solusi yang jauh lebih baik."


Edward berpikir sejenak, dia tidak mau Bitsy bertemu dengan pria itu begitu saja tapi jika mereka ingin mencari tahu berarti mereka harus menemui Acton Adam. Tidak mungkin mereka langsung menemui pria itu di rumahnya karena akan membuat Acton curiga.


"Begini saja, serahkan semua ini padaku. Aku akan mencari cara agar kita bisa bertemu dengannya tanpa dicurigai olehnya. Aku akan meminta bantuan seseorang agar kita bisa bertemu dengannya jadi serahkan semua ini padaku," ucap Edward.


"Aku benar-benar merepotkan dirimu, Edward. Terima kasih sudah membantu aku!"

__ADS_1


"Sstt," Edward mengangkat dagu Bitsy, dia mau melakukan hal itu tentu hanya untuk Bitsy seorang.


"Aku menginginkan imbalannya, Sayang. Bolehkah aku?" Edward mendekatkan bibir mereka berdua, kedua mata Bitsy melotot dan jantungnya berdegup dengan kencang. Napas Edward menerpa wajahnya, kini Bitsy menutup kedua matanya dengan rapat. Tidak benar, apakah ciuman pertamanya akan terjadi hari ini?


Jantung Bitsy semakin berdegup, bibir Edward pun semakin dekat. Bitsy yang belum pernah merasakan manisnya percintaan apalagi sebuah ciuman begitu gugup hingga pada akhirnya, Bitsy menutup mulut Edward dengan terburu-buru.


"Kopinya sudah dingin!" teriaknya.


"Apa?"


"Ko-Kopinya tidak enak jika sudah dingin," ucap Bitsy beralasan.


"Ck, abaikan kopinya, Sayang!" Edward hendak menarik Bitsy mendekat tapi Bitsy sudah mengambil gelas kopi dan menyeruputnya begitu saja padahal kopi itu masih dalam keadaan panas. Bitsy berteriak, lidahnya jadi terbakar. gelas kopi diletakkan dengan terburu-buru, benar-benar tindakan yang gegabah.


"Pa-Panas!" teriaknya sambil mengipas lidah yang dia julurkan keluar.


"Kau lihat? Kopi panas itu tidak enak!"


"Ini gara-gara dirimu!" ucap Bitsy yang masih mengipas lidahnya.


"Coba aku lihat!" Edward sudah memegangi wajah Bitsy dan melihat lidahnya yang memerah.


"Aku akan mengambilkan es batu. Lain kali jangan terlalu gegabah!"


"Maaf," ucap Bitsy.


"Tunggu di sini baik-baik!" Edward beranjak karena dia ingin mengambil es batu, Bitsy memandangi kepergiannya dan memegangi lidahnya. Semua gara-gara kopi super panas itu tapi juga gara-gara Edward yang ingin menciumnya.

__ADS_1


Mereka sudah menjadi sepasang kekasih, memang sudah sepantasnya mereka berciuman tapi bagaimana caranya? Sepertinya dia harus melihat tutorialnya terlebih dahulu agar dia tahu bagaimana caranya berciuman. Wajah Bitsy memerah dan ketika Edward kembali, tatapan mata Bitsy justru tertuju bibir Edward. Bitsy semakin malu dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Menyebalkan, semoga saja tidak ada yang tahu pikiran tidak senonohnya itu terutama Edward.


__ADS_2