
Salju yang tak juga kunjung berhenti jatuh ke bumi tak menghalangi Nadia dan Erick untuk mencari keberadaan kakaknya dan ketiga anaknya. Mereka berdua sudah cukup mencari di mana kemungkinan Darko membawa keluarganya sampai pada akhirnya peternakan menjadi tujuan akhir mereka.
Selain tempat itu, Nadia merasa tidak ada tempat lain lagi yang menjadi tempat untuk Darko pergi karena itu rumah peninggalan kedua orangtua mereka tapi pergi ke tempat itu tidaklah mudah karena mereka harus menerjang badai salju serta melewati jalanan yang tertutup oleh salju.
Mungkin hanya mereka berdua saja yang cukup gila menerjang badai salju di tengah cuaca ekstrem yang semakin memburuk tapi mereka harus melakukannya karena mereka khawatir dengan sesuatu yang telah dibangkitkan oleh Darko. Meski belum terbukti kebenarannya tapi rasa tidak nyaman itu sudah dirasakan oleh Nadia sebelum mereka datang.
Mobil mereka harus melewati salju yang cukup tebal dan untuk menghindari roda tergelincir atau sebagainya, Mereka menyewa sebuah mobil jeep karena mobil itu memiliki roda yang cukup besar. Mereka juga membeli senjata api untuk berjaga-jaga. Entah apa yang sedang mereka lawan nanti yang pasti mereka harus waspada.
Akibat salju membuat mereka tidak bisa membawa mobil dengan kecepatan tinggi, sungguh medan yang cukup sulit apalagi perjalanan yang cukup jauh. Mereka bahkan berangkat begitu mendapatkan mobil. Meski sudah hampir sepuluh jam mereka menempuh perjalanan tapi mereka belum juga tiba di tempat tujuan.
"Sial, salju semakin tebal saja!" Nadia semakin cemas dan tidak sabar.
"Kita pasti sampai, masih berapa jauh lagi perjalana yang harus kita tempuh?" tanya Erick karena dia belum pernah pergi ke rumah peninggalan orangtua Nadia.
Nadia melihat peta, cuaca buruk pun membuat jaringan internet tidak bagus. Entah sudah berapa jauh mereka dan entah sudah mau sampai atau tidak mereka tidak tahu. Nadia bahkan kebingungan karena semua tertutup oleh salju yang tebal.
"Terus saja, sekarang kita hanya bisa menggunakan insting kita saja!" ucap Nadia.
"Semoga kita tidak tersesat!" ucap Erick.
"Aku masih ingat jalannya, tidak perlu khawatir!"
"Baiklah, aku harap kita segera tiba untuk menyelamatkan anak-anak!"
"Aku juga berharap demikian!" ucap Nadia.
Mereka berdua terlihat cemas, Erick membawa mobilnya sehati-hati mungkin agar tidak tergelincir. Mereka kembali menempuh perjalanan beberapa jam lamanya. Nadia bahkan sampai mengantuk namun sesuatu yang lewat dari kegelapan dan hampir saja mereka tabrak membuat mereka terkejut. Erick menginjak rem mobil secara mendadak, Nadia berteriak karena mobil itu berputar di jalanan beberapa kali akibat mendadak di hentikan secara tiba-tiba. Mobil itu terhenti dan menerjang salju, Erick dan Nadia bahkan harus mengalami benturan di bagian dahi.
"Apa yang terjadi?" tanya Nadia.
"Sesuatu baru saja lewat!"
__ADS_1
"Apa kau menabraknya?"
"Entahlah, sebaiknya kita periksa!" Erick mengambil sepucuk senjata api, Nadia pun melakukan hal yang sama. Mereka juga mengambil senter sebagai alat penerang karena lokasi yang cukup gelap.
Mereka keluar dari mobil lalu melangkah mendekat ke arah di mana Erick melihat ada sesuatu yang melintas secara tiba-tiba. Jejak sepasang kaki berada di atas salju, Nadia dan suaminya pun saling pandang. Mereka mengikuti jejak tersebut sampai berada di sisi jalan lalu mereka terkejut mendapati seorang pria seperti kebingungan mencari jalan.
"Di mana, di mana rumahku?" gumam pria itu dapat mereka dengar.
Senjata api yang ada di tangan diangkat tinggi, Erick dan istrinya melangkah mendekati pria yang tampak linglung. Pria itu bahkan tidak melihat mereka, pandangannya seolah-olah tertutup dan pria itu adalah Darko. Karena Darko menutupi wajahnya menggunakan kain jadi Nadia tidak mengenali dirinya. Keadaan yang tidak memungkinkan memang bisa membekukan apa saja bahkan bunga es sudah berada di alis Darko akibat terlalu lama berada di luar.
Dia sudah lelah mencari, mencari keberadaan rumahnya tapi yang dia lihat memang hanya ada hutan. Dia bahkan tidak melihat ada mobil yang melintas serta tidak melihat Nadia dan Erick akibat halusinasi yang dia alami. Suasana yang gelap juga membuatnya berlari sesuka hati. Ransel yang dia bawa bahkan sudah dia tinggalkan entah ke mana.
"Sir," Nadia memanggil namun Darko tidak mendengar bahkan dia melangkah ke sana kemari untuk mencariĀ keberadaan rumah yang dia tinggalkan dan dia merasa belum jauh.
"Sir, are you oke?" tanya Nadia. Dia dan suaminya melangkah maju karena mereka ingin melihat apa yang terjadi pada pria aneh itu.
"Sir?" Nadia sangat heran apalagi pria itu hanya bergumam akan rumahnya.
"Apa maksudmu?"
"Dia seperti tidak menyadari keberadaan kita!"
Nadia melihat pria yang masih dia anggap asing, apakah pria itu buta ataukah? Salju pun diambil lalu dibuat seperti bola dan setelah itu Nadia melemparkan bola salju itu ke arah kakaknya sehingga mengenai kepala kakaknya.
"Siapa yang melempar?" Darko menurunkan kain yang menutupi wajahnya, Nadia pun terkejut setelah melihatnya.
"Kakak!" Nadia berlari mendekat namun Darko masih tidak menyadari keberadaannya.
"Kakak, ini aku!" ucap Nadia namun Darko hanya seperti orang bodoh yang terus mencari sesuatu yang tidak bisa dia lihat.
"Minggir Nadia!" pinta Erick pada istrinya. Erick melangkah maju, sedangkan Nadia mundur ke belakang. Erick mendekati Darko dan pada saat itu, Bhuukkkk!! Sebuah pukulan mendarat di wajah Darko.
__ADS_1
Darko terkejut dan terhuyung ke belakang, sedangkan Nadia berlari menghampiri suaminya yang tiba-tiba saja memukul kakaknya tanpa sebab.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Nadia.
"Beraninya kau memukul aku?" teriak Darko. Kepalanya diangkat, kini kedua matanya terbuka lebar karena mendadak dia bisa melihat Erick dan Nadia.
"Erick, Nadia" Darko sangat heran mendapati adik dan suaminya berada di sana.
"Kakak, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Nadia.
"Aku?" Darko melihat sekitar, apa yang dia lakukan? Bukankah dia sedang pergi mencari bantuan untuk putrinya tapi apa yang terjadi? Darko masih diam namun mendadak dia teringat dengan apa yang baru saja dia alami. Dia kehilangan arah dan tersesat di badai salju. Kini dia bisa mengingat apa yang terjadi karena dia tidak berhalusinasi lagi akibat satu pukulan yang diberikan oleh Erick.
"Sial, aku mencari bantuan untuk putriku tapi aku justru tersesat!" ucapnya seraya beranjak.
"Kak, katakan padaku. Apa yang telah kau bangkitkan?" tanya Nadia tanpa basa basi.
"Apa maksud perkataanmu?" Darko pura-pura tidak mengerti dan dia tampak heran karena Nadia membahas soal kebangkitan yang tidak pernah dia katakan pada siapa pun.
"Jujur saja padaku, apa yang telah kau lakukan pada istrimu? Kakak ipar datang padaku hampir setiap malam untuk meminta tolong padaku!" ucap Nadia.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan?" Darko masih berkilah.
"Katakan padaku, kakak?!" Nadia melangkah maju dan mencengkeram baju hangat yang dipakai oleh kakaknya, "Di mana ketiga anakmu?" tanyanya lagi.
"Bitsy sedang sakit jadi aku tinggal di rumah bersama dengan ibu mereka!" jawab Darko.
"Apa?" Nadia melangkah mundur. Tidak benar, semua yang kakaknya lakukan tidak benar bahkan dia tidak menyadari kemungkinan anak-anaknya berada di dalam bahaya saat ini.
"Ayo Erick!" ajak Nadia.
"Hei, apa yang terjadi?" Darko mengikuti Nadia dan Erick yang sudah berlari ke arah mobil.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kau begitu gila, Kakak!" ucap Nadia yang sudah masuk ke dalam mobil. Erick pun menjalankan mobilnya lagi untuk menuju rumah tua yang masih lumayan cukup jauh untuk menyelamatkan ketiga anak kakaknya dan sekarang, mereka berharap mereka tidak terlambat sama sekali.