
Hujan turun rintik-rintik, membasahi jalanan Manhattan. Bitsy mengencangkan mantel yang dia gunakan dan menaikkan kaca mata hitamnya. Malam sudah larut, dia baru kembali karena harus lembur. Bitsy sudah berada di kota itu selama dua bulan, dia tinggal di sebuah apartemen yang berada tidak jauh dari kota Manhattan.
Dia kira dia akan dideportasi ke kota New York tapi nyatanya, bosnya berubah pikiran dan mengirimnya ke Manhattan. Jujur saja dia tidak begitu suka dengan kota itu karena hujan selalu turun saat malam hari. Udara dingin dan malam yang gelap membuat suasana semakin terasa menakutkan oleh sebab itu, Bitsy selalu menggunakan kaca mata hitam saat kembali.
Memang aneh, tak ayal dia jadi pusat perhatian karena harus menggunakan benda itu pada malam hari meski ada juga yang menggunakannya namun tidak ada yang menggunakan kaca mata sehitam yang dia gunakan. Bitsy melakukan hal itu agar dia tidak melihat sosok-sosok mengerikan yang selalu mendekatinya.
Bitsy menghentikan langkahnya. Sial, lagi-lagi hantu wanita bergaun pengantin itu. Dia selalu berada di sana, melayang mondar mandir seperti mencari sesuatu sambil menarik ususnya yang terjuntai. Kepalanya pecah dan wajahnya rusak sebelah. Bitsy yang pertama kali melihatnya tentu saja terkejut dan setelah itu dia tidak berani melihatnya lagi oleh sebab itu dia memakai kaca mata hitam karena tidak saja hantu wanita itu, beberapa hantu lainnya pun tak kalah menakutkan.
Sosok nenek tua yang mengerikan tiba-tiba saja mendekati Bitsy. Menatapnya cukup lama dan melihatnya dari atas sampai ke bawah. Bitsy menaikkan kaca matanya sedikit, sebaiknya dia segera pergi dan pura-pura tidak melihat.
"Kau bisa melihat kami, bukan?" tanya nenek tua menakutkan itu.
Bitsy tidak menjawab, dia kembali melangkah. Dia sudah terbiasa dan dia yakin hantu itu akan pergi tapi nyatanya tidak, hantu nenek tua itu mengikuti dirinya lalu hantu lain pun mulai terbang di sisinya. Seperti hantu nenek tua itu, para hantu itu juga menatapnya lama.
"Kau bisa melihat kami bukan, anak muda?" hantu wanita tua kembali bertanya.
"Tolong aku.. tolong aku!" rintih arwah yang lain.
Bitsy terus melangkah sambil menunduk, rasanya sangat ingin berlari tapi jika dia melakukannya maka mereka semua akan tahu jika dia bisa melihat mereka. Bisa gawat jika sampai semua hantu yang ada di jalan itu mengikuti dirinya. Bitsy yang berjalan sambil menunduk harus menghentikan langkah karena pandangannya tertuju pada gaun panjang serta usus yang berjuntai di depan mata. Sial, hantu wanita itu pun mulai curiga dengan dirinya.
"Help!" ******* panjang dan menakutkan hantu wanita itu menakutkan.
"Sial, aku lupa bawa ponsel!" Bitsy pura-pura melupakan sesuatu dan melewati hantu wanita itu begitu saja.
"Help me!" hantu itu melayang mengikuti Bitsy.
__ADS_1
"Sial, hujannya semakin deras saja!" kini Bitsy berlari dan mengangkat tasnya untuk menutupi kepalanya. Dia pura-pura tidak mendengar, hantu pengantin itu tampak kecewa namun beberapa hantu lain mengikuti Bitsy.
Bitsy terus berlari menuju apartemennya, celaka. Hantu-Hantu itu benar-benar mengejar dirinya. Kaca mata hitamnya dilepaskan, Bitsy berlari sekencang mungkin agar dia bisa menghindari hantu-hantu yang memiliki maksud tidak menyenangkan itu.
"Nona, aku tahu kau bisa melihat aku!" ternyata hantu nenek tua itu mengejarnya.
"Oh my God, somebody help me!" Bitsy terus berlari sampai dia masuk ke dalam apartemen dengan napas yang hampir putus. Bitsy melangkah cepat, dia pun sambil melirik sekitar. Di apartemen tentu saja masih ada hal yang menakutkan karena sosok yang menakutkan itu bersembunyi di tempat gelap.
"Tunggu, aku mau masuk!" teriak Bitsy sambil berlari menuju lift yang hendak tertutup.
Seorang pemuda menahan pintu untuknya, Bitsy masuk dengan cepat dan menutup pintu sambil menunduk serta bergumam.
"Please.... Please!" dia harap pintu lift tertutup segera agar tidak ada yang ikut masuk. Pemuda yang menahan pintu tadi tentu saja sangat heran melihat sikap Bitsy, baru kali ini dia bertemu dengan seseorang yang begitu takut seperti itu.
Bitsy hanya mengangguk tanpa mengangkat wajah. Dia lupa jika ada hantu wanita bergaun putih yang selalu berdiri di sisi lift. Dia bahkan bisa melihat kedua kaki hantu itu menggantung. Dia benar-benar berada di situasi yang sulit. Pemuda itu semakin heran saja karena Bitsy tidak mengangkat wajah bahkan gadis itu menunduk sambil melihat ke pojok kiri lift.
"Hei, apa kau baik-baik saja?" pemuda itu menyentuh bahu Bitsy sehingga membuat Bitsy terkejut dan mengangkat wajah.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya pemuda itu lagi.
"Te-Tentu. Terima kasih," Bitsy merapikan rambutnya, mendadak dia tidak melihat hantu yang ada di dalam lift lagi. Itu bagus, setidaknya dia tidak terlalu terlihat konyol di hadapan orang lain.
"Apa kau yakin?" tanya pemuda itu lagi.
"Yeah, terima kasih sudah menahan pintu lift ini untukku."
__ADS_1
"Tidak masalah, aku tinggal di lantai atas."
"Oh, aku di lantai dua puluh lima. Aku baru di sini."
"Pantas saja aku baru melihatmu di sini. Aku Edward, dan kau?" Edward menatap Bitsy dengan tatapan heran karena dia seperti mencari sesuatu di dalam lift itu.
"Bi-Bitsy!" Bitsy menyebutkan namanya dan melangkah mundur karena lift terhenti dan seperti ada yang akan masuk.
Bitsy tidak berani berada di sisi kiri, dia berada di belakang Edward. Pintu lift terbuka, Bitsy terkejut melihat ada sesuatu menempel di belakang orang yang masuk ke dalam lift namun dia berusaha untuk tidak mempedulikannya apalagi sosok mengerikan mendadak hilang setelah orang yang dia tempeli berada di dalam lift. Bagus, situasi aman.
"Apa kau tinggal sendiri?" tanya Edward padanya.
"De-Dengan ibuku," dusta Bitsy. Dia tidak boleh terlalu jujur karena dia baru mengenal pria itu. Selain dia harus waspada pada hantu, dia pun harus waspada pada orang yang baru dia kenal.
"Terima kasih, aku duluan!" ucap Bitsy karena dia sudah tiba dan lift pun sudah berhenti.
"Tidak perlu di pikirkan!"
Bitsy tersenyum tipis saat melewati Edward. Dia segera keluar ari lift setelah pintu benda itu terbuka. Bitsy melangkah cepat menuju kamarnya. Dia kembali menunduk karena ada sosok yang selalu berdiri di ujung ruangan. Aneh, tadi hantu itu hilang saat di lift dan dia tidak bisa melihat mereka. Apa lift itu tidak disukai oleh para hantu? Tapi bagaimana dengan hantu yang selalu berada di dalam lift? Ck, lupakan saja. Dia bisa lari dari para hantu itu saja sudah bagus.
Bitsy masuk ke dalam kamarnya. Yang dia dekati adalah jendela setelah melemparkan tas ke atas ranjang. Bitsy melihat ke bawah, sangat mustahil baginya bisa melihat para hantu yang ada di jalanan itu. Hidupnya memang selalu dihantui oleh para hantu. Jangan sampai dia tidak bisa mendapatkan pacar karena selalu dikejar oleh hantu.
Hari yang melelahkan tapi dia jadi penasaran dengan hantu bergaun pengantin itu. Kenapa dia meminta tolong padanya? Rasanya tidak mau memikirkan hal itu tapi permintaannya terdengar menyedihkan. Apa dia meninggal akibat kecelakaan di jalan itu ataukah ada yang lainnya?
"Lupakan, Bitsy. Sekali kau terlibat maka kau akan sulit lepas sampai kau selesai dengan permasalahan mereka!" ucap Bitsy pada diri sendiri. Itulah sebabnya dia tidak mau terlibat karena dia tidak mau terlibat dengan masalah para hantu.
__ADS_1