
Darko yang paling tidak sabar untuk melihat keadaan putrinya. Rian dan Angela dirawat di dalam ruangan yang sama dan Bitsy pun sedang dibawa untuk dirawat dengan kedua adiknya agar Nadia dan yang lain tidak perlu repot menjenguk mereka dari satu ruangan ke ruangan yang lainnya.
Bitsy yang baru saja melewati sungai kematian sangat senang saat melihat Nadia. Akhirnya Aunty Nadia datang dan dia akan mengajak kedua adiknya untuk tinggal dengan Aunty mereka karena dia takut kejadian buruk yang mereka alami kembali terjadi.
"Aunty!" Bitsy memanggil sambil mengulurkan tangan karena dia ingin mengungkapkan apa yang dia inginkan.
"Aunty akan berbicara dengan Bitsy setelah berada di dalam ruangan!" ucap Nadia yang segera memegangi tangan Bitsy.
Bitsy mengangguk, semoga kejadian yang menakutkan tidak dia alami lagi dengan kedua adiknya namun Bitsy tidak melihat ayahnya yang berjalan di belakang Erick. Darko semakin merasa tidak sabar, perasaan mengebu meluap di dalam hatinya. Perasaan aneh yang dia rasakan karena dia merasa ingin langsung melompat ke arah Bitsy dan memeluknya namun dia sedang berusaha menahan gejolak yang dia rasakan itu.
Bitsy dibawa ke dalam ruangan di mana kedua adiknya berada. Nadia berlari menghampiri Rian yang sudah terbangun sedari tadi namun dia sedang menangis dan memanggil kakaknya, Bitsy. Angela juga menangis setelah sadar, apa yang baru saja mereka alami menjadi trauma terberat bagi kita.
"Pergi... Mommy jangan memakan Bitsy!" teriak Angela sambil berteriak dan meringkuk di ranjang. Dia berteriak demikian setelah melihat kakaknya hampir dimakan oleh iblis yang menyerupai ibunya.
"Angela, sudah tidak ada Mommy lagi!" Nadia berusaha menenangkan Angela yang berteriak akibat teror yang dia alami.
"Pergi, pergi!" Angela melempar Nadia menggunakan bantal. Dalam pandangannya saat itu, Nadia seperti sosok ibunya yang menakutkan.
"Ini Aunty, Angela. Aunty Nadia!" Nadia masih berusaha membujuk.
"Kau jahat, kau ibu yang jahat!" teriak Angela lagi.
"Nyonya, kejiwaan mereka seperti terganggu. Apa ada yang bisa memberitahu kami apa yang terjadi?" perawat yang merawat Angela bertanya.
"Apa ada psikolog anak, aku butuh berkonsultasi dengannya," pinta Nadia. Hanya psikolog anak yang bisa menangani ketiga keponakannya yang mengalami trauma berat akibat kejadian yang hanya mereka tahu saja.
"Tentu saja ada, kami akan segera merekomendasikan psikolog untuk ketiga anak anda yang sedang mengalami trauma berat!"
"Mommy... hantu!" ucap Rian sambil menunjuk namun dia tetap menangis.
"Tidak ada hantu, apa yang Rian lihat?" tanya perawat yang sedang menggendongnya.
__ADS_1
"Hantu... Hantu!" ucap Rian sambil menunjuk.
"Tolong cepat, mereka membutuhkan psikolog!'" ucap Nadia yang tidak tega melihat kedua keponakannya yang ketakutan dan menangis.
"Apa sebenarnya yang terjadi pada mereka?" tanya Nadia, dia tampak depresi dengan kelakuan yang ditunjukkan oleh Rian dan Angela.
"Aunty, di mana Mommy yang menakutkan?" tanya Bitsy.
"Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, ayahmu sudah mengatasinya. Benar, bukan?" Nadia melihat ke arah kakaknya yang masih berada di belakang suaminya.
"Bitsy, maafkan Daddy yang tidak pernah mempercayai perkataan Bitsy," Darko melangkah maju dan menghampiri putrinya.
"Bitsy benci dengan Daddy!" teriak Bitsy.
"Maaf, Bitsy. Daddy tahu Daddy salah karena tidak mempercayai apa yang Bitsy katakan tentang Mommy. Seharusnya Daddy tidak meninggalkan kalian padahal kau sudah meminta Daddy untuk tidak pergi. Maafkan Daddy, Bitsy!" pinta ayahnya.
"Bitsy sangat kecewa pada Daddy, Bitsy tidak kau dengan Daddy lagi!"
"Tidak mau, Dad. Bitsy dan Angela juga Rian akan ikut dengan Aunty mulai sekarang!" tolak Bitsy.
"Tidak boleh!" teriak Darko, "Kalian tidak boleh pergi ke mana pun!" teriak Darko lagi. Akibat teriakannya itu, membuat kedua anaknya yang sedang mengalami trauma menangis dengan keras begitu juga Bitsy yang mendadak ketakutan melihat ayahnya apalagi kedua mata ayahnya melotot dan memerah.
"Daddy pergi, keluar!" teriak Bitsy ketakutan.
"Kakak, apa kau bisa tidak membuat keributan? Ketiga anakmu baru saja mengalami kejadian menakutkan dan sekarang kau membuat mereka semakin takut!" Nadia mendorong kakaknya dan terlihat marah.
"Pergi, Daddy. Keluar!" teriak Bitsy lagi.
"Tidak apa-apa, Bitsy tidak boleh berkata demikian pada Daddy," Nadia mencoba membujuk Bitsy yang masih menangis.
"Tidak mau dengan Daddy, Bitsy tidak mau dengan Daddy!" ucap Bitsy.
__ADS_1
"Bitsy, Daddy tahu Daddy salah. Maafkan Daddy yang tidak mempercayai Bitsy. Daddy pasti akan mendengarkan perkataan Bitsy mulai sekarang tapi permintaan Bitsy untuk tinggal dengan Aunty Nadia, Daddy tidak mengijinkan karena kalian memiliki Daddy meski Mommy kalian sudah tidak ada!"
"Apa pun yang Daddy katakan, aku ingin tinggal dengan Aunty Nadia bersama dengan Rian dan Angela."
"Jangan menguji kesabaran, Bitsy. Hanya satu kesalahan yang Daddy lakukan tapi kau sudah tidak menganggap Daddy ada. Pokoknya apa pun yang terjadi, Daddy tidak akan mengijinkan kalian tinggal dengan Aunty Nadia!"
"Daddy jahat! Kenapa Daddy tidak mati saja di badai salju!" teriak Bitsy.
"Jaga ucapanmu, Bitsy!" teriak ayahnya lantang.
Angela dan Rian kembali menangis. Angela bahkan mengamuk dan membuang barang-barang yang ada di dekatnya dan membuangnya ke arah Darko. Seperti Bitsy, Angela berteriak dan mengucapkan perkataan agar ayahnya keluar dari ruangan itu.
"Kalian berdua anak-anak kurang ajar!" teriak Darko dengan kedua bola mata yang memerah.
"Tuan, kau sudah mengganggu ketenangan rumah sakit. Tolong keluar!" pinta dua perawat yang ada di dalam ruangan.
"Jangan membuat anak-anak semakin takut, kakak. Pergilah terlebih dahulu, keadaan mereka sedang tidak stabil!" pinta Nadia.
"Jangan kau kira anak-anak memilihmu lalu kau sudah bisa mengusir aku seenaknya!" ucap Darko yang terlihat tidak senang.
"Apa maksud perkataanmu itu?" Nadia tidak mengerti dengan apa yang kakaknya ucapkan.
"Aku tidak akan membiarkan kau membawa ketiga anakku, Nadia. Tidak aku biarkan selama aku masih hidup!"
"Kau salah paham, Kakak. Aku tidak berniat begitu tapi melihat dirimu seperti ini, aku jadi memiliki niat untuk membawa mereka apalagi kejadian buruk yang mereka alami adalah ulahmu. Aku bisa menuntut apa yang telah kau lakukan pada ketiga anakmu dan aku rasa kau tahu, aku bisa mengambil hak asuh mereka dengan mudah!" ancam Nadia. Dia berkata demikian karena dia kesal dengan sikap kakaknya yang masih saja keras kepala padahal ketiga anaknya masih di dalam masa trauma dan Bitsy sudah tidak memiliki rasa percaya lagi dengannya. Semua yang terjadi pada ketiga anaknya adalah ulahnya sendiri tapi kenapa kakaknya tidak juga sadar diri?
"Aku tidak akan mengijinkan, Nadia. Aku tidak akan mengijinkan kau membawa mereka!" Darko melangkah mundur dengan tatapan mata yang masih memerah. Dia tidak akan membiarkan Nadia membawa ketiga anaknya begitu saja apalagi merebut hak asuh ketiga anaknya.
Nadia bernapas lega setelah kakaknya keluar, mereka jadi bertengkar di hadapan anak-anak tapi dia akan tetap mencegah kakaknya membawa ketiga anaknya sampai Bitsy dan Angela bisa mengambil keputusan yang tepat tapi untuk saat ini, mereka sedang mengalami trauma berat bahkan Rian pun masih menangis tanpa henti.
"Aku tidak akan membiarkan kau membawa mereka dariku, Nadia. Tidak akan aku biarkan!" Darko berjalan mondar mandir sambil berpikir bagaimana caranya mencegah Nadia mengambil ketiga anaknya darinya? Darko memukul dinding kamar mandi dengan emosi tertahan, dia harus mencegah hal itu terjadi tapi tiba-tiba saja seperti ada yang berbisik di telinganya.
__ADS_1
Darko berpaling, tidak ada siapa pun. Bisikan itu kembali terdengar, bisikan itu seperti suara Mia. Kini Darko diam saja untuk mendengarkan bisikan itu. Seringai menghiasi wajah Darko, benar. Sepertinya itu bukanlah ide yang buruk karena dia tidak akan membiarkan ketiga anaknya diambil darinya.