Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
La Lionora 17


__ADS_3

Bitsy diam saja saat kembali bersama dengan Edward. Rasa bersalah memenuhi hatinya karena dia terlambat datang untuk menolong keluarga hantu wanita bergaun pengantin itu. Bitsy bahkan tak bisa menahan perasaan sedihnya, seandainya waktu bisa sedikit dimundurkan maka dia akan mengikuti La Lionora untuk menolong ibu dan adiknya. Rasa bersalah tidak bisa dia hilangkan begitu saja karena dia merasa jika dia bisa menyelamatkan mereka.


Edward yang membawa mobil melirik ke arah Bitsy sesekali. Gadis itu tidak berbicara semenjak mereka kembali dari hutan. Dia bisa melihat jika Bitsy tampak sedih oleh sebab itu dia tampak murung dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa kau terlihat sedih seperti itu?" tanya Edward.


"Semua gara-gara aku, Edward. Seandainya aku lebih cepat, mungkin aku bisa menyelamatkan mereka," ucap Bitsy.


"Apa kau yakin?" Edward melirik ke arah Bitsy sejenak lalu kembali melihat jalanan.


"Dia sudah meminta bantuan aku sejak kemarin, Edward. Dia sudah meminta bantuanku tapi aku tidak mempedulikannya. Seandainya aku lebih cepat?"


"Seandainya kau lebih cepat maka kau akan mati dengan mereka!"


"Apa yang kau katakan?" Bitsy berpaling, memandangi Edward yang sedang serius membawa mobilnya.


"Percayalah, ini bukan kejahatan biasa. Saat kau datang, kau pun akan menjadi korban. Jangan sampai kau tergantung bersama mereka berdua di pohon itu karena gegabah. Kita tidak tahu apa yang terjadi, kita juga tidak tahu siapa yang akan dihadapi jadi sebaiknya tidak ikut campur terlalu jauh. Cukup bantu hantu itu mencari pelakunya lalu laporkan pada polisi. Kita orang awam, jangan sampai mati konyol karena ingin menolong hantu. Kejadian yang baru saja terjadi juga bukan salahmu jadi jangan sedih dan menyalahkan diri seperti itu."


"Maaf, aku hanya merasa bersalah saja," Bitsy kembali menunduk.


"Sudahlah," Edward meraih tangan Bitsy. Dia harap gadis itu tahu jika dia ada bersama dengannya.


"Katakan padaku, apa kau mengundang hantu itu ke dalam kamarmu?" kini dia mengalihkan pembicaraan agar Bitsy tidak memikirkan kejadian yang baru saja mereka lihat.


"Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi oleh sebab itu aku harus berbicara secara pribadi agar hantu lain tidak tahu akan kemampuanku karena jika ada yang tahu, hantu lain bisa mengejar aku dan meneror aku sepanjang hari. Aku tidak mau kehidupan tenangku terganggu oleh para hantu itu."


"Hantu itu pria atau wanita?" tanya Edward.

__ADS_1


"Kenapa kau bertanya demikian?" tanya Bitsy dengan ekspresi heran.


"Aku hanya ingin tahu, jika hantu pria kau tidak boleh membawanya masuk ke dalam kamar. Kita undang dia ke cafe."


"Sembarangan, hantu mana yang nongkrong di cafe!"


Edward terkekeh, tangan Bitsy dilepaskan karena ada yang harus dia lakukan. Jika ada supirnya, mungkin dia bisa memeluk gadis itu untuk menghiburnya tapi sayangnya dia sibuk membawa mobil.


"Jika begitu bolehkah aku menemani dirimu saat menemui hantu itu?"


"Apa? Tidak boleh!" bisa gawat jika Edward bersama dengannya. Dia tidak akan bisa melihat hantu La Lionora dan dia tidak akan tahu apa pun nantinya.


"Kenapa? Aku tidak akan mengganggu."


"Tidak boleh, aku tidak boleh membawa pria masuk ke dalam kamarku!"


"Alasan yang klasik tapi setelah aku jadi pacarmu, boleh bukan?"


Edward tersenyum, dia harap Bitsy tidak menganggap perkataannya adalah sebuah kebohongan karena dia serius dengan apa yang dia ucapkan. Bitsy menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata, dia jadi mengantuk karena perjalanan yang masih lama. Edward bahkan menyalakan musik sendu yang membuatnya semakin mengantuk sehingga membuatnya tertidur tanpa sadar.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, pada akhirnya mereka tiba. Edward memberikan kuncinya pada juru parkir dan menggendong Bitsy yang sedang tidur. Jika begini rasanya ingin dia culik dan dia bawa pulang. Jika Bitsy tidak bangun juga maka akan dia lakukan tapi sepertinya itu bukan malam keberuntungannya karena Bitsy terbangun saat mereka berada di dalam lift.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Bitsy.


"Belum, tidurlah lagi!" dusta Edward dengan harapan Bitsy tidur lagi sehingga dapat dia culik dan bawa pulang.


"Pembohong, kita sudah berada di lift apartemen. Turunkan aku, Edward, Bagaimana jika ada yang masuk ke dalam?"

__ADS_1


"Sayang sekali, padahal aku ingin menculikmu dan membawamu pulang!" ucap Edward seraya menurunkan Bitsy dari atas gendongannya.


"Ja-Jangan bercanda!" Bitsy berdiri membelakangi Edward sambil merapikan penampilannya. Sesungguhnya dia tidak mau menunjukkan wajahnya yang memerah. Tidak seharusnya mereka sedekat itu karena dia tidak mau dekat dengan pria mana pun karena kemampuan yang dia miliki.


"Bitsy," Edward memanggil dengan cara berbisik di telinganya. Tentunya hal itu membuat Bitsy terkejut dan berteriak. Bitsy melangkah mundur sambil memegangi daun telinganya, wajahnya pun semakin memerah akibat malu.


"Kenapa kau berteriak seperti itu?"


"Ka-Kau mengejutkan aku!" ucap Bitsy. Tangan masih berada di daun telinga, dia tidak menduga Edward akan melakukan hal itu.


"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin mengatakan jika kita sudah tiba. Apa kau tidak mau keluar atau kau ingin bersama denganku?" mereka sudah tiba di lantai 25, di mana kamar Bitsy berada. Dia lebih senang membawa Bitsy jika Bitsy tidak keberatan.


"Oh, terima kasih untuk bantuanmu malam ini, Edward.  Aku benar-benar sudah mempersulit dirimu, terima kasih," Bitsy sudah berdiri di tengah-tengah pintu sebelum keluar dari lift."


"Tidak perlu dipikirkan, aku sangat senang bisa membantu dirimu. Hubungi aku jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, aku pasti akan datang."


"Tentu, terima kasih atas bantuanmu," kini Bitsy melangkah keluar karena dia merasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.


"Selamat malam, Edward," ucap Bitsy yang sudah berdiri di depan pintu.


"Good night, Bitsy," Edward tersenyum, sungguh malam yang menyenangkan meski mereka harus melihat kejadian yang tidak menyenangkan. Bitsy melangkah pergi, sudah saatnya dia kembali tapi Edward memanggilnya hingga langkahnya terhenti.


"Bitsy, maukah sarapan denganku besok?" tanyanya.


"Boleh saja," ucap Bitsy.


"Jika begitu aku tunggu, jangan tidak datang."

__ADS_1


Bitsy mengangguk dan tersenyum. Satu tangan melambai sebelum dia melangkah pergi. Edward menutup pintu lift dan terlihat sangat senang, sedikit demi sedikit hubungan mereka pasti akan semakin dekat. Pelan-Pelan saja, dia pasti bisa mendapatkan gadis yang dia inginkan.


Bitsy masuk ke dalam kamarnya, suara tangisan sudah terdengar sebelum dia menyalakan lampu, Tidak perlu di tanya, dia bisa menebak siapa yang ada di dalam kamarnya. Tebakannya tidak salah karena hantu La Lionora sudah menunggunya sambil menangisi kepergian adik dan kakaknya.


__ADS_2