Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
La Lionora- 9


__ADS_3

Ruangan konser begitu gelap karena konser sudah dimulai. Bitsy tidak konsentrasi menonton konser karena dia justru memikirkan hantu La Lionora yang dia tahu ada di dalam ruangan itu meski dia tidak bisa melihatnya. Bitsy bahkan melihat ke arah wanita dan pria yang tadi bersama dengan hantu gaun pengantin itu.


Rasa penasaran benar-benar membuatnya tidak bisa fokus apalagi dia merasa jika kedua orang tadi ada hubungannya dengan si hantu La Lionora. Mungkin kedua orang itu adalah kerabatnya dan mungkin saja sahabat dari hantu itu.


Edward yang sedari tadi berbicara dengannya pun diabaikan. Bitsy tidak mendengar karena suara konser yang cukup keras. Edward sangat heran karena Bitsy tidak melihat konser melainkan menatap ke arah lain dengan begitu serius. Apa ada hal lain yang lebih menarik bagi Bitsy?


"Bitsy!" Edward memanggil sambil memegangi tangannya.


"Oh, hm!" Bitsy berpaling dan melihat ke arah Edward.


"Apa ada yang lebih menarik dari pada konsernya?"


"Ti-Tidak, tidak ada yang seperti itu."


"Apa kau yakin? Aku perhatikan kau melihat ke arah sana tiada henti," Edward pun melihat ke mana Bitsy memandang sedari tadi namun gelap sehingga dia tidak tahu apa yang dilihat oleh Bitsy.


"Gelap, apa yang kau lihat?" tanyanya.


"Tidak ada, aku hanya bosan saja karena aku tidak suka menonton konser," jawab Bitsy beralasan.


"Benarkah? Jika kau tidak suka sebaiknya kita pergi."


"Bu-Bukan demikian. Bolehkan aku pergi ke kamar mandi sebentar?" pinta Bitsy.

__ADS_1


"Apa perlu aku temani?" tanya Edward basa basi.


"Apa? Tidak perlu!" Bitsy sudah beranjak namun dia akan meninggalkan tasnya karena dia tidak akan lama.


"Aku hanya pergi sebentar!" Bitsy melewati beberapa orang yang duduk satu baris dengan kursinya namun dia seperti mencari sesuatu. Edward yang tak melepaskan pandangannya dari Bitsy benar-benar heran melihat kelakuannya yang tak biasa.


Bitsy tidak pergi ke kamar mandi tapi dia berdiri di sisi ruangan untuk mencari hantu La Lionora. Hantu itu tidak terlihat di mana pun, sungguh aneh. Jika hantu itu memang memiliki hubungan dengan kedua orang tadi seharusnya hantu itu masih ada. Apakah hantu itu hanya datang mengunjungi mereka? Sekarang dia jadi semakin yakin jika kedua orang itu ada hubungannya dengan hantu La Lionora.


Dia jadi semakin penasaran, dia yakin hantu itu masih berada di sana. Bitsy keluar dari ruang konser, dia akan berusaha mencari. Dia bahkan berlari ke jalan tapi hantu yang hampir membunuhnya itu justru menghilang. Padahal hantu itu selalu menerornya tapi kini saat dia hendak berbicara dengan hantu itu, dia justru tidak ada.


Bitsy berlari di sisi jalan untuk mencari, lorong gelap pun tak luput namun yang dia temukan justru hantu yang lain. Menyebalkan, sesungguhnya hantu La Lionora itu mau dibantu atau tidak? Bitsy masih mencari sampai akhirnya dia menemukan sosok wanita bergaun putih sedang berjongkok di sudut lorong gelap dan tangisannya terdengar. Bitsy melangkah mendekat dengan perlahan, ludah ditelan dengan susah payah karena dia takut salah tapi bisa saja hantu itu adalah hantu La Lionora yang dia cari.


Hantu tak henti menangis, Bitsy tampak ragu untuk mendekat namun rasa penasaran mengalahkan segalanya. Dengan perlahan Bitsy mengulurkan tangan, karena hantu itu membelakanginya membuatnya tidak bisa melihat dengan pasti apakah sosok itu adalah hantu yang dia cari atau bukan.


"Ha-Hallo," Bitsy mencoba memanggil. Semoga tidak salah agar dia tidak mengundang hantu yang lainnya. Tangisan hantu itu terhenti, Bitsy pun kembali memanggilnya.


"Kau bisa melihat aku?" hantu itu terbang mendekati Bitsy dan mencium aroma tubuhnya.


"Apa kau bisa melihat aku?"


Bitsy tidak menjawab namun dia sudah memutar langkahnya lalu Bitsy berlari pergi dari tempat itu. Hantu penghuni lorong gelap itu tentu saja terbang mengejar, Bitsy terus berlari tanpa tujuan arah karena dia harus menghindari hantu yang mengejarnya.


"Kau bisa melihat aku! Kau bisa melihat aku!" teriak hantu itu seraya terbang mengejar Bitsy.

__ADS_1


"Pergi! Pergi!" teriak Bitsy yang terus berlari.  Dia harus kembali ke tempat konser, dia harus mencari Edward agar hantu itu tidak bisa dia lihat lagi. Dia yakin tidak saja kemampuannya menghilang saat bersama dengan Edward tapi dia yakin ada sesuatu yang istimewa dari pria itu. Mungkin saja para hantu itu tidak bisa mendekatinya karena dia dekat dengan Edward. Apa pun itu, dia harus segera mencari pria itu.


"Kau bisa melihat aku, aku tidak akan melepaskan dirimu!" teriak hantu itu lagi.


Bitsy berlari seperti orang gila, meski kedua kaki sudah terasa sakit tapi dia terus lari sampai akhirnya dia tiba di gedung konser. Edward mulai mencari Bitsy yang tak kunjung kembali. Terus terang saja dia sangat mengkhawatirkan keadaan gadis itu.


Konser sudah berakhir saat dia keluar. Edward mencari di kamar mandi wanita tapi dia tidak menemukan keberadaan Bitsy. Sekarang dia semakin mengkhawatirkan gadis itu. Edward bahkan mencari di luar lalu masuk lagi ke dalam untuk mengetahui apakah Bitsy bersama dengan para tamu yang sedang berbaur untuk memuji konser itu atau tidak.


Bitsy yang sudah masuk ke dalam gedung tentu saja mencari Edward. Hantu itu masih saja mengejar dirinya oleh sebab itu Bitsy berlari masuk tanpa mempedulikan apa pun. Dia menabrak dua orang yang mau keluar dan hampir saja terjatuh. Bitsy berteriak saat seseorang menarik tangannya secara tiba-tiba sehingga dia menjadi pusat perhatian.


"Bitsy, dari mana saja kau?" tanya Edward yang sedari tadi mencarinya.


"Aku mau pulang, Edward. Tolong antar aku pulang!" pinta Bitsy memohon. Napas Bitsy memburu dan dia telihat ketakutan.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau ketakutan seperti itu?" Edward benar-benar heran dengan tingkah laku Bitsy yang aneh.


"Please, jangan banyak bertanya dan antar aku pulang Edward!"


"Baiklah, tunggu di sini sebentar. Aku harus berpamitan pada sahabatku yang sudah mengundang. Jangan sampai tidak sopan dengan pergi begitu saja."


"Tolong jangan lama!" pinta Bitsy dengan perasaan tidak nyaman.


"Tidak akan, aku hanya sebentar saja!"

__ADS_1


Bitsy mengangguk, dia kembali melihat sana sini dan terlihat waspada. Sebaiknya dia mengikuti Edward agar tidak terjadi hal yang tidak dia inginkan tapi baru saja Bitsy melangkahkan kedua kakinya beberapa langkah, tiba-tiba saja angin dingin menerjang punggung Bitsy.


Langkah Bitsy terhenti, dia diam di tempat. Tatapan matanya kosong, gadis itu diam cukup lama di sana dan akhirnya Bitsy memutar langkahnya lalu keluar dari tempat itu tanpa sepengetahuan Edward yang sedang berpamitan pada sahabatnya yang sudah mengundang.


__ADS_2