Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
La Liorona- 5


__ADS_3

Suara tangisan seorang wanita di sisi kamar mandi membuat Bitsy tidak bisa tidur sama sekali. Dia sudah berusaha menutup telinga dengan rapat tapi suara tangisan itu tidak henti dia dengar. Entah hantu mana yang masuk ke dalam kamarnya yang pasti hantu itu sepertinya sudah mengetahui kemampuannya.


Bitsy sangat ingin melihat tapi dia tidak berani. Dia takut hantu yang ada di lift mengikutinya atau hantu yang ada di jalanan namun yang paling membuatnya takut adalah, hantu wanita bergaun pengantin itu. Jangan katakan hantu itu mengikutinya sampai ke dalam kamar lalu menerornya sepanjang malam sampai dia membantu. Tapi bagaimana jika tidak hantu itu saja? Bagaimana jika ada hantu yang lainnya?


Suara tangisan yang tak kunjung berhenti benar-benar membuat Bitsy tidak bisa memejamkan kedua matanya. Dia sangat berharap tangisan itu segera berhenti karena dia butuh tidur. Bagaimanapun besok dia harus pergi bekerja, dia harap hantu yang ada di kamarnya tidak menerornya sampai pagi.


Entah kenapa dia merasa para hantu itu semakin hari semakin menerornya saja bahkan selama dia berada di London, belum ada hantu yang menerornya sedemikian rupa meski banyak yang mengikutinya. Bitsy yang berusaha untuk mengabaikan suara tangisan itu pada akhirnya tertidur, itu pun ketika waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi namun suara ketukan di pintu membangunkan Bitsy dari tidurnya padahal dia belum lama tidur.


Bitsy yang selalu diteror tentu diam saja karena yang mengetuk pintu kamarnya belum tentu manusia. Dia bahkan masih berada di bawah selimut karena dia masih takut akan hantu yang ada di sisi kamar mandinya.


"Bitsy, apa kau sudah pergi?" begitu mendengar suara Edward, Bitsy segera menyingkirkan selimut. Celaka, jangan katakan dia terlambat dan kesiangan karena teror hantu wanita yang entah hantu apa.


"Bitsy?" Edward kembali memanggil. Mereka sudah berjanji akan bertemu di dalam lift tapi Bitsy tidak ada oleh sebab itu dia mendatangi kamar Bitsy.


"Wait!" Bitsy melompat turun dari atas ranjang dan melangkah menuju pintu dengan cepat. Untuk memastikan, Bitsy mengintip dari lubang pintu, dia khawatir ada hantu yang menyamar atau semacamnya namun yang dia dapati memang Edward yang sudah terlihat rapi. Bitsy membuka pintu, Edward tersenyum karena Bitsy masih membungkus dirinya dengan selimut.


"Apa kau terlambat, Nona?"


"Pergilah terlebih dahulu, aku belum bersiap-siap."


"Aku tunggu!"


"Jangan, aku belum mandi!" ucap Bitsy.


"Tidak apa-apa, aku akan menunggumu di sini jadi bergegaslah."


"Baiklah, aku akan cepat!" Bitsy kembali masuk ke dalam kamar tanpa mempersilahkan Edward untuk masuk. Dia tidak mau ada yang salah paham, lagi pula dia tidak akan lama jadi sebaiknya dia tidak memasukkan siapa pun ke dalam kamar apalagi laki-laki.


Edward bersandar di dinding, untuk menunggu Bitsy. Mendadak dia memiliki kegiatan baru di tengah kehidupannya yang membosankan. Kegiatannya hanya itu-itu saja, tidak ada yang istimewa tapi bertemu dengan Bitsy membuatnya penasaran apalagi gadis itu cukup misterius.


Bitsy mandi dengan terburu-buru, dia jadi tidak enak hati karena Edward harus menunggunya. Padahal Edward bisa pergi sendiri, lain kali dia akan bangun lebih cepat tapi dia harap tidak ada teror hantu lagi nanti malam yang membuatnya tidak bisa tidur.

__ADS_1


Setelah setengah jam menunggu, Bitsy keluar dari kamarnya dan terlihat sudah rapi. Gadis itu tersenyum namun senyuman yang Bitsy berikan sedikit misterius menurut Edward.


"Maaf membuatmu menunggu, padahal kau bisa pergi saja tanpa perlu menunggu aku."


"Aku ingin pergi denganmu, meski hanya satu lift."


"Oh, yeah? Apa menyenangkannya pergi denganku?" Bitsy menatapnya dengan tatapan curiga. Dia berada di tempat baru lalu tiba-tiba ada yang begitu baik apalagi laki-laki. Dia harus curiga dan waspada.


"Menyenangkan saja, aku juga tidak tahu. Apa sudah selesai?" tanya Edward.


"Hm," Bitsy menjawab dengan anggukan. Untuk yang kesekian kali Edward meraih tangannya.


"Ayo pergi!"


"Tunggu, Edward. Jangan memegangi tanganku seperti ini!" pinta Bitsy.


"Kenapa? Apa akan ada yang marah?"


"Tidak ada yang seperti itu!" Edward sudah menariknya menuju lift yang sudah terbuka. Lagi-lagi Bitsy berada di sisi ruangan yang lain. Dia jadi penasaran dengan Edward, apakah Edward memiliki kekuatan sehingga dia tidak bisa melihat hantu saat dia berdekatan dengan pria itu? Mungkin saja dia memiliki kemampuan yang sedang dia sembunyikan.


"Boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Bitsy. Sebelum lift itu penuh, dia bisa memanfaatkannya dengan mencari tahu apakah Edward memiliki kemampuan istimewa seperti dirinya atau tidak.


"Apa yang ingin kau tahu? Ukuran baju, sepatu atau?"


"Bu-Bukan itu!" Bitsy menunduk dengan wajah tesipu.


"Lalu? Aku tidak keberatan jika kau ingin tahu hal itu."


"A-Aku hanya ingin tahu, apa kau percaya dengan hantu?" tanya Bitsy sebelum pembicaraan mereka mengarah ke arah yang tidak jelas.


"Hantu?" Edward melihat Bitsy sambil mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Yes, apa kau percaya dengan hal seperti itu?" Bitsy juga menatapnya untuk mencari tahu apakah Edward benar-benar memiliki kemampuan atau tidak.


"Kenapa kau bertanya demikian?" Edward justru curiga dengan pertanyaan Bitsy.


"Aku hanya ingin tahu kau percaya dengan hantu atau tidak. Jika sulit kau jawab maka lupakan!"


"Tidak, tentu saja tidak. Apa ada hal seperti itu di dunia ini? Aku sungguh tidak mempercayainya."


"Baiklah, terima kasih sudah menjawab pertanyaanku," sepertinya Edward tidak memiliki kemampuan apa pun tapi kenapa dia tidak bisa melihat hantu saat berada di dekat pria itu. Apa Edward memiliki kemampuan istimewa tanpa pria itu sadari?


"Hanya itu yang ingin kau tahu?" tanya Edward.


"Yeah, maaf pertanyaanku aneh."


"Ck, aku jadi kecewa. Aku kira kau ingin bertanya aku sudah pacar atau tidak!" ucap Edward.


"Apa harus?" Bitsy masih memandangi pria itu.


"Harus!" Edward bergeser mendekat, sedangkan Bitsy mundur beberapa langkah. Entah apa yang mau dilakukan oleh Edward tapi beruntungnya lift berhenti dan beberapa orang masuk ke dalam. Edward menggerutu, sungguh mengganggu.


Mereka berdua diam, Bitsy lebih banyak menunduk sampai mereka tiba di lobi. Seperti yang dia duga, Bitsy gadis yang pelit bicara.  Gadis itu diam seribu bahasa tanpa mengucapkan sepatah kata pun meski hanya basa basi saja.


"Di mana kau bekerja?" tanya Edward.


"Kantorku dekat dari sini. Terima kasih sudah menunggu aku."


"Baiklah, jangan lupa nanti malam."


Bitsy mengangguk, kata ucapan terima kasih kembali dia ucapkan dan setelah itu dia melangkah pergi. Bitsy berjalan cukup jauh dan setelah itu dia berpaling untuk melihat Edward sedang masuk ke dalam mobilnya saat itu. Dari pada penasaran  dengan kehidupan pribadi pria itu dia justru lebih penasaran kenapa dia tidak bisa melihat hantu jika berada di dekat pria itu. Apa Edward keturunan seorang cenayang?


Bodoh, pikiran bodoh. Apa ada cenayang di Amerika? Sudahlah, sebaiknya dia pergi agar tidak terlambat. Bitsy berlari melewati bayangan hitam yang ada di jalan. Dia akan menghubungi Aunty Nadia nanti karena bisa saja Aunty Nadia tahu jawaban dari rasa ingin tahunya.

__ADS_1


__ADS_2