Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
La Lionora 29


__ADS_3

Bitsy berlari dengan cepat melewati jalanan untuk kembali ke apartemen. Dia paling tidak suka melewati jalan itu karena banyak hantunya. Bitsy bahkan tidak berani mengangkat kepala saat melewati jalan itu. Bitsy semakin mempercepat larinya, semoga saja Edward sudah menunggu di lobi agar tidak ada yang mengikuti.


Bitsy terus berlari tapi langkahnya mendadak terhenti saat menyadari sesuatu. Bitsy memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menoleh. Yang dia cari sudah pasti hantu nenek dan hantu itu sudah tidak ada lagi di jalanan itu. Bitsy melihat sekeliling, benar-benar sudah tidak ada.


Senyuman menghiasi wajahnya, sepertinya hantu nenek itu sudah pergi karena urusannya sudah selesai. Rasanya sangat senang karena dia bisa membantu dan sekarang hantu nenek itu pasti sudah beristirahat dengan tenang karena tujuan akhirnya sudah tercapai.


Bitsy berlari dengan riang, sungguh dia merasa bahagia. Edward sudah menunggu sedari tadi, pria itu berjalan mondar mandir untuk menunggu Bitsy. Edward tak henti melihat ke arah jalanan, dia sudah tidak sabar namun seorang gadis yang berlari dengan riang membuatnya tersenyum dan menghentikan langkahnya.


Bitsy yang benar-benar senang berputar sesekali lalu berlari ke arah Edward dan memeluk pria itu tanpa ragu. Dia melakukan hal itu untuk mengekpresikan rasa bahagianya.


"Kenapa kau terlihat begitu senang? Apa ada pria tampan di ujung jalan itu atau ada hantu tampan?" tanya Edward seraya memeluk pinggang Bitsy.


"Tidak, tidak ada yang seperti itu!"


"Lalu? Apa yang membuatmu bahagia seperti ini?"


"Kau tahu, hantu nenek itu sudah tidak ada!" ucap Bitsy yang masih menunjukkan ekspresi senangnya.


"Apa itu berarti kau berhasil membantunya sehingga hantu itu sudah tidak ada lagi?" tanya Edward.


"Sepertinya begitu, Edward. Aku sangat senang bisa membantunya dan sekarang, nenek itu bisa beristirahat dengan tenang."


"Bagus!" ucap Edward seraya menggendong Bitsy. Bitsy berteriak dan melihat sekitarnya, dia jadi malu dan segera menyembunyikan wajahnya ke leher Edward.


"Turunkan aku, Edward. Apa kau sudah gila?" pinta Bitsy.


"Biar saja. Dengan begini tidak akan ada yang mengganggumu karena mereka akan melihat jika kau adalah milikku. Mau hantu atau pun manusia, mereka tidak boleh mengganggu milikku!"


"Tapi aku malu, cepat turunkan aku!" pinta Bitsy tanpa berani memperlihatkan wajahnya.


"Abaikan saja mereka!" Edward sudah membawanya menuju lift tanpa mempedulikan tatapan mata yang melihat ke arah mereka.


"Besok aku benar-benar tidak memiliki muka lagi untuk keluar dari apartemen ini seorang diri!" Jika ayahnya tahu apa yang sedang mereka lakukan saat ini, dia yakin ayahnya pasti akan datang dan menariknya pulang.


"Tidak perlu memikirkan hal itu, setiap hari kita selalu bersama dan tidak akan ada yang berani membicarakan dirimu!"


"Baiklah, tapi turunkan aku!" Bitsy masih meminta hal yang sama.

__ADS_1


Edward menurunkan Bitsy dari atas gendongannya. Bitsy berpaling dan tersipu malu. Rok pendeknya bahkan ditarik sedikit ke bawah seolah-olah penampilannya memalukan padahal tidak.


"Ini untukmu!" Edward memberikan paper bag yang dia bawa sedari tadi.


"Untukku?" Bitsy mengambil paper bag dari tangan Edward lalu melihat isinya.


"Yes, pakai gaun itu karena kita akan pergi ke pesta malam ini."


"Pesta? Apa kita akan menemuinya di pesta?" tanya Bitsy.


"Yes, sebab itu kau harus berdandan yang cantik dan jangan lupa menggunakan gaun itu!"


"Thanks, kau bahkan menyiapkan gaun untukku padahal tidak perlu."


"Jangan berkata seperti itu, Sayang. Aku ingin kau terlihat sempurna malam ini."


"Aku tidak akan mengecewakan," Bitsy merangkul lengan Edward lalu bersandar di sisinya. Semenjak mengenal pria itu, dia tidak merasa kesepian lagi dan yang paling penting, dia tidak perlu takut lagi pada hantu karena bersama dengan Edward, dia aman.


"Nanti malam menginap di rumahku. Kau mau, bukan?"


"Ingat satu hal, jangan mengikuti pria tidak dikenal. Mau pria atau wanita jangan ikuti dan jangan ambil minuman atau makanan apa pun yang diberikan oleh orang tidak dikenal. Oke?"


"Bagaimana jika waiter yang memberikannya padaku?"


"Tolak saja, Sayang. Di tempat pesta tidak semuanya orang baik jadi kau harus menolaknya. Jika kau haus dan ingin makan sesuatu, katakan padaku!"


Bitsy menjawab dengan anggukan, dia akan mengikuti perkataan Edward karena dia tidak mau terlibat dalam masalah yang tidak menyenangkan. Lebih baik dia selalu berada di dekat Edward agar dia tidak bertemu dengan hal yang menakutkan.


Lift sudah berhenti di lantai 25. Bitsy sudah berdiri di depan pintu dan sebelum Bitsy keluar, Edward meraih pinggang gadis itu dan memeluknya.


"Aku akan menjemputmu setengah jam lagi," ucapnya.


Bitsy kembali mengangguk. Setengah jam cukup untuknya mandi dan berdandan. Edward melepaskan pelukannya, karena pintu lift sudah terbuka. Bitsy melangkah keluar lalu melambai sambil tersenyum.


"Aku akan cepat," ucapnya.


"Aku sudah tidak sabar melihat penampilanmu. Segeralah masuk ke dalam kamarmu."

__ADS_1


Bitsy kembali melambai dan senyuman manis masih menghiasi wajahnya. Kaki Edward sudah ingin melangkah keluar\, dia merasa sangat ingin merengkuh tubuh Bitsy lalu melu*at bibirnya sampai dia puas tapi dia harus menahan hawa na*sunya.


Bitsy bergegas masuk ke dalam kamar, hantu La Lionora menjadi penghuni kamarnya semenjak dia bersedia membantu hantu itu. Sekarang dia sudah tidak terlalu terkejut lagi ketika mendapati hantu itu melayang-layang di dalam kamarnya sambil menarik ususnya yang ke mana-mana.


"Kau benar-benar menakutkan, apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Bitsy seraya meletakkan paper bag ke atas ranjang.


"Kapan kau akan mencari petunjuk?" tanya La Lionora seraya menembus dinding lalu muncul kembali.


"Malam ini, aku dan Edward akan pergi ke sebuah pesta untuk bertemu dengan Acton Adam."


"Benarkah?" La Lionora berhenti melayang lalu melihat ke arah Bitsy.


"Untuk apa aku berbohong? Aku dan Edward akan menemuinya malam ini tapi kau harus ingat satu hal. Jika kau berada di tempat pesta itu, tolong jangan membuat kekacauan sehingga ada hantu lain yang tahu akan kemampuanku!"


"Tidak, tentu saja tidak!" kedua tangan La Lionora mengepal erat, tatapan kedua matanya tampak dipenuhi dengan dendam.


"Bagus, aku mau mandi!" Bitsy melangkah menuju kamar mandi, dia harus segera selesai karena waktu setengah jam yang dia miliki tidak boleh dia sia-siakan. Lagi pula dia tidak mau membuat Edward menunggu karena dia sudah membuat pria itu menunggu tadinya.


Gaun berwarna hitam dikeluarkan dari dalam tas. Gaun itu tidak terlalu panjang karena sampai di lutut saja dan gaun itu mempermanis penampilan Bitsy yang memang sudah manis. Edward memang memiliki selera yang bagus tapi dia memang memiliki bayangan sendiri jika Bitsy gadis manis yang begitu polos. Seperti yang dia bayangkan, gaun itu sangat cocok dengan Bitsy apalagi dipadukan dengan sarung tangan hitam yang sedang Bitsy kenakan serta rambutnya yang dikepang sederhana. Penampilan manisnya membuat Edward enggan membawa Bitsy pergi. Mendadak dia ingin menyembunyikan Bitsy di dalam kamarnya agar tidak ada yang melihat penampilan manis dari kekasih hatinya.


"Kenapa melihat aku seperti itu?" tanya Bitsy.


"Kau tahu?" Edward memeluk Bitsy dan menariknya mendekat, "Rasanya ingin menyembunyikan dirimu di rumahku agar tidak ada yang melihat dirimu!" ucapnya lagi.


"Sembarangan. Aku bukan sarang burung walet yang harus kau sembunyikan!"


"Apa hubungannya dengan sarang burung walet?" tanya Edward tidak mengerti.


"Karena mahal!"


Edward terkekeh, ciuman lembut mendarat di dahi Bitsy.


"Siap pergi?" tanyanya.


"Tentu saja. Aku sudah tidak sabar semua ini selesai!"


"Ayo, kita temui pria itu lalu cari petunjuk!" Edward menggandeng tangan Bitsy dan mengajaknya pergi. Semoga saja usaha mereka tidak sia-sia malam ini dan semoga saja mereka mendapat petunjuk walau hanya sedikit.

__ADS_1


__ADS_2