
Langkah kaki Mia yang menginjak pecahan beling terdengar. Tidak ada rasa sakit yang dia rasakan, satu tetes darah pun tidak ada karena sejak Mia meninggal sel-sel darahnya sudah tidak bekerja lagi. Mia hanyalah tulang dibalut daging dan semua organ tidak berfungsi. Tubuhnya hanya digerakkan oleh sang iblis yang berada di dalam tubuhnya.
Suara beling yang terinjak semakin mendekat, Bitsy pun semakin ketakutan. Dia mencoba mengintip untuk melihat sudah sejauh mana iblis itu darinya karena dia takut kedua adiknya ditemukan terlebih dahulu. Iblis itu melihat sekitar dan tersenyum, di mana ketiga anak itu bersembunyi? Apakah dia dalam lemari ataukah?
Seringai menghiasi wajahnya. Dia pasti bisa menemukan anak-anak itu dan menjadikannya hidangan makan malamnya. Memang harus ada tantangan saat menangkap mangsa karena dengan begitu mangsa akan terasa lebih lezat saat disantap.
"Bitsy, kau ingin dimakan terlebih dahulu atau adikmu?" satu langkah yang dia lakukan membuat Bitsy semakin ketakutan karena dia yang paling dekat dengan iblis itu. Bitsy menutup mulut rapat karena dia sedang menahan tangisannya. Takut, dia benar-bear sangat takut. Rasanya ingin memanggil ibunya atau ayahnya tapi mereka tidak ada.
"Bitsy, Mommy bisa mencium wangimu yang lezat, Sayang!" Mia sudah berdiri di depan sebuah lemari di mana biasanya digunakan oleh Bitsy untuk bersembunyi bersama dengan adiknya.
"Aku tahu kau berada di dalam, Bitsy. Aku akan memakanmu tanpa ragu!" Mia membuka pintu lemari dan memeriksanya tapi anak-anak tidak ada di sana.
"Kalian cukup pintar, hi... hi.. hi.. hi..!" dia kembali memeriksa sisi lemari yang lain tapi anak-anak tidak dia temukan di sana. Mia berpaling ke arah lemari lainnya. Pasti di sana, anak-anak itu tidak mungkin berada di tempat lain apalagi di kamar itu hanya ada dua lemari pakaian.
Pisau yang tajam diangkat, Mia melangkah mendekati lemari itu. Dia merasa ada ketakutan dari balik lemari itu, jiwa lezat yang sedang ketakutan tapi dia pun merasakan di tempat lain. Iblis itu berpaling dan melihat ke arah ranjang. Yang mana dulu, di lemari atau di bawah ranjang?
"Aku tahu kalian berada di mana anak-anak. Aku bisa mencium aroma jiwa kalian yang ketakutan karena jiwa seperti itu sangatlah lezat," iblis itu melangkah menuju lemari dengan perlahan. Langkah kakinya dapat didengar oleh Angela yang sedang bersembunyi di dalam lemari itu. Bitsy pun dapat melihat kaki ibunya yang melangkah mendekati lemari. Semoga saja dia yang ditemukan terlebih dahulu, semoga saja bukan Angela namun kedua kaki ibunya justru melangkah menuju lemari.
Bitsy bergeser dengan perlahan menuju sisi ranjang karena dia ingin melihat apakah ibunya sudah berada di dekat kedua adiknya atau tidak. Dia harus keluar jika kedua adiknya berada di dalam bahaya. Ibunya memang sudah berdiri di depan lemari, menempelkan telinganya ke daun pintu lalu senyuman menghiasi wajahnya.
"Angela, ayo keluar," Angela terkejut karena itu suara kakaknya.
"Di luar sudah tidak apa-apa. Ayo kita pergi mencari Daddy," ajak kakaknya lagi tapi itu adalah iblis yang sedang merubah suaranya sebagai Bitsy untuk mengelabui Angela.
__ADS_1
Angela sangat senang, dia ingin membuka pintu lemari tapi dia teringat dengan sandi yang yang dia buat dan kakaknya. Bukankah kakaknya harus menyebut nama sayuran jika berbicara dengannya tapi kenapa kakaknya tidak melakukannya?
"Cepat, Angela. Sebelum Mommy datang!" iblis itu masih meniru suara Bitsy namun Angela masih tidak keluar bahkan Angela menahan Rian yang ingin keluar karena mendengar suara kakaknya.
"Cepat Angela!" kini iblis itu berteriak lalu mendorong pintu lemari dengan keras hingga terbuka.
Angela terkejut dan berteriak melihat sosok ibunya yang berlumuran darah dan menakutkan. Dia kira Bitsy sudah dimakan oleh ibunya yang menakutkan.
"Keluar kau, anak nakal. Aku akan memakanmu terlebih dahulu!" iblis itu menarik Angela keluar dari dalam lemari.
Angela hanya bisa berteriak ketakutan, Rian pun menangis dengan kerasnya. kedua anak itu di lempar ke sisi lemari tanpa perasaan karena iblis memang tidak memiliki perasaan. Angela dan Rian menangis karena sakit, kini ibu mereka sudah berdiri di hadapan mereka dengan pisau yang cukup tajam.
"Sakit, Mommy. Sakit!" teriak Angela.
"Tidak mau, tidak mau!" Angela memeluk Rian dengan erat dan tampak gemetar ketakutan.
"Jika begitu, Angela yang akan Mommy makan terlebih dahulu!" Pisau diangkat dan akan digunakan untuk memotong Angela namun Bitsy yang keluar dari bawah ranjang dengan susah payah berlari ke arah iblis yang menyamar menjadi ibunya lalu mengayunkan kayu yang ada di tangan ke kepala iblis itu sambil berteriak.
"Jangan mengganggu kedua adikku!" teriakan Bitsy mengiringi suara kepala yang dipukul dengan keras.
Iblis itu berteriak dan marah. Angela segera menggendong Rian dan berlari ke arah kakaknya. Teriakan mereka memenuhi rumah di tempat yang sepi. Tidak akan ada yang mendengar teriakan mereka, tidak satu orang pun yang tahu apa yang dialami oleh ketiga anak malang itu.
"Kurang ajar, kurang ajar!" iblis itu memegangi kepalanya.
__ADS_1
Bitsy melangkah mundur, begitu juga dengan Angela. Mereka benar-benar ketakutan apalagi iblis itu berbalik dan melihat mereka dengan seringai lebar. Perban yang selama ini menutup luka jahitan yang ada di kepala ibu mereka terjatuh.
Iblis itu melihatnya lalu seringai lebar kembali menghiasi wajah. Bitsy dan Angela masih melangkah mundur dengan perlahan tanpa melepaskan pandangan mereka dari sosok sang ibu yang semakin menakutkan saja.
Kreeeekkkkk...... itu suara kepala Mia yang terbelah menjadi dua dengan perlahan di mana jahitan yang selama ini berada di atas kepalanya terbuka dengan lebar hingga menganga.
Aaaaaaaaa.........! Bitsy dan Angela berteriak dengan keras melihat hal mengerikan itu. Bitsy berlari mengambil kunci yang ada di atas ranjang lalu berlari menghampiri kedua adiknya lagi.
"Cepat keluar!" Bitsy memberikan kunci yang sudah dia dapatkan pada Angela.
"Takut kakak, takut!" kedua kaki Bitsy gemetar sehingga sulit dia gerakkan.
"Jangan kira kalian bisa pergi dariku!" ibu mereka yang menakutkan itu, melangkah mendekat dengan kepala yang terbelah dua.
"Cepat!" Bitsy kembali berteriak agar adiknya segera lari sambil mengangkat tongkat kayunya. Angela berlari menuju pintu dengan rasa takut luar biasa, tangan pun gemetar sehingga dia kesulitan untuk memasukkan kunci ke lubangnya ditambah dia harus menggendong Rian yang menangis dengan kerasnya.
"Aku akan memakan kalian semua!" iblis itu berlari mendekat sambil mengangkat pisaunya sedangkan Bitsy siap memukul. Sosok ibunya yang menakutkan semakin dekat dan Bitsy pun mengayunkan tongkatnya namun anak-anak tetaplah anak-anak. Tongkat yang dia ayunkan ditangkap oleh ibunya lalu Bitsy dilemparkan ke samping.
"Bitsy!" Angela yang melihat berteriak, rasa takut dan panik membuatnya tidak fokus untuk memasukkan kunci ke dalam lubangnya.
"Ja-Jangan!" pinta Bitsy yang terbaring di atas lantai akibat dilempar oleh iblis itu. Seluruh badannya sakit, dadanya pun terasa sakit sehingga membuatnya merangkak di atas lantai.
"Diam di sana dan lihatlah, bagaimana Mommy memakan adikmu terlebih dahulu!" iblis itu melihat Angela yang ketakutan dengan tatapan mata yang lapar.
__ADS_1
"Bitsy, tolong!" pinta Angela yang semakin melangkah mundur hingga membentur dinding. Angela mendekap adiknya yang sedang menangis dengan keras karena ibunya sudah melangkah mendekat dengan pisau tajam yang akan dia gunakan.