
Darko menggali tanah di samping rumah karena dia akan menguburkan tubuh istrinya di sana. Dia tidak bisa membawa istrinya kembali ke kota London karena keadaannya yang sudah hancur. Hanya di sana dia bisa memakamkan istrinya dan tentunya, berat baginya.
Perasaan cinta untuk istrinya tak bisa padam sehingga perasaan tak rela memenuhi hati. Dengan air mata mengalir tiada henti, Darko menggali tanah sedikit demi sedikit. Kedua tangan sudah terasa membeku tapi dia tidak berhenti sampai dia menggali cukup dalam.
Cangkul yang ada di tangan terjatuh, Darko melangkah mendekati jasad istrinya dengan terhuyung-huyung. Ini terakhir kali dia melihat wajah Mia namun yang bisa dilihat hanya dari bagian mata sampai dagu karena bagian atasnya hancur akibat tembakan.
"Maafkan aku, Honey!" Darko memeluk istrinya dengan erat dan menangis, "Maafkan aku telah membuatmu seperti ini!" ucapnya lagi. Kesedihan akan kehilangan orang yang dia cintai melanda, Darko mendekap tubuh istrinya semakin erat. Kali ini, dia tahu dia tidak bisa menggali untuk melihat rupa istrinya lagi.
Darko bahkan berteriak dengan keras di tengah salju yang masih saja jatuh ke atas bumi. Kenapa? Kenapa perpisahan harus mereka alami? Kenapa Tuhan begitu tega mengambil istri yang paling dia cintai? Rasanya sangat tidak adil, rasanya Tuhan tidak adil pada mereka.
"Kenapa kau tidak adil padaku?" teriak Darko sambil mendongak ke atas. Dia seolah-olah mencari keadilan dari apa yang telah menimpa keluarganya. Darko masih menangis dengan keras, menangisi kematian istrinya tanpa sadar jika tiba-tiba saja kedua mata Mia terbuka dengan lebar.
"Maafkan aku, Honey. Kali ini aku harus menguburkan tubuhmu!" pelukannya sedikit longgar, dia hendak menggendong tubuh Mia dan menguburkannya tapi dia tidak menduga jika tiba-tiba saja tubuh itu bergerak dan mendorongnya hingga jatuh. Darko terkejut, dia sudah berbaring di atas salju sedangkan tubuh Mia berada di atasnya.
"Mia?" Darko sangat heran karena tubuh itu bergerak padahal dia sudah menghabisi iblis yang ada di dalam raga istrinya.
Seringai terukir dari bibir Mia, Darko masih tidak mengerti kenapa raga itu masih bisa bergerak. Darko kembali memanggil sambil mengangkat tubuhnya sedikit, dia pun berusaha mengambil sebatang kayu yang ada di dekatnya namun sebelum hal itu terjadi, iblis Lisa yang ternyata masih berada di dalam tubuh Mia berteriak dengan nyaring sambil memuntahkan cairan merah yang seperti darah ke atas wajah Darko.
Teriakannya melengking tinggi, Darko pun berteriak sambil berusaha menghalangi cairan darah yang masuk ke dalam mulutnya menggunakan tangannya. Cairan darah yang sangat bau dan amis. Seharusnya dia langsung menguburkan jasad Mia tapi dia tidak menduga iblis itu masih ada. Teriakan iblis Lisa masih terdengar disertai air darah yang keluar dari mulutnya namun itu hanya berlangsung beberapa menit karena setelah semua itu selesai, raga Mia jatuh ke atas tubuhnya dan tidak bergerak.
"Sial, Sial!" Darko menyingkirkan tubuh istrinya dan beranjak dalam keadaan basah. Bau amis menyengat, Darko membuang baju hangatnya dengan terburu-buru dan meludah sesekali untuk mengeluarkan cairan darah yang masuk ke dalam mulutnya.
"Iblis sialan!" Darko mengumpat sambil menendang tubuh istrinya. Salju yang ada di gunakan untuk membersihkan wajahnya yang dipenuhi oleh cairan darah. Sungguh sial, sepertinya dia harus segera menguburkan jasad istrinya.
__ADS_1
Jasad Mia diangkat, lalu dilemparkan ke dalam lubang yang sudah dia gali. Kali ini dia tidak membuang waktu. Darko menimbun tubuh Mia di mana iblis itu benar-benar sudah tidak ada lagi. Meski air mata kembali mengalir karena harus menyaksikan istrinya terkubur dengan perlahan tapi Darko melakukannya sampai akhir.
Dua batang kayu yang diikat menyerupai salib diambil lalu kayu itu ditancapkan ke atas makam Mia. Darko melihatnya sambil terengah, akhirnya dia bisa melakukannya tapi entah kenapa tubuhnya menjadi begitu lemas. Darko memegangi kepala, pandangannya tiba-tiba berputar dan tidak lama kemudian pria itu ambruk ke atas makam istrinya sendiri.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengannya, tidak ada siapa pun selain dirinya di tempat itu karena Erick dan Nadia sedang berjuang menuju rumah sakit untuk menyelamatkan ketiga anak yang sedang kritis akibat kedinginan serta kehilangan banyak darah.
Darko tidak bergerak, seperti pingsan. Dia seperti itu sampai Erick kembali setelah dari rumah sakit untuk melihat keadaan Darko sesuai dengan permintaan Nadia. Erick menemukan dirinya berada di dekat sebatang pohon besar dengan berlumuran darah dan dia berada tidak jauh dari gundukan tanah namun sudah sedikit tertutup salju. Erick dan Nadia memutuskan tidak melaporkan hal itu pada pihak berwajib karena kejadian itu di luar nalar manusia.
"Darko!" Erick mengguncang tubuh kakak iparnya yang dingin akibat basah dan tanpa menggunakan pakaian hangat.
Salju disingkirkan dari kepala pria itu namun bau amis yang begitu menyengat membuat Erick sangat heran. Bekas air darah juga bisa terlihat dari salju di mana iblis itu memuntahkan air darah tersebut. Erick kembali mendekati Darko dan mengguncang tubuhnya, apa yang sebenarnya terjadi setelah mereka pergi?
"Darko!" Erick kembali memanggilnya. Darko terkejut, dia tampak linglung dan tidak ingat dengan apa yang baru saja dia alami.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Erick.
"Aku? Sepertinya aku terlalu lelah sehingga aku pingsan."
"Bau amis apa ini?" Erick melangkah mundur dan melihat sekitar.
"Itu bekas tubuh istriku, jangan dipikirkan."
"Baiklah, sebaiknya bersihkan dirimu. Aku datang untuk menjemputmu!"
__ADS_1
"Bagaimana dengan anak-anakku?" tanya Darko.
"Mereka sudah baik-baik saja, sekarang sedang ditangani oleh dokter!"
"Aku lega mendengarnya, sekarang aku mandi sebentar karena aku ingin melihat keadaan anak-anakku!" Darko melangkah pergi sambil memijat tengkuknya yang terasa pegal. Aneh, dia merasa begitu lelah. Pasti karena terlalu lama tersesat lalu harus mencari keberadaan anak-anaknya serta mengembalikan iblis itu ke dalam neraka. Sekarang dia yakin semua sudah berakhir, dia yakin sudah berakhir dan tidak ada yang akan mengganggu ketiga anaknya lagi.
Erick menunggu sambil melihat sekitarnya, sungguh aneh. Apa iblis yang ada di dalam tubuh kakak ipar Nadia sudah pergi? Jika menggunakan logika, iblis hanya bisa diusir menggunakan doa dari seorang ahli atau mantra lalu apakah iblis yang mereka hadapi semalam sudah benar-benar pergi?
Lupakan, dia datang untuk mengambil barang-barang Bitsy dan Angela, juga barang-barang Rian. Selagi Darko sedang mandi, Erick mengambil semua yang dibutuhkan di rumah itu. Terkadang dia bertanya pada Darko karena dia tidak tahu di mana letaknya tapi Darko tidak menjawab sehingga mau tidak mau dia mencarinya sendiri sampai dapat.
Darko yang sedang mandi merasa seluruh badan terasa gatal. Sial, semua pasti gara-gara muntahan dari iblis yang ada di dalam tubuh Mia. Sebaiknya dia bergegas karena dia sudah tidak sebar melihat ketiga anaknya, yeah.. dia sudah sangat ingin melihat keadaan ketiga anaknya.
Erick pun sudah selesai, dua tas sudah terisi penuh dengan barang-barang anak-anak. Dia sedang menunggu kakak iparnya di luar sambil melihat sekitar hutan dan ladang jagung yang membeku.
"Aku sudah selesai!" ucap Darko.
"Bagus, saatnya pergi!" Erick mengambil tas yang ada di atas lantai.
"Aku bantu!" Darko mengambil satu tas yang ada, Erick meliriknya dan tampak heran karena kedua mata Darko memerah dan kulitnya terlihat pucat dengan bintik merah yang muncul di atas permukaan kulit.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Erick.
"Tentu saja, ayo kita pergi!" ajak Darko. Perasaannya sungguh aneh, tidak saja terasa gatal tapi dia merasa lehernya pegal. Semoga saja keadaannya kembali seperti semula karena dia ingin meminta maaf pada anak-anaknya dan menjaga mereka dengan bailk.
__ADS_1