
Mobil dibawa dengan cepat oleh Erick menebus badai salju dan gelapnya malam menuju rumah tua yang sudah lama ditinggalkan. Erick hanya diam menjadi pendengar yang baik untuk mendengarkan debatan istrinya dengan sang kakak ipar.
Nadia yang sangat kecewa pada kakaknya tentu tidak bisa menahan diri untuk tidak memarahi tindakan bodoh yang kakaknya lakukan apalagi Darko masih saja berkelit dan tidak mau mengakui perbuatan keji yang dia lakukan pada mayat istrinya.
"Jangan asal bicara karena kau tidak tahu apa pun!" teriak Darko.
"Jika aku tidak tahu apa pun maka aku dan Erick tidak akan datang jauh-jauh dari Belanda kemari. Apa kau pikir perjalanan kami mudah? Kami harus melewati banyak rintangan untuk menghentikan kegilaanmu saja!" Nadia semakin kesal karena kakaknya masih saja berkilah dan tidak mau mengakuinya.
"Ketiga anak-anakku baik-baik saja bersama dengan ibu mereka jadi jangan terlalu berlebihan!" ucap Darko. Entah bagaimana Nadia bisa tahu, jangan katakan para polisi sudah mengetahui jika dialah yang telah membongkar makam istrinya.
"Sudah aku katakan padamu, kakak ipar mendatangi aku setiap malam dan meminta bantuanku. Dia selalu berkata ketiga anaknya berada di dalam bahaya jadi kau tidak bisa menipu aku. Kau telah melakukan sesuatu yang salah, Kakak. Kakak Ipar sangat menderita karena perbuatanmu dan dia tidak bisa beristirahat dengan tenang jadi sekarang katakan padaku, Kak. Apa yang telah kau lakukan pada kakak ipar? Jangan mengelak karena kami menemukan mantra ini!" Nadia memberikan kertas mantra yang dia temukan di rumah kakaknya. Dia sengaja membawa kertas mantra itu agar kakaknya tidak bisa mengelak dan memang dia membutuhkannya.
"Aku memang membangkitkan kakak iparmu dari kematian menggunakan mantra ini!" Darko mengambil kertas mantra dari tangan adiknya.
"Apa? Kau benar-benar gila!" teriak Nadia.
"Aku melakukannya karena aku tidak bisa kehilangan istriku dan ketiga anakku membutuhkan sosok ibunya. Aku tidak melakukan hal yang salah, aku membangkitkan dirinya tanpa menggunakan tumbal nyawa manusia dan aku berhasil membangkitkan dirinya!"
"Kau benar-benar bodoh, yang ada di dalam raga kakak ipar bukanlah kakak ipar!" ucap Nadia.
"Apa maksudmu berkata demikian? Dari mana kau tahu?"
__ADS_1
"Kak, aku rasa kau bukan anak kecil. Kau pasti tahu yang mati sudah tidak bisa dibangkitkan lagi dan yang kau bangkitkan itu bukan kakak ipar tapi sesuatu yang jahat dan sekarang kemungkinan yang jahat itu sedang mengincar ketiga anakmu. Jika yang kau bangkitkan adalah kakak ipar, tidak mungkin dia mendatangi aku untuk meminta bantuan. Kakak ipar pasti tahu kau sudah membangkitkan sesuatu yang jahat oleh sebab itu dia datang meminta batuanku. Apa selama ini kau tidak merasa ada yang aneh? Apa ketiga anakmu tidak menunjukkan gelagat yang aneh? Anak-Anak lebih peka dan jangan katakan kau mengabaikan gelagat aneh mereka demi ambisi gilamu itu!" apa yang Nadia katakan sangat benar oleh sebab itu Darko diam dan menunduk.
Selama ini yang paling takut dan menunjukkan gelagat aneh adalah Bitsy. Bitsy selalu berkata jika ibunya adalah hantu dan hendak memakan mereka tapi dia tidak percaya sama sekali. Rian juga menunjukkan hal yang sama tapi dia tidak mempercayai apa yang Bitsy ucapkan. Tulang-Tulang binatang yang dia temui, sekarang dia sedang mencerna situasi yang selama ini terjadi pada anak-anaknya setelah dia membangkitkan Mia.
"Kenapa kau diam saja? Pasti gelagat anak-anakmu ada yang aneh bukan?"
"Bitsy selalu berkata jika ibunya adalah hantu dan aku tidak mempercayainya!"
"Apa kau bilang? Jadi Bitsy sudah berkata demikian dan kau masih tidak percaya?" teriak Nadia.
"Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat kau cintai. Paginya kau bersama dengannya tapi tanpa kau duga, dia meninggal begitu saja saat siang. Apa kau kira aku sanggup menerima kepergiannya? Tidak, Nadia. Aku begitu mencintai Mia, anak-anak juga membutuhkannya jadi apa yang aku lakukan tidaklah salah. Aku membangkitkan dirinya agar kebahagiaan kami kembali seperti semula dan aku melakukannya untuk ketiga anakku yang harus kehilangan sosok seorang ibu di usia mereka yang masih sangat kecil. Jadi apa yang aku lakukan tidaklah salah!"
"Guys, bisa berhenti berdebat? Kita sudah sampai!" ucap Erick. Rumah tua disinari dengan lampu mobil, suasana hening dan rumah itu sangat gelap.
"Kita akan lanjutkan nanti!" ucap Nadia. Dua pistol diambil juga sebuah senjata api laras panjang.
"Apa yang mau kau lakukan? Kau tidak berniat membunuh istriku, bukan?" tanya Darko.
"Jika dia membahayakan anak-anak, aku akan membunuhnya!" Nadia turun dari mobil begitu juga dengan Erick. Mereka kembali membawa senter, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di rumah yang gelap. Darko pun ikut turun, meski dia menyangkal tapi firasat buruk dan perasaan cemas memenuhi hatinya.
"Bitsy, Angela!" Darko berlari menuju rumah di mana pintu rumah sudah terbuka dengan lebar.
__ADS_1
"Bitsy, Angela. Daddy sudah pulang!" Darko melangkah cepat lalu menyalakan lampu,.
Darko terkejut melihat rumah yang berantakan, Nadia dan Erick pun sudah masuk ke dalam rumah tersebut. Mereka juga terkejut mendapati rumah yang berantakan. Darko melangkah ke arah kamar, karena dia ingin melihat keadaan ketiga anaknya.
"Bitsy, Angela," dia kembali memanggil namun suasana begitu hening. Darko melangkah dengan perlahan namun langkahnya terhenti ketika melihat bercak darah di atas lantai dan bercak itu berasal dari arah kamar putrinya.
"Bitsy, Angela!" Darko berlari menuju kamar putrinya untuk mencari. Nadia mengikuti sedangkan Erick melihat sekitarnya di mana terdapat begitu banyak bercak darah tanpa mereka sadari. Darah dari ruang tamu, dari arah baseman bahkan bercak darah berceceran di mana-mana.
Darko terkejut mendapati pintu kamar putrinya rusak akibat benda tajam. Padahal dia sudah meminta putrinya untuk mengunci pintu, apakah semua itu gara-gara ulah Mia yang ingin menerobos masuk? Dia kembali dikejutkan oleh bercak darah yang ada di depan pintu, kaca jendela yang pecah lalu kamar yang berantakan.
"Bitsy, Angela!" dia kembali memanggil putrinya yang entah berada di mana.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu setelah ini!" Nadia berlari keluar. Sial, ke mana ketiga anak kakaknya?
"Nadia!" Erick yang yang berlari masuk ke dalam mengejutkan dirinya, "Ikut aku!" ajak suaminya.
Nadia mengikuti Erick, Darko pun keluar dari kamar putrinya yang berantakan. Erick menunjukkan semua bercak darah yang hampir memenuhi rumah dan keadaan itu seperti baru saja terjadi sebuah pembantaian besar.
"Tidak mungkin, tidak mungkin!" Darko jatuh berlutut melihat rumahnya yang berantakan.
"Sial, ayo cari!" ajak Nadia. Apakah mereka sudah terlambat? Ketiga anak itu pasti masih hidup. Mereka berpikir demikian tapi bercak darah yang ada ada di atas lantai itu bercak darah apa? Apakah mereka benar-benar sudah terlambat?
__ADS_1