Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
La Lionora- 8


__ADS_3

Bitsy sudah terlihat rapi ketika Edward datang untuk menjemputnya. Pria itu tersenyum saat melihat Bitsy sudah berdandan dengan cantik namun kaca mata hitam yang dia gunakan benar-benar mengganggu. Edward semakin curiga dengan kaca mata hitam yang selalu Bitsy gunakan. Jangan katakan ada yang istimewa pada kaca mata hitam itu dan jangan katakan pula Bitsy mengira mereka akan pergi menonton konser rock and roll bahkan penampilannya begitu sederhana untuk menyaksikan sebuah konser berkelas.


"A-Apa penampilanku aneh?" tanya Bitsy karena Edward tak melepaskan pandangan darinya.


"Ya, Nona. Kita tidak pergi menonton konser rock and roll. Aku ingin kau memakai gaun yang cantik dan kaca mata ini," Edward mengambil kaca mata hitam yang Bitsy gunakan, "Kaca mata ini membuatmu jadi aneh dan tidak cocok!" ucapnya lagi.


"Oh," jawab Bitsy singkat. Pantas saja Edward terlihat begitu rapi dengan tuxedo yang dia kenakan.


"Oh, hanya itu yang kau katakan. Kau benar-benar pelit bicara!" Bitsy bahkan tidak bertanya mereka akan menonton konser apa.


"A-Aku," Bitsy menyelipkan rambutnya dan tersipu malu.


"Pergilah ganti dengan gaun, aku tunggu!"


"Maaf, aku tidak punya. Jika begitu, aku tidak jadi pergi saja!" wajah Bitsy memerah karena malu. Dia memang tidak memiliki gaun karena dia tidak pernah pergi ke acara pesta atau apa pun selama ini.


"Tidak bisa, ikut aku!" Edward menarik tangan Bitsy dan menariknya keluar. Dia sudah mendapatkan pasangan sempurna jadi dia tidak mau pergi sendiri.


"Tunggu, Edward. Aku tidak punya gaun jadi aku tidak pergi saja!" Bitsy berusaha menahan tangan Edward namun dia kalah tenaga.


"Itu perkara mudah, aku yang akan membelikannya untukmu. Sekarang kunci pintunya!"


"Kau tidak perlu melakukan hal itu, Edward. Jangan membuang uangmu untuk hal yang tidak perlu!"


"Aku tidak merasa demikian. Segera kunci pintunya dan kita pergi agar tidak terlambat!"


"Baiklah," mau tidak mau Bitsy mengikuti perkataan Edward. Pintu dikunci, Edward kembali meraih tangannya dan menariknya menuju lift. Tatapan mata Bitsy jatuh pada tangannya yang digenggam oleh Edward. Rasanya jadi terbiasa digandeng oleh pria itu tapi dia tidak boleh terbuai dengan rasa nyaman yang diberikan oleh Edward apalagi dia tidak bisa melihat hantu saat bersama dengan pria itu.

__ADS_1


Lagi-Lagi Bitsy menunduk karena Edward berdiri di hadapannya dan menghimpitnya ke dinding lift padahal hanya ada mereka berdua saja. Tatapan mata Edward tidak berpaling darinya sehingga membuat Bitsy jadi salah tingkah. Jujur saja dia tidak suka dilihat seperti itu.


Bitsy mengangkat wajah, senyuman menawan Edward yang dia dapatkan namun dia jadi gugup karena Edward memainkan rambutnya.


"Akhirnya kau melihat aku juga. Aku kira kau akan menunduk sampai kita di tempat konser."


"A-Aku?" Bitsy semakin gugup dan kembali menunduk karena Edward mengangkat rambutnya dan menciumnya.


"Kenapa kau selalu gugup seperti itu? Ini bukan pertama kalinya kau bersama dengan laki-laki, bukan?"


"Tentu saja bukan!" jawab Bitsy. Dia selalu bersama dengan ayah dan adiknya sudah pasti saja itu bukan yang pertama kalinya.


"Baiklah, gadis cantik seperti dirimu tidak mungkin tidak ada yang suka. Berapa usiamu jika aku boleh tahu?" Edward yang sangat ingin tahu tentang Bitsy mulai mengorek sedikit informasi tentangnya.


"Dua puluh tiga dan kau?" Bitsy mengangkat wajah dan kembali memandangi Edward.


"Jawabanmu benar-benar tidak ada yang lain selain oh' saja. Apa itu jawaban untuk menghindari pertanyaan lainnya atau kau tidak ingin bertanya tentang maksud dari perkataanku?"


"Bukan begitu, semoga kau segera menemukan istri yang cocok untukmu!" ucap Bitsy. Edward terkekeh, semakin mengenal Bitsy semakin dia merasa tertarik karena Bitsy tidak peka sama sekali dengan perkataannya. Edward bersandar di dinding, namun tangan Bitsy kembali digenggam. Mereka tidak mengatakan apa pun karena ada yang masuk ke dalam lift.


Untuk kali ini, Bitsy tidak merasa takut karena dia tidak bisa melihat hal menakutkan meski gelap. Dia pun tidak perlu memakai kaca mata hitamnya tapi ketika dia sedang mencoba gaun yang dipilihkan oleh Edward, lagi-lagi Bitsy bertemu dengan hantu pelayan yang menunggu ruang ganti dengan wajah yang hilang setengah.


Bitsy mencoba gaunnya dengan terburu-buru. Sungguh tidak menyenangkan melihat sosok mengerikan itu terus menerus. Karena tidak mau berlama-lama, Bitsy memilih gaun yang sedang dia coba agar dia tidak melihat hantu mengerikan itu lagi.


"Apa kau tidak mau mencoba yang lainnya?" tanya Edward. Bitsy begitu terburu-buru padahal mereka masih memiliki cukup waktu.


"Aku rasa ini sudah cukup bagus. Kita hanya menonton konser saja, bukan?"

__ADS_1


"Yeah, kau benar. Gaun itu pun cocok untukmu!" Edward melangkah berputar untuk melihat Bitsy dengan gaun yang dia kenakan. Bentuk tubuh yang bagus dengan wajah yang cantik, Bitsy terlihat sempurna meski dandanannya cukup sederhana.


"Jika begitu aku akan membayarnya!"


"Tidak..  Tidak, aku yang akan membayar, Nona!" Edward melangkah pergi menuju kasir. Bitsy berlari kecil di belakangnya agar dia tidak berjauhan dengan Edward. Untuk malam ini dia harap dia tidak melihat hantu yang menakutkan lagi selain hantu yang ada di ruang ganti.


Mereka pergi ke tempat konser setelah mendapatkan guan, tempat duduk eksclusive sudah tersedia untuk mereka berdua. Tentunya tempat spesial yang diperuntukkan untuk tamu eksclusive. Bitsy melirik ke arah Edward sejenak, pria itu tersenyum saat menyadarinya. Dia jadi ingin tahu, siapa Edward sebenarnya?


"Apa kau jatuh hati padaku oleh sebab itulah kau melihat aku seperti itu?" goda Edward.


"Ti-Tidak!" Bitsy berpaling, mendadak dia jadi malu.


"Aku tidak keberatan jika kau jatuh hati padaku, Bitsy."


"Tolong jangan bercanda untuk hal seperti ini, Edward. Aku?" ucapan Bitsy terhenti karena Edward beranjak dari tempat duduk.


"Aku tinggal sebentar tidak masalah, bukan?"


"Yeah, tentu saja!"


Edward melangkah pergi sedangkan Bitsy melihat sekitarnya. Mendadak dia merasa ada yang memperhatikan, itu karena Edward melangkah cukup jauh sehingga dia bisa merasakan hawa menakutkan lagi dari para hantu yang ada di tempat konser itu.


Beberapa menempel di punggung pengunjung dan sebagian berada di sisi kursi namun satu sosok yang tak asing membuat Bitsy mengernyitkan dahi dan sosok itu adalah La Lionora yang berada di samping seorang pria dan seorang wanita. Bitsy berpaling dengan cepat saat La Lionora melihat ke arahnya. Sial, apa hantu itu mengikuti dirinya?


Tidak dia rasa tidak mungkin karena hantu itu berada di samping seorang pria. Apa La Lionora hendak menyampaikan sesuatu ataukah kematiannya ada hubungannya dengan pria yang dia ikuti? Sepertinya dia harus mencari tahu tapi sayangnya, Edward sudah kembali dan duduk di sampingnya sehingga dia tidak bisa melihat hantu bergaun pengantin itu lagi.


"Maaf membuatmu menunggu. Tidak marah, bukan?"

__ADS_1


Bitsy tersenyum dan menggeleng. Padahal dia ingin melihat apa yang diinginkan oleh La Lionora dengan dua tamu itu tapi sayang Edward sudah kembali. Jika begitu, dia harus berjauhan dengan Edward untuk sementara waktu agar dia bisa berbicara dengan hantu kasar dan penuh dendam itu.


__ADS_2