Devil In My Wife Body

Devil In My Wife Body
Jiwa Yang Lezat


__ADS_3

Darko sudah bertekad membawa keluarganya pergi malam itu juga ke sebuah tempat yang sunyi untuk memulai kehidupan baru di tempat itu di mana tidak ada yang mengenal mereka. Tidak akan ada yang tahu jika Mia sudah pernah meninggal dan dia yakin tidak akan ada yang menyadarinya apalagi Mia sudah kembali tapi dia tidak akan menduga jika dari sanalah mala petaka bagi anak-anaknya akan terjadi.


Salju pertama di bulan itu sudah mulai turun, cuaca yang cukup dingin berhembus masuk ke dalam jendela yang terbuka. Mia membereskan barang-barang dan menyimpannya ke dalam koper sedangkan Darko memasukkan semua barang-barang yang akan mereka butuhkan nanti ke dalam mobil.


Angela membereskan barang-barangnya namun tidak dengan Bitsy yang tidak mau ikut. Bitsy berusaha membujuk agar adiknya tidak mau pergi. Dia ingin mengajak Angela lari untuk pergi mencari Aunty Nadia tapi Angela tidak mau sama sekali.


"Cepat, Bitsy. Jangan sampai kau tertinggal!" ucap Angela.


"Kita tidak boleh pergi, Angela. Ayo kita pergi mencari Aunty Nadia saja dari pada ikut dengan Daddy!"


"Aku tidak mau!" teriak Angela.


"Percayalah padaku, Angela. Itu bukan Mommy!"


"Kau sangat menyebalkan dan aku tidak mau berbicara lagi padamu!" teriak Angela.


Bitsy memeluk Rian dengan erat, dia sangat ingin lari tapi dia tidak bisa meninggalkan Rian dan Angela begitu saja karena dia tahu mereka berdua akan dimakan oleh ibu mereka. Angela sudah selesai, gadis manis yang masih begitu polos itu berlari keluar sambil berteriak dan memanggil ibunya.


"Mommy, aku sudah selesai!"


"Bagus, bagaimana dengan kakakmu?" tanya ibunya yang juga sudah selesai.


"Kakak tidak mau ikut!" jawab Angela.


"Benarkah? Apa dia mengatakan sesuatu?" sepertinya anak itu masih saja nakal namun jiwa murni mereka sangat lezat di makan apalagi jiwa Bitsy.

__ADS_1


"Tidak, Mommy."


"Baiklah, Mommy akan melihat keadaannya sebentar!" Mia melangkah menuju kamar putrinya. Gadis yang susah diatur pasti memiliki jiwa yang lezat.


Mia masuk ke dalam kamar dan pada saat itu juga Bitsy buru-buru mengambil tasnya dan beberapa barang-barang milik Rian juga miliknya. Seringai menghiasi wajah Mia, ternyata gadis itu cukup pintar sebelum dia mengeluarkan ancamannya lagi.


"Mommy dengar kau tidak mau ikut?" tanya Mia sengaja.


"Tidak, Mommy. Bitsy hanya belum siap saja!" jawab Bitsy tanpa mau melihat ke arah ibunya karena dia takut menatap mata ibunya yang menyeramkan.


"Dengarkan perkataanku baik-baik, jangan membantah atau apa pun karena kali ini bukan lagi ancaman. Jika kau masih saja nakal, kepala Angela akan kau dapatkan berada di atas piringmu besok pagi!"


"Tidak mau, Mommy. Bitsy hanya belum menyiapkan barang-barang Bitsy dan Rian saja!" kedua kaki Bitsy gemetar. Ancaman ibunya benar-benar terdengar sangat menakutkan apalagi tatapan mata ibunya yang sangat menakutkan. Ibunya bagaikan malaikat saat bersama dengan ayahnya dan Angela tapi dia bagaikan iblis saat bersama dengannya. Mungkin karena hal itulah yang membuat ayahnya dan Angela tidak percaya dengannya.


"Bagus, segera selesaikan!" Mia melangkah pergi dan tanpa ada yang melihat, lidahnya begitu panjang menjilati bibirnya.


"Kakak akan melindungi Rian dan Angela meski Angela tidak percaya jadi Rian tidak perlu takut. Kakak tidak akan meninggalkan Rian!" ucapnya.


"Mama," Rian memanggil ibunya dan menunjuk ke arah jendela. Bitsy berpaling, melihat ke jendela namun tidak ada siapa pun di sana.


"Mommy, aku tahu yang ada di raga itu bukan Mommy. Jika Mommy memang ada di sini, Bitsy harap Mommy menjaga Bitsy dan Rian juga Angela!" pintanya. Bagaikan mendapatkan jawaban, angin berhembus masuk melalui jendela kamarnya.


Bitsy mengusap tengkuk, gadis yang baru berusia sepuluh tahun itu segera bergegas membereskan barang-barangnya dan milik Rian. Tidak ada yang peduli dengannya, ayahnya pun seolah tidak mengingat dirinya. Darko bersama dengan Mia juga Angela di luar, menikmati kebahagiaan mereka.


Bitsy membereskan semua barang-barang sambil menangis. Tidak ada yang dia tinggalkan karena ayahnya berkata mereka tidak akan kembali lagi ke rumah itu. Sekarang dia harus mencari cara untuk menyelamatkan Angela dari ibunya yang menakutkan.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, sebentar lagi mereka akan pergi tentunya tanpa ada yang tahu. Semua barang-barang yang diperlukan sudah berada di dalam mobil, tinggal barang-barang milik Bitsy saja. Karena putrinya itu tidak juga keluar, Darko memutuskan untuk melihatnya apakah putrinya sudah siap atau belum dan meninggalkan Mia yang sedang menemani Angela tidur.


"Bitsy, apa kau sudah selesai?" tanyanya tapi ternyata Bitsy tertidur bersama dengan Rian karena dia lelah.


Darko menghampiri putrinya dan duduk di sisi ranjang. Rambut Bitsy yang menutupi wajah pun disingkirkan. Darko menghela napas, dia harap Bitsy segera mengerti jika apa yang dia lakukan hanya untuk kebahagiaan mereka meski tingkah laku Mia memang sedikit berubah.


"Daddy harap kau mengerti, Bitsy. Semua yang Daddy lakukan untuk kebaikan kita semua. Kau masih terlalu kecil dan tidak mengerti apa pun!" ucapnya. Darko menunduk lalu mencium pipi putrinya. Dia tidak langsung keluar karena Darko membereskan beberapa barang milik Bitsy dan Angela yang tertinggal.


Di luar sana, Mia menatap Angela yang sudah tertidur di atas pangkuannya dengan tatapan yang lapar. Mia mengeluarkan lidahnya yang panjang lalu menjilati wajah Angela. Kedua mata terpejam seperti sedang menikmati sebuah sensasi nikmat setelah menjilati wajah Angela.


"Nikmat. Daging segar yang nikmat!" Mia kembali menjilati wajah Angela dan memperlihatkan gigi-giginya yang tajam. Rasanya sudah tidak sabar, menikmati tiga jiwa lezat dan daging yang nikmat. Mia hendak menjilati wajah Angela untuk ketiga kali namun tidak jadi karena Darko keluar dari kamar sambil membawa barang-barang milik putrinya.


"Apa Angela sudah tidur?" tanyanya.


"Yeah, apa kita sudah mau pergi?" Mia tersenyum dengan manis tanpa memperlihatkan wujud mengerikannya.


"Aku rasa sudah saatnya, jangan sampai ada yang melihat dirimu jadi bangunkan saja Angela. Mereka bisa tidur di mobil."


"Baiklah!" Mia membangunkan Angela dari tidurnya dengan penuh kasih sayang. Saat ini dia seperti memiliki dua sisi, sisi malaikat dan sisi si iblis.


Darko kembali ke dalam setelah menyimpan barang-barang putrinya. Bitsy tidak dibangunkan agar dia tidak membuat keributan. Bitsy dan Rian dibawa dalam keadaan tidur sehingga tidak ada yang membuat keributan. Darko pun begitu waspada, melihat sekitarnya. Dia tidak mau ada yang melihat Mia oleh sebab itu, Darko menutupi kepala Mia dengan kain putih saat membawa Mia ke mobil. Sejauh ini aman, keluarganya sudah berada di dalam mobil. Pintu rumah di kunci dengan rapat dan setelah itu Darko bergegas pergi.


"Siap ke tempat baru?" tanya Darko pada istrinya yang duduk di sisinya.


Mia melihat ketiga anaknya dari kaca spion, senyuman menghiasi wajahnya setelah melihat mereka.

__ADS_1


"Sangat siap," ucapnya.


Tanpa menaruh curiga atau apa pun, Darko membawa keluarganya pergi dari tempat itu menuju tempat di mana sang iblis bisa melancarkan terornya dengan mudah.


__ADS_2