Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Pria Pata Hati


__ADS_3

Malam hari sudah semakin larut, tentunya acara lamaran kedua yang dirancang oleh Sagarr sudah usai. Kini para keluarga memutuskan untuk pulang, dan juga mereka sudah mengantongi kepastian, jika acara pernikahan antara Sagarr dan Aurell akan diadakan dua minggu lagi. Begitu cepat, karena Sagarr lah yang meminta untuk mempercepat pernikahan itu. Hanya karena alsan, ia tak ingin kehilangan Aurell untuk kesekian kalinya, ia akan menjadikan wanitanya menjadi wanita miliknya seutuhnya, hingga tak ada lagi alasan mereka untuk berpisah atau dipisahkan. Kecuali aja yang menjemput.


"Lan! Si Doni ada hubungin lo gak?" tanya Gustin ketika mereka berdua masih berada diparkiran hotel itu.


Erlan tampak mengeleng, "Engak Tin, sudah hampir satu jam bocah itu ngilang. Mungkin sangking terpukulnya kali ya?"


"Mungkin, gue juga baru nyadar kalau si Doni naksir sama Aurell. Duh.... Kita yang udah lama kenal sama dia aja sampe gak tau, bener-bener gak pantas disebut sahabat." gerutu Gustin menepuk keningnya.


Erlan menepuk bahu sahabatnya. "Bener apa yang lo bilang Tin, gue juga merasa gagal jadi temennya. Pasti sakit hati banget tuh anak." Erlan mengelengkan kepala, ikut memasamkan wajahnya.


"Tapi ngomong-ngomong Tin. Si Aurell tau gak ya? Kalo sahabatnya sendiri suka sama dia." Gustin tampak berfikir.


"Hemm, kayaknya si Aurell gak tau deh Tin, tapi bisa jadi Aurell sudah tau lebih dulu dari kita. Dan memilih untuk pura-pura tak tau?" Erlan pun juga ikut berfikir.


"Hemm, bisa jadi sih Tin. Gue gak tau nanti perasan Doni kayak gimana, kalo dia juga ikut datang keacara pernikahan Aurell."


"Yakin kalo Doni dateng?" tanya Erlan.


Gustin mengedikan kedua bahunya. "Entahlah, tapi sepertinya Doni pasti dateng Tin... Soalnya dia kan juga salah satu orang yang paling dekat dengan Aurell."


Keduanya kembali dibuat lesu.


"Emang bener ya kata orang, jika diantara pria dan wanita tak ada yang namanya teman sejati. Pasti salah satu dari mereka ada yang memiliki perasaan."


"Dan perasaan itu yang akhirnya menyakiti, pihak yang menyukai." timpal Gustin.


Erlan dan Gustin saling berpandangan.

__ADS_1


"Ah, entahlah Tin, ribet banget kayaknya masalah cinta-cintaan." gerutu Erlan mengusap rambutnya merasa pusing.


"Kita yang sahabatnya aja gak bisa berbuat apa-apa." ucap Gustin bertambah lesu.


"Hahh.... Mending kita balik ajalah, kita pikirin itu besok aja. Nanti kita tinggal dateng keapartemenya si Doni, sekarang gue ngantuk banget, capek pengen bobok." ucap Erlan yang memang sedang dilanda kekantukan, terbukti saat acara yang diadakan oleh Sagarr ia terus menguap dan hampir saja i ketiduran sambil berdiri.


"Yaudah deh, kita pulang aja. Besok aja kita pikirin masalah itu." timpal Gustin.


"Sip, yuk cabut!"


Mereka berdua kemudian memutuskan untuk pulang dan meninggalkan hotel mewah itu.


...----------------...


Sedangkan disisi lain, saat ini Doni tengah melamun disalah satu taman kota yang tak jauh letaknya dengan hotel mewah yang beberapa menit yang lalu ia pijaki.


Doni saat ini tengah duduk termenung dipingir danau yang cukup besar ditaman itu. Ia menikmati suasana sejuknya malam dengan sesekali meneguk sekaleng bir yang kebetualan ia membeli sekantung plastik bir itu dari supermarket.


"Hahhh....." tampak Doni menghela nafas panjang, dengan terus meneguk bir itu.


Sampai ia tak menyadari jika ia sudah menghabiskan sembilan kaleng bir, dan menyisakan satu kaleng yang masih berada dikantung plastik itu.


Doni membuang kaleng bir yang kesembilan itu, kemudian tangannya kembali mencari minuman berakohol itu dari plastik yang berada tepat disampingnya. Ketika sudah mendapatkan yang ia cari, ia pun segera mengeluarkan benda itu dan membuka penutup kaleng itu untuk ia teguk kembali.


Namun saat hampir mencapai dibibirnya, tiba-tiba kaleng itu dirampas dengan cepat dari tangannya. Membuat dirinya tersentak dan langsung mengalihkan pandangannya pada si pelaku yang telah berani merampas kaleng birnya.


Doni samar-samar melihat seseorang yang berada tepat disampingnya, namun ia tak bisa melihat dengan jelas wajah si pelaku itu karena kepalanya yang terasa pusing mengakibatkan pandangannya yang tak bisa menatap kedepan dengan jelas. Sepertinya alkohol itu telah membuat Doni sedikit kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


"Hemm, sepertinya alkohol ini sangat enak, sehingga kau terus meminumnya." ucap seseorang itu, dan tanpa meminta izin dari si pemilik, ia dengan beraninya meminum kaleng bir itu membuat Doni yang melihatnya melototkan matanya.


"Hey! Kenapa kau meminum minumanku?!" teriak Doni langsung bangkit dari duduknya, namun agaknya tubuhnya tak bisa berdiri dengan tegak.


"Hey! Hey! Hey, tuan.... Anda sepertinya sudah sangat mabuk."


Joy pun segera membantu Doni untuk berdiri dengan tegap, dirinya sangat kesusahan ketika membantu Doni karena pria itu terus memberontak tak ingin dibantu.


"Jangan mengangguku! Pergi saja kau dari sini!" teriak Doni dengan tubuhnya yang terhuyung-huyung.


Joy menghela nafas panjang sambil mengeleng-geleng kepala. "Pria ini sungguh keras kepala sekali." gumam Joy merasa kesal.


"Mari tuan, saya akan membawa anda pulang, saya tak mungkin meninggalkan anda yang keadaannya seperti ini." Joy kembali mendekati Doni.


"Tak usah berlagak perduli kau! Kita hanya orang asing bagiku."


Joy mengabaikan ucapan itu, ia lalu kembali membopong tubuh Doni dengan merangkulkan tangannya dibahunya.


"Lancang sekali kau! Sudah ku bilang kan. Jangan sok perduli." Doni mencoba melepaskan rangkuman itu namun tak bisa, karena Joy mencekal tangan Doni dengan kuat dan membawa Doni secara paksa dari sana.


"Hei! Kau mau membawaku kemana?!" teriak Doni, sampai suaranya mengema dimana-mana akibat malam yang semakin sunyi.


"Diam! Jangan keras kepala!" balas Joy dengan teriakan tak kalah kencangnya, membuat Doni seketika terbungkam.


Joy menghela nafas lega, "Gini kek dari tadi." gerutunya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2