
Setelah para wanita itu pergi. Kini Sagarr mengalihkan pandangannya kearah Aurell, ia masih setia mengengam tangan itu.
"Sudah beres kan?" ucap Sagarr dengan senyumnya.
"Sudah tak ada lagi yang mengganggu kita." lanjutnya lagi.
Aurell hanya diam mendengar, ia tanpa sadar menatap Sagarr dengan tatapan dalamnya.
Sagarr mengerutkan keningnya, kala melihat keterdiaman Aurell itu. "Heyy... Kok bengong aja?" ucapnya lalu melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Aurell.
Aurell menangkap tangan Sagarr yang tengah melambai-lambai itu, ia lalu menyentaknya begitu saja dan beralih menatap kearah depan.
"Cepat jelaskan!" ucap Aurell sambil melipat kedua tangannya.
"Jelaskan ap-"
"Jangan berbasa-basi lagi." potong Aurell.
Sagarr terdiam sejenak, setelah itu ia menampilkan senyuman yang begitu manis seperti sebelumnya. "Hemm jika kekasihku ini meminta... Maka aku akan menutinya." ujar Sagarr langsung dapat plototan dari Aurell.
Sagarr terkekeh kecil, ia lalu mentoel hidung mancung itu. "Jangan melototin gitu... Aku kan gumuys lihatnya..." ujarnya dengan nada manja.
Aurell kembali mendengus. "Cepat jelaskan! Atau aku akan benar-benar pergi dari sini?" tekan Aurell.
"Oke, oke... Aku akan menjelaskannya..." ucap Sagarr, ia menjeda ucapannya itu sebentar dan beralih pada saku celananya. Ia merogoh sesuatu dan betigu mendapatkannya ia lalu memberikan benda itu pada Aurell.
Aurell mengerutkan keningnya menatap Sagarr, "Apa ini?" tanya Aurell pada Sagarr.
"Lihat saja." jawab Sagarr.
__ADS_1
Aurell menatap tangannya dan melihat jika yang ia pegang itu adalah sebuah foto berukuran kecil, ia lalu membaik foto itu untuk melihatnya. Lagi-lagi Aurell mengerutkan keningnya ketika melihat gambar dari foto berukuran kecil itu, ia begitu bingung ketika melihat wajahnya yang terpampang difoto itu.
"Kenapa ada fotoku?" gumamnya bingung, bukan hanya itu ia lebih bingung ketika melihat satu bocah laki-laki yang berada tepat disampingnya. Difoto itu mereka saling merangkul pundak dan tertawa bahagia seperti tak ada beban pada diri kedua bocah itu.
"Kamu tak ingat?" tiba-tiba Sagarr mulai berucap.
Aurell kembali menatap Sagarr. "Apa maksudku?" tanya Aurell.
"Benar-benar tak ingat ternyata..." gumam Sagarr terkekeh.
Aurell terus mengamati foto itu, memorinya mencoba mengingat-ingat masalalunya.
"Cobalah kamu mengamati foto bocah lelaki yang ada disamping mu itu, coba ingat-ingat... Apakah wajahnya terlihat familiar pada seseorang." jelas Sagarr.
Aurell mengikuti ucapan Sagarr, apa yang dikatakan Sagarr itu benar ketika ia melihat wajah bocah laki-laki itu ada rasa keanehan pada dirinya, ia melihat wajah bocah itu sungguh familiar pada wajah seseorang.
Aurell kembali menatap Sagarr dengan tatapan saksama. "Ini kau?" tanya Aurell sambil mengangkat satu alisnya.
Aurell mendengus. "Jelaskan apa maksud foto ini!"
Sagarr menghentikan tawanya, "Ya benar itu aku... Dan disamping itu kamu Aurell.... Aku ini temanmu sewaktu kecil, kita pernah satu sd dikota Jerman... Tempat kelahiranmu, dan yang memotret foto itu adalah tante Vina. Ibu kamu kandung kamu sendiri Aurell..." jelas Sagarr, membuat tubuh Aurell tertegun mendengarnya.
Sekarang Aurell mengingat kenangan itu, ia benar-benar ingat jika dulu ia pernah satu sekolah dengan Sagarr. Bahkan ia begitu ingat ketika dirinya sungguh bahagia bersama dengan mamanya yang terus menemaninya ketika ia berangkat sekolah. Dan salah satu bukti kebahagiaannya itu ialah terdapat pada foto itu.
Aurell mengengam erat foto itu, ia begitu ingin kembali kemasa itu. Dimana hidupnya dipenuhi warna sebelum terjadinya musibah didalam keluarganya.
"Aku rindu mama...." gumam Aurell menitipkan air matanya, ia begitu mengingat sosok Vina yang begitu berjuang menghidupinya walau Vina tengah hamil besar.
Sagarr terus menatap Aurell, tanpa diduga ia langsung membawa tubuh Aurell kedalam dekapannya. "Ssst... Menangislah jika ingin menangis..." ucap Sagarr menepuk peluang punggung milik Aurell.
__ADS_1
Setelah mendapat perlakuan dari Sagarr itu, Aurell langsung menumpahkan tangisnya begitu saja didalam pelukan itu.
Sagarr dengan telaten terus menepuk punggung Aurell, agar Aurell bisa merasakan kenyamanan darinya.
💜
Hati Aurell sudah mulai tenang saat rasa gundahnya ia keluarkan begitu saja. Ia masih terdiam sambil mengamati candaan tawa dari beberapa orang-orang yang ada ditaman itu.
"Nih... Minum, pasti kamu merasa haus kan." ucap Sagarr sambil menyerahkan satu botol air mineral pada Aurell.
Aurell menerimanya, ia lalu meneguk air itu namun tak sampai habis. "Kenapa kau tak memberitahu ku sebelumnya?" tanyanya karena ia sudah sangat penasaran.
"Aku mencarimu selama ini.... Aku baru sadar jika orang yang aku cari berada tepat didekatku." jelas Sagarr.
Aurell menatap Sagarr. "Maaf... Karena sudah melupakanmu.." ujar Aurell.
Sagarr tersenyum. "Tidak apa-apa... Maklum lah, kan dulu kita masih kecil dan itu sudah sangat lama."
"Tapi bagaimana kau bisa tau jika aku ada disini..." masih dengan pertanyaan.
Sagarr menghembuskan nafasnya dalam-dalam. "Berkat orang-orang ku." jawab Sagarr singkat, namun langsung dipahami oleh Aurell.
Aurell masih menatap kearah Sagarr. "Tapi... Bukanya dulu nama mu Arzan?"
Sagarr langsung melotot kearah Aurell. "Jangan mengingat nama itu!" tekan Sagarr.
"Kenapa?" tanya Aurell merasa bingung.
"Nama itu jelek! Aku tak suka!" tekan Sagarr yang langsung melipat kedua tangannya seolah-seolah tengah merajuk.
__ADS_1
"Hah?" beo Aurell, mengerjap-ngerjapkan kedua matanya benar-benar merasa bingung. Apanya yang jelek, padahal nama sebagus itu~batinya.
Bersambung.