Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Si! Yang Paling Suka Mengejutkan


__ADS_3

Kini Aurell berada diruangan tengah, tepatnya diruang keluarga bersama dengan para orangtua dan juga sepasang pasutri yang tak lain kakak dan kakak iparnya Sagarr.


Tentunya yang membawa ia keruang tengah itu adalah bocah yang tadi tengah kesal kepada pamannya sendiri. Tentunya Sagarr tak tinggal diam, Sagarr menyusul mereka berdua dan sekarang sudah duduk dihadapan Aurell. Dengan raut wajah yang tajam, namun tatapan tajam itu mengarah pada Rasya yang duduk bersama Aurell dengan menggenggam tangan tangannya.


Aurell pun sampai mengeleng dibuatnya, sejak tadi tatapan permusuhan ini belum juga usai.


"Ehem, Sagarra..." suara deheman itu berasal dari tuan Johnson, papa kandung Sagarr.


Sagarr mengalihkan pandangannya menatap sang papa. "Iya pah?" sahutnya.


"Apakah ada hal penting yang ingin kamu utarakan pada tuan Gerland dan juga putrinya?" tanya Johnson, seolah mengingatkan Sagarr.


Sagarr yang masih menatap sang papa itu mengangguk tersenyum, sedangkan Aurell yang melihat itu merasa dibuat bingung.


Sagarr membenahkan kearah mejanya sejenak, ia kemudian memasang wajahnya dengan tampang serius.


"Maaf jika ucapan saya sebelumnya akan membuat anda dan putri anda terkejut sebentar, namun saya harus mengutarakan hal penting pada anda tuan Gerland selaku orangtua Aurell." ucapan itu begitu Formal.


"Hemm, silahkan. Saya jadi penasaran, apa yang akan kamu ucapan sehingga.... Akan membuat kami terkejut?" ucap Gerland.


"Begini, saya orangnya tak ingin berasa-basi jadi saya akan langsung mengatakannya langsung pada intinya," Sagarr menjeda ucapannya. "Saya ingin melamar anak gadis anda, untuk saya jadikan istri dan pendamping saya! Untuk dimasa kini maupun dimasa depan yang menanti."


Jeduarrr.... Bagai petir yang menyambar Aurell, ia benar-benar dibuat syok dan kaget. Bagaimana tak kaget, jika Sagarr tiba-tiba saja mengatakan hal yang menyangkut masa depannya nanti. Sagarr bahkan tak pernah mengatakan itu pada dirinya, dan sekarang? Dengan beraninya Sagarr mengatakan itu didepan para keluarganya dan juga papanya sendiri.


Aurell melirik papanya yang berada tepat disampingnya, ia melihat raut wajah Gerland yang sungguh tak bisa dibaca olehnya. Raut wajah itu begitu tegas menatap Sagarr dan juga urat dikeningnya tampak begitu terlihat, sepertinya papanya itu tengah memikirkan sesuatu.


Aurell pun dibuat gugup, tangannya berkeringat. Ia takut jika papanya akan marah dan membuat keributan dikediaman itu, dirinya tak tahu harus berbuat apa.


"Hemm, kamu tak main-main kan?" tanya Gerland setelah terjadinya keheningan.


Sagarr melirik Aurell sejenak, lalu melihat Gerland kembali. Ia pun mengangguk dengan mantap. "Ya! Saya tak akan pernah main-main. Saya sangat serius dengan ucapan saya itu." ucapnya dengan tegas.

__ADS_1


Keluarga Sagarr yang melihat itu tentu dibuat kagum, mereka tak menyangka jika Sagarr akan seberani itu.


Gerland terus bergumam sambil memejamkan matanya."Baiklah?" itulah yang keluar dari mulut Gerland, setelah memejamkan matanya sejenak.


"Hah?" beo Aurell bingung.


"Baiklah?" gumam Sagarr tak mengerti.


"Hahahahaha..."


Tiba-tiba Gerland tertawa keras, membuat mereka yang ada disana tentu dibuat kebingungan.


"Hahaha, maaf! Maaf... Jika saya tertawa, saya merasa lucu saja melihat anak anda yang begitu berani dimata saya." ucap Gerland setelah puas dari tertawanya.


Johnson yang mendengar itu ikut tertawa kecil, "Ohh... Saya kira apa, memang keberanian putra saya ini, patut diacungin jempol." timpal Johnson, sambil melirik putra bungsunya yang sedang mengaruk tengkuknya. Dengan wajah yang kentara malunya.


"Anda benar sekali, pak Johnson." jawab Gerland terkekeh.


Gerland kembali, mengalihkan pandangannya pada Sagarr. "Sagarr..."


"Saya menirama lamaranmu itu."


Empat kalimat itu, tentu saja membuat Sagarr berbunga-bunga seketika, dirinya merasa bahagia dengan lamarannya yang diterima oleh orangtua dari wanita dambaanya itu.


"Terimakasih om!" jawab Sagarr dengan rasa bahagianya.


"Iya... Tapi saya memang menerima lamaran kamu itu, saya sebagai orangtua mendukung anaknya dari belakang. Jika putri saya menirama kamu, maka saya akan dengan lapang dada menerima kamu sebagai calon menantu saya! Itu sebabnya, semua keputusan akhir ada ditangan putri saya." jelas Gerland.


"Bagaimana Aurell? Apa keputusan kamu?" tanya Gerland pada putrinya, yang masih belum mengeluarkan suara.


Si kecil, yang sejak tadi diam mengamati itu, menengokan kepalanya kesana kemari. Pandangannya pun jatuh kepada Aurell yang hanya diam ditatap oleh para orangtua disana.

__ADS_1


"Kenapa kalian begitu serius?" celetuk bocah itu, mengisi keheningan yang terjadi.


"Ssst... Rasya... Kamu kekamar dulu aja ya sayang, ini urusan orang dewasa, yah? Anak mama yang pinter, masuk kedalam kamar ya?" Areta membujuk putra kecilnya untuk masuk kedalam kamar, agar tak menganggu suasana.


Areta berhasil menurunkan anaknya yang tadi duduk disofa tepat disamping Aurell, kini ia menggiring anaknya untuk masuk kedalam kamar. Namun dirinya kecilongan, saat bocah itu tiba-tiba melepaskan gengamannya dari tangan mamanya itu.


Rasya berlari, kembali mendekat kearah Aurell.


Aurell dibuat terkejut, saat merasakan bocah kecil itu memeluk kakinya dengan erat.


"Paman gak boleh ambil kakakku! Kakak cantik hanya milik Rasya, Rasya yang akan menikahi kakak cantik!" teriak bocah itu, masih dengan memeluk kaki itu dengan posesifnya.


Semuanya dibuat mengangga, bahkan Areta selaku orangtua Rasya itu dibuat syok. Bagaimana mungkin anaknya yang kecil itu, bisa mengatakan hal sedemikian rupa? Ia pun tentu dibuat mengeleng.


Sagarr memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, lagi-lagi keponakannya itu berulah. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin keponakannya itu menyukai Aurell yang hanya bertemu dua kali saja? Oh~ Sagarr benar-benar lupa, jika wanita yang ia damba itu memang sedari dulu memiliki pesona yang begitu memikat.


Bahkan Sagarr sendiri masih belum tahu, jika salah satu sahabat terdekat Aurell tengah mendamba wanita terkasihnya itu.


Areta berjalan tergesa menghampiri putranya, ia kemudian mengangkat putranya untuk ia gendong.


"Maaf semua, saya akan mengurus Rasya. Silahkan dilanjutkan lagi pembicaraannya." setelah itu, Areta benar-benar pergi membawa putranya masuk kedalam kamar, tentu saja bocah itu meronta ingin dilepaskan. Dirinya masih ingin menganggu momen pamannya itu.


"Hahaha, cucu kalian benar-benar sangat lucu. Saya sendiri yang melihat begitu dibuat gemas." ucap Gerland.


Johnson dan istrinya, juga ikut tertawa.


"Yah... Begitulah cucu kami, begitu sangat aktif. Sampai kami sendiri pun dibuat kuwalahan, apalagi orangtuanya." timpatnya.


Suami Areta yang masih ada disana itu pun ikut tertawa.


"Hemm, saya masih dibuat penasaran dengan jawaban dari putri anda tuan Gerland. Bagaimana sayang? Apakah kamu.... menerima lamaran dari putraku?" suara lembut itu berasal dari Sila, yang merupakan mama kandung Sagarr. Beliau memang sudah tua, namun dirinya begitu sangat menjaga kulitnya sehingga Aurell dapat melihat. Jika wanita yang melahirkan Sagarr itu masih terlihat cantik dan muda.

__ADS_1


Semua orang pun kembali melihat kearah Aurell, tentu Aurell dibuat gugup setengah mati, baru kali ini ia merasakan hal seperti itu. Dirinya pun tak tahu harus menjawab apa, padahal semua orang tengah menantikan jawaban dari Aurell itu.


Bersambung.


__ADS_2