
Sudah tiga hari sejak kejadian itu berlalu, namun Vita masi bekerja dirumah itu karena Vita diberikan satu kesempatan untuk bekerja dikediaman Adhitama. Tentu saja hal itu berkat kebesaran hati pemilik rumah itu yaitu tuan Adhitama suami dari Sinta, sebenarnya Sinta ingin memecat Vita namun suaminya mencegahnya.
Adhitama memberitahu istrinya bahwa Sinta boleh memecat Vita, jika Vita sudah melahirkan anak yang ada dikandungan nya, berkat bujukan suaminya itu ia jadi luluh dan menerimanya, sesungguhnya Vita merupakan teman satu sekolah Sinta sewaktu duduk dibangku Sma, itu sebabnya ia mempercayai Vita untuk bekerja dirumahnya, dan memberikan satu kesempatan untuk bekerja dirumahnya.
Namun sejak kasus hilangnya kalung itu Sinta jadi meragukan Vita, ia terus mewaspadai Vita dan sifatnya pun berubah menjadi orang yang pemarah dan mengintimidasi, tetapi hal itu hanya berlaku pada Vita.
"Mama! Kenapa kita gak keluar aja dari sini? Aurell takut kalo mama disakiti lagi" ucap Aurell sambil menundukkan kepala.
Vita yang sedang melipat bajunya itu melihat kearah putrinya, ia lalu memeluk tubuh Aurell. "Sayang... Kamu jangan mikir yang macem-macem ya? Kamu tau kan sayang? Kalo mama itu tidak bersalah, itu sebabnya nyonya memberikan satu kesempatan untuk mama bekerja disini"
"Lagian setelah mama melahirkan adik kamu, kita akan pergi dari sini, jadi kamu tahan dulu ya sayang" bujuk Vita.
"Tapi ma.. Aurell takut jika mama terluka lagi, pasti adik Aurell juga kesakitan waktu mama terluka" ujar Aurell sambil mengeluh perut Vita.
Vita tersenyum mendengar penuturan putrinya itu, ia terharu putrinya yang masih kecil itu sangat menyanginya dan juga adiknya yang belum lahir, sebab itu Vita jadi bersemangat untuk menghidupi putrinya walau keadaan ekonominya yang tengah kritis itu.
"Sayang... Kamu jangan terlalu khawatir ya.. Mama yakin jika nyonya Sinta tak akan menyiksa mama, karena Sinta adalah teman lama mama, dia membantu mama dengan memberikan pekerjaan, dia bahkan menyekolahkan Aurell dan memberikan peralatan sekolah yang bagus, bukankah nyonya Sinta sangat baik kan sayang? "
Aurell terdiam, ia tak tau harus berkata apa jika ibunya sangat mempercayai majikannya itu. 'Jika dia memang teman lama mama, kenapa dia bisa tak mempercayai mama dan menyiksa mama?' batin Aurell bertanya dalam hati.
"Sudah... Aurell jangan berpikir yang macem-macem ya? Sekarang Aurell berangkat kesekolah dulu, tugas kamu hanya belajar dan mendapatkan prestasi yang baik agar mama bisa bangga sama kamu"
Aurell tersenyum. "Oke mah... Aurell berangkat ya" ucap Aurell meraih tangan Vita dan menciumnya, setelah itu ia berlari keluar dari kamar menyisakan Vita yang hanya mengelengkan kepala melihat tingkah Aurell.
...----------------...
"Kesel aku, rencana kita buat ngeluarin Vita dari rumah ini gagal total" gerutu Nita yang merupakan pelayan rumah itu, ia juga lah yang menyebabkan Vita disiksa oleh nyonya rumah itu.
"Jangan nyerah dulu Nit, rencana masih banyak, jadi masih ada peluang bagi kita untuk ngeluarin wanita sialan itu" ucap teman Nita bernama Santi..
"Bener banget apa kata kamu San, peluang kita juga makin gede sebab! Nyonya Sinta udah gak percaya banget sama si Vita" ujar Nita tersenyum sinis.
"Pelayann..." teriak Adhitama memanggil asisten rumah tangga itu.
__ADS_1
"Eh! Tuan manggil tuh..." ucap Santi.
"Cepet kesana"
"Oke.." saat Santi ingin berjalan menuju Adhitama, tiba-tiba ia berhenti berjalan kala melihat Vita yang lebih dulu menghampiri majikannya itu.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" ucap Vita pada Adhitama.
Adhitama melihat Vita. "Kemeja saya kotor tolong kamu cuci, dan ini tas saya bawa ini kedalam ruangan saya, dan satu lagi! Bawa kopi hitam juga"
Vita mengganguk. "Baik tuan" jawab Vita.
Santi melirik Nita. "Sepertinya kamu memikirkan apa yang aku pikirkan Nita" ucap Santi tersenyum semirk.
Nita tersenyum licik. "Tentu saja, kita buat rencana yang akan mengemparkan rumah ini"
Mereka berdua melihat keberadaan Vita yang sudah membawa secangkir kopi ditangannya.
"Yuk ikuti dia" ucap Nita yang diangguki oleh Santi.
...----------------...
"Masuk" jawab Adhitama dari dalam ruangan.
Vita pun masuk kedalam ruangan itu. "Tuan ini kopi hitamnya"
Adhitama menerima kopi itu, namun ia masih tetap fokus pada laptopnya sehingga tanpa sengaja cangkir yang ia terima terlepas dari tangannya.
Cras... Suara gelas pecah berserakan dilantai, Vita terkejut melihat itu.
"Aw... Panas" ucap Adhitama mengibas-ngibaskan tangannya yang terkena kopi panas itu.
"Yaampun tuan! Anda tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Sepertinya tangan saya terkena air panas"
"Yasudah tuan! Saya akan mengambilkan air dingin didapur agar tangan tuan tak melepuh nantinya"
Vita berlalu dari ruangan itu, setelah beberapa menit ia membawa baskom kecil berisikan air es.
"Ini tuan air dinginnya" ucap Vita, Adhitama menerima air dingin itu, setelah itu ia mencelupkan tangannya.
"Terimakasih ya" ucap Adhitama tersenyum kearah Vita.
"Sama-sama tuan" balas Vita.
Brak.... Tiba-tiba saja pintu terbuka dengan sangat keras.
Adhitama terkejut, ia melihat sosok istrinya yang berjalan cepat kearahnya. "Asataga.. Sinta... Knapa kamu membuka pintu itu dengan keras"
Sinta tak menjawab, ia berjalan kearah Vita dan langsung saja mendorong tubuh Vita sampai terjatuh kelantai, padahal dilantai terdapat pecahan cangkir yang belum dibersihkan.
Vita pun meringis kala tangannya tertancap pecahan itu.
"Apa yang kamu lakukan Sinta?" tanya Adhitama heran.
"Apa katamu? Kamu gak merasa bersalah saat kamu tersenyum sama wanita sialan itu" ucap Sinta dengan nada yang ditinggikan dan menunjuk Vita.
"Apa yang kamu katakan? Aku hanya berterimakasi padanya karena dia sudah membawakan air es ini, tanganku terkena air panas tadi"
"Sudahlah Adhi, kamu tak perlu beralasan aku tau kamu naksir sama wanita ini"
Kedua pelayan wanita yang ada dibelakang Sinta itu tersenyum senang, sepertinya mereka berdua berhasil menghasut majikannya itu.
Bersambung.
Maapkan author jika cerita ini terkesan monoton bagi kalian ya🙏 author akan lebih berusaha buat cerita ini jadi lebih seru lagi...
__ADS_1
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa tinggalkan jejak(^_-)