Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Bersamamu Membuatku Terlihat Bodoh


__ADS_3

"Eh! Si Gavin bawa Aurell kemana ya?" tanya Gustin.


Erlan mengedikan bahunya. "Kagak tau gue juga, moga aja Aurell gak diapa-apain sama si Gavin" ujar Erlan.


"Emang Aurell sama Gavin ada masalah ya?" tanya Jek penasaran.


"Dua hari yang lalu sih ada, mungkin si Gavin narik si Aurell tadi mau bahas soal itu kali ya?" pikir Gustin.


"Mungkin" jawab Erlan.


"Emang masalah apa?" tanya Jek lagi.


"Adalah, masalah dikampus Aurell dituduh ngebuly si Eira" jelas Gustin.


"Eira? Bukanya Eira itu tunangannya Gavin tadi"


"Yap! Itu yang namanya Eira" ujar Gustin.


Jek memanut-manut mengerti, kemudian ia menyerigai. "Menarik juga" gumam Jek.


"Apanya yang menarik?" tanya Gustin yang mendengar gumaman Jek itu.


Jek hanya tersenyum. "Gak kok say... Yuk balik" ujar Jek.


"Trus si Aurell gimana?"


"Aurell kan udah besar, udahlah kayak gak tau Aurell aja" ucap Jek. Gustin hanya menganguk-angukan kepalanya. Setelah itu mereka berlalu menuju parkiran.


...----------------...

__ADS_1


Disinilah Sagarr, mengikuti Aurell dan bersembunyi dibalik dinding, ia sebenarnya ingin menghampiri Aurell kala melihat perlakuan Gavin yang terbilang kasar itu, namun ia urungkan dulu, karena masih penasaran akan hal yang sedang dibicarakan antara Aurell dan Gavin.


"Jawab dengan benar pertanyaanku Aurell" tekan Gavin.


Aurell mendengus dan menghepaskan tangan Gavin. "Jangan jadi cowok brengsek Gavin! Hanya karena kau mengertaku aku tak akan takut denganmu" ucap Aurell lantang.


Gavin terhenyak, ia sadar ternyata ia telah berbuat kasar oleh Aurell, ia merutuki dirinya kala tak biasanya ia terbawa emosi seperti ini.


"Aurell aku minta maaf rell... Aku, aku hanya emosi tadi" jelas Gavin.


Aurell memutar matanya malas, ini yang membuat Aurell menjadi muak dengan kepribadian Gavin, selalu meminta maaf dan maaf seperti orang bodoh.


"Kalau kau selesai bicara... Aku mau pergi sekarang" ucap Aurell yang ingin beranjak pergi namun Gavin mencekal tangan Aurell.


"Sebentar Aurell... Kita belum selesai bicara" ujar Gavin.


"Sebelumnya aku minta maaf atas sikap ku yang tak peduli denganmu, ketika kamu terjadi masalah dengan Eira" ucap Gavin sambil menundukkan kepalanya.


"Aku juga minta maaf, waktu kamu masuk kerumah sakit aku tak menjengukmu, karena pada saat itu aku sibuk karena banyak yang harus aku urus tentang pertunangan ku" jelas Gavin. Aurell yang mendengarnya hanya menghebuskan nafasnya. Ia jengah dengan ungkapan kata maaf yang keluar dari mulut Gavin itu, apalagi mambawa alasan tentang pertunangan.


"Itu urusanmu Gavin, mulai sekarang aku tak peduli mau kau berlasana tentang apa, karena aku dan kamu bukanlah siapa-siapa" ujar Aurell membuat Gavin tertohok.


"Tap-tapi Aurell..."


Aurell memejamkan matanya berusaha menahan kekesalannya. "Gavin! Tolong jangan cegah aku untuk pergi, itu membuatku terlihat bodoh ketika berada disisimu" jelas Aurell membuat bibir Gavin bungkam.


Tak ada jawaban dari Gavin, Aurell benar-benar beranjak pergi dari sana tanpa melihat kearah Gavin.


Gavin yang melihat kepergian Aurell itu hanya bisa menghela nafas. Kemudian ia juga beranjak dari sana.

__ADS_1


Sedangkan Sagarr yang ada dibalik dinding itu keluar dari persembunyianya. Dan merogoh sakunya mengambil hp miliknya, ia menekan nama Joy asisten pribadinya, tak berapa lama Joy mengangkat telfon dari atasanya itu.


"Ya tuan?"


"Apakah kamu benar-benar mencari informasi tentang Aurell dengan teliti?" tanya Sagarr langsung.


"Iya benar tuan, memangnya ada apa tuan?" tanya Joy dari seberang telfon.


"Aku tak yakin jika informasi yang kamu dapatkan tak semuanya lengkap"


"Lantas.. Haruskah saya mencarinya lagi tuan?"


"Ya! Aku memintamu mencari sampai keakar-akarnya, satu lagi, selidiki juga pria yang bersama Aurell, yang datang bersama saat keacara pertunangan.. Selidiki dengan rinci jangan ada yang sampai tertinggal, karena rasa penasaranku ini tak akan berhenti jika semuanya belum lengkap dan jelas" ucap Sagarr dengan tegas.


"Saya mengerti tuan, tapi apakah saya boleh tau, apa alasan tuan ingin mencari tentang pria asing itu?"


Sagarr berdecak, lagi-lagi asistennya ini sangat kepo. "Karena aku merasa, jika pria itu juga terlibat suatu hal dengan Aurell... Insting ku ini tak akan pernah salah" ujar Sagarr, menjelaskan.


"Hemm.. Yaudah tuan, saya akan melaksanakan tugas ini, secepatnya saya akan mengirim semua datanya, anda tak perlu khawatir" ucap Joy dengan percaya diri.


"Ya... Aku tak pernah meragukan tugasmu, selesaikan dengan sempurna, satu lagi! Jangan membuat saya menunggu, ingat itu!" ucap Sagarr menekan.


"Baik tuan" jawab Joy setelah itu mematikan telfonnya.


Sagarr meletakkan kembali handphonenya disaku.


"Aurellia... Siapa kamu sebenarnya, kenapa aku terus saja... Tertarik akan dirimu" gumam Sagarr yang tengah memikirkan Aurell.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2