
"Yang dekat kalah sama yang cepat" ujar Doni yang langsung meninggalkan Bagas.
Dia mengulang ucapan Doni "yang dekat kalah sama yang cepat" dia memikirkan ucapan Doni, "apa maksud ucapannya, masak iya gue kalah sama anak kemarin sore" gumamnya, entah dia selalu bingung untuk masalah yang satu ini. Dia selalu mudah mengumbar kata cinta untuk semua wanita yang dia dekati namun kalau menyangkut hati dia selalu bingung, dia tak tau bagaimana mengungkapkannya.
Dia masih enggan untuk mengungkapkannya, dia selalu mencari waktu. Entahlah sampai kapan dia akan selalu mencari waktu. Biarlah waktu yang menjawab.
Bagas sengaja tak langsung pulang, dia masih menunggu Amel didalam mobil. Tak lama gadis yang dia tunggu muncul, gadis itu jalan seorang diri tak ingin melewatkan kesempatan itu, Bagas langsung keluar dari mobilnya dia menarik tangan Amel dan membawanya kedalam mobil.
"Kenapa kak Bagas menarikku?" tanya Amel setelah mereka didalam mobil
"Kiara merindukanmu" jawabnya berbohong, dia tak tau harus berkata apa agar Amel mau ikut dengannya
"Eemmm Kiara yang rindu kah atau om nya yang rindu?" goda Amel sambil memasang wajah imutnya.
"Dua-duanya" jawab Bagas dengan senyum manisnya. Dia memang merindukan gadisnya ini, dari satu Minggu yang lalu dia sibuk latihan dan bekerja hingga tak ada waktu untuk gadisnya ini.
Bagas menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia ingin menikmati waktu bersama gadisnya. Dia sedari tadi diam memikirkan ucapan Doni "Yang dekat akan kalah sama yang cepat" dia terus memikirkannya, apakah sekarang waktunya untuk mengungkapkan isi hatinya tapi bagaimana nanti kalau dia menolaknya? Dia masih belum siap mendengar jawaban Amel.
Sama halnya seperti Bagas, dia ingin bahkan sangat ingin menanyakan lagu yang Bagas bawakan kemarin namun dia mengurungkan nya, dia tak ingin menanyakannya dia pasti akan sangat malu kalau Bagas menertawakannya.
"Bukankah tadi kau bilang Kiara merindukanku?" tanya Amel dengan bingung
"Iya" jawab Bagas singkat
"Lalu?" tanya Amel setelah Bagas memutar arah mobilnya, dia tak ingin membawa Amel kerumahnya karna pasti mama dan keponakannya akan menguasai gadisnya dan dia tak akan punya waktu hanya untuk sekedar mengobrol sama gadisnya itu.
"Aku akan membawamu kesuatu tempat" jawab Bagas, terlihat ekspresi sedikit takut diwajah Amel, dia takut laki-laki ini akan menculiknya namun dia segera menepis pikirannya itu.
\=\=\=\=\=\=
Disana dikediaman keluarga Bagas, semua keluarga berkumpul untuk makan malam kecuali Bagas.
__ADS_1
"Bagas kamana ma kok gak ikut makan malam?" tanya Dion
"Tadi dia telpon mama katanya dia mau keluar kota sama temannya" jawab mama
Dion menganggukan kepalanya "oohh ya ma gimana kelanjutan hubungan Bagas sama Amel, apa mama jadi menjodohkan mereka?" tanya Dion
"Entahlah Yon, adikmu itu terlalu keras kepala, nanti kalau Amel sudah diambil orang mau dia tau rasa" jawab mama sedikit kesal
"Jangan terlalu memaksanya ma" ujar Lisa dengan lembut
"Lisa benar ma, mama jangan terlalu memaksanya, biarkan dia menikmati masa mudanya dulu" saut Dion
"Mama tidak memaksanya untuk buru-buru menikah juga sayang mama cuma ingin dia mengikat Amel, seperti tunangan misalnya tapi adikmu itu susah sekali dibilanginnya" jawab mama kesal "Mama tu yakin Bagas itu sangat mencintai Amel mama bisa melihat dari pandangannya begitu pun dengan Amel mama tau Amel juga begitu mencintai Bagas tapi keduanya sama-sama gak ada yang mau mengakuinya" lanjut mama
"Amel kan perempuan ma gak mungkinkan dia duluan yang mengungkapkan" ujar Lisa, mereka masih membahas tentang Amel dan juga Bagas.
\=\=\=\=\=
Bagas mengajak Amel keluar kota, dia ingin menjauh dari keramaian ibu kota, dia ingin menghabiskan waktu bersama Amel.
Malam ini langit sedikit mendukung namun tak hujan, angin begitu kencang membuat gadis ini mulai sedikit kedinginan. Bagas segera melepas jaketnya dan memakaikannya untuk gadisnya
"Makasih" ucap Amel, Bagas hanya tersenyum. Bagas mendekatkan dirinya ke Amel dan membawa gadis itu kedalam dekapannya. Gadis itu bersandar didada bidang Bagas. Tak ada obrolan, hanya diam, sunyi beberapa saat.
"Apa kau menyukainya?" tanya Bagas memulai pembicaraan
Amel mengerutkan keningnya, dia melepas pelukan Bagas lalu menatapnya "Aku tak mengerti maksudmu" jawab Amel
"Apa kau menyukai laki-laki yang waktu itu memberimu puisi?" tanya Bagas ulang
"Iya aku menyukainya" jawab Amel, hati Bagas bak tersambar petir disiang bolong, cintanya bertepuk sebelah tangan, ternyata Amel juga menyukainya, pupus sudah harapannya untuk memiliki Amel. "Dia teman yang baik tidak ada alasan bagiku untuk tak menyukainya" lanjutnya, plong hati nya lega, masih ada kesempatan.
__ADS_1
"Apa kau akan membalas cintanya?" tanya Bagas ingin tau
"Aku...." belum sempat Amel menjawab hujan turun dengan tiba-tiba, Amel dan Bagas segera masuk mobil, hujan begitu lebat dan juga angin tak mungkin mereka kembali ke ibu kota dengan cuaca seperti ini.
"Kita tak mungkin balik ke ibu kota hujan semakin besar disertai angin, kita bermalam saja disini aku akan mencari hotel" ujar Bagas
"Baiklah" ucap Amel mengerti, Bagas mencari hotel terdekat dan tak lama mereka mendapatkan hotel, Bagas memesan dua kamar satu untuk dirinya dan yang satu untuk Amel namun diakhir pesan seperti saat ini hotel sudah pada penuh semua hanya ada tinggal satu kamar yang kosong, waktu juga sudah semakin larut ditambah keadaan diluar yang hujan lebat disertai angin tak ada pilihan lagi, mau tidak mau akhirnya Bagas menginap dihotel itu.
"Bersihkanlah dirimu" ujar Bagas, Amel hanya menurut dia segera membersihkan dirinya tak butuh waktu lama untuk Amel membersihkan diri
"Apa kau tak ingin mandi?" tanya Amel setelah selesai mandi karna sedari tadi Bagas hanya memperhatikannya.
"Tidak" jawab Bagas
"Iicchh ganteng-ganteng jorok" ledek Amel
Bagas hanya terkekeh dia melangkah mendekati Amel dengan tatapan yang tak bisa diartikan, Amel tak pernah melihat tatapan Bagas seperti ini, dia mundur namun Bagas terus maju mendekatinya.
"Kau mau apa?" tanya Amel ketakutan namun Bagas tak menjawabnya dia terus menatap gadis itu, dia semakin mendekati gadis itu dan Amel dia semakin ketakutan "apa dia ingin memperkosaku" pikirannya sudah tak karuan.
"Kau cantik sangat cantik Amel" bisiknya ditelinga Amel yang langsung pergi meninggalkan Amel, gadis itu hanya tersenyum, hatinya berbunga-bunga. Dia duduk disofa sambil memainkan ponselnya tak lama Bagas keluar dari kamar mandi namun gadis itu tak menyadarinya.
"Apa kau tak ingin tidur?" tanya Bagas yang sudah duduk disamping Amel
"Aku belum mengantuk" jawab Amel, dia takut jika mengingat tatapan tak biasa Bagas tadi, dia akan terjaga.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, apa kau akan menerima cintanya?"
"Aku tak tega jika harus menyakitinya tapi jika aku menerimanya itu akan lebih menyakitkan untuknya karena aku memang tak memiliki rasa yang lebih dari teman untuknya" jawab Amel
"Ya sudah kalau begitu tidak usah diterima" ujar Bagas, Amel hanya tersenyum.
__ADS_1