
Sagarr berjalan mendekat kearah Aurell, ia pun duduk dipingir kolam renang itu tepat disamping Aurell. Pandangan matanya itu pun kembali menatap Aurell dengan tatapan mendaba, ia sungguh dibutakan oleh pesona Aurell, yang sungguh membuatnya tergila-gila pada wanita cantik, berkulit putih dengan rambut yang tergerai indah berwarna kuning kecoklatan itu.
Selain itu, warna mata yang biru jernih itu, membuatnya ingin lama-lama menatap mata itu yang sungguh membuatnya tenggelam dalam sekejap.
"Kau pasti sengaja kan?"
"Apanya?" tanya Sagarr yang masih pada posisinya, terus menatap Aurell secara terang-terangan.
Aurell menghela nafasnya sejenak, "Kau sengaja beralasan, jika Rasya dipanggil oleh ibunya. Aku tau akal bulus mu itu, sengaja menjauhkan Rasya dariku. Agar kau bisa leluasa mendekatiku." ucap Aurell sambil mengerak-gerakan kedua kakinya didalam air.
Sagarr yang mendengar itu, dibuat tertawa keras."Yaampun... Ternyata nonaku ini sangat pintar ya... Kau sudah lebih tau rencanaku, padahal aku belum sempat memberitahumu." ucapnya, sambil mengelengkan kepalanya.
"Licik sekali rencanamu itu. Padahal dia masih anak-anak, tapi kau tak mau sekali mengalah darinya." terang Aurell.
Sagarr terkekeh, "Kecil-kecil pun dia itu pintar dan cerdas, berani sekali mengambilmu dariku. Bahkan dia baru bertemu denganmu saja mendapat ciuman bertubi-tubi darimu! Sedangkan aku? Aku bahkan belum pernah sekalipun dicium olehmu, tentu saja aku merasa tersainggi." gerutu Sagarr, mengebu-gebu.
"Aku yang berjuang banyak, anak kecil itu malah mendapat banyak darimu." gumam Sagarr, yang masih didengar oleh Aurell.
Aurell seketika menepuk jidatnya, setelah itu menghela nafas panjang.
"Benar, apa yang dikatakan kakak mu. Kau sungguh kekanakan, hanya karena masalah kecil saja." ucapnya.
Sagarr memanyugkan bibirnya dan menatap Aurell dengan tatapan cemberut, Aurell yang kebetulan memandang wajah Sagarr itu dibuat menggigit bibirnya sendiri.
"Aku bertingkah seperti ini, hanya karenamu Aurell... Aku tak akan bertingkah seperti ini didepan wanita lain, hanya dirimu yang bisa membuatku seperti ini. Kau telah membuatku jatuh pada pesonamu itu, dan jangan pernah salahkan aku jika aku bersikap kenakan dan posesif terhadapmu. Sesungguhnya semua itu terjadi karenamu." jelasnya, dengan nada melembut.
Aurell langsung saja mengalihkan pandangannya kesembarang arah, pipinya tiba-tiba memanas. Ia menyadari sesuatu jika saat ini pipinya pasti tengah memerah, ia terus memalingkan wajahnya tak ingin Sagarr mengetahuinya. Karena sesungguhnya, ia sangat malu jika Sagarr melihatnya.
"Eh? Kenapa pipimu memerah?" tanya Sagarr.
"Sialan." desis Aurell mengumpat, dan menggigit bibir bawahnya.
Sagarr menyentuh dagu Aurell dan membalikkan wajah Aurell untuk melihat kearahnya.
"Kamu sungguh manis jika sedang malu-malu, tapi jangan biarkan bibir cantikmu terluka dengan kamu yang terus mengigitnya." Sagarr pun mengelus bibir bawah milik Aurell dengan lembut, ia terus menatap bibir itu dengan tatapan sayu.
__ADS_1
Lagi, jantung Aurell dibuat berpacu, ia dilanda keguguran saat ini. Wajahnya kembali dibuat merona, namun sekarang rona itu malah bertambah jelas, tak seperti sebelumnya.
Sagarr menatap Aurell, lamat. Kemudian ia terkekeh kecil, ia pun dengan beraninya mengelus pipi Aurell dengan lembutnya.
"Mengemaskan." gumam Sagarr, dan lagi-lagi masih didengar oleh Aurell.
Aurell mencoba mengalihkan pandangannya, namun tangan kekar itu seolah tak mengijinkannya.
"Singkirkan tanganmu itu." mencoba melepaskan tangan itu dari dagunya, namun bukannya terlepas Sagarr malah mendekatkan dirinya pada Aurell dengan cara membawa tubuh Aurell kedalam pelukannya.
"Ssst... Jangan terus bergerak, seperti ini sebentar saja. Kau tak tahu saja, selama ini aku menahan rasa rinduku padamu. Selama kamu memejamkan matamu, sejak dua bulan yang lalu." bisik Sagarr, tak lupa tangannya yang mengelus lembut rambut Aurell.
"Rinduku itu seolah langsung terlupakan, saat aku langsung bertemu denganmu hari itu. Saat kita tak sengaja bertemu ditaman bersamaan aku yang sedang mencari keponakanku itu." lanjutnya.
Aurell terdiam, ia tak jadi memberontak. Ia seolah langsung tersihir mendengar perkataan itu, dan dibuat nyaman ketika tangan besar itu terus mengelus rambutnya.
Aurell pun memejamkan matanya, merasakan kehangatan dari pelukan itu. Tak bisa dipungkiri, jika saat ini Aurell tengah menikmati momen mereka berdua hari ini, dimalam yang penuh dengan bintang, bulan yang bersinar terang sehingga memantulkan cahayanya didalam air yang tengah dimainkan oleh sepasang kaki itu.
"Apakah kamu tak merindukanku?" tanya Sagarr lirih.
Sagarr kembali dibuat terkekeh, ia mencubit hidung mancung itu dengan perasaan gemas. "Hey nona, jawab pertanyaan sebelum kau bertanya padaku." ucap Sagarr.
Aurell memicingkan matanya, "Aku akan menjawab, jika kau menjawab pertanyaanku lebih dulu."
Sagarr mengetuk dagunya seolah tengah berfikir, "Hemmm, jawab apa ya? Aku bingung." monolognya, membuat Aurell mengeram kesal.
Aurell yang tadinya didalam pelukan hangat itu, kini menjauhkan dirinya dengan cara mendorong dada bidang milik pria yang ada dihadapannya.
Aurell melipat kedua tangannya. "Jawab pertanyaanku! Atau kau akan mendapatkan pukulanku ini." ancam Aurell dengan wajah datarnya.
Sagarr menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya, ia seolah dibuat takut oleh ancaman itu. "Yaampun... Itu menakutkan sekali." goda Sagarr.
"Sagarra..." geram Aurell.
Sagarr tertawa kencang. "Iya, iya.. Baiklah aku akan menjelaskannya." ucapnya, yang masih diselingi tawanya itu.
__ADS_1
Aurell menghadap Sagarr dengan tatapan serius.
"Begini, alasan karena aku tak mengunjungimu waktu itu... Karena aku disibukan dengan urusan kantorku yang sudah lama aku tinggalkan, sejak aku datang keindonesia karena ingin mencari keberadaanmu, teman masa kecilku." jelasnya.
"Kamu tak perlu risau, sejak kamu dinyatakan koma. Aku pernah mengunjungi sesekali, itu pun diwaktu luangku. Namun saat kau sadar dari koma, aku tak sempat mengunjungimu karena waktu itu aku ada penting diperusahaan." lanjut Sagarr.
Aurell mengangguk paham setelahnya, rasa penasarannya yang tadi membuncang. Kini menghilang dalam sekejap.
Sagarr menatap lamat pada Aurell. 'Maafkan aku telah berbohong padamu, waktu itu aku tak mengunjungimu karena aku ingin menyelesaikan semua masalahmu, yang dibuat oleh keluarga parasit itu!' batin Sagarr.
"Jadi, bagaimana dengan pertanyaanku sebelumnya? Apakah kamu... Sempat merindukanku." tanyanya lagi.
Aurell tertegun, ia dibuat gugup lagi kali ini. Ia memainkan jemarinya mencari jawaban yang tepat.
"Ya!"
Sagarr mengerutkan keningnya. "Ya, apa?"
"Emmm..." Aurell terus bergumam.
"Katakanlah... Aku masih membutuhkan jawabanmu." ucap Sagarr, sambil melipat kedua tangannya didada, ia kembali melirik Aurell dan sesekali tertawa kecil. Ketika melihat wajah kegugupan dari Aurell, namun terkesan lucu dimatanya.
"Y-ya, ak-aku mer-indukanmu." jawab Aurell terbata.
"Apa? Kurang keras..." goda Sagarr, yang padahal mendengar ucapan itu.
Aurell kembali kesal. "Aku sudah mengatakannya, jadi! Aku tak ingin mengulangginya untuk kedua kali."
"Wah... Itu namanya curang, aku kan belum mendengarnya dengan jelas."
"PAMANNNNNN..."
Tiba-tiba sebuah teriakan melengking membuat mereka langsung mengalihkan pandangannya.
Sagarr langsung menepuk jidatnya. "Bocah itu lagi..." gumamnya kesal.
__ADS_1
Bersambung.