
Eira, wanita licik yang masih belum diketahui kebusukannya dimuka umum itu. Diam-diam tersenyum miring kala melihat Gavin yang menampar Aurell begitu saja, bahkan didepan umum yang disaksikan oleh beberapa siswa, siswi yang ada disana. 'Rasain tuh cewek sialan! Emang enak ditampar sama cowok yang lo sukai sendiri' gumam Eira tersenyum sinis.
Ia lalu bersiap-siap menjalankan rencananya. "Akkkk kepalaku!" teriak Eira dengan kencang membuat beberapa orang yang ada disana menghampirinya.
"Lo gak apa-apa kan Eira?" tanya salah satu mahasiswi yang menghampiri Eira.
Eira melirik sebentar. "Kepalaku sakit banget... Kayaknya aku gak bisa berdiri deh... Rasanya sakit banget..." ucapnya berpura-pura kesakitan agar orang yang ada disana percaya padanya.
"Wah... Gak bener nih, bener-bener si Aurell itu cewek picko."
Mulailah semua orang berbisik-bisik menyalahkan Aurell, semua orang begitu mudah percaya dengan ucapan alibi yang dibuat oleh sang wanita penuh drama itu.
Lagi-lagi Eira mengeluarkan senyum miringnya. 'Ternyata orang-orang disini bodoh banget... Cuman dikasi dikit tipu muslihat aja langsung percaya. Bener-bener bodoh.' batin Eira dalam hati.
Sedangkan Gavin, ia yang masih berada ditempatnya itu menatap kearah Aurell. Ia sama sekali tak merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan pada Aurell itu, Gavin mengalihkan pandangannya kearah Eira, dimana Eira saat ini tengah dikerumuni beberapa orang yang ada disana. Ia tanpa basa-basi menghampiri Eira dan mengabaikan Aurell yang tengah mentapnya itu.
Gavin berjongkok melihat bagaimana kondisi wanita yang bersetatus sebagai tunangannya itu. "Kamu tak apa-apa Eira?" tanya Gavin saat ia sudah sampai tepat didepan Eira.
Eira mengubah wajahnya menjadi sendu, "Gavin... Ini sakit..." rengek Eira.
__ADS_1
Gavin merasa kalut melihat kondisi Eira itu. "Bagian mana yang sakit?" tanya Gavin lagi, ia lantas meraba kepala Eira.
Eira yang diperlakukan seperti itu tentu saja merasa senang, ia pun melirik Aurell yang masih terdiam ditempatnya itu. 'Yaampun..... Kasian banget sih, cewek Malang itu.' gumamnya lagi yang sangat senang jika rencananya berhasil dengan sempurna.
Eira menatap kembali kearah Gavin. "Gavin, apa kamu tau? Wanita itu bahkan menghinaku jika aku ini wanita murahan yang merebut kamu darinya... Bahkan aku mengatakan padanya jika semua itu tidak benar, dia bahkan tidak terima dengan ucapanku dan pada akhirnya dia mendorongku dengan tinjuanya sampai aku tergorok sampai kesini." alibinya dengan mebesar-besarkan masalah, padahal yang sebenarnya ialah yang memulai keributan itu.
Gavin yang mendengar perkataan Eira itu, kembali mengeram marah. Hari ini Gavin betul-betul dibutakan oleh perkataan Eira yang tentu saja sama sekali tak ada benarnya itu.
"Apa semua itu benar?" tanya Gavin sekali lagi.
Eira menganguk, "Iya Gavin, jika kamu ingin bukti. Tanyalah pada orang-orang yang ada disini, mereka semua saksinya." ucap Eira.
Dung... Kemarah Gavin sungguh saat ini sudah sangat memuncak, ia berdiri dari duduknya dan berjalan cepat kearah Aurell yang masih berdiri ditempatnya itu, dan sama sekali tak mengubah posisinya dari awal.
"Aurell!" teriak Gavin, dan tanpa aba-aba ia melayangkan tangannya bersiap menampar Aurell.
Hap..... Tak ada suara nyaring lagi dari pipi Aurell, Aurell yang tadi menunduk itu langsung menatap Gavin dengan tatapan tanjamnya. Tiba-tiba saja Aurell tersenyum menyerigai, ia dengan ketangkasannya menangkap tangan besar milik Gavin. Itu sebabnya tangan Gavin tak mendarat dengan tepat seperti sebelumnya.
"Mau menamparku hemm?" ucap Aurell bertanya pada Gavin, tak terduga, Aurell mengatakan ucapan itu dengan raut wajah yang sungguh sangat mengerikan. Sepertinya jiwa pemimpin dari kelompok Sharky itu telah bangun dari raganya.
__ADS_1
"Kauu..." kata Gavin susah berucap, ia merasa bingung dengan Aurell yang tiba-tiba saja sungguh sangat asing baginya.
Aurell melepas tangan Gavin dengan hentakan yang kuat, membuat sang pemilik tangan itu langsung meringis merasakan tulangnya yang berbunyi.
Dengan wajah santainya, Aurell melipat kedua tangannya didada dan menatap Gavin dengan wajah angkuhnya. "Apa? Kau mau menamparku lagi, setelah mendengar ucapan wanita busukmu itu." ucap Aurell dengan santainya.
Gavin menatap tajam Aurell. "Aurell! Jaga bicaramu!" teriak Gavin dengan lantang. "Kaulah yang wanita busuk disini. Eira wanita polos yang tak tahu apa-apa, sedangkan dirimu adalah wanita munafik yang ter obsesi denganku! Dan kau yang tak terima dengan semua itu, kau langsung melampiaskan kemarahanmu pada Eira. Sungguh aku tak menyangka jika Aurell yang kukenal baik hati, tapi ternyata hatimu dipenuhi dengan rasa dengki dan iri." lanjutnya dengan penekanan.
Perkataan Gavin itu tak membuat hati Aurell kembali merasakan nyeri seperti saat sebelumnya, hatinya hanya merasakan hampa ketika berhadapan dengan pria yang pernah ia sukai itu.
"Sudah bicaranya?" tanya Aurell, yang masih melipat keduanya tangannya tak merasa terusik sama sekali dengan ucapan Gavin barusan itu.
"Tak salah aku melepasmu Gavin! Kau yang dulu dan sekarang sangatlah berbeda. Aku tak pernah menyesal mengenalmu dan tak pernah menyesal melepasmu sekaligus... Lebih baik aku melepasmu dengan wanita dambaanmu itu, yang baik hati dan juga polos." ucap Aurell menjeda perkataannya. "Dari pada kau bersamaku, yang hatinya busuk ini! Benarkan?" lanjutnya bertanya pada Gavin, seolah tengah menantang.
Sedangkan Gavin? Tentu saja Gavin hanya terdiam membisu, ia mana bisa menjawab perkataan Aurell yang sangat lantang dan langsung menembus keuluh jantungnya itu.
Bersambung.
Jangan lupa jejaknya guys...
__ADS_1