
Pagi ini, Doni tampak berjalan dengan terburu-buru. Karena ia mendapat kabar dari sahabatnya jika hari ini Aurell diperbolehkan untuk pulang, Doni pun merasa senang mendengar kabar itu, itu sebabnya ia berniat datang kerumah sakit untuk membantu kepulangan Aurell. Ia bahkan membatalkan acara makanya bersama kedua orangtuanya dan hanya untuk menghampiri Aurell, padahal Doni sangat jarang berkumpul bersama kedua orangtuanya itu.
Jarak antara apartemen miliknya dengan rumah sakit itu, bisa dibilang cukup dekat. Itu sebabnya Doni tak pernah memakai kendaran ketika datang kerumah sakit, dan hanya berjalan kaki, hitung-hitung untuk berolahraga sekalian, katanya.
Tiba-tiba hanpone Doni bergetar disaku celananya, ia pun merogoh sakunya dan mengambil benda pipih itu.
Ia membuka salah satu ikon, dan melihat satu pesan yang baru saja terkirim dimasenggernya itu. Doni hanya bisa menghela nafas ketika melihat pesan itu.
Dukkk...
"Aww.."
Suara pekikan tertahan, membuat Doni langsung mengalihkan pandangannya menatap kedepan. Pandangannya melihat seorang perempuan yang tengah terduduk, mungkin terjatuh akibat tabrakan itu.
Doni kembali meletakkan hanponenya disaku, ia lalu sedikit berjongkok untuk menolong wanita yang tengah terduduk itu.
"Maaf... Saya tak melihat jalan tadi, apakah anda baik-baik saja?" tanya Doni dan tak lupa mengulurkan tangannya pada wanita itu, "Mari saya bantu untuk berdiri." lanjutnya.
Wanita itu yang tadinya menunduk, kini mendongakan kepalanya dan menatap Doni yang ada didepannya itu.
Doni sedikit tersentak ketika melihat wajah wanita itu.
"Wah... Sepertinya untuk kedua kalinya kita saling bertabrakan ya?" ucap wanita itu tersenyum miring, setelah itu ia menerima ukuran tangan dari Doni dan berdiri dari duduknya.
"Maaf sekali lagi, sebenarnya saya tengah terburu-buru dan tak seharusnya saya bermain hanpone saat berjalan. Maaf nona, saya yang bersalah." ucap Doni dengan nada yang sopan.
"Hahaha, tak apa... Santai saja." jawab wanita itu.
"Sepertinya saya sangat familiar dengan wajah anda, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Doni.
"Anda benar-benar tak ingat saya?" ucap wanita yang bertanya balik, "Saya pernah bertemu anda walau tak begitu lama, namun saya masih mengingat wajah anda." lanjutnya.
Doni mengerutkan keningnya, "Lantas, bolehkah saya tau... Dimana kita sebenarnya bertemu?"
Wanita berpakaian jas, menyerupai laki-laki itu terkekeh sejenak. "Saya Joy! Asisten pribadi tuan Sagarra, yang merupakan kekasih nona Aurell." jelas wanita yang tak lain adalah Joy. Ia berucap dengan nada angkuhnya.
Doni menghela nafas sejenak, ia pun baru mengingat sekarang.
"Dia bukan kekasihnya Aurell." gumam Doni yang dapat didengar oleh Joy.
"Siapa bilang? Lihatlah didepan sana! Apakah itu tak membuktikan jika tuan saya adalah kekasih nona Aurell?" ucap Joy sambil menunjuk arah pada sosok lelaki yang tak lain adalah Sagarr, yang saat ini tengah mengendong Aurell ala bridaystile.
Doni yang melihat pemandangan itu lagi-lagi dibuat tertegun, wajahnya yang semula cerah itu, kini menjadi masam. Hal itu tak luput dari pandangan Joy.
__ADS_1
Joy yang tingkat kepekaannya sangat tajam itu, lagi-lagi tersenyum miring. 'Oh.... Rupa-rupanya, tuan Sagarr masih memiliki saingan ternyata.' batinnya.
"Bagaimana? Apakah anda masih tak percaya?" tanya Joy lagi.
Doni yang raut wajahnya masih masam itu kembali menatap Joy, "Saya tau jika teman! Ku itu belum berpacaran dengan atasanmu itu! Jika dia memang sudah berpacaran dengan atasanmu. Maka saya lah orang pertama yang dihubunginya, dan sampai sekarang belum ada konfirmasi. Jadi... Itu sudah membuktikan jika Aurell belum menjalin kasih dengan atasanmu!" jelas Doni dengan nada penuh penekanan.
Joy kembali terkekeh,"Oh.... Anda begitu percaya diri sekali ya?"
Doni tak menjawab perkataan itu, ia lantas kembali melangkahkan kakinya menuju Aurell berada.
Joy yang melihat keacuhan Doni itu, tertawa. "Sungguh menarik..." gumam Joy.
"Aurell..." panggil Doni, ketika Aurell sudah masuk kedalam mobil milik Sagarr.
Aurell mengangkat satu alisnya, ketika melihat Doni. "Ada apa?" tanya Aurell.
"Aku disini, ingin mengantarmu pulang." jawab Doni.
"Oh! Sayangnya Aurell akan pulang bersamaku." bukan Aurell yang menjawab, melainkan Sagarr yang baru saja meletakkan ransel milik Aurell didalam bagasi.
Doni mengalihkan pandangannya menatap Sagarr, "Kenapa harus pulang bersama mu? Kau kan tak tau dimana rumah Aurell. Jadi, biarkan aku saja yang mengantar Aurell." ucap Doni.
"Tuan..."
Saat Sagarr ingin menjawab, tiba-tiba Joy asistennya memanggil namanya.
"Bagus, kau bisa istirahat sekarang. Biarkan aku yang menyetir sendiri kali ini."
"Baik tuan!" jawab Joy, tak lupa membungkukan badannya.
Sagarr kembali menghadap kearah Doni, ia pun menepuk bahu pria itu. "Maaf ya Doni, Aurell saat ini sedang ada urusan denganku. Jadi ia tak bisa pulang bersamamu sekarang, kalau begitu aku dan Aurell pamit dulu." ucapannya lalu melangkahkan kakinya dan masuk kedalam mobil.
Doni tak bisa berkata lagi, ia hanya bisa memandangi mobil itu yang sudah berlalu meninggalkan kawasan rumah sakit itu.
Joy yang belum beranjak dari parkiran itu pun sedikit mendekat pada Doni. "Bagaimana? Apakah anda masih belum percaya?" tanya Joy dengan wajah tersenyum nan santai.
Doni menghela nafas sambil memejamkan matanya, "Tak usah ikut campur."
Setelah mengatakan itu, Doni lagi-lagi meninggalkan Joy tanpa mendengar dari wanita itu.
Joy kembali mengelengkan kepalanya. "Pria itu sungguh menarik..." gumamnya, sambil tersenyum melihat punggung lelaki itu yang sudah berjalan menjauh.
...----------------...
__ADS_1
Kini mobil Sagarr yang nan mewah itu telah memasuki halam rumah, yang bisa dikatakan sangat besar bahkan rumah itu pun sangat besar diantara rumah-rumah disampingnya.
Sagarr memberhentikan mobilnya tepat didepan garansi, ia kemudian mematikan mesin mobilnya dan berjalan keluar tak lupa dengan senyum terus terbit dibibirnya itu.
Dengan hati-hati, ia membukakan pintu mobil itu untuk sang wanita pujaanya. "Sudah sampai nonaku..." ucap Sagarr, tak lupa membungkukan bandanya yang sedang menirukan adegan seorang prajurit memberi hormat pada seorang putri yang tengah turun dari kursi, kebangaanya.
Aurell menghela nafas melihat kelakuan aneh pria yang ada dihadapannya itu."Jangan berbuat seperti itu, kau membuatku geli melihatnya." gerutu Aurell sambil bergidik geli.
Sagarr terkekeh, "Hamba melakukan ini hanya pada tuan putri saja." ucap Sagarr dengan cengiran dibibirnya.
Sebuah cubitan mendarat tepat dipingangg Sagarr, cubitan itu sungguh kecil membuat sang korban mengadu kesakitan.
"Aww... Aduh... Itu cubitan maut atau apa? Panas sekali rasanya." gerutu Sagarr sambil mengusap pinggangnya.
"Itu hadiah untukmu." kata Aurell sambil melipat tangannya, santai.
"Hah?" beo Sagarr mengelengg.
"Kakakkkkkk cantikkk.."
Suara teriakan membuat keduanya mengalihkan pandangan.
"Kakak..."
Aurell berjongkok ketika melihat seorang bocah kecil menghampirinya dengan berlari, tak lupa bocah itu merentangkan tangan mungiknya itu.
Aurell pun ikut merentangkan tangannya, kemudian boca kecil yang tengah berlari itu langsung melompat dan memeluk Aurell dengan eratnya.
"Kakak... Rasya rindu..."
Aurell yang mendengar itu tersenyum, ia pun meraih pipi gembul bocah itu dan menciumnya dengan rasa gemas.
Bocah kecil itu tertawa ketika mendapatkan ciuman yang bertubi-tubi dari Aurell.
"Sudah kak... Itu geli... Hahahahaha..." ucap bocah itu diselinggi tawanya.
Sagarr yang melihat adegan itu langsung memberengutkan bibirnya, wajahnya pun ikut ditekuk.
"Aku yang berjuang? Malah tak dapat apa-apa, sedangkan bocah itu! Mendapatkan semua yang aku inginkan... Beginilah nasipku..." gerutu Sagarr dengan membuat wajahnya menjadi memelas.
Bersambung.
__ADS_1
Aurellia❤️Sagarra