
"Awww... Pingangku sakit!" teriak Eira yang masih terduduk dilantai itu.
Mia dan Sela segera menghampiri Eira.
"Lo gak papa kan Eira?" tanya Mita.
"Pingangku sakit banget...." ringis Eira sambil memegangi pingangnya.
Brak...
Tiba-tiba pintu toilet itu terbuka lebar dan memperlihatkan beberapa siswi masuk kedalam toilet itu.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut-ribut disini? Diluar sana kami sampai mendengarnya loh." ucap salah satu siswi disana.
Ketiga gadis yang ditanya itu saling berpandangan sebentar, sebelum senyum misterius terulas dibibir mereka.
"Ini loh... Kami cuman mau nolongin Eira yang jatuh, gara-gara didorong sama Aurell.... Tapi Aurell malah menghalangi kita." alibi Sela.
Aurell yang mendengar ucapan itu, sama sekali tak merespon apa pun, ia masih setia memegang pel dengan raut datar melihat sekelompok wanita penuh drama didepannya itu.
Beberapa mahasiswi yang mendengar itu terkejut dan membekap mulut mereka masing-masing.
"Wahh... Bener-bener nih cewek, udah kemarin bikin masalah, sekarang malah buat masalah baru... Emang ya kalo cewek macam Aurell itu bawaannya pengen ngebuly yang lebih lemah." ucap mahasiswi itu.
"Iya bener.... Kenapa gak dikeluarin aja sih, cewek phyco kayak dia. Gue ngerasa ngeri nih kalo lama-lama kuliah disini..." tempal temannya itu.
Eira yang mendengar itu diam-diam tersenyum miring, ia merasa senang jika rencananya hari ini berjalan mulus seperti hari itu.
"Akkk... Teman-teman sepertinya tulang kakiku patah deh, sepertinya gak bisa berjalan." lagi-lagi Eira membuat keadaan menjadi keruh.
Semua mahasiswi disana menjadi heboh, ketika mendengar suara kesakitan dari Eira.
"Wah... Kita haru cepet laporan cewek psycho itu ke dosen, biar dia bisa dijeblosin dipenjara."
"Setuju gue... Gak sudi banget gue liatin cewek jahat itu."
Bukk... Brakk...
"Kyakkkkkk...."
Semua orang berteriak kala mendengar gebrakan keras dari sebuah pintu toilet namun berasal dari dalam bukan dari luar. Eira, Mita dan Sela tak kalah terkejutnya mendengar suara kencang itu.
__ADS_1
Ketiga gadis itu melihat kearah Aurell yang masih setia dengan wajah datarnya. Kalian pasti bingung, atas ulah siapa asal suara itu berada, Ya! Bunyi keras itu hasil ulah dari Aurell sendiri, yang dengan sengajanya ia melempar pel yang ada ditangannya tepat dipintu toilet, yang berada disampingnya. Bahkan pintu itu roboh hanya sekali lemparan saja yang dilakukan oleh Aurell, bisa dilihat bahwa lemparan Aurell tak main-main.
Mereka semua yang ada ditoilet itu, merasa merinding seketika. Untuk yang kedua kalinya mereka melihat aura mencekam dari Aurell. Mereka saja sudah tau jika Aurell memilih sisi lain yang baru mereka ketahui kemarin, tapi entah mengapa mereka malah terus saja mencari masalah pada Aurell.
Aurell mengambil kembali, pel yang tergeletak naas dilantai itu. Aurell lalu mengangkat pel itu dengan satu tangannya. Ia lalu menjulurkan pel itu kehadapan para siswi-siswi disana, membuat mereka langsung memundurkan langkahnya.
"Ayo cepat panggil dosen kalian, aku siap menerima hukuman apapun.... Ayo cepat! Aku masih menunggu disini nih..." ucap Aurell dengan santai masih menakut-nakuti para siswi-siswi itu dengan pel. Sesekali Aurell memperlihatkan senyum remehnya.
"Aurell... Jangan gini dong... Bau tau pelnya.."
"Iya nih... Kita bakal aduin lo ya sama dosen, kita gak main-main nih."
Walau para mahasiswi disana berucap dengan lantang, namun raut ketakutan mereka tak bisa disembunyikan. Hal itu membuat Aurell kembali tersenyum miring.
Aurell tak perduli dengan perkataan mereka, ia terus melangkah maju menghampiri mereka dengan pel yang masih setia ditangannya.
Para siswi-siswi itu perlahan mundur dan terjatuh tepat dikoridor namun masih didepan toilet itu.
...----------------...
"Kyaaa..." semuanya berteriak, membuat orang-orang yang berlalu lalang menghampiri mereka dengan bersamaan.
Semua orang yang melihat itu merasa bingung, mereka bertanya-tanya mengapa para gadis-gadis itu terduduk dilantai.
"Ada apa ini? Kenapa kalian semua berkerumun disini!" ucap salah satu dosen sedikit berteriak, dan berjalan cepat menghampiri kerumunan. Bertepatan dengan itu, Gavin juga sudah ada disana. Karena memang kebetulan Gavin tengah berjalan bersama dengan dosen itu.
"Kami tidak tau pak, kami hanya melihat cewek-cewek ini jatuh setelah masuk kedalam toilet." jelas seorang mahasiswa disana.
Dosen itu berjalan cepat kearah para siswi yang masih terduduk dilantai, Gavin mengikuti dosen itu karena sangking penasaran ia ingin melihat apa yang terjadi sebenarnya.
"Kalian, kenapa kalian duduk-duduk disini? Kayak gak ada tempat lain apa. Kalian malah seenaknya duduk didepan toilet." ucap dosen itu dengan nada menegur.
Siswi-siswi yang ditegur itu, langsung berdiri dari duduknya.
"Kita sendiri juga gak mau lah pak... Kalo gak didorong sama cewek psycho itu." jelas siswi itu sambil menunjuk kearah toilet.
Dosen itu merasa bingung. "Siapa yang kalian bilang itu?" tanyanya.
"Itu loh pak, si Aurell... Dia berulah lagi. Tau gak pak! Dia ngebuly Eira ditoilet." jelasnya membuat orang-orang yang ada disana merasa kaget, begitupun dengan Gavin yang sudah melototkan matanya.
"Apa katamu? Eira dibuly Aurell?" tanya Gavin memastikan.
__ADS_1
"Iya Gavin... Liat aja didalam kalo gak percaya." jawab siswi itu.
Dengan raut yang bercampur emosi, Gavin berjalan kearah pinto toilet itu. Baru ia ingin masuk kedalam, tiba-tiba Aurell keluar dan berjalan santai sambil membawa ember dan pel ditangannya.
Gavin menghentikan langkahnya kala melihat Aurell.
"Nah... Itu dia orangnya pak..." ucap siswi itu menunjuk Aurell yang baru saja datang itu.
Aurell yang tak merasa takut itu, berjalan santai menghampiri mereka. Ia bahkan tak memperdulikan cibiran dari orang-orang kampus itu, bahkan ia mengacuhkan tatapan tajam dari Gavin.
"Apa benar itu Aurell? Kamu yang mendorong mereka sampai jatuh, dan membuly Eira ditoilet?" tanya dosen itu menatap tajam Aurell.
Aurell meletakkan ember dan pelnya dilantai, ia lalu menatap dosennya dan beralih menatap para siswi yang tadi ia takut-takuti itu.
Bukannya cepat menjawab Aurell malah tertawa tanpa merasa beban.
"Kenapa kamu malah tertawa? Jawab pertanyaan saya! Dasar tidak sopan." sentak dosen itu dengan suara meninggi.
"Dasar kalian... Wanita-wanita pengadu." kata Aurell sambil menatap siswi-siswi itu dan beralih kembali menatap dosen yang ada dihadapanya. "Kalau memang iya, kenapa pak dosen terhormat!" ucap Aurell santai seolah tengah menantang orang yang ada didepannya.
Dosen itu merasa geram. "Dasar kamu, bocah tak tahu sopan santun. Beraninya kamu berbicara seperti itu didepan dosen kamu sendiri, bagaimana cara orangtua kamu itu mendidik? Oh! Saya ingat bahwa ibu kandung kamu itu pasti seorang pelacur, makanya anak perempuannya tak terdidik seperti ini." ucap dosen itu sambil tertawa meremeh.
Aurell yang mendengar mendengar itu seketika mengeram, kedua tangannya terkenal siap untuk menguliti manusia berwujud dosen dihadapanya itu.
Sedangkan Gavin hanya diam saja ketika Aurell mendapat hinaan dari dosennya itu.
Ia malah pergi menghampiri Eira yang pastinya masih ada didalam toilet itu.
Ketika Gavin masuk kedalam toilet, ia melihat Eira yang terduduk dilantai dengan penampilan yang sudah acak-acakan. Eira tak sendiri disana ia masih ditemani dua temannya, ralat! Dua kacungnya.
Gavin berlari dan menghampiri Eira, ia berjongkong untuk menyamakan gadis itu. "Eira ada apa denganmu?" tanya Gavin.
Eira menatap Gavin dengan linagan air matanya, sepertinya acara drama mendrama telah dimulai.
"Hiks... Gavin, Aurell mendorongku... Dia yang buat aku begini Gavin..." ucap Eira yang langsung memeluk tubuh Gavin.
Gavin kembali mengeram. "Sial." umpatnya.
Ia lalu membantu Eira berdiri dari duduknya dan membopong Eira keluar dari toilet itu. Setelahnya ia menatap tajam Aurell yang terdiam menatap kearah depan tanpa minat menatap kearahnya.
"Benar apa kata pak dosen!" tiba-tiba Gavin berucap dengan lantang, semua orang melihat kearahnya. "Kamu itu sama dengan ibu mu Aurell! Sama-sama pelacur!" tekan Gavin. Eira? Tentu saja ia merasa senang.
__ADS_1
"Rencana kedua berhasil." gumam Eira, sambil menatap Aurell yang juga tengah menatapnya. Eira menatap Aurell dengan senyum miringnya seolah tengah meremehkan Aurell.
Bersambung.