
Setelah berteriak, Gustin dengan santainya mendudukan bokongnya disofa empuk itu. Gustin lalu menopang satu kakinya dengan wajah yang dibuat-buat seangkuh mungkin.
Erlan yang kebetulan lewat itu, langsung menendang kaki Gustin. "Biawak, mingir.. Jan sok-sok lu." ucap Erlan setelah itu ikut mendudukan bokongnya.
"Sirik aja lo, kambing." sungut Gustin.
Gustin lalu beralih menatap Sagarr. "Eh, Sagarr... Udah nyampe aja disini, btw! Ngapain lu tadi berdua?" tanya Gustin kepo.
Sagarr hanya memutar bola matanya malas karena sangking kesalnya. Ia lalu membalikkan tubuhnya yang tadi memungungi Aurell kini menghadap kedepan, tak lupa dengan gayanya yang sok cool dengan kaki yang sudah ditopang dan tangan yang dilipat itu.
"Malah didiemin lagi." gerutu Gustin.
"Mungkin Sagarr males liat muka lo yang ngeselin itu tin." ujar Erlan yang langsung dapat plototan dari Gustin.
"Sialan lo kambing." sungut Gustin kesal, sedangkan Erlan hanya mengedikan bahunya acuh.
"Rell, gimana keadaan kamu?" tanya Doni yang memang sudah sejak tadi berada disana, ia datang bersama dengan dua sejoli itu.
Aurell menaikkan satu alisnya. "Emang kenapa denganku? Aku kan gak kenapa-napa." jawab Aurell.
"Si Doni, ngasi pertanyaan kayak gitu. Ya jelas Aurell bingung lah... Gimana sih." ucap Gustin.
"Iya tuh, Aurell kan pemimpinnya, tentu saja Aurell gak bakal kena luka. Secara Aurell kan mentalnya segede baja, fisiknya sekuat besi." timpal Erlan.
Gustin menonyor kepala Erlan. "Perumpaan lo bener banget dah." santai Gustin.
"Ya gak usah nampol kepala gue segala bego..." kesal Erlan. Namun Gustin hanya diam meremeh.
Erlan yang kesal itu, tiba-tiba saja langsung menginjak kaki Gustin.
"Akk... ******! Sialan lo kambing." teriak Gustin bersungut-sungut.
"Syukurin..." ledek Erlan.
__ADS_1
"Lo!"
"Kalian ngapain kesini? Kalo mau ganggu, mending pulang saja." usir Aurell.
Erlan dan Gustin yang mendengar ucapan datar Aurell itu, langsung diam tak bersuara.
"Kita kesini mau liat keadaan kamu rell.." jawab Doni.
"Nah, bener tuh." timpal Gustin dengan percaya dirinya, padahal ia disana malah bikin rusuh.
"Diem!" tekan Doni kepada Gustin, yang membuat sang empun langsung kicep.
"Syukurin..." ledek Erlan tertawa senang.
"Sialan.." umpat Gustin namun dengan suara pelannya.
"Makasih, sekarang kalian sudah liat keadaanku kan? kalian boleh pulang sekarang." ujar Aurell datar, namun terkesan mengusir.
"Lah baru dateng juga..." gerutu Gavin, sedangkan Sagarr tertawa kesenangan dalam hatinya.
"Kan kita baru aja dateng don... Seengaknya disuguhi minum kek! Camilan kek. Pulang-pulang kalau perut kenyang, hati kita pasti jadi legowo, lagian bokapnya si Aurell duitnya banyak pasti makanannya disini pun banyak." oceh Erlan yang juga merasa tak terima.
"Nah, betul! Betul, betul." timpal Gustin.
'Cepatlah pergi wahai penganggu.' gumam Sagarr dalam hati.
Doni menatap datar kedua sahabatnya, ia tak tahu lagi harus berbuat apa pada dua sejoli yang membuat dirinya yang paling normal diantara mereka itu, entah kenapa pusing sendiri menghadapi mereka.
Doni menghela nafas. "Kalian kesini tujuannya cuman mau numpang makan? Bokap kalian juga banyak duitnya, jadi gak usah alasan. Jadi orang yang paling miskin deh." ujar Doni sedikit merasa kesal.
Gustin dan Erlan hanya cengegas mendengar perkataan Doni, memang benar jika mereka berdua termasuk Doni merupakan keluarga berada, seperti halnya Aurell.
"Yasudah, kita pulang saja. Biarkan Aurell istirahat." ajak Doni, Doni ini merupakan teman yang paling perhatian, apalagi jika menyangkut Aurell.
__ADS_1
"Yahh... Gak asik lo don, rell... Gak ada niatan ngundang kita makan malem?" tanya Gustin pada Aurell yang hanya menatapnya datar sambil melipat kedua tangannya.
Gustin yang tidak mendapat respon dari Aurell itu, hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
"Yaudah deh... Kita pulang aja, kita pulang dulu ya rell... Jaga diri lo baik-baik." ucap Gustin yang pada akhirnya pasrah dan mengalah.
Setelah itu mereka bertiga keluar dari apartemen itu, menyisakan dua orang itu lagi.
Aurell bangkit dari duduknya ingin menuju kamarnya.
"Mau kemana nona?" suara manly itu berasal dari Sagarr yang masih dengan nyamanya duduk dikursi epuk itu.
Aurell membalikkan tubuhnya. "Kau gak ikut pulang?" tanya Aurell mengangkat satu alisnya.
Sagarr mengeleng sambil tersenyum. "Kamu aja belum selesai mengobatiku, bagaimana bisa aku pergi begitu saja. Ya kan nona?" ucap Sagarr sambil menarik turunkan alisnya.
Aurell menatap datar seorang pria tampan nan gagah dihadapannya, namun dimata Aurell sangat menyebalkan dan merepotkan.
Aurell tiba-tiba saja melempar kain kompres yang ia pakai mengobati Sagarr itu, tepat pada wajah Sagarr.
Sagarr yang lengah hanya bisa merem melek, menerima lemparan kain sialan itu.
"Obati sendiri, kau bukan anak kecil. Dasar pria menyebalkan." ucap Aurell tanpa basa-basi, ia langsung saja melangkahkan kakinya dan meninggalkan Sagarr diruang tamu itu sendirian.
Sagarr terkekeh aneh, ia lalu meraup wajahnya. "Waktu pertama bertemu, dia menyebutku pria aneh. Dan sekarang, pria aneh ini naik pangkat menjadi pria menyebalkan, sungguh Aurellia ku ini sangat unik dan mengemaskan." gumam Sagarr, malah tersenyum-senyum tak jelas.
"Kenapa tuan? Anda kenapa tersenyum aneh seperti itu?" tanya seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah asisten Sagarr, yaitu Joy. Siapa lagi kalau bukan Joy yang berani mengatasi atasannya itu.
Sagarr langsung menutup mulutnya dan memasang wajah datar nan kesal, ia kesal karena selalu saja ada pengangu ketika ia tengah berbunga-bunga.
"Tidak! Ayo kita pulang." ucap Sagarr langsung melangkah pergi meninggalkan Joy yang terbeo, dan tak peka jika tuannya itu tengah kesal.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa, coment, coment, like, like and vote.